Adam & Hawa

Adam & Hawa
Diam-diam Cinta XIV


__ADS_3

Ceklek


"Dari mana aja Lo Bim?" Sergah Adam.


Pertanyaan sarat akan kemarahan, dilontarkan oleh ia saat menyambut kedatangan sang manajer. Senyum Bima luntur, saat mendapati si Artis memasang wajah keruh kepada dia.


Bukan karena dia takut, tetapi lebih menuju ke heran. Tidak seperti biasa, kenapa hari ini si Artis marah saat di tinggal pergi olehnya. juga dia di cuekin habis-habisan.


"Habis nongkrong sama temen. Kenapa?" balas Bima santai.


"Lo pergi dari pagi dan baru pulang tengah malam gini, masih nanya kenapa?" Adam menatap dingin manajernya.


Bima mengerutkan dahinya bingung. Menurut dia tidak ada yang salah, kan jadwal artisnya sedang free. Jadi dia menggunakan waktu kosongnya dengan berkumpul dengan teman-teman nya, tidak masalah kan?


"To the point aja dam !! " Bima yang sedang malas tebak-tebakan akhirnya bertanya langsung.


"Ya Lo pikir aja !! Gue dari tadi nungguin Lo di hotel ini sendirian, dari siang, sampai tengah malam kaya gini, tanpa makan apapun. Kalau Lo di posisi gue gimana? Apa yang Lo rasain?"


"Ya gue bakalan pergi keluar ,terus menikmati waktu luang gue buat hunting foto atau kulineran, mumpung di kota orang ."


"Terus kalau dompet sama ATM Lo di bawa sama manajer Lo gimana haah!!" Bima yang baru ngeh, langsung memeriksa saku jaketnya dan menemukan dompet Adam yang dia bawa tadi saat Adam menyuruhnya membeli makanan untuk artis dan juga pacarnya.


Plak


Bima langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Sorry dam !! Gue lupa tadi. Gue bener-bener minta maaf dam, gue lupa tadi langsung cabut aja habis beliin Lo makanan. sorry banget dam !! " Wajah Bima langsung berubah pucat dan begitu nelangsa setelah menyadari kesalahan nya yang begitu fatal.


Bagaimana tidak fatal ? Semua kartu kredit dan duit Adam ada di dompet itu dan dengan Bege nya dia pergi meninggalkan artisnya tanpa sepersen pun uang di hotel.


Adam sebenernya tidak mempermasalahkan tentang dompetnya yang di bawa oleh Bima. Yang jadi masalahnya adalah... dia itu begitu bosan di tinggal sendirian di hotel , karena pacarnya tadi siang sudah pulang untuk shooting sinetron di salah satu lokasi wisata yang terkenal di Jogja.


Jadi mau tidak mau membuatnya sendirian di kamar hotel dan itu sangat membosankan. Dan kabar buruknya, dompet ia di bawa oleh sang manajer.


Kurang sial apa lagi coba? Lengkap sudah, penderitaan Adam Alditri.


Adam membuang nafas kesal.


"Ya udah, kali ini gue maafin. Namun, lain kali kalau lo kaya gini lagik, gue nggak bakalan segan-segan buat pecat lo, bang! Terus gue bakalan cari manajer baru lagi." Ancam Adam.


Akhirnya setelah berpikir, Adam memilih mengalah dan memaafkan kesalahan dari sang manajer. Lagipula, mana mungkin dia berani memecat bima, yang ada nanti ia malah kalang kabut sendiri.


"Makasih,yah Dam. Gue janji! Gue nggak bakalan kaya gini lagi. Ini pertama dan terakhir kalinya!"


Bima langsung memeluk si Artis sebagai ucapan terima kasih, karena dia sudah mau memaafkan kesalahan dia.


Setelah melepaskan rengkuhan, Bima langsung bertanya kepada Adam.


"Lo mau makan apa? Biar gue beliin,sekarang juga?" tanya Bima penuh harap.


"Ngga usah, udah malem juga. Tapi makasih udah perduli sama gue. Lagian, gue juga udah makan roti yang Lo beliin tadi siang. Kalau gitu gue mau tidur dulu. Jangan lupa bangunin gue besok!" Terang Adam sambil berlalu dari hadapan sang manajer.


Lah tadi yang marah-marah, katanya belum makan tuh siapa, sih? Giliran di tawarin, malah nggak mau. Sabar ... sabar.


"Ooh ... Ok." Jawab Bima linglung.


Setelah berpamitan dengan sang manajer, Ia memasuki kamar hotel, yang cukup besar jika harus di tempati seorang diri. Dia sengaja memesan kamar besar dan view yang bagus , karena dia sedang membutuhkan inspirasi untuk membuat lagu baru nya nanti.


