
Hawa baru saja selesai mandi, dan akan mengambil baju di lemari. Namun terhenti, karena mendengar bunyi pintu di tutup dengan cukup kencang di luar.
"Yakh ! KALAU PULANG ITU SALAM, BUKAN MALAH BANTING PINTU, DASAR BOCAH EDAN!" Hardiknya keras.
Ia sudah hafal betul, kelakuan sang adik.
"Diem, lo! Gue lagi pengin makan orang. Jadi lo nggak usah bawel, deh!" Sahut tak kalah ketus sang adik, dari samping kamar.
Ia menggeram marah.
"Dasar bocah nggak tahu diri. Gue, tuh, lagi ngomong baik-baik, yah, sama lo! Nggak usah nyolot gitu, dong."
Suara kakak beradik yang sedang bertengkar menjadi backsound, sore itu. Mereka seperti lupa ada tamu spesial, di rumah mereka, yang kini sedang terkekeh geli mendengarnya.
Sedangkan Miko dan Cempaka, mereka menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa kelakuan anak-anak mereka seperti ini. Apa mereka tidak tahu, kalau mereka tidak sedang berdua saja di rumah ini?
Miko menatap Adam dengan tidak enak. "Maaf, yah, Nak Adam. Mereka emang suka begitu kalau lagi di rumah. Aduh, saya jadi nggak enak, nih." Ucapnya sungkan. Ia kemudian melirik sang istri, dan meminta anak-anak untuk berlaku sopan saat ada tamu.
Cempaka langsung mengetuk pintu anak-anak nya.
"Sayang. Bisakah kalian tidak ribut saat ada tamu di sini? Lalu kamu, Hawa ... kalau kamu sudah selesai bersih-bersih, tolong keluar! Di luar masih ada, Nak Adam," ujarnya.
Terdengar bunyi pintu di buka, dan ternyata sang anak bontot pelakunya.
Dengan tampang tidak percaya, Randy menatap sang ibu. "Maksud ibu, Adam siapa?" tanyanya.
Cempaka menggeleng tak percaya, kemudian menghela nafas. "Makanya kalau pulang ke rumah itu salam dulu, baru nyelonong pergi."
"Adam siapa, Bu?" desaknya lagi.
"Tuh, lihat sendiri di ruang tamu!" Tunjuk sang ibu, ke arah ruang tamu di depan.
Randy yang penasaran langsung ke luar. Ia melangkahkan kakinya cepat, dan tubuhnya langsung terdiam kaku. Dengan tangan gemetar, ia menunjuk wajah sang Artis.
"Ayah. Bagaimana bisa ada Artis di rumah ini? Dan, di mana kakak? Apa dia tidak tahu kalau ada dia di sini?" tanyanya, sambil berkali-kali melihat ke arah Miko lalu ke Adam.
Matanya jelas memancarkan ketidakpercayaan atas kehadiran si idola, ke rumah ini.
Miko berdecak. "Salam dulu, baru nanya ini itu!"
__ADS_1
Mengabaikan si artis yang sedang menahan tawa melihat tingkah keluarga hawa yang cukup unik ini.
Si anak bontot berjalan mendekati Si ayah dan langsung mencium punggung tangannya. Ia juga duduk di samping sang Ayah, kemudian melihat ke arah tamu tak di undang itu.
Adam yang di lihat seperti itu jadi merasa canggung. Walaupun ia sering berhadapan dengan banyak orang, tetapi tetap saja beda rasanya. Mereka adalah keluarga dari sang kekasih, jadi itu membuat Adam sedikit gugup.
"Hai. Perkenalkan nama saya,"
"Iya gue tahu. Tapi ada urusan apa, Artis besar seperti anda bertandang ke rumah kami?" sela sang Adik. Miko hanya terdiam dan melihat si anak mengintrogasi Adam.
Adam mencoba santai, saat di introgasi oleh Randy. Ia tidak menyangka perubahan tingkah si adik begitu cepat. Padahal dia tadi bersikap seperti fans yang bertemu dengan idolanya, tetapi sekarang dia berubah seperti seorang Adik yang sedang melindungi sang Kakak.
"Saya hanya ingin berkenalan dengan keluarga kekasih saya, apa itu tidak sopan?" jawabnya lembut.
"APA, KEKASIH?"
"Maksud Nak Adam, Hawa adalah kekasih kamu?"
Pengakuan Adam membuat mereka terkejut.
