
"Aakh ...,"
Suara teriakan Hawa menggema di dalam kamar sang kekasih. Gadis itu dengan perasaan campur aduk mendekat ke arah dimana lelaki itu berada.
"Oppa ... Oppa, sadar Oppa! Hiks," tangis gadis itu pecah, melihat keadaan sang kekasih yang tergeletak di bathtub dalam keadaan tak sadarkan diri.
Dia langsung meraup tubuh Adam yang sudah pucat. Dengan tangan gemetar, dia menghubungi nomor si manajer.
["Halo, siapa ini?"]
"Tolong ...," suara gadis itu tercekat.
["Hawa? Ada apa? kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu?"]
"Adam, hiks, to-long cepat ke sini kak."
["Adam? Kenapa dengan dia? Apa kamu sedang berada di apartemen Adam, sekarang?"]
"Darah ... Adam," ucap Hawa terbata.
["Baiklah saya akan ke sana! kamu tunggu di situ dulu. biara saya minta scurity buat bawa kalian ke rumah sakit terdekat."]
Setelah mendapatkan kepastian, gadis itu mencoba mencari mengobati luka di telapak tangan Adam yang menganga lebar.
"Sabar, yah, Oppa! Sebentar lagi bantuan akan datang." Ucap Hawa sambil menangis.
Ia dengan telaten membersihkan bekas noda darah yang melekat di tangan sang kekasih. Dengan berlinang air mata, Hawa memeluk lelaki itu dengan erat.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Oppa? Apa ini karena aku yang telah menolak lamaran kamu? Kalau memang ini jadinya, aku sangat menyesal Oppa. Maafkan aku," gadis itu tergugu, di samping wajah sang kekasih.
Sedangkan Adam yang masih tak sadarkan diri kini sudah di bawa ke rumah sakit, di bantu oleh scurity apartemen. Bima sendiri langsung meluncur dimana si artis di rawat.
Bersyukur ini dini hari, jadi jalanan masih cukup lengang.
Saat sedang menunggu si pacar di tangani Dokter, Hawa tidak menyadari keadaan pakaiannya yang terkena banyak darah dari sang kekasih.
Bima menatap prihatin kepada gadis itu, lalu dia melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya.
"Bim, Oppa tidak akan terjadi apa-apa, kan?" gumam gadis itu.
Bima berusaha tegar, lalu mengangguk.
"Iya, dia akan segera sadar. Aku tahu dia, jadi kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Lebih baik kamu duduk dulu sekarang, aku ke kantin dulu, beli minum!"
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku takut,"
"Janji! Aku akan cepat kembali," ujar Bima.
__ADS_1
Hawa akhirnya menunggu di ruang tunggu IGD sendirian. Keadaan begitu sunyi sepi, hingga membuat dia memeluk tubuhnya sendiri ketakutan.
-------
Setelah selesai di tangani, Adam di pindahkan ke ruang VVIP supaya tidak menimbulkan kericuhan. Sedangkan Hawa bisa bernafas lega, karena sekarang sang kekasih sudah berada di ruangan yang lebih nyaman.
"Oppa, maafkan aku," lirih gadis itu sambil mengusap rambut Adam.
Air matanya menetes saat teringat kejadian tadi pagi, dia menjadi trauma jika meninggalkannya.
"Ayo, sadar Oppa! Aku janji, setelah ini akan menuruti semu keinginan kamu."
Bima yang duduk di sofa hanya bisa diam, dan menjadi penonton. Dia tidak tahu masalah apa yang sedang pasangan itu hadapi, hingga membuat Adam melakukan hal yang sangat konyol.
"Hawa?"
"Hmm,"
"Apa tidak sebaiknya kamu pulang dulu? Dan ini juga waktunya kamu bekerja, atau kamu ingin ijin dulu?"
Hawa terdiam memikirkan tentang pekerjaannya. Dia tidak bisa ijin hari ini, karena ia teringat bahwa dia mempunyai atasan baru.
Dia bimbang. Antara pekerjaan atau kekasihnya?
Apakah yang masalah jika dia tetap bekerja di saat sang kekasih sedang terbaring di rumah sakit?
Namun dia juga tidak mungkin melalaikan kewajiban nya sebagai seorang pekerja.
"Tapi janji, yah? Selalu kabari keadaan Oppa, kalau bisa setiap saat!"
