Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter XL


__ADS_3

Hawa menatap tidak percaya pada sang kekasih.


"Apa maksud, Oppa?"


"Masa seperti itu kamu tidak mengerti,"


"Bukan seperti itu, tapi apa ini tidak terlalu cepat?" tanya ia ragu.


Bagaimana bisa ia mengenalkan sang kekasih kepada keluarganya. Padahal mereka baru saja jadian.


"Apa kamu malu menjadi kekasihku?" tanya Adam.


"Tentu saja tidak. Aku justru sangat merasa bahagia, karena bisa menjadi kekasihmu. Tapi, beri aku waktu sebentar lagi. Aku janji akan mengenalkan, Oppa kepada keluarga ku."


"Haah," desahnya. "Baiklah, aku akan memberikan waktu untuk mu, sayang."


"Terima kasih, Oppa."


Adam dan Hawa mengisi perjalanan mereka dengan saling mengobrol. Bahkan Adam menyalakan musik, untuk menemani mereka.


"Berhenti, Oppa. Itu rumah aku yang sebelah kiri jalan." Ucap hawa sambil menunjuk ke sebuah rumah bercat hijau. Namun senyumnya langsung luntur, saat melihat sang ayah sedang berada di depan rumah sambil mencuci motor.


Ia menggigit bibirnya, takut akan ketahuan oleh sang Ayah. Sebenarnya itu tidak masalah, tetapi ia merasa belum pas saja waktunya.


Namun kalau sudah seperti ini, ia bisa apa? menyuruh sang kekasih pulang juga ia tidak bisa. Dan menghalangi sang ayah yang ingin berterima kasih kepada Adam, bisa di coret ia dari kartu keluarga.


Adam berhenti tepat di samping rumah bercat hijau itu. Matanya mengedar melihat keadaan rumah sang kekasih yang begitu asri. Bibirnya tersenyum, melihat sang calon mertua yang sedang melihat ke arah mobilnya berada.


Namun senyum di bibirnya tiba-tiba menghilang, saat melihat sang kekasih sudah turun terlebih dahulu.


Ia menundukkan wajahnya bimbang, apakah ia harus turun, atau langsung pergi?


Hawa mendekati sang ayah, kemudian mencium punggung tangannya. ia mengikuti arah pandang sang Ayah. Kemudian menggaruk belakang kepalanya.


"Kamu di antar siapa?"


"Itu, em ...," jawab Hanna bingung.


"Kenapa kamu malah diam? Apa dia pacar kamu?" selidik sang Ayah.


Melihat si anak yang terdiam, membuat sang ayah langsung berjalan mendekati kursi kemudi. Ia mengetuk jendela mobil di depannya.


Adam yang sedang melamun terkejut, saat melihat ada seseorang yang mengetuk jendela mobil. Jantung ia langsung bertalu, saat melihat ayah dari sang kekasih sedang berdiri menunggu dirinya.


Ia langsung melepaskan Seat belt yang melingkari tubuhnya. Lalu ia turun dari mobil, dan berdiri di sopan di depan sang calon mertua.

__ADS_1


Sang ayah terkejut melihat idola si Anak berada di depan dia. Ia melihat ke arah sang anak yang sedang berdiri salah tingkah.


"Kamu, bukannya nak Adam?"


"Iya , Om. Perkenalkan saya Adam Alditri." Ucapnya sambil mencium punggung tangan sang calon mertua.


"Ya ampun, ternyata ini beneran Adam, toh. Mari nak, kita masuk dulu! Pas banget Istri saya lagi menyiapkan makan malam, jadi Nak Adam bisa ikut makan malam dengan kami. Anggap saja, sebagai ucapan terima kasih dari kami, karena Nak Adam pernah menolong anak saya dulu." Cerocoh sang ayah. Membuat Adam salah tingkah.


Adam yang di seret masuk oleh sang Ayah, langsung menoleh ke arah sang kekasih. Jujur, ia senang saat di terima dengan tangan terbuka oleh keluarga Hawa. Namun, ia juga tidak mau membuat sang kekasih menjadi tidak nyaman karena kehadiran dia di rumahnya.


Hawa tersenyum tidak enak.


"Tapi, saya belum minta ijin kepada anak bapak. Apakah saya boleh berkunjung kerumah dia atau tidak? Soalnya kata anak bapak, kalau Hawa belum siap,"


"Halah, nggak usah di masukin ke hati. Itu anak kan emang masih kecil, jadi nggak tahu caranya bertindak. Ayo, masuk saja! Abaikan gadis itu,"


"Ayah, kenapa ngomong kaya gitu sih? Kan, yang anak ayah kan aku, bukan dia."


"Suruh siapa kamu ngelarang calon mantu ayah buat mampir ke rumah. Kalau kamu nggak nyaman dengan keberadaan Nak Adam di sini, kamu bisa di luar dulu. Nanti kalau nak Adam udah selesai baru kamu masuk. Beres, kan?"


