
Satu Minggu telah berlalu tapi Asha masih belum mau pergi untuk menemui sang ayah, atau bahkan untuk sekedar menjenguk pun Asha tidak mau.
Setiap hari Dareen datang ke kontrakan Asha untuk terus berusaha meyakinkan Asha supaya mau menemui ayahnya.
Namun Dareen masih belum bisa membujuk Asha, Asha masih kekeh dengan keputusan dan pendiriannya.
Sedangkan di kediaman Bramantyo terlihat Romi sedang di periksa kembali oleh dokter Ardy.
Keadaan Romi belum ada perubahan bahkan sekarang Romi merasakan ada yang aneh dengan matanya.
Pandangan mata Romi mulai kabur, sehingga membuatnya harus memakai kacamata.
Ardy memeriksa mata Romi, sedangkan Sarah hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan medis putranya dengan harap-harap cemas menyaksikan pemeriksaan itu berlangsung.
Bukan cuma Sarah, tapi Rosa dan Rania pun terlihat menunggu disana di kamar utama yang di tempati Romi.
Setelah Ardy selesai memeriksa keadaan Romi, Ardy menggelengkan kepalanya pelan.
Ardy merasa heran dengan perubahan tubuh Romi yang semakin hari malah semakin parah bukannya sembuh.
Kini Ardy menuliskan kembali resep untuk Romi, kali ini Ardy mengganti obat yang biasa dia resepkan untuk Romi.
"Bu Rosa ini resep obat yang harus ibu tebus untuk pak Romi."imbuh Ardy seraya tangannya memberikan sebuah kertas yang di terima Rosa dengan anggukan kepala.
"Ardy sebenarnya apa yang terjadi sama Romi?"tanya Sarah yang kini tengah berjalan berdampingan bersama Ardy yang hendak untuk pulang.
"Ibu Sarah jangan khawatir, saya sudah meresepkan obat baru untuk pak Romi. Mudah-mudahan saja dengan obat baru itu pak Romi bisa secepatnya sembuh."
Rosa hanya bisa mengangguk mendengar penuturan dari Ardy.
Rosa merobek kertas yang di berikan Ardy tadi dengan senyum licik di bibirnya.
"Ma.. apa sih yang Mama lakukan?"tanya Rania yang kini mereka berdua tengah berada di luar kamar Romi.
"Apa yang Mama lakukan? kamu pasti sudah tahu jawabannya."seru Rosa dengan berjalan sedikit ke depan. Sedangkan Rania dia hanya menatap intens ke arah sang Mama tepat di belakang Rosa.
"Rania, kamu harus siap-siap untuk menjadi pewaris tunggal kekayaan Bramantyo, karena tidak akan lama lagi semua harta Bramantyo akan jatuh ke tangan kamu."kata-kata Rosa dengan melipatkan kedua tangan di depan dada.
"Ma.. apa harus dengan cara seperti ini supaya kita bisa mendapatkan semuanya?"tanya Rania yang sepertinya merasa keberatan dengan rencana sang Mama.
"Terus, kalau bukan dengan cara ini. Apa kamu punya cara lain untuk bisa di lakukan?"kembali Rosa bertanya seraya berbalik dan menatap tajam ke arah putrinya itu.
Rania menggeleng pelan.
"Jika kamu tidak punya rencana untuk di lakukan maka ikuti saja permainan Mama, paham kamu."ucap Rosa sebelum pergi meninggalkan putrinya itu.
"Hahaha... Tidak sia-sia aku bekerja sama dengan kamu. Rencanamu memang sangat brilian Doni."ucap Rosa yang kini sedang telponan bersama mantan kekasihnya itu di balkon di luar kamarnya.
"Sepertinya kau terdengar sangat bahagia sekali Rosa. Memangnya Romi Bramantyo telah tiada sehingga kau begitu terdengar sangat bahagia seperti ini."suara dari sebrang sana.
Rosa tersenyum tipis di bibirnya.
"Romi memang belum sepenuhnya mati, tapi sebentar lagi kematiannya akan datang menjemputnya."
