
Saat Asha sedang berjalan menuju kelas tiba-tiba ada tangan yang menariknya cukup keras yang membuatnya meringis kesakitan.
"Rania..!"lirih Asha dengan kaki yang terus berjalan mengikuti arah Rania membawanya.
"Gue kan udah peringatkan Lo untuk nggak deket-deket sama Dareen."ucap Rania dengan melepaskan tangannya dari lengan Asha dengan sedikit mendorong tubuh Asha.
"Aku..!"
"Aku apa?Lo sengaja mau cari masalah sama gue?"tanya Rania dengan emosi.
"Aku sama Dareen cuma teman ko Rania nggak lebih."ungkap Asha.
"Enggak ada cewek sama cowok itu temenan.Atau jangan-jangan Lo juga suka sama Dareen ya kan? Ngaku Lo Asha hah..!"ucap Rania yang sudah di kuasai emosi.
"Enggak aku cuma temenan aja nggak ada hubungan apa-apa."jawab Asha.
"Tapi gue nggak percaya sama Lo."teriak Rania dengan mendorong tubuh Asha cukup keras yang membuatnya sampai terjatuh.
"Aww..!"lirih Asha.
"Ingat ya, ini belum seberapa jika Lo terus deketin Dareen gue akan berbuat lebih dari ini.Ngerti Lo."ancam Rania sebelum melangkah pergi meninggalkan Asha.
"Ting..tong..!"bell apartemen Darren berbunyi.
Mira yang sedang mencuci piring bergegas untuk membuka pintu.Namun niatnya urung karena Dareen sudah berjalan lebih dulu ke arah pintu.
"Pak Romi bapak kesini."sapa Dareen saat pintu apartemennya dia buka.
"Ayo masuk pak!"Dareen mempersilahkan.
"Enggak perlu, disini saja. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu."
Terdengar suara yang sangat familiar bagi Mira yang membuatnya menghentikan aktivitasnya dan terburu-buru untuk melihat ke arah suara.
"Ibu mau kemana?"tanya Dareen yang sudah kembali dan berpapasan dengan Mira.
"Itu.. siapa yang datang?"tanya Mira yang melihat ke arah pintu yang sudah tertutup.
"Oh itu, tadi atasan saya."jelas Dareen.
"Kenapa tidak di suruh masuk?"tanya Mira yang penasaran dengan sosok boss nya Darren.
"Enggak katanya dia buru-buru.Ya udah Bu aku ke kamar dulu ya,!"ucap Darren sambil mengelus bahu Mira.
Darren sudah menganggap Mira sebagai ibunya sendiri maka tak ayal jika dia sudah tidak merasa canggung ataupun malu menyebut Mira ibu.
Mira hanya tersenyum dengan mata yang masih menatap pintu.
"Suara itu.. apa mungkin?"gumam Mira yang dengan cepat menggelengkan kepalanya menangkis semua pikirannya.
"Asha.. sudah pulang nak?"tanya Mira yang mendapati putrinya memasuki apartemen Darren.
Asha celikukan seperti sedang mencari seseorang.
__ADS_1
"Dareen nggak ada, dia pergi katanya ada urusan."tutur Mira seakan tahu putrinya sedang mencari sosok Dareen.
"Ibu apaan sih, aku nggak nyari dia ko."sanggah Asha dengan pipi yang mulai merah merona.
"Terus nyari siapa, masa nyari Dino."goda Mira dengan kekehan kecil.
"Ih ibu apaan sih."ucap Asha yang mulai ikut tertawa.
"Aku ke kamar dulu ya Bu!"ucap Asha yang berjalan tertatih menuju kamarnya.
"Asha kaki kamu kenapa?"tanya Mira yang menyusul Asha untuk melihat lutut sang putri.
"Oh ini, tadi aku jatuh Bu di sekolah."bohongnya.
"Makannya kamu itu hati-hati kalau jalan.Ibu obati ya,!"tawar Mira.
"Udah nggak apa-apa Bu, biar aku sendiri aja yang obati."tolak Asha dengan tersenyum.
"Kamu yakin?"
"Iya,aku kan sudah besar Bu."
"Iya ibu tahu, kalau anak ibu ini memang sudah sangat besar.Ya sudah jangan lupa di obati takutnya infeksi kalau nggak segera di obati."tutur Mira yang di jawab anggukan oleh Asha.
Masuk kamar lalu duduk di tepi tempat tidur. "Gara-gara Rania kaki aku jadi luka kek gini."ngedumel sendiri dengan tangan sibuk ngobatin lutut yang sedikit berdarah sesekali mulutnya meniup-niup karena merasa sedikit perih.
