
"Itu si Asha bukan sih?" tanya Rika yang tidak percaya kalau Asha yang selama ini dia bully bisa melawan seperti tadi.
Megan hanya geleng kepala karena dia juga sama bingung nya dengan Rika.
Saat Asha berjalan menuju perpustakaan tiba-tiba dia berpapasan dengan Rania.
"Sini ikut gue!" pinta Rania seraya tangan nya menarik tangan Asha dan membawanya ke tempat yang sepi di sekolah.
"Sejak kapan lo kenal sama Dareen? "tanya Rania sambil berkacak pinggang di hadapan Asha.
"Aku tidak kenal sama Dareen." jelas Asha.
"Bisa nggak sih lo gak usah bohong sama gue." decak Rania kesal.
"Tapi aku nggak bohong, aku memang nggak kenal sama dia."
"Kalau lo nggak kenal sama dia, terus kenapa lo bisa seakrab itu sama dia di sekolah?dan lo juga pasti sudah tau kan siapa Zidan yang sebenarnya.Karena nggak mungkin kalau lo nggak tahu yang sebenarnya lo mau deket-deket sama cowok yang modelnya kek Zidan." ungkap Rania panjang lebar.
"Dengar ya Rania, aku tidak memandang fisik seseorang untuk berteman dengan aku.Aku hanya ingin punya teman yang baik yang tulus yang bisa nerima aku apa adanya seperti Zidan.
Tapi itu dulu karena sekarang Zidan bukan temanku lagi dia sudah asing bagiku." tutur Asha.
"Jadi lo sudah nggak mau lagi berteman sama Zidan yang sebenarnya adalah Dareen?" tanya Rania memastikan.
Membuang nafas kasar."Iya aku sudah nggak mau berteman dan berurusan lagi dengan Zidan atau siapalah itu namanya.Dan aku nggak peduli lagi sama dia."jelas Asha yang mulai berjalan darisana.
"Tunggu!" panggil Rania yang membuat Asha menghentikan langkahnya.
"Gue akan pegang ucapan lo, kalau lo nggak akan berurusan lagi dengan Dareen. Jika lo melanggarnya gue nggak akan pernah diam.Karena Dareen adalah pria yang selama ini gue suka." ungkap Rania.
Kembali Asha melanjutkan langkahnya tanpa melihat ke arah Rania.
Ckkkck Pria yang di suka terus saat malam-malam tempo hari kamu sama siapa Rania?Suara hati Asha yang terus berjalan meninggalkan Rania.
"Dengan begini aku tidak perlu khawatir kalau dia akan memberi tahu Dareen tentang masalah dia yang melihat ku bersama Gavin malam itu." gumam Rania dengan senyum tipis di bibirnya.
"Asha tadi Zidan nyariin kamu ke rumah." ucap Mira yang sedang mengistrika sebuah pakaian.
"Oh,!" jawab Asha singkat sambil fokus dengan buku di tangannya.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Mira.
__ADS_1
"Enggak, nggak ada ko bu.Bu kalau misalkan besok Zidan kesini lagi sebaiknya ibu nggak usah terlalu baikin dia ya bu!" pinta Asha.
"Lho kenapa? Nak Zidan kan baik, masa ibu harus usir dia kalau dia datang ke rumah." protes Mira tidak setuju.
"Mulai hari ini Zidan bukan temen aku lagi bu!" ungkap Asha.
"Apa?tapi kenapa Asha?"tanya Mira yang menghampiri anak gadisnya itu yang sedang duduk di kursi panjang...
"Aku kecewa bu sama dia."
"Kecewa?memangnya Zidan melakukan apa?" tanya Mira yang penasaran dan mulai ikut duduk di samping putrinya itu.
"Dia sudah bohongin aku."
"Bohongin kamu?bohongin apa?"
"Jadi sebenarnya Zidan itu cuma sandiwara aja bu." tutur Asha.
"Sandiwara gimana maksudnya?" tanya Mira yang tidak mengerti.
"Jadi gini bu, aku kan mengenalnya sebagai Zidan.Nah padahal Zidan itu bukan nama atau wajah aslinya bu." decak Asha kesal sambil menutup buku dan menghadap ke arah Mira.
