AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 47 Kembalinya putri yang hilang


__ADS_3

Sarah hanya bisa diam duduk manis di jok belakang mobil, walau dalam hatinya dia bertanya-tanya sebenarnya Darren mau membawa dirinya pergi kemana?


Tak butuh waktu lama akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah tiba di sebuah bangunan mewah dan megah dengan nuansa cat serba putih.


Dareen dan Asha bergegas turun, sebelum akhirnya membantu Sarah keluar dari mobil dan mendudukkannya di sebuah kursi roda.


Di luar gedung yang mewah dan megah itu di penuhi oleh karangan bunga ucapan belasungkawa yang berjejer rapi.


Mata Sarah terbelalak ketika melihat tulisan yang mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya pak Romi Bramantyo selaku presiden utama di perusahaan Bramantyo group.


Apa ini artinya..? tidak.. ini tidak mungkin.. Romi.... batin Sarah yang meneriakan nama anak semata wayangnya dalam hati.


Seketika tubuh Sarah bergetar dengan dada yang terasa begitu sesak.


Air mata mulai mengalir membasahi pipi yang mulai terlihat keriput itu.


Dareen yang melihat itu bisa merasakan sakit hati yang di alami Sarah.


"Oma Sarah yang sabar ya, Dareen yakin Oma bisa melewati ini semua."Dareen mencoba memberi kekuatan untuk Sarah.


Sarah hanya bisa diam dan menangis sejadi-jadinya dalam diamnya itu.


Terlihat banyak sekali para sahabat pebisnis Romi yang datang ke rumah duka itu.


Tak sedikit juga para pebisnis ternama yang mendatangi rumah duka itu untuk memberi penghormatan untuk Romi sebelum di makamkan.


Dareen, Asha dan Sarah yang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh Dareen memasuki bangunan megah itu.


Membuat semua mata yang ada disana menatap ke arah mereka bertiga.


Begitupun Rosa yang terperanjat karena melihat Sarah yang datang bersama Dareen dan gadis yang belum lama ini dia kenal.


Astaga bagaimana bisa si nyonya struk itu bisa keluar dari gudang? mati aku.. apa dia sudah memberi tahu Dareen dan gadis itu tentang kejahatan ku? tidak.. itu tidak mungkin karena dia kan tidak bisa bicara, ya... pasti itu tidak terjadi.batin Rosa meyakinkan dirinya.


Setelah melihat foto anaknya yang terpampang jelas di depan sana membuat Sarah lagi-lagi harus menerima kenyataan yang pahit jika memang benar anak semata wayangnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Tak henti-hentinya air mata Sarah terus berderai, sambil dia melihat wajah sang putra untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Begitupun dengan Asha yang sama hancurnya dengan Sarah, air mata yang mampu membuktikan kalau dirinya sangat terluka saat ini.


Saat acara penghormatan telah selesai peti yang berisi jasad Romi pun akan di bawa untuk segera di makamkan.


"Tunggu!"dengan lantang Asha berucap yang membuat semua mata yang ada disana menatap ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan?dasar gadis tidak tahu diri."Rosa menghampiri Asha.


"Ayo kalian lakukan saja tugas kalian, jangan dengarkan ucapan gadis ini."seru Rosa yang menatap tajam ke arah Asha dengan tatapan tidak suka.


"Aku bilang tunggu! Aku ingin keadilan untuk ayahku."kembali Asha memberi penegasan.


Semua orang yang berada disana mulai berbisik-bisik membicarakan Asha.


"Apa yang kamu katakan? kamu ini sudah tidak waras ya,!"Rosa berbicara dengan mata yang menatap semua tamu disana dengan senyuman khawatir.


"Aku ingin jasad ayahku di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi!"kembali suara Asha membuat semua orang yang ada disana tercengang juga merasa kebingungan.


"Dasar gadis tidak waras pergi kamu dari sini, kamu mengacaukan semuanya."Rosa berapi-api dengan wajah yang sudah terlihat panik.


"Iya, saya sendiri."jawab Asha.