Mata Sarah terbelalak mendengar penuturan menantunya itu, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Rosa dengan Doni di telpon yang membuatnya menutup mulutnya karena merasa syok dengan apa yang baru saja dia dengar.
Sarah berjalan mundur ke belakang yang membuatnya menjatuhkan sesuatu.
Mata Rosa langsung awas menatap ke arah suara dengan kaki yang mulai berjalan untuk melihat apa yang terdengar barusan.
Rosa memutuskan panggilan telefon dan dia melihat ada sebuah vas bunga yang terjatuh. "Sial pasti tadi ada orang yang menguping pembicaraan ku." Umpatnya dengan berlari keluar untuk mencari tahu siapa orang yang telah mendengarkan pembicaraannya bersama Doni barusan.
__ADS_1
Terlihat Sarah yang terburu-buru berjalan untuk menuju ke arah tangga. "Ibu..!"teriak Rosa yang membuat Sarah menoleh sekilas dan lebih mempercepat jalannya.
"Aku harus memberi tahu Dareen tentang kejahatan Rosa."gumam Sarah sambil mencoba menghubungi Dareen di sela-sela berjalannya.
"Ibu berhenti!" Kembali Rosa berteriak sambil mengikuti Sarah dari belakang.
Sarah terus berjalan untuk bisa menghindari Rosa.
"Ibu.. !"ucap Rosa yang menarik tangan mertuanya itu dari arah belakang.
"Lepaskan! Kamu itu wanita jahat Rosa."ucap Sarah yang merasa ketakutan.
"Hahaha.. jadi sekarang ibu mertuaku sudah mengetahui nya ya, ummm... gimana ya,!"
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan Rosa?"tanya Sarah dengan tubuh yang gemetar.
"Apa yang aku inginkan? Aku menginginkan semua harta Bramantyo ibu."jawab Rosa dengan senyum licik di bibirnya.
"Kamu sudah gila Rosa, demi harta kamu tega menyakiti Romi anak saya."ucap Sarah dengan suara yang sedikit meninggi.
"Itu karena salah putramu sendiri, siapa suruh dia mencoba mencari kembali putrinya yang dulu."Rosa bersungut-sungut.
"Apa maksud kamu?"tanya Sarah tidak mengerti.
"Putramu itu sengaja mencoba mencari tahu kembali keberadaan istri dan anaknya yang dulu untuk apa? Kalau bukan untuk sebuah surat wasiat."Rosa mencoba menjelaskan.
Sarah hanya diam mencoba untuk mencerna semua kata-kata menantunya itu.
"Jadi ibu, apa yang aku lakukan ini semua adalah kesalahan putramu itu."
"Kamu benar-benar sudah gila Rosa, aku akan melaporkan kamu ke polisi."ancam Sarah seraya mencoba menelpon.
"Ibu..!"panggil Rosa seraya terus mengejar Sarah.
Sedangkan Sarah dia buru-buru menuruni tangga dan..
"Arrggh...!"Sarah terjatuh dari atas tangga hingga tubuhnya terguling sampai ke tangga paling bawah.
Rosa malah tersenyum puas dari atas tangga melihat Sarah yang terjatuh.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
"Ayo Sha pergi ya, kasian nak Darren dari tadi nungguin."Mira mencoba membujuk Asha yang di ajak jalan oleh Dareen.
"Sebenarnya aku males Bu untuk pergi keluar."jawab Asha dengan wajah yang dia tekuk.
"Malam ini aja ya, kasihan selama satu Minggu ini kamu mengacuhkan nak Darren."
Asha hanya bisa mengangguk untuk menuruti permintaan sang ibu.
Kini Asha dan Darren telah tiba di sebuah pasar malam. Dareen sengaja mengajak Asha kesini supaya Asha bisa melupakan sejenak kesedihannya.
"Tunggu disini!"pinta Dareen yang beranjak pergi.
Asha hanya menurut sambil manik matanya melihat ke sekeliling yang begitu ramai oleh pengunjung yang berlalu lalang.
