AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 40 Ayah kandung Rania yang sebenarnya


__ADS_3

Jadi tadi tuh sebenernya Rania itu mo pamit sama nyokap nya dia, kalau dia itu mau pergi eh taunya nyokapnya dia itu malah keburu pergi duluan.


Kembali ke Rania yang sekarang sudah bersiap untuk pergi.


Berjalan menuju mobilnya yang terparkir rapi disana.


Tapi saat hendak memasuki mobilnya, mata Rania melihat mobil Dareen terparkir disana tidak jauh dari mobilnya yang akan dia pakai.


"Kak Darren ada di rumah?"bertanya pada diri sendiri.


Saat kakinya hendak berjalan kembali masuk ke dalam rumah tiba-tiba..


Drtt..drtt... drtt.. ponsel Rania bergetar di dalam tas selempang yang kini tengah ia pakai.


Merogoh tas, detik kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya saat sudah menggeser icon warna hijau.


"Iya bentar lagi aku kesana."ucapnya seraya buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah panggilan telefon nya dia matikan.


Akhirnya Rania mengurungkan niatnya untuk menemui Dareen. Dia bergegas pergi untuk menemui seseorang.


Rania bertemu Gavin di cafe yang biasa dia suka bertemu dengan kekasih gelapnya.


Behahaha.. kekasih gelap, ya bisa di bilang gitu sih karena kan Rania nggak pernah cinta beneran sama si Gavin.


Si Gavin cuma selingan dan untuk jadi kebutuhan nya Rania aja, karena Darren pria yang sesungguhnya Rania cinta tidak bisa memberikan kesenangan pada Rania seperti yang Gavin kasih untuk Rania.


"Sayang ko lama banget sih nyampenya?"tanya Gavin saat Rania sudah mulai duduk di kursi di hadapannya.


"Iya, tadi macet sedikit."sanggah Rania.


"Oh iya aku udah pesan makanan kesukaan kamu."imbuh Gavin.


Rania hanya tersenyum dengan melihat ke sekeliling cafe.


Namun tidak sengaja manik matanya melihat sang mamah berada di cafe yang sama sedang bersama seorang pria.

__ADS_1


Rania menajamkan penglihatannya apa benar yang dia lihat itu mamanya atau bukan, karena jarak yang lumayan jauh membuatnya jadi tidak terlalu yakin jika itu adalah Rosa sang mamah.


Terlihat Rosa bersama pria itu keluar dari cafe yang membuat Rania bergegas untuk mengikutinya.


"Sayang mau kemana lagi?"tanya Gavin yang melihat Rania sudah kembali berdiri untuk pergi.


"Aku mau ambil handphone yang ketinggalan di mobil, sebentar ya,!"bohong Rania yang buru-buru melangkah pergi keluar dari cafe itu.


"Aku ingin Romi itu segera lenyap sebelum dia bertemu dengan anak kandungnya itu."ucap Rosa yang sedang berjalan berdampingan bersama Doni menuju mobilnya.


"Kamu tenang saja Rosa, karena pasti hidup Romi tidak akan lama lagi. Apalagi jika kamu terus memberinya bunga beracun itu setiap hari."jawab Doni dengan senyum tipis di bibirnya.


Mendengar itu mata Rania terbelalak tidak percaya dengan apa yang barusan saja dia dengar dari mulut sang Mama.


"Mama...!"teriak Rania dari belakang yang membuat Rosa dan Doni berbalik secara bersamaan.


"Rania..kamu.. ngapain disini?"tanya Rosa dengan wajah yang sudah terlihat panik.


"Harusnya aku yang nanya sama Mama, ngapain mamah disini? Dan dia..dia siapa mah?"Rania balik bertanya dengan menatap tajam ke arah Doni.


"Sejak kapan Mama punya teman laki-laki?"tanya Rania yang mulai curiga.


"Udah sebaiknya kita pulang dulu sayang, Mama akan kasih tahu kamu di rumah ya,!"ajak Rosa dengan menarik tangan Rania untuk membawanya pulang.


