
Dareen langsung di bawa ke ruang IGD untuk di tangani, sedangkan Asha, Mira dan Sarah menunggu di luar dengan harap-harap cemas.
Asha tidak bisa duduk dengan tenang dia lebih suka hilir mudik dengan tangan yang saling meremas satu sama lain.
Pemeriksaan telah berlangsung selama dua jam, hingga akhirnya dokter Ardy keluar setelah selesai menangani Dareen.
Asha langsung menghampiri dokter Ardy untuk menanyakan keadaan sang pemilik hatinya.
"Dok, bagaimana keadaan Dareen?"tanya Asha khawatir.
"Alhamdulillah pelurunya sudah berhasil di keluarkan, tapi untuk saat ini dia masih dalam pengaruh obat bius sehingga membuatnya belum sadarkan diri."imbuh dokter Ardy.
"Tapi apa boleh saya melihatnya dok?"Asha sangat ingin sekali melihat orang yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.
Dokter Ardy mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya. "Tapi hanya satu orang ya, yang boleh masuk."intrupsi dokter Ardy.
Yang di jawab anggukan oleh Asha.
Sebelum masuk ke ruangan Darren, Asha menghampiri Mira dan Sarah terlebih dahulu. "Bu sebaiknya ibu pulang sama Oma Sarah, kasihan Oma, dia harus istirahat!"pinta Asha.
"Tapi Dareen?" ucap Mira. "Ibu tenang aja, kan ada aku. Biar aku yang jagain dia."seru Asha.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa telfon ibu ya,!"pesan Mira seraya tangannya menyentuh tangan sang putri.
"Pasti Bu,!"jawab Asha dengan senyuman tipis di bibirnya.
Mira memeluk Asha terlebih dulu sebelum dia pulang bersama Sarah.
Asha memasuki ruangan tempat Dareen di rawat, mulai berjalan mendekati seseorang yang kini tengah berbaring lemah di sebuah kasur rumah sakit.
Asha mulai menduduki sebuah kursi di samping Dareen berbaring.
Matanya menatap awas wajah yang kini sedang terpejam itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Detik kemudian tangannya menyentuh tangan sang pemilik hatinya dan mencium lembut punggung tangan itu.
__ADS_1
Mata Dareen mulai mengerjap perlahan, hingga mata itu terbuka sempurna.
Pertama yang dia lihat adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih.
Detik kemudian Dareen mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang membuatnya menyadari jika saat ini dia sedang berada di rumah sakit.
Seketika pandangannya tertuju pada seseorang yang kini sedang terlelap tidur di samping kiri ranjang rumah sakit, dengan posisi duduk dan tertelungkup beralaskan tangan yang sedang menggenggam tangannya.
Melihat pemandangan itu terlukis seutas senyuman di bibir Dareen.
Dareen mengangkat tangan yang satunya dan mulai mengelus lembut kepala Asha sehingga ulahnya itu membuat yang punya kepala terbangun.
Asha mengerjap dan mulai membuka matanya, saat matanya melihat Dareen terbangun membuat Asha langsung beranjak dari duduknya.
"Dareen kamu sudah sadar? mana yang sakit?apa kamu butuh sesuatu?"serentetan pertanyaan dari Asha yang membuat Dareen tersenyum manis.
"Maaf karena udah ganggu tidur kamu."ucap Dareen seraya tangannya menggenggam tangan Asha.
Asha menggeleng cepat. "Enggak ko, kamu nggak ganggu tidur aku ."jawab Asha dengan seutas senyum di bibirnya.
"Kamu mau makan, atau minum mungkin? biar aku ambilkan ya,!"tawar Asha yang hendak pergi keluar.
"Maaf karena nyelamatin aku, kamu jadi terluka seperti ini."ucap Asha dengan kepala yang menunduk.
"Hey..!apa yang kamu katakan, ini bukan salah kamu."seru Darren dengan menyentuh dagu Asha hingga membuat Asha menengadah menatap wajah Dareen.
