AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 9 Mulai tertarik


__ADS_3

Tet....Tet...Tet....


Bell istirahat telah berbunyi semua murid bergegas untuk pergi ke kantin.Tapi tidak dengan Asha dia lebih memilih untuk diam di dalam kelas tanpa ikut mengunjungi kantin seperti teman-temannya.


"Kamu kenapa tidak pergi ke kantin?" tanya Zidan basa-basi.


"Enggak, karena sebelum pergi sekolah aku tadi sarapan dulu." jawab Asha dengan senyum tipis di bibirnya.


"Oh, kalau gitu aku pergi ke kantin dulu ya,!" pamit Zidan yang di jawab anggukan oleh Asha.


"Sebenarnya bukan karena aku sudah sarapan tadi pagi aja sih, tapi aku gak punya uang untuk pergi ke kantin.Mau minta sama ibu kasihan ibu sudah cape kerja untuk makan dan bayar kontrakan kami."


"Kalau pun aku punya uang, lebih baik di tabung kan untuk bantu ibu membayar kontrakan." gumam Asha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Jadi itu masalahnya dia tidak pergi ke kantin." gumam Zidan yang tidak sengaja mendengar ucapan Asha.


"Nih buat kamu,!"ucap Zidan sambil menyodorkan satu bungkus roti pada Asha.


"Buat aku?"tanya Asha memastikan.


"Iya buat kamu, tadi aku belinya kebanyakan daripada gak kemakan kan, mending buat kamu aja." tutur Zidan sambil mendudukan bokongnya di bangku sebelah Asha.


"Makasih ya,!" jawab Asha sambil menerima roti dari tangan Zidan.


Zidan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis..


"Kamu pulang naik sepeda?" tanya Zidan saat Asha hendak mengambil sepedanya di parkiran.


"Iya, tiap hari aku pulang dan berangkat ke sekolah dengan sepeda ini." jelas Asha.


"Ya udah aku duluan ya,!" pamit Asha sambil menaiki sepedanya.


"Oh iya." jawab Zidan singkat.


Saat Asha sedang asyik menggoes sepedanya tiba-tiba ada tali tambang yang di tarik dari dua sisi hingga tali tambang itu mengenai sepeda yang sedang Asha kendarai.


Brruukkk.....


Asha terjatuh dari sepeda itu, yang membuatnya terluka di bagian lututnya hingga berdarah.


"Akkkhh...!" lirih Asha.


"Hahahahhha.....!" suara tawa dari beberapa murid disana, bukan nya membantu Asha justru mereka malah saling menertawakan kesakitan Asha.


Asha mencoba bangun dari terjatuhnya, dia meringis kesakitan akibat lututnya yang luka dan berdarah.

__ADS_1


Tidak hanya itu, Asha juga terlihat terluka di bagian hidungnya.Sehingga hidungnya juga terlihat sedikit mengeluarkan darah.


Setelah Asha berhasil berdiri, dia menatap semua murid yang menertawakannya.Dan Asha juga tahu kalau mereka sengaja membuatnya terjatuh.


"Lihat betapa menyedihkan nya dirimu!" ucap Megan dengan menatap sinis ke arah Asha.


"Apa yang kamu inginkan dariku? kenapa kau selalu saja menggangguku." teriak Asha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Pertanyaan yang bagus kenapa gue selalu ganggu lo, itu karena gue gak suka sama anak miskin kaya lo, dan lo gak pantas sekolah disini.Gue akan buat lo gak betah sekolah disini ngerti lo." ungkap Megan dengan tatapan tidak suka.


"Jadi lo mau gue keluar dari sekolah ini?sampai kapan pun gue gak akan pernah ninggalin sekolah ini.Lakukan apapun yang lo mau, gue gak takut dan gue gak akan pernah nyerah untuk bisa lulus dari sekolah ini dengan nilai yang bagus." tegas Asha.


"Jadi lo nantangin gue?ok kita lihat sampai dimana lo bisa bertahan di sekolah ini." ancam Megan.


"Tunggu apalagi lakukan apa yang kalian suka!" teriak Megan pada semua siswa dan siswi yang ada di sana.


"Rasain nih..!" ucap salah satu siswa disana sambil melempar Asha dengan telur.


