
"Lo aja yang ngerjain gue nggak mau."ucap Megan sambil berkacak pinggang.
"Enak aja, ya Lo bantuin dong. Kita harus sama-sama ngerjain ini. Kalau kita nggak mau di keluarin dari sekolah."decak Rika yang kini tengah menyikat kamar mandi sekolah.
Rika memberikan sebuah sikat WC. "Nih ambil,! Lo yang bersihin WC sebelah sana!"tunjuk Rika.
"Iyu... Seriusan Lo nyuruh gue bersihin itu? Gue nggak mau Lo aja yang ngerjain."tolak Megan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya udah, kalau Lo gak mau. Gue tinggal kasih tahu aja si Asha, kalau Lo nggak mau ngerjain hukumannya, biar Lo di keluarin dari sekolah sekalian."ancam Rika seraya tangannya masih sibuk dengan pekerjaannya.
Megan dengan terpaksa mengambil sikat WC itu, sambil menghentak-hentakan kakinya sebelum memasuki kamar mandi yang akan dia bersihkan.
Bukan hanya Megan dan Rika aja ya, yang kena sanksi atau hukuman dari Asha, tapi guru-guru juga punya hukuman yaitu tidak mendapat gaji selama enam bulan lamanya dan bukan Asha yang menghukum para guru melainkan adalah pak Hary selaku orang kepercayaan Bramantyo yang mengurus semua aset, kekayaan dan perusahaan Bramantyo sebelum Asha menginjak dewasa dan bisa mengurus semuanya sendiri.
Jam sekolah telah selesai, terlihat Asha bergegas untuk segera pulang karena hari ini Dareen pulang dari rumah sakit. Yang membuatnya begitu bersemangat untuk segera pulang dan menjemput pria pemilik hatinya itu ke rumah sakit.
"Nih bawain!"pinta Asha dengan menyodorkan tasnya ke arah Rika.
Dengan sigap Rika langsung mengambil tas itu dari tangan Asha, dengan senyuman lebar di bibirnya. Entah itu senyuman tulus atau hanya sebuah senyuman yang di buat-buat, Asha tidak peduli yang jelas dia merasa puas karena bisa ngerjain keduo ketombe itu.
Asha berjalan keluar dari kelas, dengan Megan dan Rika yang mengekor di belakang.
"Upsss..!"ucap Asha yang melihat tali sepatunya lepas.
Megan dan Rika melihat ke arah sepatu Asha yang talinya terlepas itu.
Asha berdiri disana tidak melanjutkan langkahnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Rika memberi kode pada Megan supaya membetulkan tali sepatu Asha.
Tapi sepertinya Megan menolak dengan melotot ke arah Rika.
"Jadi kalian nggak mau benerin ceritanya?"Asha menatap Rika dan Megan secara bergantian.
Dengan terpaksa Megan membetulkan tali sepatu Asha dengan wajah yang menahan kekesalannya.
Asha hanya bisa tersenyum puas dalam hatinya.
Asha kembali berjalan menuju mobilnya, masih dengan Megan dan Rika di belakangnya.
Seorang supir membukakan pintu mobil yang kemudian Asha masuk ke dalam mobil Ferrari itu.
Rika memberikan tas Asha pada supir, detik kemudian kaca mobil terbuka. "Ingat hukuman kalian itu satu bulan."Asha memperingatkan sebelum akhirnya mobil itu melaju meninggalkan Megan dan Rika dengan wajah yang lesu.
Terlihat Darren duduk di sebuah kursi roda yang di dorong oleh Mira.
Asha turun dari mobil dan berlari kecil menuju mereka berdua yang sudah terlihat keluar dari pintu rumah sakit.
Pelukan hangat Asha berikan pada Dareen dengan rona kebahagiaan di wajahnya.
"Eheum..!"deheman dokter Ardy membuat Asha melerai pelukannya dengan cepat.
Asha baru sadar jika ternyata
__ADS_1
disana ada ibu dan dokter Ardy yang melihat sikapnya itu yang membuatnya jadi salah tingkah dan malu sendiri.
Mira dan dokter Ardy hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Asha.
Untuk sementara waktu Dareen di bawa pulang ke kediaman Bramantyo, karena jika pulang ke apartemen nya tidak akan ada yang mengurusnya disana.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hari berganti bulan, tidak terasa satu bulan ini telah berlalu dengan begitu cepat.
Dareen sudah sembuh dari luka tembak di punggungnya, begitupun juga Sarah yang sudah melakukan beberapa terapi sehingga membuat keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Pagi hari di kediaman Bramantyo. Terlihat Asha masih bergelung di dalam selimut tebalnya.
Karena memang hari ini adalah hari Minggu sehingga membuatnya tidur sampai siang hari.
Jam alarm berbunyi dengan suara yang begitu nyaring sehingga membuatnya langsung mematikan alarm itu tanpa beranjak dari kasur empuknya.
Namun entah kenapa suara alarm kembali berbunyi nyaring padahal Asha sudah mematikan alarm itu.
Karena merasa terganggu dengan bunyi alarm itu memaksa Asha untuk kembali mematikan alarm yang berbunyi nyaring itu.
