Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter XXIV


__ADS_3

"Ngapain Lo ngumpet sih wa? Bukan Nya Lo kangen sama dia?" Ujar Vivi pelan. Mereka tidak mau membuat penonton lain terganggu dengan suaranya.


"Gue kangen, tapi gue nggak mau dia lihat gue dalam keadaan dekil kayak gini. Kata Lo gue jelek banget, makanya gue belum siap kalau oppa nglihat gue dalam keadaan jelek. Puas Lo!!" Gerutu hawa pelan. Mereka berdiri saling berdekatan,jadi pembicaraan mereka tidak akan ada yang tahu kecuali mereka sendiri.


"Diihh!!! Sensi amat neng. Kkkkk. Walaupun dekil Lo tetep cantik Wa. Gue yakin Oppa Lo itu pasti akan langsung jatuh cinta sama Lo. Percaya sama gue!"


"Percaya sama Lo sama aja Musyrik . Lagian kayak gini aja gue udah puas kok.!" Senyum manis terukir di bibir hawa yang tertutupi masker.


Vivi merotasikan kedua bola matanya melihat kelakuan hawa. Katanya kangen tapi nggak mau di lihat, kan sayang udah Dateng jauh-jauh tapi hawa tidak mengijinkan Adam mengenalinya.


Sementara acara yang di isi oleh Adam sebagai bintang tamu sudah mencapai akhir. Saat para kru memberitahukan bahwa acara sudah selesai, Adam langsung mengundurkan diri ke ruangannya. Dia lelah berdiri terus, apalagi dia cukup risih karena Lydia yang menempelnya terus.


Sumpah kalau nggak lagi live udah gue omelin tuh cewe.


"Kenapa Lo dam? misuh-misuh nggak jelas kaya gitu?"


"Lo lihat nggak tadi ada cewe yang nempelin gue Mulu?"


"Ohh. Lah kirain lo Ok, muka Lo aja biasa aja."


"Terus gue harus pasang wajah jijik saat di depan kamera maksud Lo gitu?"


"Kkkkk. Ya kirain enak? orang Lo di tempel-tempelin Mulu sama dia. Hahaha!"


"Puas-puasin aja Lo ketawa. Gue potong gaji baru tahu rasa Lo!"


"Ampun-ampun!! kkkk gitu doang marah. Masa anak ganteng marah sih?"


"Jijik gue bang!! Oh iya bang Lo tadi lihat hawa nggak di studio?"


"Hawa?.......Enggak tuh. Kenapa?"


"Kok gue tadi ngerasa kalau hawa ada di sana."


"Perasaan Lo doang kali. Ya udah yuk, balik! Lo kalau kangen telfon jangan cuma diem kaya batu.!!"


"Ponselnya nggak aktif bang."


"Mungkin dia bukan takdir gue-,,maksudnya bukan takdir Lo kali Dam! Hehehe"


Adam menatap tajam Bima yang kini sedang cengengesan di depannya. Dasar manajer sialan! Masa doain artisnya nggak berjodoh sama Fans nya.


..._______...


"Kuy! Pulang! ke alun-alun yuk?"


"Kuy.! Berangkat.!"Setelah acara selesai Hawa dan Vivi keluar dari studio 3 menuju lorong yang terhubung langsung ke loby.


Mereka kini baru saja sampai di tempat parkiran yang ada di luar. Mereka melepaskan masker yang menutupi wajah mereka , kemudian memasang helm ke kepala mereka sendiri-sendiri. Saat hawa sedang mengunci helm nya, matanya tidak sengaja melihat mobil Adam yang akan melintas di depannya.


Hawa memandang mobil Adam seperti memandang Adam, matanya berbinar-binar saking senengnya.


Saat hawa sedang menatap kaca mobil bagian belakang tiba-tiba kacanya terbuka dan nampak lah Adam yang sedang melihat ke arahnya. Membuat hawa terdiam.


Adam pun terpaku saat mobilnya melintasi parkiran gedung , dia melihat sosok gadis berdiri di samping motor yang mirip dengan hawa yang sedang menatapnya berbinar dari luar. Tanpa sadar Adam menekan tombol di pintu,yang menyebabkan kaca jendelanya turun hingga membuatnya bisa terlihat dari luar.


