
"Ibu mau bilang sama Dareen kalau aku itu jahat iya?"Rosa menatap tajam ke arah Sarah dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Sarah hanya bisa diam dengan menahan rasa takutnya, dia takut jika Rosa bisa berbuat nekad terhadapnya.
"Hahaha...ibu...ibu, mau sampai kapanpun ibu nggak akan pernah bisa kasih tahu Dareen tentang semua kejahatan ku.Karena apa karena sekarang ibu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jadi aku peringatkan ya bu, jika sampai ibu macam-macam denganku maka jangan salahkan aku jika aku akan berbuat lebih buruk lagi dari yang ibu alami sekarang!"ancaman Rosa membuat bulu kuduk Sarah berdiri.
"Hahaha..!"kembali Rosa tertawa dengan kaki yang berjalan keluar dari kamar mertuanya itu.
Sarah hanya bisa menangis dalam diam. Maafkan Mama Romi selama ini Mama bersalah sama kamu. Mama memaksa kamu untuk menikahi perempuan seperti Rosa yang sangat jahat, Mama menyesal Romi karena telah membuat kamu berpisah dengan Mira wanita yang baik dan wanita yang sangat tulus mencintai kamu.
Jika saja waktu bisa Mama putar kembali Mama tidak akan sudi membiarkan kamu menikahi wanita licik seperti rosa.batin Sarah dengan air mata yang kini tengah membasahi wajah yang sudah mulai terlihat keriput itu.
Dareen sedang sibuk bekerja di perusahaan Bramantyo group, mengurus semua berkas-berkas yang di pinta pak Hary selaku notaris sekaligus orang kepercayaan Romi Bramantyo.
Kembali Dareen mendatangi rumah besar kediaman Bramantyo, tapi kali ini dia tidak datang sendiri melainkan di dampingi oleh pak Hary.
Dareen berjalan beriringan memasuki rumah besar itu dengan pak Hary.
Rosa hanya bisa menatap tajam dari kejauhan, tatapan tidak suka itu terlihat nyata dia tunjukkan untuk kedua manusia itu yang mulai menaiki tangga menuju kamar utama kamar yang di tempati Romi.
Dareen dan pak Hary memasuki kamar Romi,dan sebelum melakukan pekerjaannya Dareen menutup pintu kamar itu rapat-rapat bahkan mungkin dia menguncinya.
Sedangkan Rosa terlihat dia mengendap-endap menaiki tangga dan ketika dia sudah sampai di atas dia mencoba berjalan perlahan untuk bisa kembali menguping pembicaraan ketiga manusia yang sekarang sedang berada di dalam kamarnya.
Namun kali ini rencananya untuk bisa menguping gagal karena pintu yang biasanya selalu terbuka kini pintu itu tertutup dengan sangat rapat.
Bahkan satu semut pun tidak akan bisa melewati pintu itu saking rapatnya π
Rosa mencoba menempelkan daun telinganya di depan pintu kamarnya demi untuk bisa mendengarkan apa yang mereka bertiga bicarakan.
Namun sialnya Rosa tidak bisa mendengar apa-apa yang membuatnya kesal setengah mati.
Meremas kedua tangan seraya hilir mudik di depan pintu kamarnya.
Sepertinya Rosa benar-benar tidak tenang sehingga membuatnya gelisah tak karuan.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan dan bicarakan? kenapa sampai pintunya di tutup rapat-rapat seperti ini? pokoknya gimanapun caranya aku harus mengetahui apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan." gumamnya dengan kaki yang terus hilir mudik di depan pintu kamarnya.
Memutuskan untuk mencoba kembali menempelkan daun telinganya ke pintu kamarnya, terus bertahan dengan posisi itu berharap bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan, namun tiba-tiba..
__ADS_1
"Gubrakk...!"Rosa terjatuh saat pintu kamar itu di buka oleh Dareen dari dalam.
"Ibu Rosa tidak apa-apa?"tanya pak Hary yang kini tengah berdiri di hadapannya bersama Dareen.
Rosa langsung berdiri ."Iya saya tidak apa-apa!"jawabnya ketus seraya berjalan keluar untuk menghindari mereka berdua karena merasa malu.
Sedangkan Darren dan pak Hary hanya bisa saling melempar senyum melihat kelakuan istri dari bosnya itu.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Setelah pekerjaannya selesai Darren kembali mengunjungi kontrakan Asha.
"Sha, apa sekarang kamu sudah bisa pergi untuk menemui ayah kamu?"Dareen bertanya langsung pada inti niat kedatangan nya kesana.