Bibir hawa ternganga di buatnya, bagaimana sang ayah menyuruh dia untuk berada di luar, sedangkan sang kekasih malah di perbolehkan masuk.


Dia nggak lagi mimpi, kan, ini?


"Biarin. Ayo, nak Adam kita masuk. Abaikan gadis itu?" ajak sang Ayah, kepada sang kekasih.


Adam tersenyum saat melihat wajah hawa yang masih terlihat cantik. Padahal kalau gadis lain bertingkah seperti hawa sekarang, malah terlihat aneh.


Adam mengedip genit kepada Hawa.


Hawa makin dibuat makin emosi, saat sang kekasih ikut mengolok-olok dirinya.


"Wah, baru juga tadi bilang sayang. Sekarang malah ninggalin pacarnya," gumam Hawa tak percaya. Ia langsung melangkah masuk kedalam rumah, mendahului sang kekasih dan juga Ayahnya.


Bibirnya mengerucut manja.


"Ibu, ibu, Ayah jahat sama Kakak, Bu." Adu nya. Ia langsung menutup pintu kamar dan membanting tubuh dia ke atas ranjang.


Sedangkan Adam yang melihatnya langsung terkekeh geli. Gemes banget lihat sang kekasih yang ngambek. Kapan lagi, ia bisa melihat sang kekasih merajuk secara langsung?


Gemesin banget.


"Ayo Nak Adam, sini, nggak usah di ambil hati. Anak saya emang suka begitu. Tunggu sebentar saya mau ganti baju dulu. Kamu anggap saja ini rumah kamu sendiri." Ujar sang calon mertua.


"Iya, Pak. Terima kasih." Timpal nya. Matanya menyusuri setiap ruangan yang terlihat.

__ADS_1


Ia bisa melihat ada begitu banyak, foto keluarga di dinding. Ia juga bisa menemukan foto sang kekasih dengan adiknya. Ia tersenyum saat teringat tingkah konyolnya waktu itu. Bagaimana bisa ia cemburu dengan calon adik iparnya sendiri.


"Ckckck," decak Adam.


"Loh, ada tamu ternyata." Ucap seseorang di belakang Adam.


Adam langsung membalikan badannya.


Ibu dari sang gadis langsung membekap mulutnya, terkejut. "Masya Allah, bagaiman bisa ada artis di rumah ini." Kagetnya. " Ayah, ayah ...," teriaknya sambil menatap Adam tak berkedip.


"Selamat sore Tante. Kenalkan saya,"


"Iya ... saya tahu kamu siapa, tapi bagaimana kamu bisa di sini? Atau Nak Adam lagi ada syuting di sini. Dan apa ada kamera di sini? Hai ... Halo ...,"


Adam langsung menggaruk belakang kepalanya bingung. Ia menggeleng saat si Ibu tadi melihat ke arahnya.


"Tidak, Bu. Saya tadi habis mengantar Hawa pulang, terus sama Om malah di suruh masuk. Maaf, yah, Tante kalau saya berlaku tidak sopan." Sesalnya.


"Aduh jangan sungkan begitu, Tante jadi yang nggak enak gara-gara udah berpikir katro. Kkkkk. Terus mana anak ibu sama Ayah?" tanya si ibu bertubi-tubi.


"Kalau Om, tadi mau ganti baju dulu. Sedangkan Hawa, ia tadi sudah masuk kamar." Jelasnya.


Ibu hawa langsung menepuk dahinya.


"Sebentar yah, Nak Adam. Tante ke belakang dulu. Nak Adam santai saja, nanti Tante balik lagi."


"Baik Tante."


Adam langsung duduk di sofa panjang, dan menyandarkan tubuhnya di sana. Saat matanya sedang terpejam, tiba-tiba terdengar bunyi pintu rumah di banting dengan cukup kencang. Membuat Adam terkejut. Bahkan orang di dalam rumah ikut keluar dari tempat persembunyiannya.


Mungkin mereka pikir ada rampok hingga mereka terkejut seperti itu.


Dan sang pelaku keributan, tiba-tiba langsung menutup pintu kamar di sebelah kamar Hawa.


Adam masih terdiam kaku, saat melihat laki-laki seumuran dengan sang adik, jalan dengan cepat ke arah kamar, sambil menggerutu tidak jelas. Bahkan ia yakin kalau bocah tadi tidak menyadari kehadirannya.


"Yakh ... KALAU PULANG ITU SALAM, BUKAN MALAH BANTING PINTU, DASAR BOCAH EDAN!"


TBc


Hayoo kira-kira suara siapa tadi? Yuk, jangan lupa like ⭐♥️. Biar makin semangat aku nulisnya.


Mampir juga ke novel temen aku. Jangan lupa tinggalkan jejak yah teman-teman.


__ADS_1


__ADS_2