Hawa langsung memalingkan wajahnya saat sadar Adam menatapnya balik.


"Berhenti Bang!"


"Kenapa? ada yang tertinggal?"


"Bang gue minta tolong Lo bawa cewe yang sedang membelakangi mobil kita. Terus Lo bawa masuk kesini! bilang aja ada yang mau di omongin!"


"Baiklah. Tunggu sebentar.!"


Bima langsung turun dari mobil dan membiarkan Adam berada di dalamnya. Bima berjalan mendekati perempuan yang kini sedang menundukkan kepalanya.


"Permisi mba! Maaf bisa ikut dengan saya terlebih dahulu!" Bima berucap sopan kepada gadis tersebut. Dia belum tahu kalau gadis yang di carinya ternyata adalah Hawa.


Vivi yang mendengar ada lelaki yang mendekati Hawa langsung menghentikan niatnya yang akan mengeluarkan motornya. Vivi memandang aneh sikap temannya yang langsung tegang saat di dekati oleh lelaki tampan di belakangnya.


"Maaf mas! Apa anda kenal dengan teman saya?" Tanya Vivi. Dia tidak mungkin membiarkan temannya pergi dengan lelaki tidak di kenal. Walaupun ganteng tapi tetap harus waspada.


Bima mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang mengenakan helm di samping Hawa.

__ADS_1


Cantik


Bima menyunggingkan senyum sesopan mungkin.


"Ada yang ingin bertemu dengan teman Anda. Jadi saya ingin membawa teman anda untuk mengikuti saya." Jelas Bima sambil memandang Vivi yang kini sedang ber-Oh ria. Vivi menatap hawa yang kini sudah mengenakan maskernya kembali. Hawa hanya mengangguk sebagai jawaban saat Vivi melihatnya.


"Oke kalau gitu jangan lama-lama. Soalnya kami mau pergi."


"Terima kasih atas waktunya. Kalau begitu, Nona silahkan ikut dengan saya.!" Bima menyuruh Hawa untuk mengikutinya ke mobil, Bima benar-benar belum tahu siapa gadis itu .Seandainya Bima tahu pasti dia akan lebih terkejut.


"Silahkan masuk Nona! Saya tunggu di luar!" Ucap Bima kepada hawa sambil membukakan pintu bagian penumpang. Hawa mengangguk sebagai ucapan terimakasih, kemudian hawa masuk ke dalam mobil yang berisi Adam.


Jebret


Adam memalingkan wajahnya menghadap ke arah gadis yang kini sedang menyembunyikan wajahnya dengan masker.


"Hai! Apa kabar?" Tanya Adam saat dia yakin bahwa gadis di depannya memang Hawa. Fans nya yang telah sebulan lebih tidak di temui nya.


Hawa langsung salah tingkah saat Adam tahu penyamarannya. Dia bahkan sampai mengubah posisi duduknya menyamping hingga kini dirinya membelakangi Adam.


Kok Oppa bisa tahu sih kalau ini gue?


Rutuk hawa dalam hati.


Sementara Adam langsung menghubungi manajernya.


"Bang gue pulang sendiri. Nanti Lo naik Taxi saja. Makasih.!"


Klik


Adam langsung beralih ke arah kursi kemudi yang ada di depan dan melihat ke arah hawa yang masih membelakanginya.


"Hawa."


"Iya." Jawab Hawa tanpa sadar saat Adam memanggil namanya. Adam langsung tersenyum saat hawa menanggapinya. Hawa yang sadar langsung menundukkan kepalanya kebawah.


"Bisakah kamu pindah dan duduk di depan bersama saya?!"


Hawa menatap Adam ragu-ragu. Adam bisa melihat sinar keraguan di mata Hawa. Adam tersenyum manis kepada hawa dan menyuruhnya untuk pindah ke kursi depan dengan isyarat tangan.


Sreet


Deg deg deg


Jantung hawa sudah hampir copot saat dengan tiba-tiba Adam mencondongkan tubuhnya ke arah hawa. Terdengar bunyi klik saat Adam menjauhkan tubuh nya dari hawa. Belum tuntas jantungnya, tiba-tiba ada tangan yang mengusap kepalanya dengan lembut.


