
"Eonni, Eonni," senggol Bina ke arah Hawa yang terdiam.
"Kenapa?" tanya Hawa.
"Eonni, itu di panggil sama kak Ardi. Eonni adalah gadis yang beruntung bisa duduk bersanding dengan Oppa hari ini. Kyaaa, eonni lucky banget, sih! Aku kan jadi iri~"
"Mba, ini mic nya. Silahkan naik keatas panggung." Ucap salah satu kru perempuan sambil memberikan sebuah mic kepada Hawa.
Hawa tersenyum canggung. Tiba-tiba, tangannya berkeringat dingin.
"Hai, hallo. Mba yang pake baju unyu-unyu, sini dong! Temenin Oppa kamu disini!" Panggil Ardi, saat melihat Hawa yang sudah berdiri di dampingi salah satu kru.
"Saya." Tunjuk hawa pada dirinya sendiri. Wajahnya benar-benar terlihat kaget, sehingga membuat para penonton tergelak.
"Diih, cantik-cantik ternyata lola, nih? Kkkkk. Iya dong, Mba cantik siapa lagi." Gurau sang pembawa acara.
Hawa di antar oleh kru yang sedang bertugas untuk maju ke depan, dan di sambut baik oleh Ardi serta Adam. Ardi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, dan di sambut tak kalah ramah oleh Hawa. Ketika saatnya Adam dan hawa berhadapan, atmosfer berubah canggung di antara keduanya.
Suara sorak sorai penonton saling bersahutan. Ada yang marah, ada yang iri, dan ada juga yang mendukung.
Tapi kayaknya banyak yang iri.
Siapa sih yang nggak iri?
Kalau bisa bertemu langsung dengan idolanya. Apalagi kalian bisa duduk satu sofa berdua? Hati siapa yang tidak panas melihatnya.
Itulah sekarang yang sedang dirasakan oleh para penggemar Adam. Mereka iri dengan Hawa, yang bisa mewujudkan kehaluan mereka. Jika ada yang bilang kalau mereka terllau posesif, itu sudah biasa dan banyak terjadi.
Adam mengulurkan tangannya dan disambut tak kalah canggung oleh Hawa.
Setelah melihat Adam dan Hawa saling melepaskan tangan mereka ,Ardi menyuruh mereka untuk menempati sofa panjang yang sudah disediakan.
Tenang saja, sofa yang diduduki Adam cukup bisa menampung 3 hingga 4 orang kok, jadi masih ada jarak diantara Adam dan Hawa.
"Kenalan dulu dong, sayang? Nama kamu siapa?" tanya Ardi menatap Hawa.
Adam menyeringai menatap gadis di sampingnya berubah gugup.
Hawa mengangkat mic yang ada di tangannya dengan gemetar. "Perkenalkan, nama saya Hawa Citra Febriyanti."
"Wow, Adam. Ada apa ini? Bagaimana bisa nama kalian cocok begini? Adam, bagaimana tanggapan kamu?" cecar Ardi semangat. Apalagi saat melihat wajah antusias Adam, berbanding terbalik dengan Hawa. Justru, Hawa seperti canggung berada di dekat Adam membuat jiwa kepo nya keluar.
Adam tertawa pelan, dia menggelengkan kepala saat disodorkan pertanyaan yang begitu menjebak. Dia yakin Ardi akan mencecarnya di backstage nanti.
"Malah senyum-senyum lagi. Jangan-jangan kamu kepincut, yah, sama kecantikan Hawa?" tanya Ardi menggoda Adam.
Sorakan para penonton menggema saat melihat wajah salah tingkah Adam yang nampak jelas. Hawa meremas kuat mic ditangannya, bahkan gugupnya tak juga hilang hingga membuat Adam berkali-kali meliriknya
"Sebenarnya, saya sudah cukup lama mengenalnya." Jujur Adam, sehingga membuat heboh satu studio. Mereka tak percaya bahwa mereka sudah saling mengenal. Bina yang mendengarnya cukup terkejut, dia kira selama ini Adam dan Hawa tidak saling mengenal. Ternyata,
"Nggak usah ngaku-ngaku deh lo, Dam!"
__ADS_1
"Kalau nggak percaya, tanya saja sama orangnya langsung." Tunjuk Adam kearah Hawa.
Hawa menggaruk belakang kepalanya.
"Apa benar Hawa? Kalau kalian sudah saling mengenal?"
Hawa melirik Adam sekilas, kemudian mengangkat mic nya.
"Benar." Jawab Hawa.
"Wuah, kejutan apa ini, adam! Kamu kenal sama cewek cantik ini, tapi, kamu nggak ngenalin ke saya? Wuah, saya merasa dikhianati." Ucap Ardi. Dia menepuk-nepuk dad*nya tidak terima, sedangkan sang pelaku hanya terkekeh geli melihatnya.
"Kkkkk." Kekeh Adam.
"Oke, oke, gue maafin kamu sekarang, Dam. Tapi boleh, lah, saya minta nomor Handphone kamu?" goda Ardi sambil menodongkan ponselnya ke hadapan Hawa. Hawa memang duduk di sebelah kursi sang pembawa acara, jadi memudahkan Ardi untuk menggoda Hawa. Adam yang melihatnya hanya terdiam, tiba-tiba hatinya ikut was-was kalau hawa akan memberikan nomor teleponnya ke Ardi.
Hawa tersenyum kecil dan menunjuk kearah kamera yang sedang ON. Ardi mengikuti arah tangan Hawa dan berpura-pura terkejut. Wajahnya berubah merah karena malu.