Tak lama kemudian Dareen kembali dengan membawa dua ice cream di tangannya.
Dareen memberikan satu ice cream pada Asha. "Nih ice cream coklat kesukaan kamu."ucapnya.
Dengan senang hati Asha menerima ice cream itu.Karena emang udah lama juga sih Asha nggak makan ice cream makanya dia nggak menolak ice cream yang di berikan Dareen.
__ADS_1
"Naik itu yuk!"ajak Dareen di sela makan ice cream nya sambil menunjuk sebuah wahana yang berputar.
Asha menggeleng cepat. "Enggak ah..!"tolak Asha yang sedang sibuk menikmati ice cream coklat nya.
"Kenapa?"tanya Dareen yang menatap Asha.
"Takut, kalau nanti wahananya berhenti berputar ketika kita sedang naik di atas."alasan Asha.
Dareen terkekeh kecil mendengar alasan Asha.
"Kenapa tertawa? emang kenyataannya gitu kan."
"Makan ice cream itu yang bener masa belepotan gini."imbuh Dareen seraya tangannya menyusut bekas ice cream di bibir Asha.
Asha hanya bisa diam mendapat perlakuan seperti itu dari Dareen.
Kembali Dareen terkekeh kecil melihat wajah Asha yang terlihat sangat tegang.
Memang saat ini Asha sedang merasakan detak jantungnya yang berdetak begitu cepat.
"Sini ikut!"ajak Dareen seraya tangannya menarik tangan Asha.
Yang punya tangan hanya bisa mengikuti kemana tangannya di bawa.
"Ayo masuk!"pinta Dareen saat sudah berada di hadapan wahana pasar malam yaitu biang Lala.
Asha menggeleng cepat. "Nggak mau aku takut."tolak nya.
"Kan naiknya bareng aku jadi nggak usah takut. Ayo naik!"pinta Dareen yang sedikit memaksa yang membuat Asha enggan untuk menolaknya lagi.
Asha terpaksa menaiki biang Lala yang di susul oleh Dareen yang ikut masuk juga.
Wahana itu mulai berputar ke atas yang membuat Asha memejamkan matanya karena merasa takut.
Bahkan Asha juga tidak sengaja memegang tangan Darren cukup erat yang membuat Dareen kembali terkekeh.
"Nggak apa-apa buka deh mata kamu, ini indah tahu." kata-kata Dareen membuat Asha membuka matanya perlahan hingga mata itu terbuka sempurna.
Mulai melihat sekeliling dan tak terasa seutas senyum terlukis di bibir tipis Asha.
"Indah kan?"tanya Dareen yang di jawab anggukan oleh Asha.
Asha terus melukiskan senyuman ketika melihat keindahan dari atas sana.
Namun saat sedang asyik melihat keindahan pasar malam itu tiba-tiba..
Semua lampu mati yang membuat Asha ketakutan bukan cuma semua lampu yang mati tapi biang Lala yang mereka tumpangi juga ikutan mati tak bergerak sedangkan mereka sedang berada di posisi paling atas.
Dengan sigap Asha memeluk Dareen. "Aku takut Dareen."ucapnya lirih sambil menyusup ke dada bidang Dareen.
"Kamu tenang, ini nggak apa-apa ko. Nanti juga nyala lagi."Dareen coba membuat Asha tenang karena dia tahu kalau Asha memang benar-benar sedang ketakutan.
"Aku kan udah bilang, kalau aku nggak mau naik ini. Aku mau turun Dareen."ucapnya lirih.
"Hey Asha tenang, lihat aku!"pinta Dareen dengan menyentuh dagu Asha yang membuatnya menengadah ke atas menatap ke arah Dareen.
Kini jarak wajah mereka begitu dekat bahkan mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.
Asha menatap wajah Dareen dengan tatapan sayu sedangkan Darren mulai mendekatkan kan dan memiringkan wajahnya.
Asha mulai menutup matanya dan mereka mulai... yang sudah cukup umur pasti tau lah apa yang mereka lakukan di saat-saat seperti itu.😁😁
__ADS_1