Adam merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia menatap ke atas langit-langit kamar. Entah kenapa, bayang-bayang wajah gadis itu tiba-tiba terlintas di pikiran.


Adam berdecak. "Ckckck, Gimana kabarnya, dia ya? Kenapa, gue merasa dia berubah sama gue? Apa, itu hanya pemikiran gue aja?"

__ADS_1


Adam mencoba mengenyahkan semua pikiran buruk, lalu ia melihat jam dinding yang terpasang pas di dinding kamar hotel. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan ia besok pagi sudah harus bangun untuk menjalani pemotretan untuk sebuah majalah ternama.


Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk tidur. Selang beberapa menit, ia sudah tertidur nyenyak dan mulai menjemput mimpi indahnya.


......-----------......


Keesokan pagi, atau bisa di bilang menjelang siang. Di sebuah kantor redaksi di Jogja, menjadi heboh karena kedatangan Artis papan atas. Berita tentang kedatangan si Artis, langsung menyebar seantero gedung.


Lokasi pemotretan sendiri berada di lantai satu, dan kini si Artis sedang berbincang dengan sang Direktur. Dia juga di dampingi sang sekertaris, beserta jajarannya di lokasi pemotretan.


Hawa yang berada di lantai 3, mendengar kasak-kusuk tentang kedatangan Adam Alditri di kantor, langsung berubah tegang. Wajah ia berubah pucat, ia juga meremas celana bahannya untuk melampiaskan rasa gugup.


Ia melihat para karyawan lain, sudah keluar dari ruangan menuju lantai satu. Namun ia masih terdiam, tidak tahu harus bahagia atau sedih.


"Duh, jantung. Biasa aja dong! Jangan seperti ini." Gerutu hawa, sambil menenangkan debar jantung ia yang semakin menggila, karena tahu bahwa ia dan Adam berada di satu gedung yang sama.


"Kamu kenapa, Wa? Kok, muka kamu pucat gitu, sih? Kamu, sakit?" tanya salah satu teman kantor, bernama Mba Puji.


Dia menatap khawatir wajah Hawa yang terlihat pucat, seperti orang sakit.


"Oh nggak apa-apa, Mba. Saya hanya sedang gugup saja." Kilah Hawa


Ia tersenyum menenangkan, supaya Mba puji tidak khawatir lagi. Namun, yang terlihat bukan senyuman, justru yang terlihat seperti ringisan di wajah Hawa.


"Kalau sakit mending ijin saja! Dari pada kamu maksain." Nasehatnya.


"Nggak, Mba. Saya sehat kok." Kilah Hawa.


"Ok kalau begitu. Oh iya, kamu mau ikut turun, nggak? Mumpung ada artis loh, di bawah? Nanti kita bisa minta foto sama tanda tangan dia!"


"Masa sih, Mba?"


"Iya, beneran! Ngapain saya bohong. Lagian, sekali-kali, kan, nggak apa apa. Hayuk, ah!" Ajak mba puji.


Berharap saja dirinya tidak pingsan, karena saking gugupnya bertemu si Artis.


Selama di dalam lift dengan mba puji, berkali-kali ia melihat pantulan wajahnya dari kaca lift. Ia melihat pakaian yang dikenakan hari ini, terbilang cukup sopan. Blazer berwarna biru langit, dipadu padankan dengan dalaman berwarna putih, serta celana panjang bahan berwarna senada dengan balzer.


Sebelum sampai lantai bawah, ia merapihkan rambut serta pakaian yang di kenakan,supaya terlihat lebih baik. Ia juga sengaja menguncir kuda rambutnya.


Pintu lift terbuka, ia dan mba puji pergi keluar menuju tempat pemotretan diadakan.


Sepanjang jalan, Mba puji tidak berhenti-henti memuji sang Artis. Ternyata dia juga salah satu fans dari Adam.


Namun karena dia sudah menikah, jadi tidak seperti dulu ketika belum menikah. Dia sekarang harus mengutamakan sang suami dibandingkan Idolanya.


Kata mba puji, dia dulu selalu mengikuti perkembangan tentang Adam Alditri setiap ada waktu luang. Namun sekarang, setelah berumah tangga dia jadi tidak ada waktu lagi, untuk mengurusi si Artis.


'Apa nanti gue juga seperti itu yah?' Pikir hawa dalam hati.


Setelah sampai di tempat pemotretan,ia menghela nafas berat. Tempat ini sudah dipenuhi oleh para karyawan lain, membuat ia kesusahan melihat sang Idola.


Mba Puji tidak tinggal diam, dia menerobos masuk kedalam kerumunan sambil menarik tangan Hawa. Setelah berdesak-desakan akhirnya, mereka berada di depan barisan dan bisa melihat secara jelas Adam yang sedang melakukan pemotretan.


