AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 31 Ancaman Rania


__ADS_3

Di meja makan tidak ada pembicaraan hanya sendok dan garpu yang saling bertautan.


Mereka menikmati makan malam mereka dengan pikiran nya masing-masing.


Sampai makan malam pun telah selesai.


"Bu biar Asha saja yang beresin, Ibu istirahat saja ya,!"ucap Asha saat melihat Ibunya mulai membereskan piring kotor bekas mereka makan tadi.


"Biar ibu bantuin."jawab Mira.


Mengambil alih piring kotor yang di bawa sang Ibu. "Udah biar Asha saja yang beresin, Ibu sebaiknya istirahat saja."pintanya dengan seutas senyum di wajahnya.


"Ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu.Ibu ke kamar dulu kalau gitu."pamit Mira dengan melangkah pergi.


Kini Asha sedang mencuci piring kotor di wastafel.


Dari kejauhan terlihat Darren seperti celingukan ke sisi kanan dan kiri lalu kemudian melihat Asha yang sedang mencuci piring dan mulai menghampirinya.


"Aku haus bisa tolong ambilkan minum?"pintanya seraya pa**** nya menduduki kursi yang ada di dapur.


Mendengar itu Asha terlonjak kaget karena suara yang tiba-tiba muncul itu.


"Kamu kan bisa ambil sendiri, punya tangan juga kan?"jawab Asha tanpa menoleh malah fokus dengan cucian piringnya.


"Sha kamu masih ngambek?"


"Aku nggak ngambek, cuman benci."jawabnya ketus yang membuat Darren terdiam.


Beranjak dari duduknya lalu kemudian melangkah pergi tanpa bicara satu patah kata lagi.


Karena tidak mendapat jawaban lagi akhirnya Asha menoleh ke belakang dan mendapati Darren yang sudah melangkah jauh menuju kamarnya.


"Kasian juga sih terus di cuekin gitu, tapi nggak apa-apa lah biar dia kapok dan nggak berani lagi bohongin aku."ngomong sama tembok sambil terkekeh kecil.


Membuka pintu kamar dan terlihat seorang wanita yang sudah terlelap.Berjalan mendekat lalu kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh sang ibu sampai ke lehernya.


Mulai naik ke atas kasur hendak berbaring di samping sang ibu.


Klunting! terdengar suara ponsel yang ada di atas nakas di samping tempat tidur itu menyala.


Memilih melihat pesan masuk terlebih dulu sebelum berbaring tidur.


(Harus dengan cara apalagi supaya kamu bisa maafin aku) dari kucing.


Karena memang nomor telepon Darren sengaja Asha ganti dari nama Zidan menjadi kucing karena saking keselnya sama Darren yang udah bohongin dia.


(Kasih tahu caranya supaya kamu mau maafin aku.)


(Atau kalau kamu masih nggak mau maafin aku, gimana kalau aku kasih tahu ibu kamu aja tentang pernikahan kita)


Membaca itu mata Asha melotot, dengan sigap dia membalas chatting dari Darren.

__ADS_1


(Kamu jangan coba-coba ngancem aku ya!)send kucing.


(Aku akan kasih kamu dua pilihan, berhenti diemin aku, atau rahasia pernikahan kita akan ibu kamu ketahui)


Membuang nafas kasar sebelum membalas chatting dari Darren.


(Ok aku maafin, tapi ingat jangan sampai ibu tahu dulu tentang pernikahan kita)send kucing dengan emoji kesel.


Menyimpan ponsel kembali ke atas nakas, dan mulai berbaring dan terlelap.


Sedangkan Darren dia begitu kegirangan mendapati balasan chatting dari Asha yang mau memaafkan nya.


(Makasih.. ) send tikus. Bukan tanpa alasan Darren menamai nomor Asha dengan nama tikus, karena menurutnya tikus itu lucu dan gemesin sama seperti Asha.


Keningnya berlipat mendapati pesan chat nya cuma ceklis satu.


"Apa dia sudah tidur? secepat ini."dengan mata yang melihat ke arah jam yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya.


"Baru juga jam sebelas malam, tapi udah tidur aja."ngomong sendiri dengan raut wajah yang sedikit kecewa karena merasa masih belum puas chattingan bareng Asha.


"Buk Asha pergi ya,!"pamitnya yang terburu-buru untuk pergi sekolah.


"Hati-hati di jalan ya nak!"pesan Mira yang di jawab anggukan Asha seraya mencium punggung tangan sang ibu.


"Buruan naik, aku anterin!"ucap Darren yang kini sudah berada di parkiran lengkap dengan motor ninja warna merah yang dia tumpangi.


Asha hanya bisa mengerjap heran dengan kaki yang berjalan mendekati Darren.


"Udah naik aja."pintanya.


Asha menggeleng cepat."Enggak usah aku bisa pergi sendiri ko naik bis."tolak Asha yang mulai berjalan meninggalkan Darren.