"Tapi seharusnya kamu nggak lakuin itu untuk aku."kembali Asha berucap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku akan lakuin apapun untuk kamu, demi untuk melindungi orang yang aku cintai dan sayangi."Dareen menatap Asha seraya tangannya menghapus air bening yang jatuh di pipi putih Asha.
Asha menggenggam tangan itu, dan mulai menciumnya dengan lembut.
"Sekarang orang yang udah jahatin papa kamu, dan kamu sudah nggak ada. Mulai sekarang hanya kebahagiaan yang akan datang dalam hidup kamu Sha."kata-kata Dareen membuat Asha tidak bisa berkata-kata lagi dia langsung bangkit dan memeluk pria yang berada di hadapannya saat ini.
Dareen mengelus lembut punggung Asha dengan senyuman tipis di bibirnya. "Aduuh..!"lirih Dareen yang membuat Asha langsung melerai pelukannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?apa yang sakit?"tanya Asha dengan wajah yang penuh dengan kecemasan.
"Bukan sakit, cuma ini baju aku kayanya basah deh kena air mata kamu."canda Dareen dengan kekehan kecil.
"Ih..!"decak Asha seraya tangannya mencubit pinggang Darren yang membuat kekehan kecil mereka berdua.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Setelah semua yang terjadi, Asha kembali masuk sekolah. Sekolah yang dimana tempat dia di perlakukan buruk oleh semua teman sekelasnya.
Tapi tidak untuk hari ini, Asha turun dari sebuah mobil Ferrari warna merah.
Saat Asha berjalan untuk menuju kelasnya, dia sudah di sambut puluhan bahkan mungkin ratusan para siswa dan siswi yang bersekolah disana.
Terlihat mereka semua berbaris di sebuah lapangan sekolah yang begitu luas, termasuk bersama semua guru disana.
Dan terlihat juga sebagian dari siswa dan siswi disana terlihat menunduk tidak berani menatap wajah Asha.
Mungkin mereka berpikir kalau mereka yang dulu pernah ikut-ikutan ngebully Asha di sekolah, maka nasibnya sekarang mungkin akan di keluarkan dari sekolah karena sudah berani menyakiti seorang murid yang ternyata adalah putri dari Bramantyo pemilik sekolahan itu.
Tidak terkecuali dengan Megan dan juga Rika yang tertunduk malu atas perbuatannya selama ini terhadap Asha.
Banyak dari semua murid disana meminta maaf terhadap Asha, bahkan sampai ada yang ingin bersujud di kaki Asha supaya bisa mendapatkan maaf dari Asha dan juga supaya tidak sampai di keluarkan dari sekolah itu.
Memang bagi Asha ini terasa sangat berat, karena bayangan saat dirinya di perlakukan tidak pantas masih memenuhi pikiran dan juga benaknya.
Tapi mungkin dia akan mencoba berdamai dengan masa lalu, dan mulai menerima semuanya dengan memaafkan orang-orang yang dulu pernah menyakitinya.
Bahkan guru-guru pun yang tahu tentang masalah pembullyan Asha pun meminta maaf, karena dulu sudah membiarkan seorang murid di tindas dan di rundung tanpa ada dari mereka yang mau membantu ataupun memberi hukuman yang tegas dan setimpal pada setiap pelakunya.
"As_ Asha..! aku minta maaf, tolong jangan keluarkan aku dari sekolah ini,!"tutur Megan dengan wajah yang memelas.
"Iya Asha, aku juga minta maaf. Aku menyesal, kamu boleh hukum kami tapi jangan keluarkan kami dari sekolah ini."timpal Rika yang sama memelas juga.
Asha terlihat sedang berpikir dengan menatap ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Ok, aku akan maafin kalian."jawab Asha yang membuat kedua mata mereka berbinar.
"Tapi kalian harus melakukan sesuatu untuk ku."ucap Asha sambil berkacak pinggang.