
Bukan hanya kabar meninggalnya Romi Bramantyo yang merebak luas, melainkan kabar kebenaran tentang putri sulung presiden perusahaan Bramantyo group pun telah menyebar luas beritanya.
Terlihat Asha dan Dareen sedang duduk di sebuah kursi di rumah sakit, sedangkan Sarah dia masih setia menduduki kursi rodanya. Mereka bertiga sedang menunggu hasil autopsi Romi Bramantyo yang kini tengah di lakukan.
"Asha..!"panggilan seseorang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka bertiga duduk.
Asha yang di ikuti Dareen dan Sarah melihat ke arah suara.
Terlihat Mira tengah berdiri di sana, Asha bangkit dan langsung berhambur memeluk sang ibu.
"Ibu..!"lirih Asha yang memeluk sang ibu dengan erat.
Mira membalas pelukan putrinya dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca.
Setelah beberapa detik Asha melerai pelukannya dengan sang ibu.
Terlihat dari arah sana Sarah yang memandang kedua wanita di depannya wanita yang sama-sama dia pisahkan dari seorang suami juga seorang ayah.
Mira juga sama halnya dengan Sarah dia juga memandang seorang wanita paruh baya yang dulu pernah menjadi mertuanya bahkan mungkin sekarang pun hubungan mereka masih dengan status yang sama.
Mira berjalan mendekati Sarah. Terlihat mata Sarah mulai berkaca-kaca menunggu wanita yang sekarang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Sarah menyatukan kedua tangannya menunjukkan jika dia sedang meminta maaf saat ini.
Jika dia bisa bicara mungkin kata-kata maaf saja tidak akan cukup untuk meminta maaf pada Mira.
Mira yang kini sudah berada di hadapan Sarah pun seketika langsung memeluk wanita paruh baya itu.
Mira tahu jika sekarang wanita yang berada di hadapannya mencoba meminta maaf terhadap dirinya.
Mira tidak pernah benci ataupun dendam sedikit pun terhadap Sarah, dia menerima semuanya yang terjadi dengan ikhlas.
Dan kini sebagai seorang ibu Mira seakan bisa merasakan kesedihan yang mendalam yang di rasakan Sarah karena kehilangan sosok seorang anak.
__ADS_1
Sarah hanya bisa menangis sesenggukan dengan perlakuan Mira yang begitu hangat terhadapnya.
Padahal dulu dia begitu jahat pada menantunya ini tapi Mira dia sama sekali tidak punya dendam dengan dirinya yang membuatnya malu dengan perbuatannya dulu.
"Aku yakin ibu kuat menjalani ini semua."kata-kata Mira seraya tangannya mengelus lembut punggung Sarah.
Sarah hanya bisa menangis dalam diamnya, dia berpikir begitu bodohnya dia dulu karena sudah memisahkan seorang wanita yang begitu baik menjadi pendamping hidup anaknya, hanya karena dia menginginkan seorang cucu laki-laki yang tidak bisa Mira berikan.
Dia malah menggantikan sebuah berlian dengan batu krikil yang justru membuatnya kehilangan anak semata wayangnya yang begitu dia cintai dan sayangi.
Nasi sudah menjadi bubur mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk Sarah saat ini, selain dengan mengikhlaskan semuanya yang kini hanya bisa dia lakukan adalah memperbaiki semua hubungan yang telah dia hancurkan di masa lalu.
Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari sebuah ruangan, yang membuat Mira melerai pelukannya dengan Sarah.
Dareen dan Asha menghampiri dokter untuk mencari tahu hasil autopsi yang sudah beberapa jam ini di lakukan.
"Hasil pemeriksaan mengatakan jika dalam tubuh almarhum pak Romi memang terdapat sebuah zat beracun yang mengakibatkan kerusakan organ tubuh dalam. Seperti pencernaan, paru-paru hingga menjalar ke mata."penuturan dokter membuat Asha, Dareen, Sarah beserta Mira tercengang sekaligus terpukul karena sudah di pastikan jika kematian Romi bukanlah karena adanya sebuah penyakit, melainkan ada unsur kesengajaan yang di rencanakan.
