
Bab 7
"Keluar..gue bilang keluar!" teriak Dareen lagi sambil menarik paksa kaki Asha.
"Gak mau..biarin aku nebeng, pelit banget sih." ucap Asha sambil mendelik kesal.
"Gak mau gue satu mobil sama lo, lo itu selalu saja bawa gue dalam masalah." ungkap Dareen yang masih berusaha menarik Asha untuk keluar dari taxi.
"Gue bilang gak mau..!" teriak Asha sambil menendang kan kakinya yang Dareen tarik, sehingga membuat Dareen jatuh terjengkang ke belakang.
Bruuuk...
"Akkkhh...!" lirih Dareen sambil bangun dari terjatuh nya.
"Lo itu bener-bener ya,!" gerutu Dareen yang hendak menarik Asha kembali.
"Maaf mass, mbak bisa kalian jangan bertengkar? Saya pusing melihatnya!" ucap supir taxi yang keluar dari taxi nya.
"Dan, kalau kalian masih bertengkar silahkan kalian cari taxi yang lain saja." timpal supir taxi lagi.
"Jangan dong pak, bapak bisa antar saya pulang dulu ya,!" pinta Asha memohon.
"Enak saja, saya duluan yang berhentiin taxi ini, jadi harus saya dulu yang bapak antarkan pulang." ucap Dareen tidak mau kalah.
"Gak..pokoknya gue dulu." teriak Asha.
"Gak bisa, harus gue dulu." jawab Dareen tegas.
"Stop...apa kalian bisa diam!" teriak supir taxi kesal.
Yang membuat Dareen dan Asha langsung terdiam.
"Begini saja, bagaimana kalau kalian suit.Yang menang berarti dia yang akan saya antarkan pulang lebih dulu." saran supir taxi.
"Ok siapa takut." ucap Dareen percaya diri.
"Ok, aku setuju." jawab Asha, sambil keluar dari taxi.
Mereka suit sebanyak tiga kali, Dareen sudah menang dua kali.Sedangkan Asha dia baru menang satu kali, sedangkan hanya tinggal satu kali lagi permainan mereka yang akan memutuskan siapa pemenang permainan itu.
"Haha.. Udah dua kali gue menang, siap-siap aja lo kalah." ledek Dareen dengan tawanya yang percaya diri.
Asha hanya diam, dengan wajah masam nya.
"Satu kali lagi..Suuuiit!" ucap Asha dan Dareen bersamaan.
Asha suit sambil merem, dan pas dia membuka satu matanya ternyata dia menang.
__ADS_1
"Yeeyy.. Gue menang!" ucap Asha dengan tawa bahagia di wajahnya.
Sedangkan Dareen mulai menunjukan ekspresi tegang di wajahnya.
Kini kedudukan menjadi dua sama, mereka suit kembali dan ternyata Asha lah yang memenangkan permainan itu.
"Yeye...aku menang, yeye...aku menang!" ucap Asha sambil tertawa dan joged-joged di depan Dareen.
"Sial..kok gue bisa kalah sih." gumam Dareen kesal.
"Nah, karena si mbak nya yang menang, berarti saya akan mengantarkan si mbak nya terlebih dulu untuk pulang." ucap supir taxi.
"Iya,ayo pak antarkan saya pulang!" pinta Asha sambil bergegas masuk ke dalam taxi.
Terpaksa Dareen juga ikut masuk, dan ikut mengantarkan Asha pulang lebih dulu, sebelum dirinya pulang.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tidak ada pembicaraan.Mereka hanya fokus dengan pikiran mereka masing-masing.
Taxi pun berhenti di sebuah rumah minimalis dengan warna cat hijau bolu pandan yang tidak terlalu besar.
"Makasih ya pak, karena sudah mengantarkan saya pulang." ucap Asha sambil turun dari taxi.
"Woyy.. tikus bayar dulu!" ucap Dareen yang membuka sedikit kaca taxi itu.
"Apa lo bilang tadi?gue tikus?" tanya Asha dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau gue tikus berarti lo kucing nya dong." jawab Asha kesal.
"Enak aja ganteng gini di samain sama kucing." protes Dareen.
"Lo yang duluan sebut gue tikus."
