
Hawa keluar dari bilik toilet dengan mata sembab.
Ia menatap pantulan wajahnya yang basah oleh air mata. Hidungnya pun ikut memerah menahan ingus yang ikut mendesak keluar.
"Haah ... gue pasti bisa. Anggap saja lo nggak pernah denger omongan mereka. Semangat, Hawa! Fighting!" Ucap Hawa pada dirinya sendiri.
Ia membasuh wajahnya, supaya tidak terlalu kentara. Setelah itu, ia mengoleskan lip tint di bibir.
Ia menepuk-nepuk pipinya, agar tidak terlihat seperti habis menangis. Sekali lagi ia memastikan penampilan dirinya di depan kaca, setelah merasa tidak ada yang aneh, ia keluar dari toilet menuju lantai tiga.
Dalam perjalanan, ia bersikap biasa saja. Ia bahkan tetap memberikan senyum manis, kepada karyawan lain yang ia temui di koridor maupun di lift.
Hawa tersenyum sopan, saat melihat Ryan bersama karyawan lain sedang berdiri di depan pintu masuk.
"Permisi, Mas." Ujarnya.
"Tunggu dulu, Hawa!" Cegah Ryan.
Ia memperhatikan wajah gadis di depannya dengan dahi berkerut samar.
"Kamu habis nangis, yah?" celetuknya.
Karyawan lain yang mendengar celetukan Ryan, ikut menatap wajah hawa yang memang masih terlihat sembab.
"Kamu kenapa? Apa ada yang menyakitimu?" tanya Dodo sambil menatap hawa tidak terima.
Hawa memang cukup terkenal di kantor ini, paras wajahnya serta pembawaan dia membuat para kaum laki-laki berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta dari Hawa.
Namun sebelum mereka berniat maju, mereka harus mundur lagi. Karena cinta hawa, sudah tertambat di hati sang Artis.
"Jadi dari pada kalian patah hati dan menangis bombay nantinya, lebih baik kalian menyerah sekarang." Itu kata Vivi, sahabat dari gadis itu.
"Nggak ada apa-apa,kok, Mas. Maaf, saya permisi dulu."
"Tapi ...," sebelum melanjutkan ucapannya, Ryan sudah menahan lengan Dodo terlebih dahulu.
"Ya, Udah. Nanti kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa minta bantuan sama kami. Kami siap membantu, Iya nggak kawan-kawan?" ucap Ryan sambil bertanya pada karyawan lain.
Mereka mengangguk mengiyakan. Bahkan mereka tidak sungkan-sungkan untuk bertingkah konyol, agar membuat senyum di wajah bunga kantor mereka terlihat kembali.
Akhirnya senyum gadis itu pun terlihat kembali, setelah melihat Dodo dan rekan lainnya membuat lelucon yang sangat lucu.
"Jangan bersedih lagi, yah, Hawa! Karena aku akan sangat merasa bersalah, karena tidak bisa menjadi orang yang berguna untuk kamu. Tersenyumlah, karena senyummu akan sellau membuat hatiku hangat." Batin Ryan.
...--------...
"Iya bagus. Terus lihat kedepan, tatap orang itu seperti kamu sedang menatap kekasih kamu. Ya, seperti itu. Iya, bagus! Lihat mata kekasihmu, dia akan pergi meninggalkan kamu karena dia sudah mempunyai kekasih lain. Good. Tahan sebentar. iya ... iya ... Oke, selesai." Ucap sang fotografer, kepada si model yang ternyata adalah Adam Alditri.
Tepuk tangan dari orang sekitar,mereka berikan untuk mengapresiasi diri mereka sendiri. Mereka sudah bekerja keras untuk acara hari ini, maka dari itu kalau bukan diri mereka sendiri siapa lagi yang akan menghargai kerja kerasnya.
__ADS_1
Adam berterima kasih kepada semua kru dan sang fotografer, karena telah bekerja dengan baik hari ini. Ia berjalan ke ruangannya kembali, untuk berganti baju. Tadi ia sudah berganti baju, hingga lima kali untuk kepentingan pekerjaan.
Adam mengambil ponselnya, ia berniat untuk menghubungi sang kekasih. Namun, saat ia melihat jam di ponsel, ia membatalkannya.
"Gue chat dia aja, deh." Ucapnya.
Ia langsung menulis pesan kepada sang kekasih, lalu mengirimnya lewat chat. Ia tidak mau mengganggu jam kerja Hawa.
