
Mendapati Asha yang berlari keluar kamar membuat Zidan bergegas bangun dan hendak mengejarnya.
Tapi suara nyaring dari ponsel Zidan mengurungkan niatnya.
"Akkhh...siapa sih yang telpon?" desis Zidan yang langsung mengambil benda pipih itu.
Rania, itulah nama yang tertera di layar ponsel Zidan.
Bukannya menjawab panggilan itu, justru Zidan malah menaruh kembali ponselnya dan segera berlari untuk mengejar Asha.
"Akkh..pasti dia sudah pulang." desis Zidan yang sekarang ada di luar apartemen nya.
Kembali Zidan pergi ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Dia mulai mengingat kembali kejadian yang baru saja di alaminya.
Menyentuh bibir dengan senyum tipis disana.Tapi sejurus kemudian raut wajah nya tampak terlihat kesal, dan dia mulai bangkit dari tidurnya.
"Akkhh..!" desis Zidan kesal sambil melepaskan gito nya alias gigi tonggos bohongannya, yang membuatnya kesal karena dengan tidak sengaja gigi bohongannya itu menghalangi bibir nya dan bibir Asha menempel dengan sempurna.
Sedangkan di sisi lain Asha nampak sedang menaiki sebuah angkot untuk pulang ke rumahnya.
Asha juga sama halnya dengan Zidan yang tidak bisa melupakan kejadian yang baru saja di alaminya.
Menyentuh bibir nya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ada apa dengan ku kenapa aku jadi gelisah seperti ini.Perasaan apa ini?kenapa aku malah senang bukannya marah sama Zidan.Aku sungguh tidak mengerti dengan diriku sendiri. Suara hati Asha.
"Dareen kemana sih,kenapa dia nggak mengangkat telpon dari aku?" desis Rania kesal sambil membanting ponselnya ke atas kasur.
"Dareen.. apa kamu tidak pernah sekalipun suka sama aku?aku sudah berusaha menjadi gadis yang di sukai banyak pria.Tapi kenapa kamu tidak pernah sekalipun bisa melihat dan memandangku seperti para pria memandangku yang penuh kekaguman."
"Tapi inilah yang aku suka dari kamu, kamu beda dengan para pria yang aku kenal.Aku jadi lebih bersemangat untuk bisa mendapatkan hati kamu dan memilikimu." gumam Rania dengan memandangi sebuah buku yang berisi dengan banyak fhoto Dareen yang di tempel disana.
...****************...
"Asha..!" panggil Zidan saat Asha hendak masuk ke dalam kelas.
Setelah kejadian kemarin Asha dan Zidan terlihat tampak canggung satu sama lain.
"Iya, ada apa Zidan?" tanya Asha yang tidak berani menatap Zidan.
"Untuk masalah kemarin aku minta maaf ya,!" ucap Zidan.
"Oh itu, iya nggak apa-apa ko." jawab Asha yang hendak pergi.
"Asha tunggu!"tahan Zidan dengan menarik tangan Asha yang membuat Asha menghentikan langkahnya.
"Aku mohon, jangan ada kecanggungan di antara kita.Kamu bisa kan bersikap seperti biasanya?" ucap Zidan.
Zidan benar kenapa aku terlalu memikirkan semua itu.Sekarang yang terpenting adalah persahabatan aku dan Zidan tetap berjalan.
__ADS_1
"Gimana kamu maafin aku kan?" tanya Zidan.
"Iya, aku maafin kamu ko.Lagian kamu juga gak sengaja kan." jawab Asha yang membuat hati Zidan lega.
"Makasih sudah nganterin aku pulang!" ucap Asha yang hendak keluar dari mobil Zidan.
"Apa aku boleh mampir?" tanya Zidan yang menghentikan niat Asha keluar dari mobil.
"Ya boleh dong, aku justru seneng kalau kamu mau mampir.Ya udah yuk,!" ajak Asha yang di setujui Zidan.
"Assalamualaikum..!"ucap Asha sambil memasuki rumah nya bersama Zidan.
" Walaikum salam!"jawab Mira yang datang dari arah dapur.
"Bu..!" ucap Asha sambil mencium punggung tangan ibunya.
Begitupun Zidan dia juga ikut mencium punggung tangan Mira.
"Ini siapa nak?" tanya Mira.
"Kenalin bu, ini temen Asha namanya Zidan." tutur Asha.
"Dan Zidan, kenalin ini ibu aku." ucap Asha memperkenalkan mereka berdua.
