
"Dia cantik ya,!" ungkap Dino.
"Uhuk..uhuk..uhuk..!" Dareen langsung batuk-batuk saat dia sedang minum.
"Ini anak kenapa sih minum sampai batuk-batuk kek gitu." ujar Dino sambil melirik ke arah Dareen.
"Eh Ren, ngomong-ngomong lo punya nomor ponsel nya Asha nggak sih?" tanya Dino yang menghampiri Dareen.
"Buat apa?" tanya Dareen.
"Pengen tau aja, kalau lo punya gue minta ya,!" tutur Dino.
"Gue nggak punya, dan kalau pun gue punya nggak bakal gue kasih sama lo."desis Dareen sambil berjalan menuju kamarnya.
"Yahh..lo ko gitu sih Ren.. woyy..!"teriak Dino yang tidak di hiraukan Dareen.
"Asha..!" panggil Mira yang masuk ke dalam kamar putrinya itu.
"Ya bu,!" jawab Asha yang kini tengah belajar di dalam kamarnya.
"Bisa tolong ibu, untuk mengantarkan baju bu Risma.Katanya ini baju besok mau bu Risma pakai." tutur Mira.
"Bisa bu." jawab Asha singkat.
"Ya sudah, ini bajunya dan ini alamatnya." ucap Mira dengan memberikan kantong kresek dan sebuah alamat di atas kertas.
Asha pergi dengan menaiki sebuah angkot.
"Ada apa bang kenapa berhenti?" tanya Asha saat angkot yang dia tumpangi mendadak berhenti sebelum dia tiba di tujuan.
"Maaf neng sepertinya ban angkot nya bocor!" ungkap supir angkot.
"Ya..terus saya gimana dong bang?" keluh Asha.
"Iya maaf neng, tapi nggak apa-apa neng nggak usah bayar!" ucap supir angkot.
Dengan terpaksa Asha turun di tengah jalan, dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.
"Ada-ada aja sih, ini dimana lagi alamatnya?" gumam Asha kesal sambil melihat alamat yang tertera di sebuah kertas di tangannya.
Asha terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi.Kini waktu menunjukan pukul 19:15 pm.
Ckkck...terdengar seorang wanita tertawa yang membuat Asha terlonjak kaget.
"Ya ampun.. apa itu suara kun-kun ya,!" gumam Asha sambil bergidik ngeri.
"Kamu nakal."kembali terdengar suara perempuan yang membuat Asha penasaran dan mulai mencari tahu asal suara.
Asha terus berjalan sambil mengendap-ngendap.Terlihat ada sebuah mobil warna hitam sedang parkir di jalan yang sepi itu.
Asha melihat dari kejauhan, lalu tak lama kemudian keluar seorang gadis dari dalam mobil yang di susul seorang pria yang ikut keluar dari dalam mobil.
"Itu Rania kan?" gumam Asha saat mengenali gadis yang berada di kejauhan itu.
Asha melihat pria yang bersama Rania mulai menghimpit tubuh Rania hingga Rania bersandar di badan mobil.
Tak menunggu waktu lama pria itu langsung mencium bibir Rania dengan penuh naf*u.
Tak sampai disitu tangan pria itu mulai masuk ke dalam kaos milik Rania dan mulai mer*m*s gunung kembar milik Rania.
__ADS_1
Mereka begitu menikmati ciuman mereka, sampai mereka tidak sadar ada sepasang mata yang mengawasi aktivitas mereka.
Huffftt...
"Ko aku kaya mau pipis sih!" gumam Asha yang sudah merasa panas dingin.
Kring..kring...kring... suara ponsel Asha berbunyi yang membuat Asha langsung mengambil ponsel itu dari saku celananya.
Sedangkan Rania yang mendengar itu langsung mendorong tubuh Gavin dan mencari arah suara ponsel yang berbunyi itu.
Seketika mata Rania menangkap wajah Asha yang sedang ingin mengangkat telponnya.
Saat merasa Rania melihatnya Asha langsung berlari pergi dari sana.
"Ada apa baby?" tanya Gavin.
"Ada yang melihat kita." jawab Rania.
"Siapa?disini tidak ada siapa-siapa!" ucap Gavin sambil melihat sekitar untuk memastikan.
"Tadi ada, tapi dia sudah pergi." tutur Rania.
"Kamu kenal siapa yang melihat kita?" tanya Gavin.
"Iya, dia temen satu sekolah ku. Tapi nggak penting lah karena dia cuma anak miskin yang bahkan dia tidak punya teman sama sekali di sekolah." jelas Rania.
"Bagus kalau gitu, jadi kamu nggak perlu takut kalau dia akan memberi tahu masalah ini pada pihak sekolah."jelas Gavin yang mulai melanjutkan aktivitasnya tadi yang terjeda.
