Adam & Hawa

Adam & Hawa
Diam-diam Cinta lX


__ADS_3

"Hawa..!! Kamu jangan sampai lupa yah buat kirim hasil kerjaan kamu nanti siang.!!"


"Iya pak. Saya mengerti."


"Kalau sampai kamu nggak bisa ngasih laporan apapun hari ini jangan harap kamu bisa merasakan empuknya kasur kamu.!!" Hawa menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinganya. Dia sampai mengorek-ngorek telinganya karena saking kencangnya suara atasannya itu.


Hawa mencibir mendengar setiap perkataan atasannya yang selalu menuntut pekerjaan nya perfeks , padahal mereka tidak tahu bagaimana penderitaan bawahannya dalam mencari berita. Mereka harus bangun pagi-pagi untuk mencari berita,bahkan mereka kadang tidak pulang hanya demi mendapatkan berita ekslusif.


Setelah memastikan atasannya sudah selesai berbicara , hawa mematikan sambungan telepon dari pak Rohmat. Hawa memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeans-nya, kini dia sedang berada di depan rumah target buruannya. Hawa sudah menunggu sedari shubuh untuk mengintai kegiatan artis tersebut,yang bernama Aurora Cantika.


Menurut berita yang dia baca , Aurora adalah artis yang baik dan jarang mempublikasikan masalah pribadinya, dia sudah menjadi artis selama 2 tahun sebagai aktris. Dia juga sudah membintangi beberapa FTV yang membuat namanya semakin di kenal masyarakat. Umurnya 24 tahun ,hobinya adalah bermain piano dan juga membaca.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 tapi sosok Aurora belum terlihat keluar dari rumahnya, membuat Hawa semakin frustasi. Dia tadi belum sarapan di rumah karena orang tuanya belum memasak jadi hawa berniat membeli makanan di luar tapi sampai sekarang hawa malah lupa tidak membeli makanan, jadi ketika sadar perutnya mulai terasa sakit barulah hawa sadar dia kelaparan.


"Sebenarnya apa yang sedang di lakukan artis itu di rumah? Atau.. jangan bilang dia sekarang tidak berada di rumah? Oh My God...!!! "


Saat hawa sedang bermonolog sendiri, ada sebuah mobil yang tidak asing melewati tempat persembunyian Hawa. Dia langsung memicingkan matanya melihat sosok laki-laki yang berada di dalam mobil tersebut.


"Bukankah dia adalah manager Oppa? Kenapa dia bisa berada disini?"


Pintu gerbang segera di buka setelah satpam melihat siapa gerangan orang yang akan bertandang ke rumah majikan mereka. Bahkan satpam tersebut menunduk hormat melihat mobil tamu tersebut mulai memasuki pekarangan rumah majikannya.


Hawa langsung membidikkan kameranya ke arah sosok laki-laki yang turun dari mobil berwarna hitam itu. Hawa meringis kecut saat sosok Adam benar-benar keluar dari mobil tersebut, bahkan Aurora sendiri yang menyambut kedatangan Adam di halaman rumahnya.


"Sabar Wa..sabar..!! Mungkin mereka hanya sedang terlibat proyek bareng. Jadi Lo nggak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu." Sambil bermonolog sendiri, hawa tetap mencoba memfokuskan bidikan kameranya,agar mendapatkan angel foto yang baik.


Wajah hawa langsung mengeras saat melihat kemesraan makhluk berbeda jenis kelamin itu.


"Apa harus yah mereka berpelukan seperti itu ? Apa mereka tidak bisa menunggu nanti saja saat mereka sudah berduaan di dalam rumah." Gerutu hawa tidak sadar. Hatinya terasa sakit melihat orang yang di cintai nya berciuman di depan matanya. Baru kali ini hawa memergoki Adam langsung bersama seorang perempuan, karena selama ini Hawa hanya mendengar dari selentingan kabar berita dari media lain.


Tes


Tak ada isakan atau raungan, yang ada hanya Air mata yang jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Hawa harus menerima pilihan Oppa, hawa harus kuat. Hawa nggak boleh egois. Hawa..! Lo harus sadar siapa diri Lo !! Lo itu bukan siapa-siapa !! Lo itu cuma gadis yang beruntung bisa mencintai Adam."