"Iya-iya."
"Oppa, maaf! Aku tidak bisa menunggu kmau hingga sadar, nanti kalau pekerjaan aku sudah selesai aku janji akan langsung kesini."
"I love you, Oppa." Tambahnya, kemudian mengecup dahi sang kekasih lama.
Bima memalingkan wajahnya, dan berpura-pura tidak melihat.
Hawa menyeret tubuhnya yang lelah menuju rumahnya. Bima tadi sudah memesankan Taxi untuk dia. Selama perjalanan, dia selalu kepikiran dengan nasib Adam.
"Apa aku harus menerima lamaran dari Oppa?"
-------
Di kantor
Selama bekerja di bawah bimbingan atasan baru yang super menyebalkan, Hawa berusaha sabar. Bagaimana tidak? Baru juga dia duduk di kursi, si atasan meminta laporan tentang berita hari ini.
__ADS_1
Lah, mana dia tahu? Yang biasanya menangani masalah laporan ini itu bukan Hawa, tetapi yang lain. Kenapa jadi dia yang dimintai laporan? Kan, bangk*.
"Apa Anda sudah merangkum semua laporan hari ini?" tanya lelaki di belakangnya tiba-tiba, hingga membuat Hawa terkejut dibuatnya.
"Astaghfirullah hal'adzim." Ucap Hawa sambil mengusap dad*nya.
"Kenapa Anda terkejut seperti itu? Apa Anda pikir saya hantu, hingga membuatmu kaget?" sindir lelaki itu tajam.
Hawa berusaha sabar. Dia lalu memberikan setumpuk dokumen yang sudah dia rapihkan, agar si Atasan rese bisa dengan mudah membacanya.
"Ini, Pak! Sudah saya pisahkan sesuai dengan keinginan Bapak." Jawabnya sopan. Kan, tidak mungkin ia menyumpah serapahi sang atasan di depan orangnya langsung.
Bisa di pecat dia nanti.
Devin Anggoro, berdecak. "Ngurus begini aja kok lama banget! Kalau nggak becus bekerja, lebih baik kamu resign dan cari pekerjaan baru lagi yang lebih cocok sama penampilan kamu!" Hardiknya.
Hawa menipiskan bibirnya, berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat sang Atasan.
Para karyawan lain yang melihat Hawa di perlakukan seperti itu, ikut geram. Karena biasanya Hawa selalu menjadi anak emas dari Pak Rahmat, tetapi kini justru gadis itu harus siap sedia menerima ucapan sarkas dari Devin.
"Maaf," ujar Hawa sambil menunduk.
"Ciih, heran saya dengan pak Rahmat. Apa yang di lihat dari gadis tidak berguna dari kamu? Jangan bilang ... kamu," Hawa mengangkat memandang tajam sang atasan, yang seperti menilai dirinya seolah dia adalah perempuan tidak baik.
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat. Hatinya begitu geram ingin menonjok wajah Devin.
Sementara itu, Ryan merasa tidak terima dan ingin menolong tetapi ditahan oleh Somad.
"Jangan ikut campur!" Peringatnya.
"Tapi,"
"Sudah kita diam saja. Nanti kita hibur gadis itu, waktu makan siang. Lebih baik kita bekerja saja, dari pada kita ikut di omelin oleh Pak Devin!"
Ryan merasa kasihan dengan gadis yang dia sukai. Dia merasa tidak berguna, di saat Hawa sedang butuh orang buat menolongnya dari sikap kasar sang atasan. Dia malah tidak bisa melakukan apa-apa.
"Maaf Hawa, aku tidak bisa membantumu," sesal Ryan dan kembali duduk di kursinya.
Devin sendiri, entah mengapa sangat menikmati wajah gadis itu yang sedang menahan emosi. Namun dia juga merasa menyesal karena telah berkata kasar kepadanya.
'Maaf, tapi aku suka melihat ekspresi mu yang begitu menggemaskan, kkkk' ujarnya dalam hati.
TBC
Hari ini bagaimana perasaan kalian setelah membaca part ini?
Tolong kasih tahu saya. Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah, like,komen, Favorit dan beri hadiah juga boleh. Makasih🥰
__ADS_1
Sambil menunggu part selanjutnya, kalian bisa mampir juga di novel karya teman aku. Kepoin sekarang juga!