
Vivi yang melihat hawa di bawa pergi oleh mobil tadi hanya bisa melongo. Vivi menelan ludahnya sendiri saat dirinya sadar di tinggal pergi oleh temannya. Vivi mengusap tengkuknya ,lalu pasrah pulang sendiri.
"Loh bukannya itu cowok yang tadi? Kenapa dia malah di tinggal?" Vivi yang penasaran langsung berjalan meninggalkan motornya dan menghampiri cowok yang tadi menghampirinya dan hawa.
Saat jarak mereka sudah dekat, Vivi menepuk pundak cowok yang sedang memunggunginya.
Bima yang merasa ada yang menepuk pundaknya menolehkan kepalanya dan menemukan gadis cantik yang tadi. Bima menoleh kanan kiri kemudian menunjuk wajahnya sendiri dan di angguki oleh Vivi.
Bima memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana dan menghadap gadis cantik di depannya. Seakan sadar kalau mereka belum berkenalan, Bima mengulurkan tangannya ke arah Vivi yang langsung di terima dengan senang hati oleh Vivi.
"Kenalkan saya Bima."
"Saya Vivi. Maaf kalau boleh tahu teman saya mau di ajak kemana yah mas?"
"Saya juga kurang tahu. Mungkin teman saya ada keperluan dengan teman anda makanya dia diajak pergi. Tapi tenang saja teman anda aman kok."
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya mas mau kemana?"
"Saya mau mencari Taxi di depan."
"Rumah mas nya dimana? siapa tahu searah dengan saya."
"Saya mau mampir ke Supermarket terlebih dahulu."
"Mau saya antar? Sebenarnya saya dan teman saya tadi mau pergi ke alun-alun karena kami baru bertemu setelah sebulan lebih terpisah jarak. Tapi kalau anda keberatan juga tidak apa-apa-..."
"Apa anda tidak tahu saya siapa?"
"Ehm....maaf saya tidak tahu. Karena saya sangat jarang komunikasi dengan orang lain. Maklum saya hidupnya di depan komputer terus dari pagi hingga malem jadi rada kudet dengan artis tanah air.kkkkk"
"Tenang saja,lagian saya juga bukan artis atau orang penting kok. Saya cuman bercanda sama kamu."
"Oh ok. Kalau begitu bagaimana penawaran saya, apakah mas Bima mau saya antar?"
"Kalau tidak merepotkan." Bima akhirnya menyetujui penawaran Vivi untuk ikut dengannya. Mereka berjalan menuju motor yang Vivi tinggalkan di belakang mereka,kemudian Bima meminta agar dirinya yang membawa motornya. Vivi menyerahkan helm yang tadi di pakai Hawa kepada Bima dan langsung di terima oleh Bima.
...-----------...
Hawa memalingkan wajahnya saat Adam menatap wajahnya begitu intens.
"Kamu cantik. Tetap cantik. Justru dengan kulitmu yang sekarang kamu terlihat semakin cantik." Puji Adam jujur.
"Oppa tidak perlu berbohong hanya untuk menyenangkan ku."
"Aku tidak berbohong. Aku jujur. Kamu memang cantik."
"Oppa perutku terasa melilit mendengarnya."
"Kkkkk. Ya ampun masa pujian saya bisa membuatmu menjadi melilit."
"Bukan Oppa. Sepertinya emang saya butuh ke toilet. Oppa boleh numpang ke toilet tidak?"
__ADS_1
"Mari aku antar!"
Adam tidak bisa mengalihkan wajahnya sedikitpun saat menatap wajah hawa yang bersemu merah karena malu. Sementara Hawa menjadi gugup saat di tatap terus oleh Adam.
"Ini toiletnya. Saya tunggu di depan yah!"
"Baik Oppa. Makasih."
"Sama-sama."
Hawa masuk ke dalam toilet yang terletak di dekat dapur.
Dapurnya bersih sekali. Beruntung banget sih jodoh Oppa nanti.
Hawa langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berandai-andai. Takut malah dia yang tersakiti. Lebih baik dia menuntaskan urusannya di sini. Lagian tadi dia kan sudah janjian dengan Vivi.
Plak
"Lah kok gue baru inget ninggalin Vivi di sana sendirian. Aduh!! Bisa tujuh hari tujuh malam dia ngambeknya.!!! Duuhhh gue harus gimana sekarang ini.?!" Hawa menggigiti kuku ibu jarinya, dia mencemaskan keadaan temannya.
"Akh...gue telfon dulu deh. Lah Hp gue kan di tas tadi? Ckckck. aduh gue udah nggak kebelet lagi gara-gara keinget sama Vivi. Lebih baik gue ke luar terus nyusul Oppa di depan."
Hawa keluar dari toilet menuju ruang tamu , saat langkahnya sudah hampir dekat tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara Adam yang sedang berbicara entah dengan siapa. Hawa terdiam saat namanya di sebut-sebut oleh Adam.
Hawa tak berniat mengganggu Adam yang sedang berbicara serius dengan lawan bicaranya langsung mengambil tas'nya dan berlalu ke arah kamar mandi. Dia akan menelfon temannya untuk meminta maaf karena sudah meninggalkannya.