"Emang nama tikus itu cocok sama lo." ucap Dareen lagi.
"Up to you." jawab Asha yang hendak berjalan pergi.
"Woyy.. mau kemana?bayar dulu!" teriak Dareen.
"Hehe..tolong bayarin ya, soalnya gue lagi gak ada duit." ungkap Asha sambil nyengir.
"Gaya nya so-soan naik taxi, tapi duit gak punya." gerutu Dareen kesal.
"Udah bayarin dulu, nanti gue ganti ok.Daaahh..!" ucap Asha melambaikan tangannya, sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Dasarr gadis gila.. Bener-bener ya, dia itu bikin gue naik darah!" gerutu Dareen lagi dengan kesal.
Supir taxi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka berdua, yang seperti tikus dan kucing.
__ADS_1
"Asha..dari mana saja kamu?semalaman gak pulang." ucap Mira yang melihat Asha memasuki rumah.
Asha tidak menjawab, dia malah berjalan menuju ke kamarnya.
Mungkin karena Asha masih marah dengan Mira yang sudah menampar nya.
"Asha..apa kamu tidak dengar?Ibu bicara sama kamu." timpal Mira sambil menarik tangan Asha yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Buk, aku cape aku mau istirahat." ucap Asha yang mencoba berjalan kembali menuju ke kamarnya.
"Ibu tau, kamu masih marah sama ibu.Maafin ibu ya Asha!" ucap Mira sambil memegang kedua tangan putrinya itu.
"Asha, ayo sini duduk nak! Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu."ucap Mira dengan menuntun Asha untuk duduk di kursi bersama dengannya.
"Ibu tau, kamu sangat ingin mengetahui siapa Ayah kamu.Dan ibu juga akan kasih tau kamu siapa Ayah kamu, tapi tidak sekarang Asha.Ibu akan kasih tau kamu tapi nanti ketika waktunya sudah tepat." jelas Mira.
"Waktu yang tepat itu kapan bu?aku sudah cukup dewasa kok untuk mengerti semuanya." ucap Asha.
"Iya Ibu tau kamu sudah dewasa, tapi ibu harap kamu mau bersabar sedikit lagi ya,!" pinta Mira meyakinkan.
"Ya udah, kalau itu mau ibu.Aku hanya bisa menunggu waktu Itu tiba."
"Makasih sayang, karena sudah mau mengerti ibu." ucap Mira sambil memeluk Asha.
"Kalau gitu Asha istirahat dulu ya buk!" ucap Asha sambil melepaskan pelukannya.
"Iya sayang!" jawab Mira sambil tersenyum.
********
"Heyy bro..darimana aja lo?masa jam sepuluh siang gini baru masuk kantor!" ucap Dino sahabat Dareen.
"Iya nih, gara-gara ketemu cewe rese yang selalu bawa gue dalam masalah makanya gue telat masuk kantor." jawab Dareen sambil duduk di meja kerjanya.
"Cewek.. cantik gak?" tanya Dino penasaran.
"Cantik darimana, yang ada dia itu udah kaya preman." ungkap Dareen sambil menyilangkan tangan di dadanya, dan teringat saat Asha melawan preman, dan saat dia di sikut Asha di bagian perutnya.
"Maksudnya kaya preman gimana sih,?" tanya Dino semakin penasaran.
"Ya gitu lah, ngapain bahas dia mulu gak penting juga."
"Eitss.. Jangan bilang gak penting, gimana kalau nanti cewek itu malah lebih penting dalam kehidupan lo, dan bisa jadi malahan lo akan jatuh cinta sama cewek itu." ledek Dino.
"Dia..cewek itu..?hahaaha...gak mungkin, dan gak akan pernah mungkin.Lo tau kan Dareen Eilshan Andrew pantang untuk jatuh cinta apalagi punya kekasih." ucap Dareen meyakinkan sahabatnya.
"Iya gue tau, tapi kita lihat aja nanti apa seorang Dareen akan tetap dengan pantangan nya itu, atau justru dia malah akan jatuh cinta."ucap Dino sambil meninggalkan Dareen yang mulai kepikiran dengan kata-kata sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hahaa...gadis itu?gak..gak akan terjadi."gumam Dareen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan meyakinkan dirinya sendiri.