Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter XLIX


__ADS_3

Hawa pulang kerja dalam keadaan lelah. Lelah hati dan pikiran. Bagaimana tidak, Manajer barunya sungguh-sungguh menyebalkan hari ini. Padahal biasanya pak Rahmat juga biasa aja, tetapi kenapa atasan barunya kini sungguh seperti iblis.


"Huwaaaa ... Ayah, Ibu, tolongin anakmu ini,"


"Ada apa sayang?" tanya Ibu dari luar kamar.


"Atasan Hawa yang baru ngeselin banget!" adunya, "Ma-sa sedari tadi kerjaan Hawa di tolak, terus dikatain nggak becus lagi. Kan, aku jadi kesel, Bu," tambahnya sambil berurai air mata.


Selama Hawa bekerja di bidang ini, baru kali ini dia merasa tidak di hargai oleh Atasan. kan, banke banget.


"Sudah sabar aja! Mungkin atasan baru kamu, belum lihat performa kamu yang begitu gigih itu? Lebih baik sekarang kamu mandi, terus ganti baju!"


"Nggak, ah. Lagi nggak mood!"


"Loh, terus kamu nggak mau jenguk Nak Adam yang sedang di rumah sakit?"


Tangis gadis itu langsung reda. Di gantikan mimik wajah blank. Dengan secepat kilat, Hawa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan mengambil asal baju yang menurut dia pantas.


Cempaka yang melihat, hanya geleng-geleng kepala. Dia sudah tahu kejadian yang menimpa calon mantunya dari Hawa. Wanita itu terkejut, saat si anak pulang dalam keadaan baju di penuhi banyak darah dan wajah yang sembab.


Setelah di tanya, si anak mengaku kalau dia habis membawa Adam ke rumah sakit. Anaknya juga memberitahu kalau nanti dia akan kembali lagi ke rumah sakit setelah pulang kerja.


Maka dari itu, Cempaka sudah menyiapkan rantang berisi nasi, sayur, lauk pauk, buat anaknya, sedangkan bubur buat si calon mantu.


"Nih, ibu udah siapkan makanan buat kamu dan juga buat calon mantu Ibu. Nanti kamu makan, yah!"


"Iya, Bu."


"Nanti kamu pulangnya jangan malam-malam, soalnya Ibu nggak mau bukain pintu kalau kamu kemaleman!"


"Astaghfirullah, Ibu pelit banget, sih!"


"Terserah, yang penting kamu harus pulang sebelum jam sebelas. Tidak ada tawar menawar lagi!"


"Hmm, kalau begitu aku pergi dulu, Bu. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam. Salam buat Nak Adam, semoga lekas sembuh."


"Aamiin."


 


Rumah sakit

__ADS_1


Hawa berjalan menuju ruang VVIP di lantai atas. Dia tadi sudah menghubungi Bima, dan katanya Adam belum sadar juga. Sehingga membuat hatinya menjadi khawatir.


Saat berada di depan pintu ruang kamar sang kekasih, langkahnya terhenti. Gadis itu mengetuk pintu terlebih dahulu, supaya Bima tahu kalau dirinya sudah datang.


"Masuk!" sahut dari dalam kamar.


Hawa langsung membuka pintu, dan tubuhnya berubah kaku saat melihat tidak hanya ada Bima di dalam kamar itu. Ternyata Ada orang tua dari sang kekasih. Dia rasanya ingin kabur saja dari tempat ini, tetapi itu tidak sopan.


"Sini, sayang masuk saja!" ucap wanita paruh baya itu.


Sementara itu, keluarga yang lain sedang melihat penampilan dari sosok gadis yang bisa membuat Adam menjadi seperti ini. Ternyata ...,


"Sini, masuk! Nggak usah takut, kami juga mau kenalan dengan pacar anak kami. Sini , sayang!"


Hawa melangkah maju dengan pelan, saat sudah berada cukup dekat dengan ranjang sang kekasih. Tangannya di tarik oleh perempuan-kakak dari Adam, ke dalam pelukannya.


"Ya ampun, kok bisa sih, bocah kaya dia dapetin pacar cantik kayak kamu," ungkapnya gemas.


Rani Alditri mengeratkan pelukan mereka, hingga membuat Hawa tersenyum.


"Kamu Hawa, kan?" tanya Rani.


"Iya , Kak. Perkenalkan nama saya Hawa Citra Febriyanti," jawabnya sambil memperkenalkan diri, di depan keluarga sang kekasih.


"Sudah-sudah kamu nggak perlu sungkan, Sayang. Sini peluk Ibu!" Hawa memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan ragu, tetapi sepertinya keraguan dia harus di hapus. Karena, keluarga Adam begitu Wellcome kepadanya.