Hawa menurunkan kameranya dan langsung menghapus air matanya. Setelah melihat kedua pasangan kekasih itu memasuki rumah perempuan itu, hawa bergegas pergi meninggalkan tempat itu menuju cafe terdekat. Dia akan melaporkan kejadian hari ini kepada atasannya.


Sakit hati yang di rasa oleh hawa,membuatnya tidak memperdulikan keadaan sekitar hingga membuat kendaraannya menabrak motor yang ada di depannya.

__ADS_1


Brugh


Kejadiannya sangat cepat hingga tidak ada di antara mereka yang bisa mengelak dari kecelakaan ini. Motor mereka terpental ke tengah jalan dan mereka sendiri jatuh membentur aspal.


Dug


Keadaan sekitar perumahan itu memang sangat sepi,dan hanya di lalui oleh beberapa orang saja seperti pemotor tadi yang juga bekerja sebagai pengantar makanan yang kini keadaannya tidak jauh berbeda seperti Hawa.


Untung saja mereka berdua sama-sama mengenakan helm, jadi wajah dan kepala mereka selamat dari hantaman aspal. Hanya saja tangan dan kaki mereka mengalami luka yang cukup serius.


Siku jaket dan lutut hawa sobek tergores aspal, bahkan darah mulai mengucur deras dari lengan hawa. Pengantar makanan itu langsung bangun mendekati hawa yang kini sedang meringis kesakitan di pinggir jalan. Bahkan tak ada seorang pun yang lewat dan menolong kedua orang itu.


"Mba. Mba baik-baik saja kan? Maaf yah kalau saya salah, saya tadi nggak lihat kalau ada motor mba. Sekali lagi maafin saya yah mba?!" Ucap laki-laki itu sambil menangkupkan kedua tangannya meminta maaf pada hawa. Sedangkan Hawa sendiri langsung menggelengkan kepalanya. Dia menurunkan maskernya ke bawah dagunya.


"Saya juga meminta maaf kepada anda,karena saya juga sedikit kurang fokus tadi. Terus bagaimana ini yah Kak? sepertinya di tempat ini jarang sekali ada kendaraan lewat, kita juga tidak mungkin pergi dari sini karena keadaan motor kita yang sama-sama mengalami kerusakan parah." Hawa meringis tidak enak menyadari keadaan mereka sekarang.


"Oh iya perkenalkan nama saya Andres, dan kalau boleh tahu nama mba nya siapa yah? Maaf bukannya bermaksud modus, tapi ini demi kenyamanan kita aja,." Andres menggaruk belakang kepalanya tidak enak.


"Iya kak. Nggak masalah kok, saya juga mengerti. Nama saya Hawa kak."


"Baiklah hawa , sepertinya saya akan mencoba meminta tolong kepada satpam rumah yang ada di seberang sana untuk meminta pertolongan."


Hawa teringat dengan kameranya yang berada di dalam tas dalam gendongannya. Hawa langsung memeriksa keadaan kameranya yang rusak karena ikut terbentur aspal juga.


"Yahhhh... bagaimana ini? Bisa mati gue kalau kaya gini. Alamat uang jajan gue berkurang buat beli kamera lagi. " Hawa mengusap-usap dengan sayang kamera kesayangannya yang sudah menemaninya dari dulu.


Sambil menunggu Andres datang,hawa mencoba mengecek barang-barang nya seperti HP dan juga dompetnya. HP nya juga rusak ,sama seperti kameranya. Dia juga tidak bisa menghubungi kedua orang tuanya dan juga atasannya.


Setelah beberapa saat hawa mendengar suara derap langkah kaki beberapa orang yang datang. Lengan serta lututnya sudah terasa sakit sedari tadi dan membuatnya beberapa kali meringis sakit. Hawa memejamkan kedua matanya saat menyadari seseorang yang di bawa oleh Andres adalah Adam dan juga Aurora serta satpam rumah Aurora.


Hawa langsung menundukkan kepalanya serta menarik maskernya menutupi hidungnya. Dia tidak mau Adam mengetahui wajahnya sekarang, bisa berabe.


"Ya ampun kasihan sekali kalian. Kalau begitu kalian harus keRumah sakit secepatnya, luka kalian harus di obati sesegera mungkin." Ucap Aurora melihat keadaan gadis di depannya , bahkan Aurora ikut meringis melihat luka yang ada di lutut Hawa.