Saat panggilannya sudah tersambung hawa langsung tersenyum kecut karena mendengar suara Vivi yang begitu memekakkan telinga nya. Hawa sampai mendorong jauh ponsel dari telinganya, dia takut telinganya akan tidak berfungsi .
Setelah mendengar suara Vivi yang mulai slow , hawa langsung meminta maaf dan akan mentraktirnya sebagai permintaan maaf nya hari ini.
"Anjrit pantesan....-"
Belum selesai Vivi melanjutkan ucapannya, hawa sudah lebih dulu mematikan panggilannya. Dia merotasikan kedua bola matanya, temannya pasti akan menyumpah serapahinya sekarang. Hawa sudah hafal betul dengan tingkah temannya.
Hawa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Dia mematut wajahnya yang tidak tertutupi oleh masker di kaca depannya. Hawa mencoba mengatur perasaannya yang tiba-tiba tidak nyaman berada di tempat ini.
Tak seharusnya gue disini. Apa kata ayah sama ibu jika tahu anak gadisnya berada di tempat cowo. Bisa habis gue nanti. Lebih baik gue pulang! Nggak ada untungnya gue disini! Yang ada gue takut iman gue goyah terus melakukan hal yang tidak-tidak ke Oppa.
"Hawa? Apa kamu masih di dalam?" Hawa menengok ke arah pintu yang masih terkunci dari dalam. Gugupnya kembali datang lagi. Hawa menggigit bibir bawahnya.
"Hawa? Apa terjadi sesuatu?"
Dengan ragu hawa membuka bibirnya untuk berucap. "It's Ok Oppa. Bentar lagi saya keluar."
"Kalau begitu saya tunggu di depan yah!!" Bibirnya hawa gigit hingga memutih. matanya melihat ke sembarang arah.
Setelah mengumpulkan keberaniannya Hawa membuka pintu kamar mandi , saat pandangannya matanya meneliti sekitar ternyata Adam tidak berada di sini. Berarti Adam memang berada di depan. Hawa langsung memesan ojek online dan saat dia sudah mendapatkan pengemudi hawa langsung berjalan ke depan.
Di lihatnya Adam kini sedang memakan buah yang ada di meja. Saat Adam menyadari kehadiran hawa, Adam langsung menyunggingkan senyumnya. Hawa membalas senyum Adam dan duduk di sofa single yang berada di depan Adam.
"Ayo di makan hawa! Kebetulan ini bunda yang buat sendiri. Kalau untuk rasa di jamin enak kok!" Mendengar perkataan Adam, hawa bereaksi seperti tak percaya. Adam yang melihatnya sampai terkekeh geli.
__ADS_1
"Kamu pasti tidak percaya yah? kkkkk."
"Bukan-bukan begitu. Maksud saya-.."
"Santai saja hawa. Emang bunda hobi bikin cake , tapi dia nggak mau kalau di suruh buka toko. Kata bunda sih....Kue nya ini limited edition hanya untuk keluarganya saja. kkkkkk. Ada-ada saja. Tapi emang kue bikinan bunda enak banget loh Hawa, Asli."
"Waaahhhh. Jadi penasaran pengin nyicip nih Oppa."
"Iya silahkan."
Hawa langsung mengambil cake yang memang sudah di potong pake garpu dan di masukkan ke dalam mulutnya. Saat hawa mengunyahnya, matanya langsung berbinar menyadari betapa enaknya kue buatan camer.
Sambil mengunyah hawa menatap Adam yang kini sedang menatapnya balik. Adam yang menyadari raut wajah hawa yang begitu berbinar saat menikmati kue buatan bundanya menyunggingkan senyumnya.
"Bagaimana?"
"Asli...ini enak banget oppa~. Jadi pengin lagi~?" Tanpa sadar hawa mengeluarkan aegyo yang membuat Adam langsung terpana. Adam sangat terkejut melihat betapa menggemaskan Fansnya ini.
Hawa yang beru sadar bertingkah konyol kepada Adam langsung menggaruk belakang kepalanya.
"Maaf Oppa. Kkkk."
"Kamu lucu."
"Apa?"
"Kamu menggemaskan."
Blussh
Pipi hawa langsung merona malu.
Bisa banget nih Oppa bikin gue salting kayak gini.
Drrttt drrttt drrttt
Hawa langsung mengambil ponselnya dan melihat id caller dari pengemudi ojek onlinenya. Hawa langsung mengangkatnya.
"Dengan Nona hawa?"
"Iya betul."
"Saya sudah di depan."
"Oke tunggu sebentar yah pak. Saya akan turun."
Adam mengerutkan saat melihat hawa yang seperti akan pergi.
"Kamu mau kemana hawa?"
"Akh...ini..saya mau pulang Oppa. Nggak enak,,lagian saya juga ada janji sama orang tua saya. Makasih yah oppa atas waktunya. Assalamualaikum."
Adam terdiam saat melihat hawa yang berjalan pergi meninggalkannya di sofa ruang tamu , tanpa menunggu salam darinya hawa sudah menghilang di balik pintu. Adam menyandarkan tubuhnya ke sofa, dia tidak mengantar hawa karena hawa memang seperti tidak nyaman jika ia mengantarnya.
__ADS_1
TBC