Ada apa dengan jantung dan wajah gue? kenapa juga Oppa melakukan ini sama gue?


Debar jantungnya makin tidak terkendali, wajahnya pun kini sudah memerah panas. Tangan hawa meremas kuat seat belt di depannya.


Adam yang menyadari keterdiaman Hawa tidak mempermasalahkannya. Justru Adam sangat bahagia saat mereka kini bisa bertemu kembali. Perjalanan dari studio menuju apartemennya hanya di isi dengan suara lagu yang Adam putar lewat aplikasi di mobilnya Agar perjalanan mereka tidak terlalu canggung.


Sesampainya di Basement, Adam langsung mematikan mesin mobilnya dan beralih ke arah hawa yang kini masih diam seribu bahasa. Mungkin hawa belum sadar kalau dia kini sudah berada di apartemen Adam, kalau dia sadar dia langsung pingsan.


Adam turun dari mobilnya dan beralih ke arah pintu samping kemudi. Dia membukakan pintu untuk mempersilahkan Hawa turun dari mobilnya.


Hawa yang mendengar suara pintu terbuka langsung mengalihkan pandangannya ke arah Adam. Seakan sadar ,hawa langsung gelagapan.


"Akh!! Mianhae Oppa!! Saya-saya..."


"Kkkk. Turunlah." Adam memberikan senyum manis kepada hawa yang di balas dengan anggukan dari Hawa.


Hawa langsung melepaskan Seat belt yang melingkari tubuhnya dan turun dari mobil Adam. Adam langsung menutup pintu mobilnya dan mengunci mobilnya dengan remote di tangannya.


Tintin


Hawa langsung berjengit kaget saat mendengar bunyi yang cukup keras di sampingnya.


"Maaf mengagetkanmu. Ayo ke atas!!" Adam memimpin jalannya, hawa sendiri yang tidak tahu mau di bawa kemana hanya diam saja. Sambil memakai topi yang dia ambil di tas. Dia sadar bahwa wajahnya tidak boleh tertangkap kamera jika ingin selamat.


Adam sendiri sudah mengenakan topi serta masker tadi waktu akan turun dari mobil. Adam tersenyum di balik maskernya saat tahu kalau hawa kini sudah mengenakan topi dan berjalan mengikutinya dengan patuh.


Ting


Pintu lift terbuka. Adam menyuruh Hawa untuk masuk terlebih dahulu. Beruntung lift kosong jadi Adam dan hawa tidak perlu merasa takut akan ketahuan orang lain.

__ADS_1


"Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi?" Adam membuka percakapan saat pintu lift tertutup. Hawa yang mendengar suara Adam langsung menunduk, sambil berkali-kali mengusap rambutnya yang tergerai bebas.


"Maaf Oppa! Kabar saya baik. Oppa bagaimana kabarnya?" Tanya hawa ragu.


"Kabar saya juga baik. Apalagi setelah bertemu dengan kamu lagi. Sepertinya kamu habis kerja di luar kota yah?"


Ting


Sebelum menjawab pertanyaan Adam, pintu lift sudah terbuka membuat percakapan mereka terhenti. Hawa mengernyit saat dirinya baru sadar dia berada dimana Sekarang.


Hawa langsung memandang Ragu punggung Adam yang kini sudah berjalan didepannya. Saat bunyi pintu terbuka hawa langsung berhenti berjalan.


Adam yang menyadari hawa cukup jauh di belakangnya langsung mengerutkan keningnya. Seakan bisa membaca keraguan hawa ,Adam langsung menyuruh hawa untuk mendekatinya.


" Kamu tidak perlu takut. Saya tidak akan berbuat yang tidak-tidak kepada kamu. Sini masuk Hawa! saya hanya ingin kita ngobrol!"


Hawa menatap ragu Adam yang kini sedang melambaikan tangan menyuruhnya untuk datang kepadanya.


"Kalau kamu ragu? kamu bisa memegang pisau yang ada di dapur saya dan menikam saya saat saya berlaku tidak sopan kepada kamu."


