
Asha di antar pulang Dareen dengan selamat, mobil yang berhenti tepat di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar itu membuat Asha bergegas untuk turun yang disusul oleh Dareen yang ikut turun juga.
Mungkin karena mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti membuat Mira keluar dari kontrakan.
"Kalian sudah pulang."sapa Mira dengan seutas senyum di bibirnya.
Asha berjalan mendekati sang ibu, dengan rona wajah yang ceria berbeda sekali dengan wajah Asha sebelum pergi jalan-jalan bersama Dareen tadi.
Dareen juga ikut mendekat ke arah Asha dan Mira.
"Ayo nak Dareen masuk dulu!"ajak Mira yang di jawab anggukan oleh Dareen.
Asha memasuki kontrakan lebih dulu yang di susul Mira, namun saat hendak kaki Dareen memasuki rumah kontrakan itu tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering cukup nyaring yang membuatnya merogoh saku celana dan memilih mengangkat telepon lebih dulu di luar kontrakan Asha.
"Sepertinya saya harus segera pergi Bu,!"pamitnya ketika sudah selesai berteleponan tadi.
"Nggak mau di buatkan kopi dulu?"tawar Mira yang menghampiri Darren di ambang pintu.
"Nggak usah Bu, saya buru-buru."seraya tangannya mencium punggung tangan Mira sebelum melangkah pergi.
Sedangkan Asha yang baru saja selesai dari kamar mandi celikukan mencari sosok seseorang.
"Nak Dareen sudah pulang."seru Mira yang sepertinya tahu jika putrinya mencari sosok Darren.
"Pulang? nggak mampir dulu?"terlihat raut wajah Asha yang sedikit kecewa.
"Mungkin ada pekerjaan penting makanya nak Dareen tidak mampir dulu."
Asha hanya mengangguk seakan mengerti dengan apa yang coba ibunya jelaskan.
"Ya sudah, mendingan sekarang kamu istirahat ini sudah malam."kembali Asha mengangguk dengan kaki yang berjalan menuju arah kamarnya.
Asha berbaring menyamping sambil memainkan ponselnya.
Masuk ke aplikasi hijau untuk melihat apa ada pesan chat yang masuk dari orang yang kini sedang memenuhi otak dan pikirannya.
Terlihat wajah masam itu nyata, dia berharap sekali jika Dareen akan mengiriminya pesan setelah kejadian di pasar malam tadi.
Mengubah posisi menjadi berbaring terlentang, ketika mata mulai tertutup kilasan momen saat di pasar malam tadi terlihat jelas dalam bayangan yang membuat Asha senyum-senyum sendiri.
Bangkit dari tidurnya lalu beranjak dan mengambil sebuah kaca kecil berbentuk segi empat yang tersimpan di sebuah lemari kecil.
Mulai duduk kembali di atas tempat tidur dengan kaki bersila.
__ADS_1
Menatap wajah di cermin yang kemudian menatap bibir seraya tangannya menyentuh bibir itu.
"Satu kali, dua kali tidak.. tiga kali deh kaya nya."gumamnya dengan mengingat kembali momen di saat-saat Dareen mencium bibirnya dari yang tidak sengaja sampai yang di sengaja.
"Biasanya dia itu kalau cium bibir aku cuma nempel doang, tapi yang tadi itu.. ko beda ya.. ahh... Apaan sih ko malah jadi terus bayangin itu terus sih." Asha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi ko kaya ada manis-manisnya gitu ya,!"kembali Asha menatap cermin dengan bibir yang tidak henti-hentinya melukiskan senyuman.
"Idih.. apaan sih ko malah jadi mesum gini."kembali Asha bergumam sambil meletakkan cermin itu di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Kemudian beringsut, merosot ke bawah untuk kembali berbaring menyamping menarik selimut sampai ke leher dan mencoba untuk terlelap.
Pagi-pagi seperti biasa Dareen akan mengunjungi kediaman Bramantyo untuk melihat keadaan bosnya itu.
Romi sedang duduk di tepi tempat tidur menunggu Rosa yang sedang menyiapkan obat untuk di minum dirinya.
"Ini mas obat nya."Rosa memberikan tiga butir pil ke tangan Romi.
Dengan senang hati Romi menerima obat itu, tanpa menaruh curiga apapun bahwa obat yang selama ini dia konsumsi adalah obat yang justru malah memperburuk keadaannya.
Dareen mengetuk pintu kamar Romi yang terbuka sebelum memasuki kamar bosnya itu.
Rosa menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitas nya dengan menuangkan air pada gelas yang kemudian dia berikan pada Romi.