"Sayang. Kamu udah meminta Bima buat kesini kan yang?" Ucap Aurora sambil berjalan mendekati Adam yang sedang berada di dekat Andres.


"Iya. Sebentar lagi Bima akan kesini. Jadi kalian tenang saja, biar motor kalian akan di urus oleh orang bengkel. Tadi saya juga sudah meminta tolong orang buat mengambil motor kalian." Ucap Adam kepada Andres dan sesekali melihat ke arah gadis yang masih duduk terdiam di aspal.


Adam seperti mengenal postur tubuh gadis tersebut, tapi dia lupa. Adam berjalan mendekati gadis yang kini semakin menundukan kepalanya saat menyadari kehadirannya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anda? Apa ada luka lain dari ini?" tunjuk Adam kepada luka di lutut hawa. Hawa hanya mengangguk dan menunjukkan siku lengannya yang kini sudah berlumuran darah. Adam ikut meringis melihatnya, dia segera berjongkok di depan hawa.


"Apa anda sudah menghubungi keluarga anda?"


"Ponsel saya rusak. Jadi saya belum menghubungi keluarga saya." Ucap hawa gugup.


Adam mengernyitkan dahinya saat menyadari suara yang familiar baginya. Dia mencoba mengingat-ingat siapa gerangan gadis tersebut. Sesaat Adam terdiam memikirkan sesuatu, dan saat ingatannya mengingat jelas dia langsung berubah khawatir.


"Kamu..Hawa..? Iya..kamu hawa kan? Astaghfirullah hal'aldzim , bagaimana bisa kamu berada disini?" Adam tidak bisa menutupi kekhawatiran nya.


Hawa langsung mengangkat wajahnya saat menyadari ke khawatiran dari Adam padanya. Senyum kecil terukir di bibir mungilnya yang tertutup masker.


"Saya baik-baik saja Oppa. Dan terimakasih Oppa sudah mengkhawatirkan saya."


"Bagaimana saya tidak khawatir melihat keadaan kamu yang sekarang. Ya Allah..Ini Bima kenapa lama sekali sih !! Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan.!!" Adam langsung berdiri dan mengambil ponselnya yang berada di saku celana jeans-nya. Saat dia akan mendial nomor manajernya ,mobil yang tadi mereka gunakan kini sudah melaju mendekati mereka.


Adam yang menyadari kedatangan mobilnya langsung menaruh ponseln ke dalam saku celananya kembali setelah membatalkan panggilan telepon nya kepada Bima. Adam kini berjalan mendekati Hawa dan bertanya apakah dia bisa berjalan sendiri atau perlu di gendong?


"Tidak perlu Oppa. Saya bisa jalan sendiri kok." Hawa menolak tawaran Adam yang akan menolongnya, dia merasa sungkan saat mendapatkan pandangan menusuk dari wanita yang ada di belakang Adam


"Ya udah kalau gitu,kamu masuk ke mobilku sekarang . Sini biar saya urus barang-barang kamu.!!"


" Tapi Oppa..."


"Tidak ada penolakan. Lebih baik kamu segera ke mobil biar saya yang urus disini." Adam mengambil tas yang berada di sebelah hawa tadi dan juga barang-barang lainnya yang tercecer di bawah.


Hawa dan juga Andres langsung berjalan memasuki mobil Adam di bagian belakang. Mereka tidak mungkin berada di depan karena tidak enak kepada Adam dan juga Bima.


Setelah memasuki mobil Adam, Andres bertanya kepada hawa.


"Helm kamu kenapa tidak di lepas? "


"Ah iya saya lupa kak." Hawa langsung melepaskan helmnya dan di taruhnya di samping kakinya. Dia merapihkan rambutnya yang berantakan dan juga menurunkan maskernya yang basah karena keringat.


Setelah berbicara dengan Aurora dan meminta maaf karena harus pergi meninggalkan kekasihnya itu, Adam berjalan menuju mobilnya dan melambaikan tangannya sayang kepada kekasihnya itu sambil menenteng tas Hawa di tangannya.


Brak


"Jalan Bim. Kita ke rumah sakit terdekat saja." Adam menoleh kebelakang dan tertegun saat pandangan matanya melihat wajah Hawa yang tidak tertutupi masker.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2