AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 15 Semakin Tertarik


__ADS_3

"Cuci piring udah, pel lantai juga udah. Berarti tinggal nyuci baju." gumam Asha sambil mengambil beberapa baju kotor Zidan dari sebuah keranjang menuju kamar mandi.


"Bersih, rapih. Ternyata dia pandai bersih-bersih rumah juga ya,!" gumam Zidan yang keluar dari kamar dan mengontrol pekerjaan Asha.


"Tapi sekarang dia kemana?"tanya Zidan sambil celingukan mencari sosok Asha.


"Asha kamu sedang apa?" tanya Zidan saat mendapati Asha sedang berada di kamar mandi yang terbuka.


"Aku mau cuci baju kamu." jawab Asha sambil memperlihatkan beberapa pakaian di tangannya.


"Apa?enggak usah!" ucap Zidan sambil tangannya hendak mengambil bajunya dari tangan Asha.


"Lho kenapa?udah gak apa-apa aku kan kerja disini."tutur Asha.


"Iya, tapi nyuci baju itu biar ke laundry aja jangan kamu yang ngerjain!" jelas Zidan.


"Gak papa aku udah biasa ko nyuci baju pakai tangan.Apalagi selain lebih bersih juga bisa lebih menghemat uang iya kan." tegas Asha.


"Enggak, gak boleh!" ucap Zidan sambil menarik paksa pakaian nya dari tangan Asha.


"Udah gak papa." jawab Asha sambil kembali menarik pakaian itu dari tangan Zidan.


"Aku bilang gak boleh, ya gak boleh." ucap Zidan sambil mengambil pakaian nya dari Asha dan langsung pergi menuju kamarnya.


"Dia kenapa sih aneh banget." gumam Asha yang melihat Zidan sudah menjauh dari pandangannya.


"Hampir saja, untung belum di cuci. Apalagi disini kan ada CD gue, kalau sampai di cuci dia malu kan." gumam Zidan saat sudah berada di kamarnya.


Ting...tong...ting...tong....


"Siapa lagi yang datang?" gumam Zidan sambil berjalan menuju arah pintu.


"Ya ampun gawat..!" ucap nya sambil berlari dan menghampiri Asha yang sedang membersihkan kamar mandi.


"Ikut aku sekarang!" pinta Zidan sambil menarik tangan Asha dan membawanya berjalan menuju ke dalam kamarnya.


"Kita mau kemana?" tanya Asha bingung sambil berjalan dengan tangan yang masih di tarik Zidan.


"Udah ikut aja."


Ting...tong....ting...tong.. kembali bell berbunyi.


"Aduhh ngumpet dimana ya,!" gumam Zidan sambil celingukan mencari tempat untuk sembunyi.


Sedangkan Asha dia tampak kebingungan dengan tingkah aneh sahabatnya itu.


"Itu ada tamu lho, aku buka dulu ya,!" ucap Asha hendak pergi untuk membuka pintu.


"Ngapain di buka, jangan di buka!" ucap Zidan yang membuat Asha semakin kebingungan.


"Dareen..!" panggil Rania yang sudah memasuki apartemen Dareen. Karena tidak ada yang membuka pintu, akhirnya Rania memutuskan untuk masuk.

__ADS_1


"Ikut aku!" ajak Zidan sambil menarik tangan Asha dan membawanya masuk ke dalam sebuah lemari.


"Ngapain kita disini? dan kenapa kita harus ngumpet?" tanya Asha saat mereka sudah berada di dalam lemari.


"Diam,! jangan banyak bertanya." jawab Zidan.


"Dareen..!" kembali Rania memanggil.


"Itu ada o..!" ucapan Asha terpotong karena Dareen menutup mulut Asha dengan tangannya.


Kini mereka saling berhadapan dengan sangat dekat, mata mereka saling pandang satu sama lain.


Mata ini kenapa begitu teduh jika di pandang.Dan kenapa mata ini seperti meminta bantuan padaku tentang kesedihan yang Asha alami.


Suara hati Zidan dengan masih memandang manik mata Asha.


Karena mendapati apartemen Dareen yang sepi tidak ada orang.Membuat Rania memutuskan untuk pergi darisana karena dia tidak menemukan seseorang yang ingin di temuinya.


"Zidan sepertinya orang itu sudah pergi." ucap Asha setelah melepaskan tangan Zidan dari mulutnya.


