
"Apa kamu mau jadi kekasihku?" tanya Adam.
Hawa menelusuri mata adam untuk mencari kebohongan, tetapi hawa tidak menemukannya. Kemudian, wajahnya dia palingkan untuk menghentikan debar jantungnya yang bertalu kencang.Hawa menggigit bibirnya tanpa sadar, membuat mata Adam beralih menatap bibir Adam.
"Kenapa?" tanya hawa lirih.
"Apanya?"
"Kenapa Oppa memintaku untuk menjadi kekasih Oppa? apa Oppa lupa, siapa Oppa Sebenarnya?"
"Apa aku tidak boleh menjadi kekasihmu?" kepala Adam menunduk.
"Bukan seperti itu, Oppa. Hanya saja aku, aku,"
"Aku tahu kamu pasti tidak percaya padaku, makanya kamu ragu menerima cintaku. Iya, kan?"
"Oppa," lirih hawa, saat tangganya di genggam lembut oleh tangan Adam. Jantungnya yang belum reda, makin menggila di buatnya. Adam mengusap lembut tangan hawa yang berada di dalam rengkuhan tangannya.
"Cukup genggam tanganku dan aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar serius dengan kamu. Aku janji!"
Untuk beberapa saat kedua anak Adam itu bergelut dengan pikiran mereka sendiri. Adam menunggu jawaban hawa dengan sabar karena dia tidak akan memaksa hawa untuk menerima cintanya. Tapi dia sangat berharap hawa mau menerima cintanya, karena dia begitu mencintai kepribadian gadis-nya.
"Maaf, Oppa. Sepertinya aku tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Masih banyak wanita lain yang lebih baik dari aku. Kalau begitu, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."
Tubuhnya membeku, seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar, Adam menatap kursi kosong yang sudah di tinggal pergi pemiliknya. Adam tidak sempat mencegah kepergian gadis itu karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Bima yang melihat kepergian hawa langsung kembali menghampiri mobilnya berada.
Ceklek
"Loh, lo mau kemana lagi?" tanya Bima saat melihat Adam yang akan membuka pintu mobilnya.
"Gue mau nyusul dia, Bim! Gue belum selesai bicara sama dia, gue,"
Klik
"Yakh! Buka pintunya! Bim, Bim, gue belum selesai," Bima memandang wajah frustasi Adam dengan pandangan tidak perduli. Yang harus dia lakukan sekarang adalah membawa Adam ke tempat pemotretan, karena dia tidak mau ada masalah nantinya. Bima bisa di penggal nanti sama agensi.
"Bangs*t! Lo nggak denger apa yang gue suruh sama lo! Putar balik! PUTAR BALIK MOBILNYA!"
"Lo gila apa, HAH! Lo nggak inget, kalau Lo ada jadwal. Nggak usah kayak anak kecil! Menurut sama gue!"
"Apa?! Anak kecil? maksud lo gue kaya anak kecil, gitu?"
"Tingkah lo yang seperti ini yang bikin lo jaya anak kecil."
"Kalau lo jadi gue? Apa lo terima masih santai, saat pernyataan cinta Lo di tolak tanpa penjelasan yang lebih jelas, hah?" Adam menatap sengit mata Bima dari kaca spion depan. Bima membulatkan matanya, dia sampai menolehkan kepalanya sebentar kemudian kembali melihat ke depan lagi. Dia tidak mau terjadi kecelakaan dan membuatnya masuk koran hanya karena mati kecelakaan.
Amit-amit jabang bayi, jangan sampai!
__ADS_1
Matanya melirik wajah Adam dari spion yang berubah merah, seperti menahan emosi.
"Maksud lo apa? Terus cinta siapa yang di tolak? Lo jangan bikin gue bingung, deh!"
"Gue. Hawa nolak cinta gue. Puas lo!"
Ckiitt
"APA?!" tanpa sadar Bima menginjak rem mobil dengan mendadak. Hingga membuat badan mereka terpental maju sedikit. Beruntung Bima dan Adam menggunakan sabuk pengaman, coba kalau tadi mereka tidak menggunakannya, mungkin mereka sekarang sudah berada di rumah sakit.
"Lo mau bunuh gue apa? Main ngerem mendadak segala?"
"Sorry, gue nggak sengaja. Soalnya gue kaget tadi Lo ngomong gitu. Jadi, tadi lo nembak Hawa? Disini?" tanya Bima sambil menunjuk ke arah mobil yang mereka pakai. Adam hanya menggumam sebagai jawaban.
"Ckckck, pantes lo di tolak sama dia."
"Maksud lo apaan?"
"Gue kalau jadi cewek juga bakalan ngelakuin hal yang sama. Gue mau nanya sama Lo sekarang?"
"Apaan?"
"Waktu lo nembak dia, apa lo ada ngasih sesuatu ke dia? Kaya semacam bunga, coklat atau cincin, gitu?" Adam menggeleng. Bima semakin ingin memukul kepala Adam. Saking gregetnya, Bima sampai melempar kertas kecil yang ada di atas dasboard mobilnya.
Adam langsung mengelak dan kemudian memelototi manajer kurangajarnya.
Adam memberengut sebal karena di bilang bego oleh Bima.
"Terus, sekarang gue harus gimana?" tanya Adam pelan.
Adam menatap Bima dengan memelasEntah menghilang kemana semangatnya tadi, yang ada sekara saat mengingat kejadian tadi. Bima yang melihatnya malah menyeringai.