Setelah Romi selesai meminum semua obatnya, Rosa memilih keluar dari kamar untuk memberi waktu Dareen berdua bersama suaminya.
"Pagi pak! Bagaimana keadaan bapak sekarang?"
"Alhamdulillah saya cukup baik!" Menghela nafas.
"Kapan kamu akan membawa dia kesini?"lanjutnya.
"Maaf pak untuk sekarang dia masih belum bisa menemui bapak, tapi saya berjanji akan secepat mungkin membawanya menemui bapak."
"Apa dia tidak ingin menemui saya Dareen?"
Kembali helaan nafas terdengar. "Seharusnya aku tahu diri jika mereka pasti tidak mau menemui ku, apalagi Mira mungkin dia masih sangat sakit hati dengan apa yang dulu pernah terjadi."Romi mulai mengingat kembali kejadian dulu saat dirinya mengusir Mira keluar dari rumahnya.
"Setelah kepergian mereka hatiku terasa hampa, setiap hari aku menyesali semuanya.Kenapa dulu aku menuruti kemarahan sesaat ku bukan hatiku."Pria paruh baya itu membuka kacamatanya dan mulai mengusap air bening yang lolos dari sudut matanya.
Dareen hanya bisa diam mendengarkan curahan hati bosnya itu, kesedihan yang mungkin selama ini dia simpan sendirian tanpa membaginya ke siapapun.
Kembali Romi memakai kacamatanya. "Dareen atur pertemuan ku dengan pak Hari."suara serak Romi memberi perintah yang di jawab anggukan oleh Dareen.
__ADS_1
Seperti biasa Rosa akan berada di balik pintu kamar untuk bisa mendengarkan percakapan antara bos dan pegawai kepercayaan nya itu.
Dareen pamit undur diri setelah mendapatkan perintah.
Dareen berjalan gontai menuju pintu keluar rumah Bramantyo.
Namun manik matanya menatap pintu kamar Sarah yang sedikit terbuka.
Mulai menyadari, kalau biasanya saat pagi-pagi jika dia kesini pasti Oma Sarah akan menyapanya.
Kenapa hari ini Oma Sarah tidak kelihatan pikirnya yang mengubah arah kaki menjadi berjalan menuju kamar Sarah.
Tok!tok!tok! Dareen mengetuk pintu kamar Sarah tapi tidak ada sahutan.
Memilih membuka pintu itu perlahan dan mulai menyisir ruangan kamar itu.
Mata Dareen sedikit terkejut mendapati hal yang tidak biasa.
Terlihat Sarah duduk di kursi roda dengan kondisi yang memprihatinkan.
Dareen berjalan mendekati Sarah. "Oma Sarah apa yang terjadi sama Oma?"Dareen benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Eh..emm..!"Sarah mencoba mengatakan sesuatu tapi sayang Dareen tidak bisa memahaminya.
"Dareen kamu masih disini? saya kira kamu sudah pulang."tiba-tiba Rosa masuk ke dalam kamar mertuanya itu.
"Bu Rosa apa yang terjadi sama Oma Sarah?"
"Oh itu, kemarin ibu jatuh dari tangga."jawabnya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Jatuh dari tangga ko bisa?"Dareen merasa heran.
"Iya ibu kurang hati-hati makanya ibu jatuh."jawab Rosa santai.
"Tapi Oma Rosa kenapa nggak di bawa ke rumah sakit Bu Rosa?"
"Udah, kemarin udah di bawa tapi ya gitu deh tetep aja ibu nggak mau kalau harus terus di rawat di rumah sakit. Makanya ibu di bawa pulang lagi."sanggah Rosa panjang lebar meyakinkan.
"Oma makanya Oma harus hati-hati kalau berjalan di tangga."imbuh Dareen.
"Darren bisa keluar sekarang soalnya ibu harus saya spon dulu."pinta Rosa yang di jawab anggukan oleh Dareen.
"Emm...emm.." Sarah mencoba bicara tapi apalah daya Darren tidak mengerti dengan apa yang akan di katakan Sarah. Dengan kondisi nya yang struk membuat Sarah tidak bisa leluasa memberi tahu Dareen tentang kejahatan menantunya itu.
__ADS_1
Dareen enggan untuk pergi dan merasa ada yang janggal dengan kondisi Sarah yang tiba-tiba saja struk seperti itu.
Tapi karena perintah dari Isti bosnya itu membuatnya berjalan keluar dari kamar Sarah dengan hati yang menerka-nerka, sebenarnya apa yang terjadi kemarin kenapa Oma Sarah bisa langsung struk seperti itu pikiran itu terus bergelayut di dalam hatinya dengan kaki yang terus berjalan keluar dari rumah besar kediaman Bramantyo.