
Menarik nafas panjang berulang kali untuk menstabilkan dadanya yang terasa sesak.
"Apa menjadi anak orang miskin seperti ini? selalu di hina dan di injak-injak.Apa anak yang terlahir dari keluarga miskin harus selalu patuh pada keinginan mereka yang kaya akan harta."bermonolog sendiri dengan tangan mengusap kasar sudut mata yang mulai mengembun.
Terlihat Darren sedang duduk di motor sambil sesekali melihat satu persatu para siswa yang mulai keluar gerbang untuk pulang.
Sampai sekolah mulai terlihat sepi, tapi sepertinya dia masih menunggu seseorang yang masih belum terlihat batang hidungnya.
Melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. "Kemana dia? bukannya ini sudah memasuki jam pulang sekolah."bertanya pada diri sendiri yang sama sekali tidak tahu jawabannya.
Masih menunggu sambil sesekali merapikan rambutnya di kaca spion motor.
"Akhirnya.. kemana aja? dari tadi nungguin panas tau."decaknya saat terasa ada seseorang yang menaiki motornya di jok belakang.
"Kamu dari tadi nungguin aku?"tanya Rania yang membuat mata Darren melotot sambil gegas menoleh ke asal suara.
"Rania..!kamu..?"ucap Darren yang terkejut.
"Anterin aku ya kak!"pinta Rania.
"Tapi..!"
"Kak Darren nungguin Asha ya,?"tanya Rania.
"Iya, aku kesini mau jemput Asha."ungkap Darren yang tidak ingin di dengar Rania.
"Sepertinya Asha sudah pulang deh kak."
"Masa sih?tapi dari tadi aku tungguin disini belum lihat dia keluar gerbang."ucap Darren yang tidak percaya dengan ucapan Rania.
"Dia pulangnya sebelum kakak kesini."tegas Rania.
"Udah kakak anterin aja aku pulang ya, lagian bukannya kakak juga mau ngasih beberapa berkas kan sama papah."tutur Rania.
Sebenarnya Darren malas untuk mengantarkan Rania pulang, tapi jika dia menolak nggak enak juga menolak keinginan anak dari bos nya itu.
Dengan terpaksa akhirnya Darren mengantarkan Rania pulang, tanpa menunggu Asha lagi yang sebenarnya belum pulang dari sekolah.
Berjalan sambil mata celikukan mencari seseorang.
"Katanya mau jemput, tapi sampai sekarang masih belum datang juga."ngedumel sendiri sambil sesekali melihat ke arah belakang siapa tahu saja orang yang dia tunggu datang.
Waktu berlalu hingga sudah beberapa belas menit, namun orang yang di tunggu-tunggu masih belum terlihat batang hidungnya.
Akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri.
Menepuk jidat. "Ya ampun lupa bawa uang lagi.Gimana mau pulang coba kalau nggak bawa duit."detik kemudian tangan sibuk merogoh tas mencari sesuatu.
(Jadi jemput gak?)send kucing.
Menatap malas layar ponsel yang masih ceklis satu.
"Malah nggak aktif, nyebelin emang."kembali ngedumel dengan kaki menendang kaleng kosong yang ada di jalanan itu.
"Pluk..!"kaleng tadi kena kepala orang, mana kepalanya plontos nggak ada satu rambut pun yang tumbuh disana.
__ADS_1
"Woiii...!"teriak seseorang di depan sana yang terkena lemparan kaleng tadi.
"Mati gue."seru Asha dengan menggigit lidah nya sendiri.
"Maaf bang saya nggak sengaja."tuturnya sambil bergegas berlari dari sana.
"Woii..!jangan kabur Lo!"teriak pria yang botak dan bertubuh kekar itu mencoba mengejar Asha.
"Arrrggg....!"teriak Asha sambil lari dengan sekuat tenaga.
Asha malah lari ke jalanan yang sepi dia begitu kecapean karena lari dengan sekuat tenaganya.
"Ngapain aku lari, sejauh ini kan aku udah bisa ngalahin beberapa preman.Mungkin yang ini juga emang harus aku hadapin."imbuhnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Mau lari kemana Lo?"suara pria tadi yang kini tengah ada tepat di belakang Asha.
"Bang aku kan sudah minta maaf.Lagian nggak sengaja juga."sahut Asha dengan tangan berkacak pinggang satu.
"Pokoknya Neng harus tanggung jawab!"pinta pria itu.
"Tanggung jawab apa sih bang?orang gak sengaja."
"Iya Neng nggak sengaja tapi kepala saya sakit."tutur si pria itu.
"Terus saya harus tanggung jawab gimana bang?"tanya Asha.
"Enggak banyak ko neng, cukup Neng mau saja Abang cium!"kata pria itu dengan menunjuk pipinya sendiri dengan telunjuk sambil senyum menyeringai.
"Dasar Abang ini sudah tua, bukannya ingat umur malah jadi tua-tua keladi."ledek Asha kesal.