Kemudian anak yang lainnya mulai ikut-ikutan melempari Asha dengan telur dan juga tepung terigu.


"Hahahaa....!" tawa mereka terdengar begitu keras sambil terus melempari Asha tanpa henti.


Kini baju seragam Asha penuh dengan telur. Dan wajahnya pun telah penuh dengan tepung terigu.


Hentikan...! aku mohon hentikan..! cukup.. tolong cukup.. jangan lakukan lagi...


suara hati Asha.


Asha yang mulai kehilangan keseimbangannya dan dia sudah mulai merasa limbung, pandangan nya mulai kabur suara tertawaan mulai tidak dia dengar lagi.


Saat Asha hendak jatuh pingsan, tiba-tiba ada tangan seseorang yang berhasil menyangganya sehingga Asha tidak jatuh pingsan ke atas tanah.


"Puas kalian? kenapa kalian begitu tega membully gadis ini?apa salahnya gadis ini pada kalian?apa dia meminta uang pada kalian?apa dia meminta makan pada kalian?sehingga kalian begitu membencinya."


Tidak ada jawaban dari semua anak yang ada disana.Hanya keheningan yang menyelimuti lapangan sekolah itu.


"Dan ya.. kalau alasan kalian membenci dia karena dia miskin, apa kalian pikir ini keinginan nya untuk hidup miskin?tidak..! dia juga ingin kehidupan yang sama seperti kalian tapi sayang dia tidak seberuntung kalian."


"Aku sungguh menyayangkan di sekolah se terkenal, dan sebagus ini masih ada tindakan pembullyan." jelas Zidan sambil menggendong dan membawa Asha pergi darisana.


Meninggalkan semua anak yang masih mematung disana.


*******


Asha mulai mengerjapkan matanya, pertama kali yang dia lihat adalah langit-langit sebuah kamar berwarna putih.

__ADS_1


Dia mulai beringsut dan duduk di atas tempat tidur.


"Aku dimana?" gumam Asha sambil manik matanya menyisir seisi kamar itu.


Ceklek...


Pintu kamar di buka seseorang.


"Kamu sudah bangun?" tanya Zidan sambil menghampiri Asha.


"Zidan..kamu!" ucap Asha yang melihat bajunya sudah di ganti dengan sebuah piyama tidur.


"Arrrggh...!" teriak Asha sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Jangan khawatir, bukan aku ko yang ganti pakaian kamu.Tapi asisten rumah tangga ku yang ganti pakaian kamu." ucap Zidan seakan dia tahu apa yang di pikirkan Asha.


"Syukurlah..!" jawab Asha lega.


"Tapi kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Asha.


"Terus apa aku harus bawa kamu ke rumahmu, dengan keadaan menyedihkan seperti tadi?" kembali Zidan bertanya.


"Iya nggak juga sih." jawab Asha.


"Ya ampun sepedaku."kembali Asha berucap.


"Sepedamu rusak gara-gara jatuh tadi." jelas Zidan.


"Jadi kamu gak bawa sepeda ku kesini?" kembali Asha bertanya.


"Untuk apa aku membawa barang yang sudah menjadi barang rongsokan." jelas Zidan sambil menyilangkan tangan di dadanya.


"Kamu gak ngerti, sepeda itu berarti banget untuk aku." desis Asha.


"Sudah, jangan pikirkan masalah sepeda yang sudah rusak!" ucap Zidan sambil berjalan mengambil kotak p3k yang kemudian duduk di tepi tempat tidur.


Zidan mulai mengobati luka Asha di hidungnya, Asha hanya diam saat Zidan mengobati lukanya.


Tapi saat Zidan sedang mengobati luka Asha, tiba-tiba mata Zidan mulai melihat ke arah bibir tipis Asha yang membuatnya langsung menghentikan tangannya.


"Obati sendiri,!" ucap Zidan yang langsung berjalan keluar dari kamar yang membuat Asha kebingungan dengan tingkah Zidan.


Zidan membuang nafas panjang di balik pintu kamar, saat dia sudah keluar kamar.


"Kenapa Aku jadi deg-degan gini sih saat berdekatan dengan gadis itu." gumam Zidan sambil memegang jantungnya yang kian berdetak dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2