
Pagi menyapa dengan mentari yang menghangatkan alam semesta.
Seperti biasa Asha terlihat sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.
Sementara Darren juga tengah bersiap untuk pergi bekerja.
"Sha aku anterin kamu ya, sekalian aku pergi ke kantor."ajak Dareen ketika melihat Asha yang keluar dari kamar.
Asha menggeleng cepat. "Nggak usah aku bisa pergi sendiri ko."
"Kamu kenapa sih kek nya nggak mau banget aku anterin ke sekolah?"tanya Darren heran.
"Aku nggak mau aja, kalau pacar kamu marah."ucapnya dengan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Dareen.
Darren menautkan alis dengan kaki yang mulai mengikuti langkah Asha.Mengekor di belakang. "Aku nggak punya pacar Sha, emang siapa sih yang ngaku-ngaku jadi pacar aku?"
Asha masih terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari Dareen yang membuat Darren kesal.
"Sha..!"panggilnya dengan menarik tangan Asha dari belakang.
Membuat yang punya tangan terpaksa harus menghentikan langkahnya.Lalu menoleh ke arah Dareen. "Apaan sih!"decaknya kesal.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku.Siapa pacar aku yang kamu maksud?"tanya Darren yang penasaran sedari semalam.
"Rania..kamu kenal sama Rania?"tanya Asha dengan melepaskan tangannya dari cekalan Dareen.
"Rania..?"
"Iya Rania anak pemilik sekolahan aku.Bukankah dia pacar kamu?"sahut Asha yang entah kenapa membuatnya kesal tak beralasan.
Mendengar itu Dareen malah tertawa kecil. "Kenapa ketawa emang ada yang lucu?"Asha semakin merajuk dengan melipatkan kedua tangan di dada.
"Kamu ini sedang cemburu ya,!"goda Dareen tanpa menghentikan tawanya.
"Apaan sih siapa juga yang cemburu."sanggah Asha dengan wajah yang mulai merah merona.
Karena merasa kesal akhirnya Asha kembali melanjutkan langkahnya dengan bibir yang manyun.
Dareen kembali mengejar langkah Asha. "Ok, ok kali ini aku serius.Aku akan jelasin siapa Rania bagi aku."ucapnya dengan menghadang langkah Asha.
"Aku nggak tertarik mendengarnya."sahut Asha, dengan langkah yang kembali terhenti.Padahal dalam hatinya dia itu penasaran banget pengen tahu sedekat apa hubungan Darren dan Rania.
__ADS_1
"Yakin nggak mau denger?"
"Enggak buat apa juga, lagian nggak penting juga buat aku."dengan bibir yang masih saja manyun.
Darren hanya bisa terkekeh kecil dengan tingkah Asha yang makin hari semakin menggemaskan dimatanya.
"Udah ah, ak_."kata-kata Asha terpotong karena dengan tiba-tiba Darren kembali mencium lembut bibir Asha begitu saja sehingga yang punya bibir hanya bisa diam karena terkesiap dengan apa yang dilakukan Darren.
Beberapa detik berlalu, hingga Darren melepaskan ciuman itu.Dan mengusap bibir Asha dengan tangannya.
Memang hanya ciuman singkat tapi bagi Asha epeknya sungguh luar biasa.Karena sudah beberapa kali laki-laki yang berada di hadapannya saat ini mencium bibirnya secara mendadak dan tanpa seizinnya.
"Makanya jangan manyun terus dan bikin gemes orang, jadinya kena cium kan."goda Dareen dengan kekehan kecil.
Asha hanya diam tidak membalas ucapan Dareen.Sedangkan Dareen dia mulai melangkah berjalan meninggalkan Asha dengan bibir yang tidak henti-hentinya melukiskan senyuman.
"Dareen..!"panggil Asha saat melihat Dareen sudah sedikit menjauh.
Dareen menoleh. "Apa?mau lagi?"kembali Dareen menggoda Asha yang membuat Asha semakin salah tingkah.
Karena Asha hanya diam tidak bicara lagi, akhirnya Darren kembali melanjutkan langkahnya.
"Udah ayo naik,nanti kamu telat ke sekolah."ajaknya yang kini sudah berada di dalam mobil.
Saat sampai di sekolah hingga waktu istirahat, tidak ada masalah bahkan sampai jam pelajaran selesai pun Rania sepertinya tidak mengganggu Asha lagi.
