Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter L


__ADS_3

Hari ini Adam sudah di ijinkan pulang oleh Dokter. Namun dia masih butuh istirahat yang cukup. Jadi orang tua Adam memboyong si anak untuk tinggal sementara di Rumah mereka. Dia tidak sempat menolak, karena ini juga demi kebaikan dia sendiri.


"Nak Hawa jangan sungkan, yah, kalau mau main ke rumah kami. Pintu rumah kami sellau terbuka untuk, kamu sayang,"


"Iya, Tante. Nanti kalau ada waktu, saya Dateng berkunjung ke rumah, Tante."


"Jangan panggil Tante dong, sayang! Panggil Bunda saja! Seperti yang lain,"


Hawa tertawa canggung, "Baiklah, bun-da," gagapnya.


Orang tua Adam yang melihat tingkah menggemaskan Hawa, langsung mencubit pipi gadis itu. "Ya ampun, Dam! Kamu kok bisa sih, punya pacar seimut ini, iih ... gemes, deh!" kelakar bunda Adam.


"Iya, bener! Jangan-jangan lo main dukun, yah, buat dapetin Hawa, iya, kan, ngaku aja deh Lo!" sembur sang kakak.


Adam merotasikan kedua bola matanya jengah, "Ya kali, kak! Emang kalian pernah ngelihat aku pergi ke tempat seperti itu? Coba, kapan itu?" elak Adam.


Sementara itu, Hawa yang sedang duduk di samping sang kekasih, malah ikut terkikik Deli dengan candaan dari kakak beradik itu. Walaupun keluarga Adam orang kaya, tapi keluarga mereka sangat hangat. Tidak seperti yang di ceritakan oleh orang-orang di luar sana. Bahwa keluarga Adam sangat sombong.


Mungkin mereka hanya iri, dengan keberhasilan yang di dapatkan oleh Adam. Gadis itu kemudian menolehkan wajahnya ke arah sang pujaan hati. Adam yang merasa di tatap, kemudian ikut melihat kearah si pacar, "Ada apa sayang?" tanyanya.


Hawa menggeleng, "Nggak ada apa-apa. Cuma lagi pengin aja ngelihatin wajah kamu?" timpalnya.


Adam langsung tersenyum, kemudian membawa tubuh Hawa untuk mendekat ke dia, "Puas-puasin, deh, biar kamu selalu keinget sama aku, dan nggak bakalan ninggalin aku!" ucapnya.


Hawa membuang nafasnya kesal, "Apaan sih Oppa?" rajuknya.


"Kalau Adam bersikap jahat atau nyakitin Hawa, kamu bisa beritahu mba. Biar nanti aku bantu kamu buat banting dia!"


"Apaan, sih, kak? Kapan aku jahatin Hawa, yang ada dia tuh, yang suka berpikir yang tidak-tidak. Terus ninggalin aku buat bertemu dengan cowok lain," tuduh Adam kepada Hawa.

__ADS_1


Mulut Hawa menganga lebar, 'Wah ... emang bener-bener, deh, si pacar minta di gebukin satu RT ini namanya! Sejak kapan gue punya pikiran begitu, walaupun ada banyak cowok yang deketin gue selama ini. Namun, gue nggak kepikiran buat nyari yang lain. Wah ... emang perlu di cuci otaknya nih pacar!' batinnya dongkol.


"Emang kamu ada niatan buat nendang si Adam dari hidup kamu, Hawa?" tanya bunda Adam penasaran.


"Haah ... apa?" Hawa yang sedang melamun di tarik ke dunia nyata, saat sang pacar menyenggol lengannya.


"Itu ... tadi bunda nanya?"


"Maaf Bun-da, tadi saya sedang melamun jadi tidak mendengar pertanyaan, Bunda," sesal hawa tidak enak, 'Bisa di backlist jadi calon mantu, ini namanya!' batinnya.


Bunda Adam terkekeh, "Nggak apa-apa, sayang! Tadi Bunda juga cuma nanya iseng saja, nggak penting juga," elaknya lucu.


"Tadi Bunda nanya, kamua ada niatan buat cari pacar lain, selain aku?" jelas Adam kepada sang kekasih.


Kepala hawa reflek menggeleng, hingga membuat rambutnya yang dia gerai ikut bergoyang.


"Walaupun lo mau perawatan kaya apapun, itu muka bakalan tetap aja kaya gitu. Jelek mah jelek aja! Ha-ha-ha," sindir Adam keras.


Si kakak yang tidak terima di katai jelek langsung berdiri dari tempat duduknya, dan langsung memukul tubuh Adam brutal," Rasain lo! suruh siapa ngatain gue jelek! Kalau gue jelek lo apa, buruk rupa Lo?"


Adam sendiri malah tertawa sambil menghindar dari pukulan sang kakak, di belakang tubuh sang kekasih. Sedangkan, hawa tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa pasrah di jadikan tameng oleh si pacar. Keluarga yang sangat barbar, tetapi hangat itulah keluarga sang kekasih.


"Hei, apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian tidak melihat, nak hawa sampai tak berdaya di perlakukan seperti itu oleh kalian. Dan kalian itu sudah besar, kenapa kelakuan seperti bocah saja, sih?" tegur sang kepala keluarga.


Adam dan sang kakak menghentikan pertikaian mereka, lalu menunduk merasa bersalah.


"Maaf Hawa," sesal sang kakak.


"Maaf, sayang. Kakak emang suka gitu, makanya aku nggak bisa kalau hanya diam saja. Nanti yang ada dia nglunjak!" tutur Adam hingga membuat sang kakak naik pitam.

__ADS_1


Tanpa bisa mengelak, kepala Adam sudah terkena pukulan maut dari si kakak bar-bar. Hawa hany bisa terkekeh geli melihatnya. Namun dia juga tetap mengusap kepala si pacar, membuat Adam langsung meletakkan kepala dia di pundak hawa.


"Ciih, manja banget sih, lo!"


"Biarin," timpal Adam sambil menjulurkan lidahnya, meledek sang kakak.


"Bunda, lihat tuh, kelakuan anak Bunda satu ini!" rajuknya.


Hawa tersenyum senang, karena dia merasa sangat diterima di keluarga sang kekasih. Padahal dia kira, akan mendapatkan penolakan dari keluarga ini. Namun siapa sangka, mereka sangat menyayangi Hawa.


Lamunan Hawa di intrupsi oleh panggilan telepon, entah dari siapa karena dia pun belum melihatnya.


"Maaf, sebentar. Sepertinya saya harus mengangkat telepon terlebih dahulu?" ucap Hawa tidak enak.


"Angkat saja! Siapa tahu penting!"


"Siapa?" tanya Adam penasaran.


"Atasan aku? Sebentar, yah," pamitnya.


Adam hanya bisa merelakan kepergian sang kekasih yang menjauh darinya. Entah ini hanya perasaan dia saja atau apa, dia cukup terganggu dengan atasan baru Hawa. Semoga saja Hawa tidak di tugaskan kembali ke luar kota, yang ada nanti dia bisa kangen.


Hawa kembali lagi dengan cepat. Dan itu membuat perasaan Adam jadi tidak enak. Jangan bilang ...,


"Permisi, Bunda, Ayah! Sepertinya saya harus pulang terlebih dahulu, soalnya saya ada pekerjaan yang harus dia kerjakan saat ini juga," kata Hawa tidak enak hati.


Adam sudah menduganya, 'mang bangsul tuh, Atasan. Ganggu aja!' batin Adam jengkel.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2