AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 37 Rosa mulai menjalankan rencana jahatnya


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 20:15 malam.Rosa baru pulang dari pertemuannya dengan Doni.


Melangkah masuk ke dalam rumah, lalu bergegas menuju ke kamarnya.


Terlihat Romi sedang duduk di atas tempat tidur seraya tangannya sibuk memainkan laptop di hadapannya.


Romi hanya sekilas melihat ke arah Rosa yang masuk ke dalam kamar.


Detik kemudian dia sibuk kembali dengan laptop di hadapannya tanpa mengatakan sepatah katapun pada Rosa.


Memang Romi tidak pernah peduli dengan apa yang di lakukan Rosa.Kemana Rosa pergi dan pergi bersama siapa Romi tidak mau tahu dan tidak pernah mencari tahu juga.


"Mas belum tidur?"tanya Rosa basa-basi.


"Seperti yang kamu lihat, aku masih sibuk dengan pekerjaan kantor."jawabnya dengan mata yang tetap fokus pada layar laptop.


Karena bingung mau nanya apa lagi akhirnya Rosa memilih berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit berlalu, sampai Rosa selesai dengan mandinya.Dia keluar dari kamar mandi, dan mendapati suaminya masih duduk di atas kasur persis seperti tadi dia tinggalkan untuk mandi.


"Mas sebaiknya tidur, ini sudah malam!"tutur Rosa yang berjalan ke hadapan suaminya untuk naik ke atas tempat tidur yang berada di sisi lain.


"Kamu tidur duluan saja, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini."jawabnya dengan punggung tangan menutupi mulutnya yang menguap.


"Kamu kelihatannya sudah ngantuk, mau aku bikinin kopi?"tawar Rosa.


"Boleh juga."jawabnya dengan kepala mengangguk.


Rosa melangkah keluar kamar untuk membuatkan segelas kopi untuk suaminya.


"Maafin aku mas, aku harus lakuin ini karena kamu yang memaksaku melakukan ini.Jika saja kamu tidak berupaya untuk mencari tahu kembali tentang anak dan istrimu yang dulu mungkin aku tidak akan melakukan ini."gumamnya seraya tangannya mengaduk kopi dengan sebuah sendok yang sudah di campur dengan bunga wisteria yang di berikan oleh Doni mantan kekasihnya.


Rosa kembali ke kamar dengan sebuah cangkir keramik di tangannya.


"Mas, ini kopinya di minum dulu mumpung lagi anget."ucapnya seraya menyodorkannya pada Romi.


Romi mengambil cangkir itu dari tangan Rosa tanpa curiga sama sekali.


Mulai meniup-niup sebelum dia meminumnya.


Saat nyaris cangkir itu menyentuh bibir Romi tiba-tiba ponselnya berdering cukup nyaring di atas nakas di samping tempat tidurnya.

__ADS_1


Yang membuatnya mengurungkan niat untuk meminum kopi itu.


Memilih mengambil ponsel yang berbunyi dan menyimpan dulu cangkir yang berisi kopi tadi di atas nakas.


Melihat itu wajah Rosa sedikit kecewa karena Romi tidak jadi meminum kopi yang dia buatkan tadi.


"Hallo! Sapa Romi saat benda pipih itu sudah menempel di telinga kanannya.


"Pak.. saya sudah menemukan sesuatu tentang putri bapak yang hilang."suara dari sebrang sana namun suaranya tidak terdengar jelas oleh Romi.


"Apa.. hallo! Dareen? Kamu ngomong apa? suara kamu kurang jelas."jawab Romi.


"Saya..sud.. Tut..Tut...Tut...!"panggilan telefon terputus.


"****..! Baterai nya abis lagi."umpat Dareen kesal dengan tangan memijit pelipisnya.


"Telpon dari siapa mas?"tanya Rosa yang penasaran.


"Dareen.. tapi sambungan telfonnya malah mati."jawab Romi seraya tangannya mencoba menelpon Dareen kembali.


"Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi."suara pesan seluler.


"Sebenarnya Darren mau mengatakan apa tadi?"gumam Romi yang penasaran.