"Jadi Zidan itu cuma nyamar bu, Zidan itu bukan nama atau wajahnya yang ibu kenal itu."
"Jadi maksud kamu Zidan itu nggak jelek seperti Zidan yang ibu kenal?" tanya Mira.
"Iya aslinya itu dia tamvan dan namanya pun bukan Zidan tapi Dareen." decak Asha kesal.
"Masa sih, ibu jadi penasaran deh pengen liat wajah aseli Zidan yang sebenarnya."
Asha memicingkan matanya."Ibu nggak kesal setelah tahu Zidan itu sudah bohongin kita?"tanya Asha.
"Kenapa harus kesal?toh mau namanya Zidan ke Dareen ke atau apalah itu dia kan masih orang yang sama.Apalah arti nama." ungkap Mira sambil tersenyum.
"Ibu aku serius lo, aku kesel sama dia." desis Asha dengan menyilangkan kedua tangannya di dada dengan bibir manyun.
"Ibu juga serius sayang, sekarang ibu mau tanya sama kamu.Apa selama kamu berteman dengan Zidan dia pernah nyakitin kamu?"
Asha geleng kepala.
"Apa pernah dia jahatin kamu seperti kamu di jahatin temen kamu di sekolah?"
__ADS_1
Asha geleng kepala lagi.
"Satu lagi, apa pernah dia merugikan kita saat dia jadi Zidan?"
Asha geleng kepala lagi dengan perlahan.
"Jadi salahnya dimana?ibu rasa Zidan menyamar bukan sesuatu hal yang harus di permasalahkan karena dia tidak melakukan sesuatu kejahatan." sanggah Mira.
"Sudah lebih baik kamu baikan ya sama Zidan, emmm Dareen.. Dareen ya namanya."ucap Mira sambil memeluk putrinya dari samping.
Mendengar itu Asha hanya diam sambil mencerna semua ucapan ibunya itu.
...****************...
"Rosa dimana Rania?" tanya Sarah ibu dari Romi Bramantyo yang sedang duduk di sebuah sofa.
"Rania sedang sekolah bu." jawab Rosa yang menghampiri ibu mertuanya itu.
"Kapan kamu akan mengandung lagi?dan memberikan saya cucu laki-laki?" tanya Sarah ketus.
"Saya sudah berusaha bu, tapi mungkin belum waktunya saja." sanggah Rosa.
"Romi menikah sudah dua kali,tapi keduanya tidak bisa memberikan saya cucu laki-laki." decak Sarah sambil berlalu pergi meninggalkan Rosa yang masih mematung di tempatnya.
"Nenek tua ini ngapain lagi malah balik ke Jakarta, sudah bagus-bagus hidup ku tenang tanpa dia." gerutu Mira kesal.
"Akhir-akhir ini lo kenapa sih sering banget ngurung diri di kamar?" tanya Dino saat memasuki kamar yang baru saja pulang kerja.
Dengan posisi tengkurap sambil tangan memegang ponsel.Menatap terus layar ponsel Dareen tidak menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Mendingan lo samperin aja ke rumahnya, jelasin semuanya gue yakin dia akan maafin lo ko." ucap Dino seraya membuka kancing tangan kemeja nya.
Masih terus menatap layar ponsel tidak menanggapi ucapan Dino sama sekali.
"Susah emang ngomong sama orang yang lagi patah hati, belum pacaran aja udah patah hati gitu apalagi kalau udah nikah lo." ledek Dino dengan membuka baju kemejanya.
Mendengar itu Dareen terlihat seperti berpikir yang kemudian dia bangkit dan berlari seraya memeluk sahabatnya itu.
"Thanks, lo udah kasih gue jalan keluar dari masalah gue.Gak sia-sia dari kecil gue temenan sama lo." ucap Dareen yang terlihat bahagia yang kemudian bergegas pergi keluar dari kamarnya dengan terburu-buru.
"Itu anak kenapa lagi sih?makin hari makin nggak jelas banget kelakuannya." gumam Dino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1