"Enggak, aku nggak mau pulang sebelum Mama kasih tahu aku siapa dia sebenarnya. Bukankah Mama bilang kalau dia itu supir baru papah, tapi kenapa mamah bisa seakrab gini sama supir barunya papa?"tanya Rania setelah mengingat wajah Doni yang tempo hari pernah dia lihat sedang bicara dengan Mama nya.


"Iya, nanti Mama akan kasih tahu kamu tapi bukan disini. Ayo ikut Mama pulang!"ajak Rosa dengan kembali menarik tangan sang putri.


Rania menghempaskan tangan Rosa cukup kasar. "Enggak mau, pokoknya aku mau Mama jelasin sekarang sama aku disini!"pinta Rania.


"Rania kenapa kamu keras kepala seperti ini sih, Mama bilang Mama akan jelaskan semuanya sama kamu tapi di rumah bukan disini. Sekarang ayo ikut mamah pulang!"kembali Rosa menarik tangan Rania.


"Aku nggak mau ma."tolak Rania yang mencoba melepaskan kembali tangannya dari cekalan Rosa yang sekarang menurutnya terasa sakit.


"Ma lepasin sakit."lirih Rania dengan kaki yang berjalan mengikuti Rosa membawanya.

__ADS_1


"Rosa lepaskan kenapa kamu kasar seperti ini pada anak kita."teriak Doni yang ikut berjalan dan melepaskan tangan Rania dari cekalan tangannya Rosa.


Rania hanya tertegun mendengar penuturan pria yang sekarang berada di hadapannya.


Apakah dia salah dengar atau apa, bagaimana mungkin pria yang tidak dia kenal sama sekali bisa mengatakan hal seperti itu.


"Doni apa yang kamu bicarakan, jaga mulut kamu."ucap Rosa dengan suara yang sedikit meninggi.


"Ayo Rania, Mama bilang pulang!"ajak Rosa seraya tangannya lagi-lagi menarik tangan Rania dan menyeret paksa Rania untuk masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Rania dia hanya bisa mengikuti langkah sang Mama membawanya, karena dia masih mencerna kata-kata Doni barusan.


"Ma..apa maksud pria itu tadi, anak kita.. apa maksudnya ma?"kembali Rania mencerca pertanyaan yang belum mendapat jawaban dari tadi.


"Rania, mamah sedang nyetir nggak baik kamu ganggu konsentrasi Mama."elak Rosa.


"Aku butuh penjelasan dari Mama sekarang!"tekan Rania dengan nada bicara yang meninggi.


Cekittt... Rem mobil berhenti mendadak yang membuat Rania dan Rosa sedikit terpentok ke depan dasboard mobil.


"Dia ayah kamu, puas!"teriak Rosa.


"Apa maksud Mama? Ayahku?.. Mama bilang dia ayahku? Ayah ku cuma satu yaitu Romi Bramantyo pengusaha sukses di kota ini. Bukan pria biasa kaya dia."jawab Rania dengan senyum kecut tidak percaya dengan apa yang di katakan Rosa.


"Ya sudah, kalau kamu tidak percaya jangan tanyakan ini lagi sama Mama ngerti!"tegas Rosa yang kembali melajukan mobilnya.


Mobil yang di tumpangi Rosa dan Rania telah sampai di kediaman Bramantyo. Rania bergegas turun dan berlari masuk ke dalam rumah.


Rania melempar tasnya ke atas tempat tidur. Mondar-mandir dengan meremas kedua tangannya. "Enggak.. nggak mungkin.. Mama pasti bohong. Aku nggak percaya dengan ucapan Mama."gumamnya seraya menyugar rambutnya ke belakang.


Memilih berjalan keluar kamar dan melangkah pergi menuju kamar Rosa.


Rania duduk di kursi di samping Romi, terlihat Romi sedang terlelap tidur.


Apa benar yang dikatakan mama, kalau ternyata aku bukan lah anak kandung papa Romi .

__ADS_1


Tapi bagaimana bisa? aku di besarkan disini dan sampai kapanpun aku tetap adalah putri dari Bramantyo. batin Rania.


__ADS_2