
"Bagaimana dokter keadaan anak saya?"tanya Sarah dengan wajah yang terlihat cemas dan panik.
"Mungkin pak Romi kecapekan sehingga membuat keadaannya drop."tutur Ardy selaku dokter keluarga Bramantyo.
Jadi bener ya, bunga itu memang mengandung racun sehingga epeknya langsung terlihat.
Tapi ko dokter Ardy tidak tahu ya, penyebab sakitnya mas Romi karena epek bunga beracun yang aku kasih?kira-kira begitulah pikiran Rosa saat ini seraya matanya menatap sang suami yang terbaring di atas tempat tidur.
"Tapi dia tidak apa-apa kan dokter?"kembali Sarah melontarkan pertanyaan karena merasa jika anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu Rosa tidak perlu khawatir dengan istirahat yang cukup, ingsya Alloh pak Romi akan cepat sembuh."imbuh dokter Ardy.
"Kalau begitu saya permisi, dan tolong Dareen ini resep obat yang harus di tebus ya,!"ucap Ardy seraya memberikan sebuah kertas tentang resep obat untuk Romi.
Tangan Dareen menerima sebuah kertas itu seraya dia mengantar dokter Ardy keluar dari kamar bosnya itu.
Terlihat Mira sedang mencari sesuatu yang membuat Asha menghampiri nya dengan ikut duduk di sebuah karpet di kontrakan baru mereka.
"Ibu sedang apa? seperti sedang mencari sesuatu."tanya Asha.
"Iya nak,ibu sedang cari foto kamu waktu kecil."jawab Mira dengan tangan yang terus aktif mencari di sebuah tumpukan baju.
"Foto aku waktu kecil, ko aku nggak tahu Bu, kalau ibu punya foto aku waktu kecil."
"Iya nak, ibu sengaja nggak pernah liatin sama kamu karena ibu cuma punya foto itu satu-satunya.Kamu kan ceroboh jadi ibu takut kalau foto nya akan hilang jika di simpan sama kamu."jelas Mira.
"Ih ibu, aku juga nggak akan ceroboh kalau menyangkut hal yang penting bagi ibu."delik Asha.
"Iya.. tapi sekarang foto nya hilang, ibu udah cari dari tadi tapi nggak ada."ucap Mira dengan raut wajah yang di tekuk.
"Aku bantu cari ya Bu."tawar Asha yang di jawab anggukan oleh Mira.
"Atau, mungkin saja foto nya ketinggalan di apartemen Dareen Bu."pikir Asha dengan tangan yang ikut sibuk mencari foto itu.
"Iya kamu benar juga Sha, bisa jadi seperti itu."jawab Mira setuju dengan pemikiran putrinya.
"Waktu kecil aku pasti lucu ya Bu?"tanya Asha.
"Bukan cuma lucu, kamu juga cantik sayang."puji Mira dengan tersenyum.
"Ya pastilah aku cantik, orang ibuku aja cantik."balas Asha dengan tersenyum juga.
__ADS_1
"Kayanya bener deh Bu ketinggalan di apartemen Dareen, buktinya kita cari-cari nggak ketemu juga."seru Asha.
"Iya sayang, hemm.. padahal foto itu cuma satu-satunya yang ibu punya."ucap Mira gusar.
"Ibu.. apa sih arti sebuah foto? yang penting kan Asha nya ibu ada di sini, di samping ibu."hibur Asha dengan menggenggam tangan sang ibu.
"Iya, tapi.. ibu cuma punya foto kamu waktu kecil itu satu-satunya Sha."dengan kekeh Mira tidak terima jika foto itu harus hilang.
Tak tega melihat sang ibu bersedih.
"Ya udah lain kali aku akan coba cari di apartemen Dareen ya Bu."ucap Asha mencoba menghibur sang ibu.
"Bener sayang?iya kamu coba cari ya, mudah-mudahan saja foto nya ada disana."jawab Mira antusias.
Asha hanya mengangguk malas, karena dia harus menemui kembali pria yang sebenarnya ingin coba dia lupakan demi kebaikan dirinya dan sang ibu.
Namun takdir malah akan mencoba mempertemukannya kembali karena masalah foto.
Walau, memang tidak bisa di pungkiri kalau ternyata dalam lubuk hatinya yang paling dalam Asha merasa bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Dareen, walau hanya untuk sekedar menanyakan sebuah foto.