Setelah mendengar ucapan adam yang cukup mengerikan, hawa berjalan mendekati pintu masuk apartemen Adam yang terletak di paling pojok. Saat tidak sengaja matanya melihat bahwa di lantai ini hanya ada 2 kamar saja.


"Silahkan masuk. Dan selamat datang di rumahku yang kecil ini." Ucap Adam merendah. Hawa yang mendengarnya langsung tertawa.


Bisa banget Oppa! mana ada rumah sekecil ini? Kalau ini di katakan kecil? apa kabar rumah gue yang hanya seperempat nya saja.


"Maaf yah berantakan. Soalnya bibi belum Dateng. silahkan duduk dulu! Biar saya ambilkan minum di dapur." Ucap Adam mempersilahkan hawa duduk di sofa. Setelah melihat hawa duduk di sofa, Adam berjalan ke dapur untuk mengambil air minum serta cemilan yang ada di kulkas.


Beruntung orang tuanya kemarin datang dan menaruh banyak makanan, dari puding hingga kue serta buah-buahan.


Adam menuangkan jus jeruk kemasan ke dalam gelas yang tadi dia ambil, kemudian menaruhnya kembali sisanya di dalam kulkas. Sebelum menutup kulkas Adam mengambil kue dan puding buat cemilan.


Adam membawa nampan berisi makanan dan minuman ke ruang tamu. Adam tersenyum saat menemukan Hawa duduk diam sambil memainkan ponselnya di sofa panjangnya.


"Maaf lama menunggu." Hawa yang melihat Adam membawa nampan langsung berdiri , dia berniat membantu Adam tapi langsung di tolak oleh Adam.


"Duduk saja hawa. Kamu itu tamu jadi biarkan saya melayani tamu saya. Kkkk."


"Tapi Oppa, saya jadi tidak enak membuat oppa-.."


"Saya tidak merasa di repotkan oleh siapapun. Jadi kamu santai saja . Oh iya? apa kamu tidak mau melepaskan masker dan topi kamu? Sepertinya disini tidak ada paparazi. Kkkkk."


"Tidak apa-apa Oppa. Begini lebih baik."


"Maksud kamu?"


"Kulit saya sedang terbakar jadi takut Oppa nanti kaget melihat nya. Kkkkkk" Adam bingung mendengar alasan Hawa.


"Padahal saya kangen loh sama kamu." Ucap Adam memelas. Hawa yang mendengarnya langsung memalingkan wajahnya, malu.


"Ya udah saya tidak akan memaksa kamu. Kalau boleh tahu kamu habis tugas kemana?"..


"Bali Oppa."


"Enak dong. Sekalian liburan?"


"Mana ada liburan.Asal Oppa tahu! saya disana sudah seperti gembel gara-gara kerja dari pagi sampai pagi lagi." Saking geramnya Hawa tanpa sadar menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada Adam waktu di Bali.


Adam mengernyitkan dahinya.


"Maksud kamu?"


Hawa akhirnya menyerah dan berniat melepaskan masker serta topinya."Haahhhh!!"


Bodo amat lah! Gue udah pasrah kalau Oppa akan ngusir gue saat Oppa lihat muka gue yang dekil ini.


"Oppa jangan kaget yah lihat keadaan saya sekarang?" Adam Hanya mengangguk, sambil menunggu dengan sabar hawa yang kini sedang melepaskan topi kemudian maskernya.


"Kenapa menunduk? saya tidak bisa melihat wajah kamu jika kamu menunduk Hawa."


Ucap Adam saat wajah Hawa tertutupi oleh rambutnya yang tergerai indah di depan wajahnya karena menunduk.


"Oppa janji dulu!" Hawa memberikan jari kelingking ke hadapan Adam. Adam tersenyum kecil melihatnya dan mengikuti kemauan Hawa selanjutnya. Kini jari kelingking mereka saling bertaut,membuat desiran lembut di hati Hawa.


Setelah melepaskan tautan jari kelingkingnya, Hawa Manarik nafas dan membuangnya pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya. Hawa mengangkat wajahnya dan menemukan mata Adam sedang menatapnya lembut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2