"Rasain lo! Makanya, jangan suka mempermainkan cewek. Ini tuh karma buat lo, karena sudah banyak menyakiti hati cewek."
"Bahagia banget lo ngelihat gue kayak gini. Puas-puasin aja sekarang, besok kalau sampai Lo ngeluh ke gue, bakal gue bales lebih dari ini. Inget itu!"
"Diih, baper?"
"Bodo amat. Udah jalan! Nanti kalau sampai gue telat lo yang gue tendang ke laut!"
"Emang susah kalau ngomong sama orang yang lagi patah hati. Bawaanya sensitif, kaya ****** bayi. Hahaha,!
"Sial*n emang lo, tuh!"
Adam mengabaikan Bima yang sedang tertawa di atas penderitaannya. Adam membuang wajahnya menatap ke luar jendela, kini mobilnya sedang melaju menuju tempat pemotretan. Dalam hati bertanya? Apakah dirinya tidak pantas mendapatkan cinta dari hawa, fans nya sendiri?
...---------...
__ADS_1
Sementara itu, Hawa yang baru saja pulang dari kantor memilih merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Hawa meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bayang-bayang kejadian tadi pagi membuat pipi hawa merona malu. Tangannya mengusap lembut bibirnya sendiri, walaupun sudah berlalu tapi dia masih mengingat jelas rasanya.
"Apa gue udah bener nolak cinta dia, yah? tapi, kenapa harus sekarang di saat gue belum siap. Akh! Gue nyesel banget. Huhuhu. Bisa nggak,sih, waktu di ulang kembali? Huwaaaa,"
"Gue harus gimana sekarang? gue juga nggak mungkin narik omongan gue lagi, yang ada nanti dia malah ngira gue gila. Huhuhu, bego banget sih gue!"
Sesaat Hawa menghentikan tingkahnya yang sangat norak.
"Apa gue tanya dulu yah? tapi, sama siapa? nggak mungkin gue curhat sama Vivi, nanti yang ada gue di kira gila lagi." Gerutunya.
Sadar akan perbuatannya yang telah menyakiti hati Adam, Hawa menendang bantal dan selimut ke lantai kamarnya. Dia bangun dari ranjangnya sambil menggigiti kukunya sendiri. Tanpa sadar kakinya terantuk meja rias, sehingga membuatnya menjerit kesakitan. Hawa langsung memanggil ibunya untuk datang ke kamarnya.
"Akh, IBU! TOLONGIN HAWA BU!"
Ibu yang mendengar suara gadis dari kamar anaknya langsung berlari mendekatinya. Saking paniknya, spatulanya ikut di bawa masuk ke kamar Hawa. Ibu mendorong pintu kamar anaknya dengan buru-buru, dan mendapati anaknya yang sedang guling-guling sambil memegang kakinya.
"Ya Allah, kak. Kamu tuh lagi ngapain, sih? kenapa bisa kaya gini? dan, apa ini? Bagaimana bisa kamar kamu berantakan seperti ini?"
"Ih, kok, ibu malah bahas masalah itu sih? nih, lihat! jempol kaki aku sakit, Bu~" rengek Hawa pada ibunya. Ibunya menatap anaknya yang sedang kesakitan lalu menghela nafas.
"Lain kali hati-hati, kak! Lagian, kamu kan sudah besar kenapa bisa seceroboh itu?"
"Iya, aku minta maaf. Lain kali nggak bakalan ceroboh lagi. Tapi ini beneran sakit, Bu,"
"Manja banget sih anak Ibu ini. Udah gede juga, malah ngerengek kaya anak kecil. Malu atuh, Kak!"
"Biarin! Kalau bukan sama Ibu, terus sama siapa dong?"
"Lah? sama pacar kamu lah, yang itu,tuh, yang kemarin bantuin kakak dirumah sakit, dulu."
Pipi hawa langsung merona malu sebab di ingatkan kembali tentang Adam. Belum juga reda rasa sakitnya sekarang malah di tambah dengan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya. Bibirnya memberengut menatap ibunya sedangkan ibunya dengan telaten membantu hawa untuk duduk di atas ranjang.
"Ibu ambil minyak tawon dulu, yah! Buat dioleskan di memar kamu. Kamu tunggu disini sebentar saja!"
"Iya, Bu."
Hawa menunggu ibunya yang sedang mengambil minyak tawon untuk di oleskan pada luka memarnya. Sambil menunggu, hawa berusaha meniup-niup luka di kakinya. Ibunya kembali datang ke kamarnya sambil membawa minyak tawon di tangannya.
"Sini, ibu bantu oleskan! Lain kali kamu harus hati-hati, yah, sayang. Terus, nanti jangan lupa kamu bereskan kekacauan ini."
"Baik, Bu. Nanti aku rapihin kamar aku, dan terima kasih Ibuku sayang. Sayang banget sama ibu.Muach."
"Udah, ah! Geli ibu lihatnya."
Setelah mengoleskan minyak tawon ke jempol kaki Hawa, ibu pergi meninggalkan kamar anaknya setelah mengecup balik pipi anaknya. Hawa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ponselnya, dan ternyata ponselnya berada di atas nakas. Hawa mengambil ponselnya untuk mencari kontak nomor Adam di ponselnya.
"**Gue telfon nggak, yah?"
__ADS_1
Tbc**