
Romi menghentikan langkahnya dengan raut wajah yang penuh dengan kekecewaan.
Sikap yang Asha tunjukkan membuat hatinya terasa sakit.
Sedangkan Darren dia menatap Romi sekilas sebelum akhirnya dia berlari keluar kamar Romi untuk menyusul Asha.
"Sha..Asha..!"Dareen memanggil Asha dengan menuruni tangga.
Tapi Asha terus berlari kecil sampai tiba di teras rumah Bramantyo.
"Sha.. tunggu!"Dareen berhasil menarik tangan Asha yang membuat Asha menghentikan langkahnya.
Sedangkan dari kejauhan terlihat Rosa bersembunyi untuk melihat drama apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.
Asha menghempaskan tangan Dareen. "Aku nggak bisa bertemu dia, hati aku terlalu sakit."lirih Asha dengan air mata yang berderai.
"Sha lihat aku!"Dareen membingkai wajah Asha dengan tangannya hingga wajah itu menengadah ke atas menatap wajah Dareen yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.
"Sha, apa kamu tidak bisa sekali saja beri ayah kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya?"
Asha hanya diam dengan air mata yang terus membasahi pipi putihnya.
"Jika kamu ingin beban yang kamu pikul sedikit berkurang maka cobalah untuk bisa berdamai dengan masa lalu Sha. Coba kamu beri kesempatan ayah kamu untuk menjelaskan semuanya."Dareen mencoba memberi pengertian.
Asha sedikit luluh dan mulai tenang, "Kita coba lagi ok!"Asha hanya mengangguk.
Dareen menggenggam tangan Asha dan mulai membawa kembali Asha untuk masuk ke rumah Bramantyo untuk mencoba menemui Romi kembali.
βDengan terburu-buru Rosa berjalan untuk menghampiri Dareen dan Asha di ambang pintu rumahnya. "Tunggu.. tunggu..! kalian mau kemana lagi?"tanya Rosa yang kini berdiri persis di hadapan Asha dan Dareen lebih tepatnya mencoba menghalangi langkah Asha dan Darren untuk kembali memasuki rumahnya.
"Maaf Bu Rosa, kami ingin kembali menemui pak Romi."Dareen meminta izin.
"Tidak bisa! Kalian tadi sudah menemui suami saya. Jadi untuk apa kalian mau menemuinya lagi? Suami saya harus istirahat."dalih Rosa sambil berkacak pinggang.
"Tapi tadi kami belum se_"
"Saya bilang nggak bisa, lebih baik sekarang kalian pulang ok."Rosa memotong ucapan Darren seraya tangannya dengan sigap menutup pintu rumahnya.
Dareen memejamkan mata dalam guna mengontrol rasa kesalnya atas sikap dari istri bosnya itu.
Asha mengusap lembut bahu Darren. "Sebaiknya kita pulang, dan besok kita bisa kesini lagi."ucap Asha yang di jawab anggukan oleh Dareen.
__ADS_1
Rosa melihat dari balik gorden rumahnya untuk memastikan jika kedua manusia itu sudah benar-benar pergi.
"Mama lihat apa sih?"tanya Rania secara tiba-tiba yang membuat Rosa terlonjak kaget.
"Kamu ini ngagetin Mama aja tahu nggak sih."ucap Rosa kesal dengan menatap Rania sekilas, yang kemudian kembali matanya melihat ke arah luar yang membuat Rania penasaran sehingga matanya juga ikut melihat ke arah Rosa melihat.
"Itu kan si Asha, ngapain dia sama kak Darren ada disini?"imbuh Rania yang membuat Rosa menoleh ke arah putrinya itu.
"Kamu kenal sama gadis itu?"Rosa menatap intens ke arah putrinya.
"Iya, aku kenal emangnya kenapa?"Rania balik bertanya dengan mata yang terus menatap ke arah luar rumahnya.
"Mama gak tahu pasti sih, tapi mama sempat berpikir, kalau mungkin saja gadis itu ada hubungannya dengan papa kamu."Rosa mulai berasumsi sendiri.
"Maksud Mama apa? Aku nggak ngerti."
"Apa mungkin, kalau gadis itu adalah putri Bramantyo yang selama ini di cari-cari."