Mungkin Rania tidak tahu kalau tadi dia di antar Dareen makanya Rania tidak buat masalah lagi dengan Asha pikirnya.
Semua murid mulai pulang satu-persatu sehingga membuat sekolah sudah tampak sepi.
Asha bersiap untuk pulang namun Rania dan gengnya alias duo ketombe Megan dan Rika menguncinya di dalam kelas bersama mereka.
"Kalian mau apa?"tanya Asha yang sudah merasa tidak enak hati dengan sorot mata ketiga teman sekelasnya, atau teman yang selalu membully nya.
"Pantes aja Lo nggak dengerin ucapan gue untuk jauhi Darren, karena ternyata Lo itu malah tinggal serumah dengan Dareen."tuduh Rania dengan menatap tajam ke arah Asha.
Akhir-akhir ini Rania mendapat kabar dari Dino jika Asha dan ibunya tinggal bersama dirinya dan juga Darren di apartemen Dareen.
Hal itu yang membuat Rania semakin benci pada Asha.
"Lo itu perempuan nggak punya harga diri ya, bisa-bisanya Lo tinggal satu rumah dengan pria yang bukan siapa-siapa Lo."hardik Rania.
__ADS_1
"Yaelah Ran, Lo gak tau aja dia ini kek gitu pasti keturunan dari nyokapnya lah.Lo tahu kalau nyokapnya dia itu nggak punya suami. Dia aja nggak jelas siapa bapaknya iyakan Meg?"timpal Rika yang memojokkan Asha.
Mendengar itu Asha hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, tanda jika dia sedang berusaha mengontrol amarahnya yang membuncah.
"Jadi Lo mau so cantik biar bisa deketin Dareen begitu?"kata-kata Rania yang sama sekali nggak enak di dengar oleh Asha.
"Lo mau so-so'an saingi gue?"terus saja Rania mencecar Asha tanpa memberikan Asha kesempatan untuk membela diri.
"Udah Ran, kasih pelajaran aja biar dia kapok."seru Megan yang memprovokasi Rania.
"Pasti gue akan kasih dia pelajaran karena dia sudah berani merebut cowok yang gue suka."penuturan Rania yang tersirat kebencian terhadap Asha.
"Biar kita bantu."tawar Megan dan Rika yang saling melempar senyum.
Megan dan Rika memegangi tangan Asha sedangkan Rania dia mengambil sebuah gunting dari dalam tasnya.
Asha mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Megan dan Rika. "Apa yang ingin kamu lakukan Rania?"tanya Asha dengan wajah yang mulai khawatir.
Rania mulai berjalan mendekati Asha dengan membawa gunting itu. "Sepertinya seru jika rambut Lo gue gunting."kata-kata Rania yang membuat Asha semakin khawatir.
Sedangkan Megan dan Rika hanya bisa menikmati keadaan itu.Mereka sungguh senang karena bisa membully Asha lebih dari yang mereka lakukan.
"Rania jangan lakukan itu.Aku mohon!"wajah Asha dengan sedikit memelas.
"Salah sendiri kenapa Lo gak nurutin kemauan gue untuk nggak deket-deket sama laki-laki yang gue suka.
Rania mulai menyentuh rambut Asha dan hendak menggunting nya, namun dengan sigap Asha melakukan perlawanan dengan melepaskan tangannya dari cekalan Megan dan Rika lalu kemudian mendorong Rania.
"Aduhh..!"lirih Rania yang terdorong ke dinding kelas.
Sedangkan Asha dia mulai lari dan keluar dari kelas untuk menyelamatkan dirinya.
"Kenapa kalian diam saja, ayo cepat kejar!"teriak Rania dengan amarah yang membuncah.
Megan dan Rika bergegas mengejar Asha, namun Asha sudah tidak terlihat di sekolah.
"Sepertinya si anak sampah itu sudah balik deh Meg."seru Rika dengan nafas yang ngos-ngosan karena kecapekan berlari.
"Iya, gagal dong kita ngerjain si anak sampah itu."jawab Megan kesal.
Kini Asha sedang berjalan menyusuri trotoar pikirannya sungguh sangat kacau.
__ADS_1
Bukan cuma satu atau dua kali Rania mencoba melukainya, bagaimana jika Rania akan berbuat lebih parah lagi dari kejadian barusan kira-kira seperti itulah pikiran Asha saat ini.