Asha bangkit dari tidurnya betapa terkejutnya ketika matanya melihat beberapa jam yang di pasang alarm itu lebih dari satu melainkan ada lima buah jam alarm yang di simpan di atas beberapa lemari di kamar Asha.
Dengan wajah yang kebingungan tiba-tiba masuk tiga orang wanita yang membuat Asha tambah kebingungan.
"Nona sebaiknya nona segera mandi, acara akan segera dimulai."titah salah satu dari wanita yang masuk ke kamar Asha.
Saat Asha hendak bertanya dengan cepat kedua wanita menyeret Asha untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Asha mandi dengan kepala yang di penuhi kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan yang dia sama sekali tidak tahu jawabannya.
Selesai mandi Asha mulai di giring kembali ke sebuah kursi di depan meja rias.
Ketiga wanita itu mulai melakukan tugasnya tanpa memberikan kesempatan Asha untuk bertanya.
Kini Asha telah siap dengan gaun putih panjang yang dia pakai membuatnya semakin terlihat cantik dan elegan.
Kembali Asha di gandeng kedua wanita itu untuk keluar dari kamarnya.
Asha melihat sudah banyak tamu yang berada di rumah besar Bramantyo.
Detik kemudian matanya menatap sosok pria sang pemilik hatinya mulai berjalan ke arahnya.
Dareen sudah dengan setelan jasnya yang serba putih tersenyum manis menatap gadis yang sudah berhasil meluluhkan hatinya itu.
Dareen menyentuh tangan Asha dan mulai membawa Asha bersamanya.
Terlihat Mira dan Sarah sudah menunggu mereka berdua di depan sana.
Mira tersenyum sumringah melihat putri yang amat dia sayangi itu berjalan ke arahnya bersama Dareen.
Mira langsung memeluk sang putri saat Asha sudah berada di hadapannya. "Ibu sudah tahu
__ADS_1
dari Dareen."kata-kata Mira seraya tangannya mengelus lembut punggung sang putri yang membuat Asha kembali kebingungan.
"Maksud ibu tahu apa?"Asha bertanya seraya melerai pelukannya dengan sang ibu.
"Tahu jika kamu sebenarnya sudah menikah dengan Dareen, dan acara ini adalah resepsi pernikahan kalian."tutur Mira dengan seutas senyum di bibirnya.
Asha menatap Dareen yang di balas anggukan kepala oleh Dareen dengan senyuman tipis di bibirnya.
Pesta resepsi pernikahan telah selesai di gelar, semua tamu sudah kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Asha memasuki kamarnya dan mulai duduk di tepi tempat tidur.
Tak beberapa lama Dareen pun ikut masuk ke kamar Asha, melihat itu Asha langsung bangkit dari duduknya dengan salah tingkah.
"Aku akan mandi dulu!"izin Asha seraya kakinya berjalan memasuki kamar mandi.
Asha menarik nafas dalam di balik pintu kamar mandi yang baru saja dia tutup.
Setelah selesai mandi Asha keluar dari kamar mandi, terlihat Darren sedang duduk di atas tempat tidur dengan mata yang fokus ke layar ponsel di tangannya.
Asha berjalan melewati Dareen, namun tiba-tiba tangan nya di tarik Dareen yang membuat Asha terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi Dareen menindihnya.
Asha menelan ludah dengan susah payah bagaimana tidak malam ini adalah malam pertama dirinya bersama Dareen.
Dareen mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Asha, yang membuat jantung Asha berdetak begitu cepat. Saking dekatnya Asha bisa merasakan aroma nafas Dareen begitu juga sebaliknya.
Tinggal beberapa centi saja bibir mereka nyaris bersatu.
"Mandi.. sebaiknya kamu mandi dulu, iya mandi."saran Asha yang membuat Dareen mencium ketiaknya sendiri.
Akhirnya Dareen menurut dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa, dia bangkit dan mulai berjalan memasuki kamar mandi.
Asha menghirup nafas sebanyak-banyak nya seperti orang yang kekurangan oksigen.
"Aku ke luar dulu ya, mau ngambil minum."teriak Asha dengan kaki yang buru-buru berjalan keluar dari kamarnya.
Pagi menyapa dengan mentari yang membawa sinar indahnya.
Mira menggeliat bangun dari tidur nyenyak nya.
Mata Mira terbelalak saat melihat putrinya sedang tertidur pulas di samping tempat tidurnya.
"Sha.. Asha bangun!"Mira mencoba membangunkan sang putri.
Tapi bukan Asha namanya jika tidur susah untuk di bangunkan.
"Asha..!"decak Mira kesal yang membuat Asha menggeliat. "Apa sih Bu, ini masih pagi juga."seru Asha yang malah kembali menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Asha kenapa kamu tidur disini sih?"Mira menarik selimut yang menutupi tubuh putrinya itu.
Asha bangkit hingga sekarang posisinya duduk di tempat tidur sang ibu.
"Kamu meninggalkan suami kamu di malam pertama kamu?"ucapan Mira membuat mata Asha terbelalak menyadari sesuatu sambil nyengir ke arah sang ibu.
__ADS_1
Kebayang kan gimana perasaan Dareen yang di tinggal di malam pertama.