"Apa? Mama yakin?"Rania memastikan.
"Bisa jadi kan."Rosa terlihat berpikir.
"Mama aneh nggak mungkin ah."Rania nyelonong pergi begitu saja menolak untuk percaya dengan apa yang di pikirkan Mama nya itu.
π±π±π±π±π±π±
"Maaf karena aku, kita sampai di usir halus seperti tadi."ucap Asha yang kini tengah berada di dalam mobil bersama Dareen.
"Tidak apa-apa, tapi besok kamu mau kan mencoba lagi untuk menemui ayah kamu?"Dareen berharap banget jika Asha bisa secepatnya menyelesaikan masalahnya dengan ayah kandungnya.
Asha mengangguk dengan seutas senyum di bibirnya.
Drtt.. drtt...drtt... ponsel Dareen berbunyi nyaring di atas dasboard mobilnya.
Memilih menghentikan mobilnya dulu lalu mulai mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.
"Hallo..! sapa Dareen saat benda pipih itu sudah menempel di telinga kanannya.
"Dareen bisa secepatnya ke rumah pak Romi ini darurat."suara dari sebrang sana yang membuat Dareen menatap ke arah Asha dengan wajah yang sulit untuk di artikan.
"Aku segera kesana."kata-kata Darren sambil memutuskan panggilan telefon nya dan mulai melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
"Telepon dari siapa? apa ada masalah?"tanya Asha yang penasaran sedari tadi.
"Kita harus pergi kembali ke rumah Ayah kamu, katanya kondisi ayah kamu drop."penjelasan Dareen membuat Asha merasa bersalah dengan sikap nya tadi saat bertemu dengan sang ayah.
"Kamu nggak perlu takut ayah kamu pasti baik-baik saja."Dareen mencoba menenangkan Asha dengan menggenggam tangannya.
Asha hanya membalas dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Mobil Dareen telah tiba kembali di kediaman Bramantyo.
Tidak butuh waktu lama Darren dan Asha langsung berlari kecil untuk memasuki rumah besar itu.
"Bagaimana keadaan pak Romi?"tanya Dareen yang berpapasan bersama dokter Ardy di lantai bawah.
Namun dokter Ardy hanya menggelengkan kepalanya sambil melangkah pergi.
Dareen dan Asha hanya bisa saling pandang mendapati sikap dari dokter Ardy tersebut.
Dareen dan Asha mulai menaiki tangga menuju kamar utama, namun terdengar dari kejauhan suara tangisan yang membuat Asha semakin ketakutan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Dareen!"teriak Rania yang berhambur memeluk Dareen saat Dareen memasuki kamar Romi.
"Papa sudah nggak ada kak."timpal Rania yang membuat mata Asha terbelalak mendengar penuturan Rania.
Begitu juga dengan Dareen yang hanya diam di tempat mencoba menelaah ucapan Rania yang baru saja dia dengar.
Pertahanan kaki Asha runtuh seketika tubuh Asha ambruk ke lantai dengan air mata yang lolos membasahi pipi putihnya.
Baru saja ayah ingin menjelaskan semuanya dan mungkin juga ingin meminta maaf, tapi aku malah menjadi seorang egois yang tidak mementingkan perasaan ayah ku sendiri.
Aku lebih sibuk dengan perasaan ku sendiri yang terluka, padahal disini yang terluka bukan cuma aku tapi ayahku juga pasti sama terlukanya dengan diriku.
Tanpa mendengarkan dulu penjelasan yang akan ayah sampaikan aku malah sudah menolaknya lebih dulu anak macam apa aku ini anak macam apa?
Dan sekarang orang yang selalu aku hindari kini sudah pergi untuk selamanya, apa ini yang aku inginkan? apa ini.. tidak ini bukan keinginanku aku tidak ingin ini terjadi aku mohon bangunkan aku dari mimpi buruk ini bangunkan aku.
Hiks..hiks...hiks...air mata Asha pecah seketika dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Dareen melepaskan pelukan Rania dan mulai menghampiri Asha.
Dareen berjongkok dan mulai memeluk Asha yang kini hatinya pasti sangat hancur.
__ADS_1
Melihat itu Rania hanya bisa tertegun.