"Nanti yang dirumah marah, loh, Kak." Ujar Hawa balik menggoda Ardi. Membuat suasana berubah menjadi cair kembali setelah ketegangan yang terjadi. Mungkin, tadi para penggemar masih shock hingga membuat mereka terdiam cukup lama.
"Ckckck, pinter banget nih cewek ternyata , Dam. Nggak bisa dikadalin ternyata dia. Oke back to topic. Kapan kalian saling mengenal? Hawa, tolong jawab pertanyaan saya!" Seloroh Ardi saat melihat Adam yang berniat menjawab.
"Saya?" tanya Hawa.
"Kkkkk, lucu banget, sih, kamu. Kalau nggak inget udah punya yang dirumah, udah aku bawa ke KUA, kamu? Hahaha."
"Gue laporin ,nih, yah Bang!"
"Coba ceritakan, Hawa!"
Hawa menatap Adam yang juga sedang menatapnya, seperti sedang menunggunya untuk angkat bicara.
"Jujur, pertama kali saya melihat Beliau itu, saat saya baru pulang sekolah. Saat itu, saya sedang bersama-sama teman di sebuah Cafe. Dan saat itu yang mengisi live musik adalah beliau." Terang hawa sambil melihat Adam.
Sedangkan Adam melihat Hawa tak percaya.
"Waktu itu, Beliau dengan pesonanya yang begitu memukau membuat hati semua pengunjung cafe berdecak kagum. Wajahnya yang tampan serta suaranya yang sangat khas, membuatku tidak bisa berpaling darinya." Wajah serta telinga Hawa sudah merah karena malu.
Ardi menggelengkan kepalanya, melihat bahwa sahabatnya ternyata punya fans secantik ini. Beruntung sekali dia
"Apa pacar kamu tidak marah?"
"Hah, Saya? Kkkk, nggak lah, Kak."
"Why?"
"Saat itu saya masih SMA, jadi mana mungkin saya pacaran?"
"Loh, kenapa tidak? Justru, sekarang anak-anak SD saja sudah pacaran. Bahkan mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan Ayah-Bunda atau Mama-Papa. Ngeri nggak, tuh!"
"Hahaha, sayangnya dulu saya tidak berminat untuk pacaran."
__ADS_1
Ardi tersenyum penuh kemenangan saat melihat Adam yang merasa puas atas jawaban yang diberikan oleh Hawa. Bahkan, mata Adam tak sedetikpun berpaling dari wajah Hawa. Membuat dugaannya semakin kuat, kalau Adam menyukai gadis di sampingnya.
Seringai kecil tercetak di bibir Ardi.
'Kena, lo Dam!'
"Terus, setelah itu kalian saling berkenalan?"
"Nggak, lah Kak! Waktu itu, beliau datang bersama perempuan. Mungkin pacarnya atau siapa, saya tidak tahu."
"Siapa cewek itu , Dam?" todong Ardi langsung, sehingga membuat Adam gelagapan.
Hawa terkekeh geli melihat Adam berubah salah tingkah saat kepergok melamun sambil menatapnya.
Adam menggaruk belakang kepalanya. "Sorry, lupa." Elak Adam.
"Ckckck, saking banyaknya, yah, Dam? Sampai lupa." Cibir Ardi saat melihat Adam tak berkutik dibuatnya.
"Bukan gitu. Maksud saya, itu emang tahun berapa dan dimana kejadiannya? Dia, kan, nggak menjelaskan detailnya dimana." Bela Adam saat merasa dipojokkan.
"Alasan aja."
"Kamu masih inget itu kapan dan dimana Hawa?" tanya Ardi mengalihkan pandangannya ke arah Hawa.
Hawa mencoba menghitung umurnya yang saat itu masih SMA.
"Ehm, sekitar 5 tahun lalu di Cafe Hijau. Yah bener, saat itu saya masih kelas 3 SMA." Jawab hawa kemudian.
"Kamu 5 tahun yang lalu udah jadi artis belum, Dam?" tanya Ardi.
"Belum. Saya masuk dunia entertainment sekitar 4 tahun. Jadi kamu udah cukup lama juga yah jadi fans saya? Ckckck , ternyata?" tanya Adam sambil mencolek lengan Hawa disampingnya, membuat para penonton histeris dibuatnya.
Pipi hawa bersemu merah.
"Lihat dia, Hawa? Apa kamu masih mau jadi fans dari orang sombong ini?" tunjuk Ardi kepada Adam yang berubah menyebalkan.
"Rahasia." Seloroh Hawa, sehingga membuat Ardi menjadi dan pasar penonton kecewa.
Adam bahkan tersenyum melihat Hawa yang tidak canggung seperti awal kedatangannya. Justru dia melihat hawa sangat cepat beradaptasi dengan perubahan di sekitarnya.
"Terus-terus, kapan kalian berkenalan?" tak mau menyerah, Ardi tetap mencari tahu hubungan diantara mereka berdua. Karena Ardi yakin, merek mempunyai hubungan lebih dari fans dengan idolanya.
"Sekitar satu tahun yang lalu." Jawab Adam cepat.
Dia menatap hawa sebentar kemudian beralih ke arah kamera. Dia tidak mau ketahuan oleh pakar ekspresi kalau dia sangat mencintai gadis di sampingnya. Sebenarnya, tidak usah bawa-bawa seorang pakar ekspresi, karena orang awam pun bisa tahu kalau Adam mempunyai ketertarikan dengan hawa.
"Tepatnya kapan itu?" tanya Ardi menegaskan.
"Ra-ha-si-a."
TBC
__ADS_1