"Jadi ternyata benar kalau selama ini pak Romi Bramantyo memiliki dua putri?"kembali pak Hary itu bertanya.


"Iya, Asha Nathania memang adalah putri sulung dari Romi Bramantyo."kali ini Dareen yang berbicara.


Lagi-lagi penuturan Dareen mampu membuat semua orang yang ada disana kebingungan dan bertanya-tanya tidak terkecuali Sarah dan juga Rania yang sama-sama tercengang mendengar penuturan Dareen.


"Jadi sebelum pak Romi menikah dengan ibu Rosa, pak Romi pernah mempunyai istri dan seorang putri. Dan putri itu adalah Asha Nathania yang kini berdiri di hadapan kalian semua."Dareen memberikan penjelasan yang membuat semua orang manggut-manggut dan mulai percaya dengan semua ucapan Darren.


"Dareen apa yang kamu katakan? kamu jangan mengada-ada ya,!"protes Rosa.


"Aku bicara fakta ibu Rosa."tegas Dareen.


Setelah melakukan beberapa penimbangan akhirnya keinginan Asha di terima.


"Karena atas keinginan putri sulung pak Romi maka jasad pak Romi akan di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi."pengumuman itu akhirnya di sampaikan oleh pak Hary selaku pengurus dan orang kepercayaan Romi Bramantyo.

__ADS_1


"Tidak.. saya tidak setuju dengan ide gila ini."teriak Rosa yang mencoba memberontak dengan hati yang mulai di selimuti rasa ketakutan.


"Maaf Bu Rosa, tapi kami tidak bisa mengacuhkan keinginan dari seorang putri untuk ayahnya."


"Kau telah memilih jalan kehancuran mu sendiri gadis bodoh. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan."ancam Rosa pelan nyaris tak terdengar tapi terdengar jelas oleh Asha.


Mata Asha hanya fokus ke depan tanpa memperdulikan ancaman Rosa.


Rosa keluar dari rumah duka itu yang di susul oleh Rania.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Kabar meninggalnya presiden utama perusahaan Bramantyo group telah hangat di perbincangkan, bahkan semua saluran televisi pun tidak ayal memberitakan kepergian sang pebisnis sukses kota itu.


Terlihat Mira sedang menuangkan air pada sebuah gelas.


Satu teguk Mira sudah menikmati kesegaran dari air mineral itu.


Memilih berjalan sedikit untuk menuju ruang tengah dan mulai menyalakan televisi 14 inci itu, hanya untuk sekedar menonton sebuah Drakor kesukaannya yang selalu ia tonton bersama putrinya.


Pengusaha sukses ternama Romi Bramantyo akhirnya telah berpulang. Kepergiannya menyisakan kesedihan mendalam untuk keluarganya.


Mendengar berita itu mata Mira mulai berkaca-kaca hingga gelas yang dia bawa dari dapur tadi jatuh dan pecah di atas lantai.


"Mas Romi..!"gumam Mira yang kemudian air matanya mengalir membasahi pipi putihnya.


Bukan hanya Mira yang di buat terkejut dengan kabar meninggalnya Romi, tapi seluruh murid di sekolahan beserta gurunya pun ikut merasakan kesedihan yang cukup mendalam atas kepergian sang pemilik sekolahan itu.


Karena menurut mereka pak Romi di kenal sebagai sosok yang sangat baik, dan santun.


Banyak dari semua orang yang mengenal beliau mendo'akan kebaikan untuk beliau.


"Arrrgh...! Kenapa semuanya jadi seperti ini."Rosa benar-benar marah dengan menyeret semua kecantikan yang berjejer rapi di meja riasnya hingga jatuh berantakan di lantai.


"Ma jadi benar si Asha itu anaknya papa Romi?"tanya Rania yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamar Rosa.


"Kalaupun iya, Mama tidak akan tinggal diam Mama akan pastikan dia menyusul ayahnya ke neraka."gumam Rosa dengan hati yang berapi-api.

__ADS_1


__ADS_2