"Siang tante." sapa Zidan.
"Iya, ya udah ajak duduk temen kamu.Biar ibu siapkan air minum." ucap Mira sambil berjalan ke arah dapur.
"Kalau begitu Asha, tante aku pamit pulang dulu ya, soalnya ini sudah sore." pamit Zidan.
"Lho kenapa pulang, tunggu saja dulu nak Zidan supaya kita bisa makan malam bersama."pinta Mira.
"Tapi saya nggak enak tante, takutnya merepotkan tante."
"Tidak, sama sekali tidak merepotkan.Justru tante senang ada teman Asha yang main ke rumah Asha." jelas Mira.
"Jika tante nggak keberatan, Zidan mau tante." ujar Zidan senang.
Tiba waktunya makan malam, telah tersaji di meja makan kecil nasi beserta lauk pauknya.
Zidan, Asha dan Mira sudah duduk di masing-masing kursi dan siap untuk menyantap makan malam mereka.
"Nak Zidan maaf ya, kalau lauk nya mungkin tidak se enak dan semewah di rumah nak Zidan." tutur Mira sambil mengisi piring kosong Zidan dengan nasi.
"Enggak apa-apa ko tante, justru saya yang harus minta maaf karena merepotkan tante."
"Sama sekali tidak merepotkan, ya sudah silahkan di makan!" ucap Mira.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Zidan, seketika dia berhenti dan mulai merasakan masakan yang di buatkan ibu mertuanya itu.
Melihat itu Asha dan Mira hanya saling pandang.Takut kalau Zidan tidak menyukai makanannya.
__ADS_1
Zidan langsung menyendok lagi makanannya ke dalam mulutnya, bahkan beberapa sendok tanpa di beri jeda.
"Tante ini enak sekali, aku suka." ungkap Zidan sambil mengunyah makanannya.
"Syukurlah kalau nak Zidan menyukainya."
"Apa saya boleh tambah tante?" tanya Zidan.
"Tentu, silahkan tambah lagi." ucap Mira.
Melihat Zidan yang makan dengan begitu lahapnya membuat Asha dan Mira hanya bisa tersenyum melihat itu.
Setelah selesai makan Zidan pamit untuk pulang.
"Terima kasih banyak tante karena sudah memberi saya makanan yang begitu enak." ungkap Zidan.
"Iya sama-sama." jawab Mira.
"Kalau lain kali saya makan disini lagi bolehkan tante?" tanya Zidan.
"Ya boleh dong, tante senang kalau kamu mampir lagi."
"Ya sudah kalau begitu aku pulang ya tante!" pamit Zidan yang di jawab anggukan oleh Mira.
"Asha ibu lihat teman kamu seperti nya anak yang baik." ungkap Mira seraya melihat mobil Zidan yang sudah menjauh.
"Ibu suka?" tanya Asha.
"Ya selagi teman kamu baik dan sopan seperti Zidan ibu suka-suka aja sih." tutur Mira.
"Ya udah kita masuk yuk!" ajak Mira sambil menggandeng tangan Asha memasuki rumah.
"Jam segini baru pulang sekolah." ucap Dino yang melihat Dareen memasuki apartemen.Sedangkan dia sedang menyantap makan malamnya di meja depan tv.
Dareen tidak menjawab ucapan sahabatnya itu, dia malah menghempaskan tubuhnya ke atas sofa persis di hadapan Dino.
Dareen merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil senyum-senyum sendiri.
"Ngab gue bingung sama lo, akhir-akhir ini gue lihat lo sering senyum-senyum sendiri. Ada apa sih dengan lo?" tanya Dino yang merasa aneh dengan sikap sahabatnya itu.
"Din, lo pernah gak makan sama tumis kangkung, orek tempe pake sambel?" tanya Dareen yang kini posisi nya sedang tiduran di sofa dengan tangan di lipat di atas dada.
"Sejak kapan lo suka makanan kek gitu?" tanya Dino sambil menyendok makanannya ke dalam mulut.
"Pasti nggak pernah kan, tuh lihat makanan lo masih ayam goreng terus.Gak bosan lo." ucap Dareen yang kini bangkit dari tidurannya.
"Bukannya ini makanan kita sehari-hari kan?" tanya Dino bingung.
"Ahh..ngomong sama lo nggak ada gunanya." ucap Dareen yang beranjak bangun dan berjalan menuju kamarnya.
"Itu anak kenapa sih gak jelas banget." gumam Dino sambil kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1