"Iya bu,!" jawab Asha saat dia mengangkat telpon dari sang Ibu.
"Kamu dimana sih? apa bajunya sudah kamu antar?" tanya Mira dari sebrang sana.
...****************...
"Asha..!" panggil Zidan.
"Hayy..!" sapa Asha saat Zidan ikut berjalan di samping nya.
"Pulang sekolah bisa kita belajar bareng?" tanya Zidan.
"Bisa." jawab Asha singkat.
"Ya sudah, kalau gitu nanti pulang sekolah langsung aja ke apartemen aku ya,!" ajak Zidan yang di jawab anggukan oleh Asha.
Saat Asha dan Zidan sedang ngobrol sambil berjalan tiba-tiba Rania berjalan mendahului mereka dan Rania sempat menatap Asha dengan tatapan tajam.
Sambil terus kakinya berjalan dan menjauh dari Asha dan Zidan.
Melihat itu Asha langsung menundukan kepalanya, yang membuat Zidan merasa curiga dengan tatapan tajam Rania pada Asha.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan yang merasa ada yang tidak beres.
"Enggak, aku nggak apa-apa ko." jawab Asha gugup sambil tersenyum.
"Ya sudah, yuk kita ke kelas!" ajak Zidan yang di setujui Asha.
Setelah Asha selesai mengerjakan pekerjaan di apartemen Zidan,dia mulai belajar bareng dengan Zidan.
Asha menjelaskan beberapa materi, sedangkan Zidan dia hanya bisa mendengar kan sambil terus menatap wajah Asha tanpa berkedip.
__ADS_1
"Udah ngerti?" tanya Asha yang membuat Zidan gelagapan.
"Apa?yang mana?" tanya Zidan sambil membuka buku yang ada di hadapannya.
"Jadi kamu nggak dengerin aku dari tadi?" tanya Asha kesal.
"Dengerin ko!" sanggah Zidan.
"Ya udah, kalau gitu aku pulang ya,!" pamit Asha dengan memasukan semua bukunya ke dalam tasnya.
"Emmp..tunggu dulu!" ucap Zidan sambil memegang tangan Asha.
Asha melihat tangan Zidan menyentuh tangannya yang membuat Zidan langsung melepaskan tangan nya dari tangan Asha.
"Maaf, aku cuma mau tanya!" ungkap Zidan.
"Tanya apa?" tanya Asha.
"Itu..apa kamu punya ponsel?" tanya Zidan.
"Punya,emang kenapa?" Asha balik bertanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Boleh minta nomor kamu?"
"Itu..nanti kalau aku kurang paham sama materi tadi aku bisa tanya kamu lewat ponsel kan!" jelas Zidan.
"Kirain apa,bisa ko nih catet aja!" jawab Asha sambil menyodorkan ponselnya ke arah Zidan.
"Udah makasih ya,!" ucap Zidan sambil memberikan kembali ponsel Asha.
Saat Asha hendak keluar dari apartemen Zidan tiba-tiba Dino masuk dari arah luar.
"Asha..mau pulang ya,?" tanya Dino.
"Iya," jawab Asha singkat.
"Emmp tunggu sebentar!" pinta Dino sambil masuk dan mulai mencari sesuatu.
"Aku boleh minta nomor kamu?" tanya Dino yang sekarang berada di hadapan Asha dengan pulpen di tangannya.
"Untuk apa?" tanya Asha.
"Ini aku kan punya adik perempuan, dan kebetulan adik aku mau belajar beres-beres seperti kamu.Kali aja dia mau belajar beres-beres rumah dari kamu." tutur Dino.
Asha hanya bisa menautkan kedua alisnya.
"Boleh ya, aku minta nomor kamu.Tapi di tulisnya di tangan dulu soalnya ponsel ku batrenya habis." jelas Dino.
Saat Asha hendak memberi tahu nomor nya tiba-tiba Zidan melarang Asha untuk memberikan nomor nya pada Dino.
Zidan menyilangkan tangannya dan mengucapkan kata jangan tanpa suara persis di belakang Dino dari kejauhan.
Melihat itu Asha mengurungkan niatnya untuk memberikan nomor nya pada Dino.
"Sepertinya ponselku juga mati, besok aja ya,!" sanggah Asha yang membuat Dino terlihat kecewa.
"Kalau gitu aku pulang ya,!" pamit Asha dengan tersenyum ke arah Zidan sebelum dia pergi.
Dino mengiyakan dengan wajah masamnya, sedangkan Zidan dia begitu bahagia karena Dino tidak mendapatkan nomor ponsel Asha.
__ADS_1