^^^My.Lovely^^^
^^^Aku baru saja selesai pemotretan. Kalau kamu udah pulang kerja, nanti chat aku, yah? semangat sayang🥰😘💪^^^
^^^Send^^^
"Bang. Nanti tolong orderin Gofood, buat gue yah? Soalnya gue mau langsung pulang."
Sang Manajer yang sedang sibuk merapihkan peralatan serta baju-baju si artis, hanya mengangguk.
"Oke." Jawabnya kemudian.
"Gue ke mobil dulu, yah Bang. Mau istirahat di sana."
"Iya. Lo tunggu di mobil saja. Lagian bentar lagi selesai, kok."
Adam ke luar ruangan, menuju mobil yang di parkir di basemen gedung. Ia tersenyum sopan saat berpapasan dengan para kru, atau karyawan lain yang sedang lewat.
Terasa getaran di saku celana, membuat ia langsung mengambilnya. Wajahnya sudah bersemangat, tetapi ketika dibuka ternyata si pengirim pesan adalah sang ibunda tercinta.
Ia menghela nafas kecewa.
Padahal ia berharap sang kekasih yang mengirim chat, tetapi ia tetap membalas chat dari sang ibunda.
To: Ibunda
Iya Bun. Nanti Adam bakalan pulang. Minggu depan, kan?
Ponselnya kembali berdering, kali ini adalah panggilan telepon. Adam melihat sekilas id caller si pemanggil, dan saat itu juga bibirnya langsung merekah. Dengan semangat, ia menekan ikon berwarna hijau.
"[Assalamualaikum."]
"Wa'alaikumsalam. udah pulang?"
"[Ini baru mau pulang. Oppa, udah selesai?"]
"Iya, baru selesai. Ini lagi nunggu Bima di mobil. Kamu udah makan, sayang?"
["Belum. Nanti dirumah saja. Karena biasanya ibu udah masak buat kita. Oppa udah makan , lom?"]
"Haah ... jadi pengin ikut?"
__ADS_1
["Apanya?"]
"Makan di rumah kamu lah, Sayang. Kapan, aku di ajak ke rumah kamu? Aku kan, juga pengin kenalan sama keluarga kamu, sayang?"
["Kkkkk, nanti, yah, Oppa. Hawa pasti akan kenalin Oppa dengan keluargaku. Tapi nanti, nggak sekarang."]
"Emang kenapa? Jangan-jangan kamu malu, yah, punya pacar kaya aku?" Rajuk Adam, membuat hawa tertawa diseberang sana.
["Bukan gitu, Oppa. Lagian mana ada aku malu, yang ada malah Oppa yang malu, karena punya pacar aku. Secara, aku hanya remahan biskuit bagi kalian. Kkkk."]
"Siapa yang ngomong gitu? Kamu itu bukan remahan biskuit, tetapi bongkahan berlian yang sangat berharga untukku. Jadi kamu nggak boleh ngomong gitu, sayang. Aku jadi sedih."
["Oppa, berhenti merayuku! Oppa nggak mau kan, kalau aku terjadi apa-apa di jalan, gara-gara digombalin terus." ]
"Aduh, amit-amit jangan sampai terjadi! Sayang jangan kaya gitu dong ngomongnya, nanti aku sedih, tau!"
["Lagian Oppa yang bikin aku kayak gini. kkkk. Oppa kita skip dulu, yah obrolan kita. Soalnya aku mau pulang dulu. Nggak apa-apa, kan?"]
"Kamu pulang baik apa, sayang?"
["Naik motor, lah Oppa. Naik apa lagi emangnya?"]
"Ckckck. Sebenarnya aku kasihan lihat kamu naik motor, atau, aku jemput kamu sekarang! Biar nanti, Bima yang bawa motor kamu, gimana?"
["Nggak usah, Oppa. Aku sudah biasa, kok! Makasih juga, sudah peduli sama aku."]
"Besok, kalau aku mau jemput kamu boleh?"
["Emm ... Nanti kita bahas lagi, yah Oppa. Aku harus pulang dulu. Bye bye, Oppa! Assalamualaikum."]
"Wa'alaikumsalam."
Klik
Bunyi pintu menyadarkan Adam yang sedang melamun.
"Kenapa, lo? Kesambet?" tanya Bima yang melihat Adam melamun.
"Bim, kita ke Showroom mobil, sekarang juga!" Cetus Adam tiba-tiba.
"WHAT!"
TBC
Jangan lupa like , favorit dan juga vote. kalau perlu kasih hadiah biar saya makin semangat buat up.
Jangan lupa mampir di cerita temen aku yah, ceritanya keren loh. jangan lupa kalian like , favorit, dan juga vote.
__ADS_1