Jam menunjukkan pukul 21:15 malam.
Darren baru pulang dan memasuki apartemen.
Detik berlalu kaki yang hendak melangkah menuju kamar menjadi melangkah menuju ruang tv.
Terlihat Asha tertidur di sofa, memilih jongkok di depan Asha yang sedang tertidur.
Dengan apik manik mata Dareen menelisik semua bagian wajah Asha.
Dari mulai alis,mata, hidung yang lumayan mancung hingga mata Darren diam untuk beberapa saat ketika menatap bibir merah Asha yang alami tanpa lipstik.
Teringat jelas saat kejadian beberapa kali ketika dirinya mencium lembut bibir Asha.
Membuatnya menyunggingkan senyum ketika mengingatnya.
"Selain cantik, kamu tuh gemesin tahu."ngomong sendiri seraya tangan mencubit gemas hidung Asha.
Sampai yang punya hidung terbangun karena merasa terganggu.
"Kamu..!"ucap Asha yang beringsut dengan tangan mengucek matanya.
Melihat Asha terbangun, Dareen bangkit dan memilih duduk di sofa di sebelah Asha dengan seutas senyum di bibirnya.
"Tadi kamu ngapain?"tanya Asha yang terlihat salting.
Darren hanya melihat intens wajah Asha bukannya menjawab pertanyaan Asha.
__ADS_1
Bagaimana nggak salting coba, kalau kita di liatin cowok tampan apalagi kita baru aja ketiduran.Takutnya kan ada iler yang nempel disana pasti malu banget kebayang kan gimana perasaan Asha saat ini.
"Tidur itu di kamar, ngapain tidur di sofa."tutur Dareen dengan mata yang dia alihkan dari menatap Asha menjadi menatap layar televisi yang sedang menyala saat ini.
"Aku tadi ketiduran."seru Asha.
"Iya aku tahu ko, soalnya di bibir kamu tuh ada ilernya."tunjuk Dareen yang membuat mata Asha melotot dengan tangan yang langsung menyentuh sisi bibirnya.
"Enggak ko."sahut Asha dengan tangan mengusap-ngusap bibirnya yang membuat Darren tertawa kecil.
"Ih nyebelin."gerutu Asha dengan bangkit dan hendak pergi menuju kamarnya.
Namun dengan sigap tangan Darren menarik tangan Asha yang membuatnya duduk kembali di atas sofa.
"Enggak aku cuma bercanda ko."tutur Dareen.
Mendengar itu Asha masih tetap manyun yang membuat Darren gemas melihatnya.
"Udah jangan ngambek jelek tahu."ledek Darren dengan tangan memukul pelan lutut Asha.
"Aww sakit tahu."protes Asha sambil meringis.
"Kaki kamu kenapa?"tanya Darren saat melihat lutut Asha terluka.
"Ini gara-gara pacar kamu."ucap Asha.
"Pacar, siapa?aku nggak punya pacar."jelas Dareen.
"Udah ah ini sudah malam aku ngantuk mau tidur."seru Asha dengan melangkah pergi menuju kamarnya menyisakan Dareen yang masih kebingungan dengan ucapan Asha barusan.
"Mah..!"panggil Rania yang menghampiri Rosa di kamarnya.
Terlihat Rosa sedang duduk di depan cermin dengan tangan yang sibuk memakaikan sebuah masker ke wajahnya.
"Apa sayang?"tanya Rosa tanpa menoleh ke arah Rania.
"Papah kemana?"tanya Rania sambil celikukan mencari sosok sang ayah.
"Ayah kamu masih sibuk di ruang kerjanya, emang kenapa?"
"Enggak cuma nanya aja, eh mah tadi aku lihat mamah bicara sama seorang pria yang seumuran papah dia siapa mah?"tanya Rania tanpa basa basi.
Mendengar itu tangan Rosa mendadak berhenti saat sedang sibuk-sibuknya memakai masker.
"Oh,itu dia adalah supir baru papah kamu sayang."tutur Rosa.
"Kenapa di ganti, emangnya pak Ali kemana?"
"Pak Ali berhenti bekerja, sudah sebaiknya kamu tidur sana ini sudah malam."suruh Rosa.
"Tapi mah..!"
"Rania.. mamah bilang tidur ayo."Rosa bangkit dan mengantar Rania ke ambang pintu kamarnya.
__ADS_1
"Tidur ya sayang, selamat malam!"ucap Rosa yang kemudian menutup pintu kamarnya.
"Mamah kenapa sih, orang cuma nanya aja."gerutu Rania kesal sambil melangkah pergi menuju kamarnya.