"Ehm-ehm," suara deheman dari seseorang membuat hawa mengalihkan perhatian nya.


Dia begitu terkejut, saat melihat mata dari sang kekasih sudah terbuka. Gadis itu langsung memeluk tubuh tak berdaya dari lelaki itu.


"Hiks, akhirnya kamu sudah sadar, Oppa. Tadi kata Bima, kamu belum sadar? Makanya aku cemas banget," ujar sang gadis hingga membuat mereka semua tertawa.


"Bima! Masa kamu tega, sih, ngerjain calon mantu saya?"


"Itu bukan salah saya, Tante. Ini tuh salah anak Tante, yang sok-sokan mau ngasih surprise buat pacarnya," elaknya.


Sedangkan si pelaku sedang tersenyum di pelukan sang kekasih. Hawa sendiri sudah kadung malu, jadi bodo amat, lah. Biar nanti dia balas keisengan Bima.


Adam sendiri, merasa bahagia. Setelah tahu kalau sang kekasih yang menemuka dirinya, semalam. Mungkin kalau Hawa tidak datang, dia sudah mati terbujur kaku di kamar mandi.


Nanti yang ada, Headline news hati ini memberitakan tentang dirinya yang.mati karena bunuh diri di tolak nikah sama sang kekasih. Bisa hancur reputasinya.


Ini lagi, orang sakit kok, malah mikirin reputasi-reputasi segala. Woi ... sembuhin aja dulu tuh sakit, baru mikirin yang lain.

__ADS_1


Sementara keluarganya memilih memberikan privasi kepada si anak dan pacarnya. Bima juga keluar untuk mencari makan bersama yang lain. kini di ruangan itu tinggal hanya mereka berdua saja.


"Kamu udah makan?" tanya Adam setelah melepaskan rengkuhan mereka.


Tangannya masih terjalin erat dengan milik si gadis.


"Belum," jawabnya.


Kemudian gadis itu mengambil rantang yang dia bawa, dan mengambil bubur untuk sang kekasih.


Adam sendiri sangat menikmati pemandangan yang begitu indah di depannya. Dia menyesal telah membuat gadi itu menjadi khawatir dengan kelakuannya. Dia akui kalau dia itu bodoh, coba kalau dia mau sedikit saja bersabar pasti ini tidak akan terjadi.


Bima sudah menceritakan kronologisnya tadi pagi. Iya, dia memang sudah bangun sedari tadi dan meminta Bima untuk tidak memberitahukan kepada Hawa. Dia tidak mau mengganggu jam kerja sang kekasih.


Beruntung tidak terjadi masalah serius kepadanya. Dia hanya kekurangan darah saja tadi, dan langsung di tangani. Kini yang dia rasakan hanya lemas dan pusing. Namun itu tidak menjadi masalah, yang terpenting dia bisa melihat wajah sang kekasih.


"Ini ada titipan bubur dari, Ibu," Hawa mengambil rantang berisi bubur di hadapan Adam.


"Suapi?" rengek Adam, membuat Hawa terkekeh.


Hawa mengangguk, "Iya, sini aku suapi," katanya.


Dengan senang Adam menerima suapan demi suapan dari sang kekasih. Walaupun lidahnya terasa pahit, tetapi dia tetap memakan makanan yang diberikan oleh calon mertuanya.


"Maaf," gumam lelaki itu.


Hawa yang mendengarnya langsung terdiam. Dia menggenggam erat sendok yang berada di tangan, "Oppa tidak salah. Justru, aku yang seharusnya minta maaf kepada, Oppa. Mungkin jika aku tidak ...,"


"Tidak-tidak, ini bukan salah kamu. Aku yang tidak sabar. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti itu, sayang!" timpal Adam.


"Namun tetap saja, aku merasa bersalah. Mungkin jika sedari awal aku tidak ada di hidupmu, kamu tidak akan mengalami hal seperti ini," sesal gadis itu.


Adam langsung menggeleng keras. Dia mengabaikan pusing yang tiba-tiba mendera kepalanya. Dia meraup tubuh Hawa dengan erat, dia tidak mau kehilangan gadis ini.


"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Kamu adalah kebahagiaan ku, jadi jangan pernah berharap untuk bisa pergi dari aku. sampai kapanpun!" tegasnya


TBC


Hai ketemu lagi. Gimana cerita hari ini? bikin greget nggak?


Yuk jangan lupa biasakan like dan komennya yah! vote juga dong, biar makin semangat akunya.


Kali ini sambil menunggu cerita ini lanjut, kalian bisa mampir di karya teman aku. Yuk kepoin!

__ADS_1



__ADS_2