Akhirnya Romi menuruti saran Rosa dengan menyimpan ponsel dan mulai mengambil cangkir keramik yang berisi kopi itu.


Satu teguk, dua teguk sampai tegukan terakhir. Romi meminum sampai tandas tak bersisa yang membuat Rosa tersenyum licik melihatnya.


Pagi menyapa dengan di iringi sinar mentari yang menghangatkan seluruh alam semesta.


Dareen keluar dari mobil, dan mulai memasuki rumah besar kediaman Bramantyo.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, Dareen berpapasan dengan Rania.


"Hay..! Tumben kakak kesini mau ketemu papah ya,?"sapa Rania yang sudah siap untuk pergi sekolah.


"Iya, eh Ran aku mau nanya sesuatu deh sama kamu."ucap Darren yang teringat akan kejadian yang menimpa Asha tempo hari tentang lututnya yang terluka.


"Nanya apa kak?"tanya Rania santai.


"Itu, kamu sekelas kan sama Asha?"Dareen mulai bertanya.

__ADS_1


"Dia lagi."ucapnya pelan dengan sedikit kesal.


"Iya aku sekelas sama Asha emang kenapa kak?"Rania kembali bertanya.


"Enggak cuma nanya aja, Umm.. Ran jika hari ini kamu ketemu sama Asha di sekolah tolong kasih tahu dia ya untuk aktifkan ponselnya."pesan Dareen.


Rania hanya ngangguk tanpa menjawab lagi ucapan Darren.


"Ya udah kalau gitu aku ke dalam dulu ya!"pamit Dareen yang kembali di jawab anggukan oleh Rania.


Mata Rania terus menatap punggung Dareen hingga punggung itu menghilang di balik pintu.


"Dareen bilang jika aku ketemu sama si Asha suruh dia aktifkan ponselnya.Itu berarti si cewek rendahan itu udah nggak tinggal di apartemen Dareen lagi dong.Yess!"seru Rania kesenangan.


"Eh.. Dareen tumben pagi-pagi sudah datang kesini."sapa Sarah.


"Pagi Oma Sarah, saya kesini ingin menemui pak Romi."tutur Dareen sopan.


"Iya, sepertinya Romi belum bangun.Karena dari tadi belum juga kelihatan anak itu."ucap Sarah dengan awas matanya melihat ke pintu kamar Romi yang terlihat dari bawah.


"Ibu..mas Romi Bu..!"teriak Rosa dari atas tangga yang membuat Sarah dan Dareen terkejut.


Dareen berlari menaiki tangga yang di susul oleh Sarah.


"Ada apa Bu, apa yang terjadi?"tanya Dareen saat sudah berada di hadapan Rosa.


"Mas Romi..dia.. hiks..hiks..!"ucap Rosa yang membuat Dareen dan Sarah semakin panik.


Dengan cepat Dareen berlari ke dalam kamar bosnya itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Darren berlari untuk mendekati bosnya yang terbaring di lantai. "Pak..Pak Romi..! bangun Pak..!"ucap Darren dengan tangan menepuk-nepuk lembut pipi bosnya itu.


"Kenapa Romi?kenapa dia Dareen?"tanya Sarah yang kini sudah berada di dalam kamar anaknya itu.


"Saya juga tidak tahu Bu, saya kesini Pak Romi sudah tidak sadarkan diri di lantai."jelas Dareen.


Sedangkan Rosa dia hanya tersenyum puas di balik air mata buaya nya itu.


Sarah kembali berjalan sedikit ke ambang pintu tepat Rosa berdiri, detik kemudian Sarah menyentuh kedua bahu menantunya itu dengan cukup keras. "Rosa apa yang terjadi pada anak saya?"tanyanya.


"Aku juga nggak tahu Bu, tadi mas Romi ingin pergi ke kamar mandi, tapi entah kenapa tiba-tiba saja dia jatuh pingsan Bu."ungkap Sarah dengan wajah yang di buat-buat sedih.

__ADS_1


"Cepat telpon Dokter Ardy Dareen!"perintah Sarah yang langsung di lakukan oleh Dareen.


__ADS_2