Ia tersenyum manis, saat ia bisa melihat kembali lelaki itu kembali. Sudah hampir 4 bulan, ia tidak bertemu dengan sang idola. Saking bahagianya, ia sampai mengacuhkan dia yang sedang mengajak berbicara.


Sementara itu. Adam yang sedang berganti gaya, tidak sengaja melihat ke arah kerumunan. Ia menemukan gadis itu sedang tersenyum manis padanya. Gadis yang memakai setelan kantor berwarna biru langit, orang yang selama ini ia rindukan ternyata ada di sini.


Tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres, dengan jantungnya. Apalagi saat ia bisa melihat dengan jelas, wajah cantik gadis itu. Hatinya berdesir hangat, saat bisa menatap wajahnya kembali.


"Adam, tolong lihat kesini!" Tegur sang fotografer.

__ADS_1


Adam tersadar, kalau saat ini ia tidak sedang sendiri. Ia mencoba kembali fokus dengan sang fotografer. Sesekali saat berganti gaya, ia melirik ke arah gadis itu untuk memastikan keberadaan nya. Membuat Adam sudah tidak sabar untuk menyelesaikan pemotretan.


"Oke, Selesai. Makasih Mas Adam, atas kerja samanya."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Adam.


Setelah berjabat tangan dengan sang fotografer, ia langsung menuju sang manajer yang berada tidak jauh dari lokasi pemotretan.


"Bim. Tolong panggil Hawa, keruangan make up, sekarang!" Ujar Adam cepat.


Bima terdiam untuk beberapa saat. Setelah sadar, ia langsung mengejar si Artis yang untuk meminta penjelasan.


"Emang Lo lihat hawa dimana?" tanya Bima to the point.


"Cewek yang pakai baju biru langit, itu Hawa. Jadi, gue tunggu di ruangan sekarang juga." Usirnya.


Bima mengerutkan dahi, menatap si artis yang sudah menghilang di balik pintu.


"Haah, sabar-sabar." Ucapnya.


Sambil mengelus dad*, Bima membalikkan badan, mencari gadis yang memakai baju berwarna biru langit itu.


Tidak membutuhkan waktu lama, saat ia menangkap jelas gadis yang ada di seberang tempatnya sekarang.


"Cantik sekali kamu, Hawa." Puji Bima, saat melihat penampilan hawa hari ini.


Padahal semalam dirinya baru saja bertemu dengan gadis itu, tetapi hari ini pun ia bisa bertemu kembali dengan dia.


Bima mengambil buku dan pulpen, lalu menulis sesuatu dan disobeknya kemudian.


Langkahnya berayun pelan, melewati para gadis yang sedang berdiri menunggu kedatangan Adam. Saat jarak ia dan gadis itu sudah dekat, ia langsung menyelipkan kertas itu ke tangan hawa.


Hawa melihat punggung orang tersebut dengan bingung, kemudian ia membuka kertas yang tadi di berikan manajer si Artis padanya.


Adam ingin bertemu denganmu. Tolong ikuti saya!


Hawa langsung meremas kertas itu, lalu melihat punggung laki-laki tadi dalam diam.


Sesaat Bima berhenti, dan melihat ke arah gadis itu yang hanya diam di tempat.


Bima langsung menyuruh gadis itu untuk mengikutinya.


Hawa melihat ke arah sekitar.


Apa tidak apa-apa kalau dia pergi ke ruangan itu sendirian? Apa tidak jadi masalah kalau dirinya mendatangi Adam yang kini sudah mempunyai kekasih?


Banyak kekhawatiran di hati hingga membuat ia ragu untuk mendatangi Adam. Walaupun Adam yang meminta, tetapi tetap saja, ia merasa sungkan.


Apalagi status sang idola yang sudah memiliki kekasih, sementara ia bukanlah siapa-siapa. Lagian ini juga masih di tempat umum, ia tidak mau di keroyok oleh fans Adam yang ada disini.


Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk tidak mendatangi Adam. Hawa berpamitan kepada mba puji untuk pergi ke ruangan, dan melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan sang Idola.


Hawa pergi meninggalkan lantai satu dengan langkah pelan. Hatinya menjerit, menangis dan meraung.


Jujur, ia sangat merindukan Adam.


Tetapi hawa juga tidak mau membuat kekasih Adam salah sangka, walaupun ia belum pernah berpacaran. Namun, dia tahu bagaimana rasanya jika melihat orang yang dia cintai bersama dengan perempuan lain.


Tes


"Maafkan aku, Oppa. Aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Maaf Oppa ,untuk saat ini, aku masih ingin menata hatiku dulu untuk bisa berhadapan denganmu. Dan, ketika aku sudah siap, kita bisa bertemu kembali. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu sekarang, Oppa. I love u, Oppa."

__ADS_1


TBC


__ADS_2