"Ya sudah, berarti pernikahan kita akan secepatnya di ketahui oleh ibu kamu."ancam Darren yang membuat Asha menghentikan langkahnya.


Membuang nafas panjang, detik kemudian kembali berjalan ke arah Darren. Tanpa di pinta akhirnya Asha mulai menyentuh kedua bahu Darren untuk duduk di jok belakang motor.


Duduk disana dengan nyaman dan tak lupa dengan muka yang di tekuk.


Darren hanya tersenyum puas di balik helmnya yang tertutup sambil sesekali melihat wajah imut Asha yang sedang ngambek lewat kaca spion motor.


Tak butuh waktu lama akhirnya motor ninja merah itu sudah tiba di sekolah Asha, yang dimana sekolah itu juga pernah menjadi sekolah singkatnya Darren.


Asha turun dari motor dengan memegangi bahu Darren dengan muka yang masih saja dia tekuk dengan tangan yang sibuk merapikan rambutnya yang berantakan.


"Udah jangan ngambek terus, jelek tahu."seru Darren dengan membuka kaca helmnya. Lalu tangannya mengacak-acak rambut Asha dengan gemas.


Asha tambah manyun, sedangkan Darren dia tersenyum puas di balik helmnya.


"Nanti aku jemput lagi."tegasnya dengan menyalakan mesin motor dan pergi begitu saja tanpa mendengarkan Asha yang hendak mengatakan sesuatu.


"Ihh.. padahal ini mulut mau ngomong. Kenapa main pergi gitu aja sih dasar emang nyebelin."ngedumel sendiri dengan tangan yang kembali merapikan rambutnya yang jadi berantakan lagi karena ulah Darren.

__ADS_1


Tanpa di sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Aduh..! kebelet nih."dengan berjalan terburu-buru ke arah toilet.


"Nyaman..waktunya masuk kelas."dengan tangan yang membuka pintu toilet untuk keluar.


Namun ternyata di luar sudah ada Rania yang menunggunya.


"Rania..!"panggil nya.


"Hayy..cewek sampah!"sapa Rania seraya mendekati Asha.


"Rania kamu..!"ucap Asha.


"Apa...?aku benar kan kalau kamu itu cuma anak sampah dan bukan cuma aku aja disini yang manggil kamu dengan nama itu. Tapi semua murid disini panggil kamu dengan nama itu kan?"ungkap Rania.


"Maaf Rania aku harus pergi ke kelas!"sahut Asha dengan kaki yang berjalan melangkah.


"Kenapa terburu-buru? apa mau nemui pacar orang hah..?"ucap Rania dengan menarik tangan Asha cukup keras.


"Rania sakit..!"lirih Asha yang mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Rania.


Saat Asha berhasil melepaskan tangannya dari tangan Rania tiba-tiba datang Megan dan Rika menghampiri nya dan juga Rania dengan senyum penuh arti.


Rupanya Rania sudah berteman dengan Megan dan Rika, begitulah pemikiran Asha kala itu.


Kalau untuk Megan dan Rika Asha bisa saja melawan nya seperti tempo hari tapi untuk melawan Rania itu rasanya tidak mungkin kan..?


Apa jadinya jika dia berurusan dengan anak yang punya sekolahan itu.Bisa-bisa dia di keluarkan dari sekolah dan Asha tidak ingin itu terjadi padanya.


"Apa yang kalian inginkan dariku?"tanya Asha dengan tangan yang meremas tas yang tersampir di bahu.


"Lo masih ingat dengan ucapan Lo waktu itu?"tanya Rania yang sedari tadi menatap tajam ke arah Asha.


Asha hanya diam dengan tangan yang mulai gemetar karena dia tahu jika ada Megan dan Rika maka dia tidak akan baik-baik saja.


"Ok jika Lo lupa maka gue akan mengingatkan Lo dengan ucapan Lo tempo hari."hardik Rania dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"Rania Aku tidak peduli dengan Zidan atau pun Darren.Aku sudah tidak mau lagi berteman atau berurusan dengan dia lagi."Rania mengatakan itu dengan nada yang di buat-buat untuk meledek Asha.


"Masih ingat nggak? ngomong!ayo ngomong!"decak Rania dengan melangkah dan mendekati Asha.


"Dasar p*****r..!"ucap Rania dengan menjambak rambut Asha dengan keras sampai Asha begitu kesakitan.


"Sakit Rania..!"lirih Asha dengan memegangi rambutnya yang di tarik keras oleh Rania.


"Lo tidak menempati kata-kata Lo, dan gue ngga suka dengan orang pembohong kek Lo."tutur Rania dengan melepaskan jambakannya.


"Gue peringatkan, jauhi Darren jika Lo nggak mau hidup Lo lebih buruk dari ini.Ngerti Lo!"ancam Rania sebelum melangkah pergi meninggalkan Asha yang masih kesakitan disana.


"Rasain Lo!"ledek Megan dan Rika sebelum mereka pergi menyusul Rania.

__ADS_1


__ADS_2