Cempaka dan Hawa, yang baru saja datang ke ruang tamu, heran melihat ayah serta Randy seperti itu. Mereka memang tidak mendengar pembicaraan para lelaki, karena baru saja datang.
"Kalian kenapa? Kok, ngelihatin Nak Adam seperti itu?" tanya si ibu, sambil menaruh nampan berisi minuman serta kue di atas meja.
Pipinya bersemu merah.
"Maaf lama, tadi saya mandi dulu." Ucapnya.
Adam melihat ke arah ayah, ibu, sarta Randy dengan pandangan tidak enak. Lalu ia kembali melihat sang gadis. Wajahnya sudah terlihat segar, dan bahkan lebih cantik tanpa riasan make up di wajah. Membuat dia makin jatuh cinta kepada sang kekasih.
"Iya nggak apa-apa. Lagian, saya juga di temani sama Ayah serta adik kamu di sini." Jawabnya, sambil menyuruh hawa untuk duduk di sebelah dia.
Hawa tersenyum. Namun pergi dari hadapan sang kekasih, dan memilih duduk di apit oleh Miko dan Randy.
Miko mengusap sayang, rambut Hawa. Sedangkan si Adik yang masih kesal dengan si Kakak, langsung mencubit lengan Hawa dengan cukup keras. Membuat gadis itu berteriak kesakitan.
"Yakh! Sakit bego!" Teriak Hawa kelepasan.
"Kakak, ngomongnya!" Peringat sang Ayah.
__ADS_1
Sedangkan Adam terkekeh geli melihat pertengkaran antara dua bersaudara itu.
Hawa langsung memukul punggung sang Adik bertubi-tubi, tetapi di tahan oleh Miko. Ia tidak mau membuat nama anaknya jelek di mata sang kekasih.
"Hawa, Randy, apa kalian tidak bisa bersikap lebih sopan lagi? Ini ada tamu loh. Jangan bikin malu Ayah, dong!"
"Randy dulu, Yah, yang mulai."
"Enak aja nyalahin gue, ini kan gara-gara elo."
"Apa kamu bilang?"
"Iya, gara-gara lo. Kalau lo nggak nyuruh gue buat nganter lo tadi pagi, gue nggak bakalan di hukum sama guru BP."
"Enak aja! Itu mah, lo yang lagi sial. Biasanya, juga lo nggak pernah di hukum kalau habis nganter gue. Kenapa sekarang jadi nyalahin gue? Atau, jangan-jangan lo tadi mampir dulu yah, habis ngenterin gue? Hayo ... ngaku aja, deh!" Elaknya tidak terima.
"Iya gue mampir ke tukang bengkel. Puas lo! Gara-gara gue nganterin lo, ban gue pecah di jalan. Jadi gue harus dorong dulu, dan nyari bengkel yang sudah buka. Alhasil gue jadi telat masuk sekolah. Itu kan, gara-gara lo!" Sungut sang adik.
Ia menatap berani sang Kakak yang sedang berdecih padanya.
"Sudah-sudah. Apa kalian tidak malu, dari tadi di lihatin sama nak Adam?" ujar Miko. Ia memandang Adam dengan tidak enak hati. Kelakuan anaknya begitu bar-bar, dan tidak tahu tempat.
Hawa memberengut sebal,sambil menatap tajam sang adik. Sedangkan si adik tidak kalah sengit, menatap sang Kakak.
Miko kemudian menyuruh Hawa untuk bangun dan duduk di sofa single di samping kursinya. Hawa langsung bangun dan malah memilih sofa yang di duduki oleh sang kekasih. Membuat Miko geleng-geleng kepala.
Adam sendiri justru sangat terhibur dengan pertengkaran Kakak beradik ini. Ia kemudian menatap sang pujaan hati yang sedang manyun.
"Kalian lucu sekali." Gumamnya pelan. Tetapi hawa yang berada dekat dengan dia bisa mendengarnya.
"Lucu darimana? Nyebelin sih iya." Timpal si gadis.
"Kamu makin cantik kalau lagi cemberut seperti itu, kkkkk," puji Adam membuat si gadis bersemu merah. Bahkan bibirnya sudah tidak cemberut, kini malah tersenyum salah tingkah.
"Ehm-ehm, dilarang berpacaran di sini, yah!"
Tbc
Jangan lupa like, komen dan vote nya.
__ADS_1
Mampir juga yuk, ke novel karya temen aku. Ceritanya seru loh.