"Oh iya,!" jawab Zidan yang tersadar dari lamunannya.


Asha langsung keluar dari lemari meninggalkan Zidan yang masih diam di dalam lemari.


"Ada apa sih sebenarnya? kenapa Zidan malah sembunyi di saat ada tamu.Emang siapa sih yang datang tadi?" gumam Asha yang masih bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


"Zidan, karena pekerjaan ku sudah selesai. Aku pulang dulu ya,!" pamit Asha.


"Sebelum pulang, mau gak temenin aku jalan-jalan dulu?" tanya Zidan.


Setelah berpikir beberapa detik akhirnya Asha terima ajakan Zidan.


"Ya udah yuk,!" jawab Asha yang membuat Zidan terlihat sangat senang.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum Asha pulang.


"Asha, kalau boleh tau kamu tinggal sama siapa aja di rumah?" tanya Zidan yang sekarang sedang berjalan kaki bersama Asha.


"Aku hanya tinggal sama ibu." jawab Asha.


"Ayah kamu?"


"Aku gak tau tentang Ayah aku.Tapi aku yakin kalau ayahku masih hidup."tutur Asha.


"Kenapa kamu bisa gak tau tentang ayah kamu?" tanya Zidan.


"Kata ibu, Ayah ninggalin kita saat aku masih berusia dua bulan."


"Terus Apa kamu tidak menanyakan tentang keberadaan Ayah kamu?"


"Aku udah coba, tapi ibu seperti nya masih belum mau memberi tahu ku tentang keberadaan Ayah." ungkap Asha.

__ADS_1


"Kalau kamu sendiri, dimana ibu dan Ayah kamu?" tanya Asha.


"Ibu dan ayah ku sudah berpisah, dan karena perpisahan mereka membuat ku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka." ungkap Zidan.


"Apa? kamu ninggalin mereka, tapi kenapa Zidan? padahal kamu masih mempunyai kedua orang tua yang lengkap meskipun mereka sudah gak bersama lagi.Dan mereka pasti sangat merindukanmu."


"Jika mereka merindukan aku pasti mereka akan mencari ku, tapi ini tidak.. itu artinya mereka sudah melupakan aku."


"Tapi dari mana kamu tau, kalau mereka melupakan kamu?" kembali Asha bertanya.


"Ya emang itu kenyataan nya, udah ah jangan bahas itu mulu.Sebaiknya kita beli ice cream itu yuk!" ajak Zidan sambil berjalan pergi meninggalkan Asha.


"Zidan tunggu!" panggil Asha sambil berlari kecil menyusul sahabatnya itu.


"Gimana enak gak?" tanya Zidan yang sekarang sedang menikmati ice cream bersama Asha.


"Ini enak banget, aku suka." jawab Asha sambil tersenyum manis.


"Syukurlah, kalau kamu suka."


Pluk..ice cream Zidan terjatuh saat dia hendak untuk memakannya.


Melihat itu Asha langsung tertawa lepas.Tawa yang mungkin tidak pernah Asha rasakan sebelumnya.


Asha terus tertawa, hingga Zidan juga tidak sadar kalau dia begitu terpesona dengan kecantikan Asha yang sedang tertawa lepas seperti itu.


Kenapa dia bisa secantik dan semanis ini jika dia sedang tertawa lepas seperti itu.


Dan entah kenapa aku senang melihat kau tertawa seperti itu.


Dia tertawa seakan dia melupakan semua beban yang dia pikul selama ini.


Suara hati Zidan.


"Aduhh..kulit perut ku sakit Zidan, karena aku tidak bisa menghentikan tawa ku ini." ucap Asha sambil memegangi perutnya.


"Biarlah ice cream ku jatuh, asal kamu bisa tertawa seperti itu." ucap Zidan.


"Ya udah kita pulang yuk,! aku anterin." ajak Zidan yang di jawab anggukan oleh Asha.


*******


Drrtt... drrtt... drrtt...


Ponsel Zidan bergetar di saku celananya.


"Sebentar Aku angkat telpon dulu ya,!" ucap Zidan yang di jawab anggukan oleh Asha.


"Dareen segera ke rumah saya, ada yang ingin saya bicara kan sama kamu." ucap Romi dari sebrang sana.


"Baik pak." jawab Dareen yang kemudian memutuskan panggilan telponnya.

__ADS_1


__ADS_2