Pria yang selalu mengganggu pikiran dan otaknya, padahal cuma baru satu hari dia tidak bertemu dengan Dareen tapi rasanya Asha sudah merindukan sosok Dareen yang menurutnya ngeselin tapi ngangenin.
Terus saja masuk dan keluar aplikasi hijau, tapi hasilnya masih sama cuma centang satu.
Menarik nafas kasar. "Sha kamu dimana sih? padahal aku punya kabar baik untuk kamu. Sekaligus kabar buruk juga sih."ngomong sama angin dengan mata yang terus menatap layar ponsel.
Kabar baiknya adalah Dareen tahu siapa ayah kandung Asha, yang ingin Asha ketahui.
Dan kabar buruknya adalah kalau sekarang Romi ayah Asha sedang sakit.Dan dia juga belum sempat bicara pada Romi mengenai putrinya yang hilang yang kini telah dia temukan.
Memilih bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar untuk mencari angin segar.
Duduk di sofa, mengambil sebungkus rokok dan membukanya.Detik kemudian menyalakan rokok itu dan mulai menyesapnya.
Mengeluarkan asap rokok dari mulut hingga asap itu menguar di udara.
Ting tong! Ting tong!...bell apartemen berbunyi yang membuatnya harus bangkit dari duduknya dengan malas demi untuk melihat siapa yang datang.
Sebelum membuka pintu Dareen memilih mematikan rokoknya yang baru saja dia nikmati.
Ceklek.. pintu apartemen terbuka.
__ADS_1
Terlihat Asha sedang berdiri persis di hadapan nya saat ini.
Yang membuat kedua anak manusia ini sama-sama diam dengan mata yang saling memandang.
Saat Asha hendak mengatakan sesuatu tetiba Dareen memeluk Asha yang membuat Asha mengurungkan niatnya untuk bicara.
"Sha kamu kemana aja sih? Aku kangen sama kamu."imbuh Dareen seraya mengeratkan pelukannya.
Sedangkan Asha dia juga sama halnya dengan Dareen yang begitu merindukan sosok pria yang sekarang tengah memeluknya dengan sangat erat.
Merasa sudah puas memeluk Asha, Dareen meleraikan pelukannya.
"Kamu pergi kemana? Kenapa nggak bilang-bilang sama aku? Jika ada masalah kasih tahu aku jangan maen pergi gitu aja."seru Dareen panjang lebar.
"A-aku..!"
"Ayo sini masuk!"ajak Dareen seraya tangannya menarik tangan Asha untuk masuk ke dalam apartemennya.
Asha hanya diam dan menurut ketika Dareen menariknya masuk ke dalam apartemen.
Darren menarik tangan Asha dan memintanya untuk duduk di atas sofa. "Duduk disini, dan ceritakan semuanya kenapa kamu sampai pergi dari apartemen ku?"tanya Dareen yang menatap tajam ke arah Asha seraya dirinya ikut duduk di samping Asha.
"Ak-aku..!"Asha mulai ingin bicara sambil menunduk karena tidak sanggup kalau harus bertatap mata dengan Darren.
"Sha.. apa kamu tidak betah tinggal disini? Sehingga kamu pergi dari apartemen ku?"kembali Dareen bertanya karena masih belum dapat jawaban dari wanita yang sudah berhasil mengalihkan dunianya.
"Maaf jika aku pergi tanpa memberitahumu, tapi mungkin ini adalah yang terbaik untuk kamu dan juga aku."jawab Asha dengan wajah yang masih menunduk.
"Tapi kenapa? Apa alasannya Sha?"
"Aku tidak ingin jika aku terus merasakan sakit, dan hinaan kalau aku terus dekat sama kamu aku sudah lelah."sebenarnya itu yang ingin Asha katakan tapi Asha memilih tidak mengatakannya.Dan dengan tanpa dia sadari sudah ada air bening yang mulai terpupuk di sudut mata.
Dareen mengangkat wajah Asha dengan menyentuh dagunya hingga wajah itu menengadah menatap ke arahnya.
"Lihat aku Sha? Apa ada orang yang menyakitimu?"
Asha menggeleng cepat dengan tangan melepaskan tangan Darren yang menyentuh dagunya.
"Maaf Dareen aku harus pergi!"pamit Asha dengan segera bangkit dan mulai berlari menuju pintu keluar.
"Aku tahu dimana Ayah kamu."teriak Darren yang membuat Asha menghentikan langkahnya.
__ADS_1