Polisi mulai siap menyelidiki kasus meninggalnya Romi Bramantyo, dengan mendatangi kediaman Bramantyo beserta beberapa polisi yang lain untuk mencari bukti-bukti terkait meninggalnya Romi Bramantyo.
Tanpa mendengarkan persetujuan dari Rania, polisi sudah memasuki kediaman Bramantyo dengan beberapa polisi yang lain.
Setelah merasa barang yang di dapat sudah cukup untuk menjadi bahan penyelidikan, polisi dengan segera meninggalkan kediaman Bramantyo untuk memproses ke tahap selanjutnya.
Terlihat Rosa menuruni sebuah mobil sport putih di halaman rumah Bramantyo.
Matanya melihat mobil polisi yang sudah melaju jauh keluar dari kediaman Bramantyo.
"Mama..!"panggil Rania yang menghampiri Rosa keluar rumah.
"Ma tadi ada beberapa polisi datang ke rumah katanya untuk melakukan penyelidikan."imbuh Rania yang membuat mata Rosa terbelalak kaget.
Detik kemudian Rosa berlari kecil untuk masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Rania yang merasa kebingungan menatap punggung sang Mama yang menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Rosa berlari ke arah kamarnya, lagi-lagi dia terkejut karena polisi sudah berhasil membawa sebuah bukti yang mungkin akan menyeretnya ke masalah yang jauh lebih besar yaitu penjara.
Pertahankan kaki Rosa runtuh, Rosa terduduk di lantai di dalam kamarnya.
Rania yang melihat itu langsung berlari menghampiri sang Mama.
"Ma.. Mama kenapa?"tanya Rania yang khawatir.
"Semuanya sudah selesai Rania, semuanya sudah selesai."teriak Rosa yang di iringi dengan Isak tangisnya yang membuat Rania memeluk sang Mama dengan mata yang ikut berkaca-kaca.
Tidak beberapa lama kemudian polisi kembali mendatangi rumah kediaman Bramantyo, untuk menangkap Rosa yang telah terbukti telah memberikan sebuah bunga beracun kepada Romi Bramantyo hingga mengakibatkan kematian.
"Mari Bu Rosa ikut kami ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut."tutur pak polisi yang kini sudah berada di ambang pintu kamarnya.
Rosa hanya diam dengan Rania yang masih setia memeluknya.
Tanpa di perintah lagi kedua polisi wanita bergegas memborgol Rosa hingga pelukan ibu dan anak itu terpisahkan.
"Jangan.. jangan bawa Mama saya! Mama saya tidak salah."Rania mencoba memberontak.
Tanpa mendengarkan Rania polisi dengan tegas membawa Rosa keluar dari kamarnya yang di ikuti Rania di belakang.
"Jangan bawa Mama saya, Mama saya tidak salah."hanya itu yang terus Rania ucapkan hingga Sarah di masukkan ke dalam mobil polisi.
Meninggalkan Rania yang terus menangisi kepergian sang Mama, dengan tubuh yang terduduk di teras rumah sambil mata terus menatap mobil polisi yang mulai menjauh dari pandangan mata.
"Rania apa yang terjadi?"suara seseorang menghampiri Rania yang sedang menangis di teras rumahnya itu.
Membuat wajah Rania menengadah ke atas untuk melihat wajah seseorang yang tengah memanggilnya.
Terlihat Doni berjongkok mendekati Rania, tapi Rania malah menghindar dengan memundurkan tubuhnya menjauh dari pria yang menurut Mama nya adalah ayah kandungnya.
Rania bangkit dari duduknya, bergegas untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Rania aku bisa membantumu untuk membalas dendam atas di penjaranya Mama kamu."ucap Doni sambil bangkit dari berjongkok nya.
Mendengar itu, seketika Rania menghentikan langkahnya.