Asha tidak langsung menjawab, karena jujur dia masih bimbang dengan perasaan dan keinginannya saat ini.
"Sekali ini aja Sha, kasian ayah kamu sedang sakit yang sepertinya lumayan parah. Dan dia berharap banget bisa ketemu kamu dengan ibu kamu."Dareen mencoba menjelaskan dan menyampaikan keinginan bosnya itu yang kemarin dia lihat begitu sedih sampai menitikkan air mata.
Mira menggenggam tangan sang putri karena kebetulan sekarang Mira juga sedang duduk berdampingan bersama Asha di sebuah kursi.
Asha menatap wajah sang ibu, dan Mira menganggukkan kepalanya sebagai persetujuannya untuk mengikuti saran dari Dareen.
Melihat persetujuan Asha Dareen sangat bahagia sehingga seutas senyum tersungging di bibirnya.
Setelah beberapa menit Asha dan Darren menyusuri jalanan yang cukup ramai akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka tuju.
Dareen turun dari mobil dan memutari mobil ke depan lalu membukakan pintu mobil untuk Asha.
Asha sedikit ragu, tapi Dareen mencoba meyakinkannya kembali.
Asha turun dari mobil sambil manik matanya menyisir rumah besar yang ada di hadapannya saat ini.
Mulai berjalan berdampingan bersama Dareen memasuki rumah besar kediaman Bramantyo.
Tak henti-hentinya mata Asha menyisir setiap bangunan kokoh dan indah itu dengan takjub.
"Dareen siapa yang kamu bawa ini?"Rosa bertanya seraya menghampiri Dareen dan Asha di ambang pintu.
"Siang Bu Rosa, ini namanya Asha tamu pak Romi."tutur Dareen yang di ikuti anggukan serta senyuman Asha.
__ADS_1
Mata Rosa melihat Asha dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.
"Kalau begitu saya permisi ke atas dulu Bu Rosa!"pamit Dareen seraya kakinya melangkah pergi dengan Asha yang mengekor di belakang.
Rosa terus menatap punggung Asha yang kini tengah berjalan menaiki tangga.
Detik kemudian dia juga berjalan sedikit untuk menuju sofa lalu duduk kembali untuk menikmati teh hangat yang tadi tertunda karena kedatangan Dareen dengan Asha.
Saat cangkir keramik itu menyentuh bibirnya tiba-tiba.. bhuuuuh...! Rosa menyemburkan teh hangat itu karena sesuatu.
Menyimpan kembali cangkir itu ke atas meja di hadapannya. "Sial.. apa jangan-jangan gadis itu."gumamnya yang baru menyadari sesuatu.
Darren mengetuk pintu kamar Romi sebelum mereka akhirnya masuk.
Terlihat Romi menoleh ke arah Asha dan Darren yang kini sudah berada di dalam kamarnya, dengan posisi yang sekarang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.
Melihat wajah Asha dan Dareen dengan mata yang terlihat buram, detik kemudian dia mengambil kacamata yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Memakai kacamata itu, kembali melihat ke arah Dareen dan juga Asha.
Manik mata Romi menangkap sosok wajah seorang gadis yang cantik yang kini berada beberapa centimeter dari dirinya.
Romi langsung bangkit dari duduknya, matanya terus terpaku pada gadis yang sekarang berada di depannya.
Teringat sekelebatan wajah gadis itu, yang menurutnya pernah bertemu.
Detik kemudian kilasan momen saat dirinya dan Asha pernah bertemu pun terjawab sudah akhirnya Romi mengingat jika dia pernah bertemu dengan Asha sebelumnya di sekolah waktu itu.
Dia adalah gadis yang sama yang aku temui waktu di sekolah, apa dia adalah putriku? pikiran Romi bertanya-tanya hingga dia menggerakkan kakinya untuk bisa berjalan menuju gadis yang di bawa Dareen.
Tapi Asha masih tidak bergeming dia masih tetap diam di tempatnya tanpa bergerak sama sekali.
"Apakah kamu adalah putriku?"Romi bertanya seraya kakinya terus berjalan untuk bisa menjangkau Asha.
Tapi beda dengan Asha yang malah mundur hingga akhirnya dia berlari keluar dari kamar itu dengan tangannya yang tidak berhenti menghapus air asin yang kini membasahi pipi putihnya.
Notes : Untuk yang suka cerita Asha dan Dareen minta dukungan like, komentar dan vote nya ya bebz..ππ
Jika kalian suka silahkan di baca, jika tidak suka silahkan di skip ok ππ
__ADS_1
Happy reading.. ππ