"Tanggung jawab apaan itu?itu bukan tanggung jawab tapi itu cuma modus Abang aja.Dasar sudah tua bukannya tobat malah maksiat."
"Karena Neng nggak mau, maka jangan salahkan Abang jika bersikap lebih jauh."ancam si pria.
"Wahh..nantangin, ayo sini!"tantang Asha dengan tangan yang siap untuk mulai berkelahi.
Seperti biasa Asha melawan dengan cara berkelahi, dan yang menang masih Asha.
"Wacaw...!"teriaknya dengan menyusut lubang hidung dengan jempol tangannya, setelah lawan berkelahinya tersungkur.
"Piwitt..!"si pria bersiul dan tak lama kemudian datang dari arah belakang pria tadi tiga orang pria yang satunya membantu si pria bangun sedangkan yang lainnya menatap ke arah Asha dengan senyum yang menyeringai.
"Wahh..Wahh...maen curang nih.Masa maen keroyokan sih bang."protes Asha dengan tangan yang mulai gemetar karena dia tau dia tidak akan bisa melawan empat pria sekaligus.
Pilihan satu-satunya adalah lari dari tempat itu.
"Lari Asha..!"teriaknya dengan lari sekuat tenaga.
Yang langsung di susul oleh ke empat preman itu.
Asha terlihat sudah sangat kecapekan sampai kakinya tersandung dan membuat nya terjatuh.
Tak butuh waktu lama, para preman itu sudah berhasil mengelilingi Asha dengan wajah yang pada serem semua.
"Hahahaha...mau lari kemana lagi?kamu sudah terkepung.Sebaiknya kamu diam saja nona manis kita hanya akan memberikan kesenangan untuk kamu."ucap salah satu dari pria itu dengan bibir yang tak henti-hentinya mengeluarkan tawa.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya juga ikut tertawa dengan kerasnya.
Asha hanya bisa beringsut dengan tangan yang gemetar karena ketakutan.
"Jangan mendekat, atau..!"ancam Asha.
"Atau apa? mau teriak?teriak saja disini tidak akan ada yang mendengar teriakan kamu gadis manis.Hahahaha...!"kembali ke empat preman itu mulai berjalan mendekati Asha.
"Jangan...tolong...!"teriak Asha yang kini air mata mulai lolos membasahi pipi putihnya.
Bukannya berhenti tapi mereka malah semakin menjadi mengganggu Asha.
"Tolong...!"teriak Asha dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
"Jangan berani ganggu dia!"teriak seseorang yang membuat ke empat preman itu menoleh ke arah suara.
"Wuihh..ada pahlawan kesiangan nih."ucap salah satu dari mereka.
"Udah sikat aja."timpal yang lain seraya mereka mulai menyerang Darren.
Perkelahian pun terjadi, Darren melawan tiga preman sekaligus.Yang dua sudah jatuh tersungkur.
"Sial."umpat satu preman lagi dengan ikut menyerang Darren.
Darren terkena pukulan di wajah sebanyak dua kali, yang membuat Asha ikut meringis melihat itu.
Namun dia tetap berusaha untuk melawan, walaupun tenaganya sudah melemah.Melihat itu Asha langsung menarik tangan Darren untuk lari dari sana.
Mereka terus berlari sekuat tenaga dengan tangan yang saling berpegangan.
Terlihat ada sebuah gudang yang sudah tidak terpakai.Akhirnya Asha dan Darren memasuki gudang itu.
Mereka sembunyi di sebuah lemari yang ada di sana.
"Sret..sret..sret..."suara seseorang berjalan ke arah mereka.
Mereka diam dengan posisi saling berhadapan karena ruang lemari yang begitu sempit membuat mereka begitu dekat satu sama lain. Bahkan mereka bisa merasakan nafas satu sama lain karena saking dekatnya jarak antara mereka berdua.
"Ada nggak?"teriak dari kejauhan.
Bhugggh...lemari di tendang satu preman yang membuat Asha hendak berteriak. Namun dengan sigap tangan Darren langsung menutup mulut Asha sehingga suara itu tidak lolos dari mulut Asha.
"Nggak ada.. sepertinya mereka tidak ada disini."jawab si preman yang memukul lemari tadi.
"Ya sudah ayo kita cari di tempat lain saja."ajak yang lain yang di setujui semuanya.
Saat di rasa sudah aman, Darren melepaskan tangannya yang menempel di mulut Asha.
Mata Darren dan Asha mulai beradu pandang, hingga Darren mendekatkan wajahnya ke arah wajah Asha.
Asha hanya bisa diam dengan mata yang mulai dia tutup.
"Ngapain tutup mata segala?nih di rambut Lo ada daun."ledek Darren dengan memperlihatkan daun yang tadi dia ambil dari rambut Asha.
Sumpah malu banget pengen rasanya aku sembunyi di dasar bumi yang paling dalam. Supaya aku tidak bisa lihat wajah Darren yang pastinya menertawakan aku dalam hatinya.kira-kira seperti itulah pikiran Asha saat ini.
__ADS_1