AHLI WARIS YANG TERBUANG

AHLI WARIS YANG TERBUANG
Bab 41 Pikiran yang Kalut


__ADS_3

Rosa membuka pintu kamarnya, matanya menatap sekilas ke arah Rania yang sedang duduk menatap suaminya.


Lebih memilih menyimpan tas di kursi yang ada di dalam kamar, lalu detik kemudian Rosa berjalan menuju kamar mandi berniat membersihkan diri tanpa menyapa Rania Rosa berjalan melewati putrinya itu.


Namun detik kemudian Rania menarik tangan sang Mama dan membawanya berjalan keluar dari kamar tanpa bicara satu patah katapun.


Sedangkan Rosa dia memilih diam dan mengikuti kemana Rania membawanya.


"Ma.. pokoknya aku nggak suka Mama bergaul sama pria yang tadi itu lagi."ucap Rania memperingatkan.


"Sejak kapan kamu ngatur-ngatur hidup Mama?"jawab Rosa yang tidak terima dengan larangan putrinya itu


"Pokoknya aku nggak suka ma, dan asal mamah tahu aja sampai kapanpun papah aku cuma papah Romi nggak ada yang lain. Dan aku juga nggak akan pernah biarin Mama lukai papa Romi." Kembali Rania memperingatkan.


"Rania jangan coba-coba kamu menghalangi jalan Mama."ancam Rosa.


"Karena Mama salah, wajar jika aku nggak setuju dengan apa yang Mama lakukan."


"Dengar baik-baik Rania, meski kamu berusaha keras untuk menjadi putri dari Bramantyo itu tidak akan pernah berhasil. Karena apa? Karena kamu memang bukan putri kandung dari Romi Bramantyo. Dan jika sampai putri kandung Bramantyo kembali maka apa yang akan kamu dapatkan hah..? Kasih sayang papa kamu si Romi itu? Tidak akan pernah terjadi Rania. Terlebih jika sampai Romi mengetahui yang sebenarnya tentang kamu yang bukan anak kandungnya maka tidak akan menutup kemungkinan jika kamu tidak akan di anggap lagi anak oleh Romi Bramantyo. Atau lebih tepatnya kamu dan juga Mama mungkin akan di usir dari rumah ini, dan kita tidak akan mendapatkan apapun. Apa itu yang kamu inginkan hah..?"suara Rosa dengan sedikit meninggi.


Rania hanya diam tidak membalas ucapan dari Rosa.


"Kamu hanya tinggal memilih ikuti rencana Mama, atau kamu justru ingin menghancurkan kehidupan kamu sendiri. Pikirkan kata-kata Mama ini."timpal Rosa sebelum berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa jadi serumit ini sih."gumam Rania dengan menyugar rambutnya ke belakang.


Pagi-pagi mobil Dareen sudah sampai di kontrakan Asha.


Tok!tok!tok! Darren mengetuk pintu kontrakan Asha.


Tak lama kemudian pintu yang berwarna coklat tua itu di buka dari dalam.


"Nak Darren, silakan masuk!"sapa Mira.


Dareen hanya mengangguk dengan kaki yang ikut melangkah memasuki rumah yang tidak terlalu besar itu.


"Silakan duduk, biar ibu buatkan minum dulu."ucap Mira yang di jawab anggukan oleh Dareen.


Terlihat Asha keluar dari kamar, yang membuat Dareen langsung memanggilnya.

__ADS_1


"Sha..!"


Asha menoleh dengan kaki yang kini berjalan ke arah Dareen.


Asha duduk persis di hadapan Dareen.


"Aku kesini ingin ngajak kamu ketemu sama pak Romi."ucapnya tanpa basa-basi.


"Aku sudah memutuskan, kalau aku nggak akan peduli dengan Ayah kandung aku sekarang."jawab Asha tegas.


"Maksud kamu apa Sha?"tanya Dareen tidak mengerti.


"Untuk apa aku menemui orang yang udah buang aku dan ibu."seru Asha dengan suara yang tersendat.


"Sha bukannya kamu ingin tahu siapa ayah kamu, dan sekarang setelah kamu mengetahuinya kenapa kamu bersikap seperti ini Sha?"tanya Dareen yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Asha.


"Itu dulu, tapi sekarang aku mengubah cara pandang aku. Kamu pernah nggak ngerasain gimana rasanya jadi aku. Aku sama ibu hidup susah kami banyak menderita bahkan aku di sekolah papa aku sendiri jadi orang yang paling di benci dan di rendahkan disana." Asha menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.


Dengan kasar Asha menghapus air bening yang turun tanpa permisi dari sudut matanya.


"Dan sekarang untuk apa aku menemui dia yang sama sekali nggak pernah sayang sama aku. Toh sekarang dia sudah bahagia dengan istri dan anaknya juga kan. Jadi untuk apa aku dan ibu harus menemuinya."Asha menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sesak yang menyeruak dadanya.


"Tapi itu sudah terlambat, kenapa nggak dari dulu ayah cari aku dan ibu? kenapa baru sekarang?"


"Kalau masalah itu aku nggak tahu tapi_" . Asha menyela ucapan dareen.


"Sudah cukup aku nggak mau mendengar apa-apa lagi, sebaiknya kamu pulang!"pinta Asha yang bangkit dari duduknya.


"Tapi Sha!"


Asha berlari kecil kembali ke kamarnya.


Saat Darren hendak menyusul tiba-tiba Mira mencegahnya yang baru kembali dari dapur.


"Biarkan Asha sendiri dulu."ucap Mira yang sudah mendengarkan percakapan mereka tadi.


"Tapi Bu."


"Sudah, sebaiknya nak Darren pulang saja dulu. Biar ibu yang mencoba bicara pada Asha."imbuh Mira.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pulang Bu. Tapi aku minta sama ibu tolong bujuk Asha supaya mau menemui pak Romi karena sekarang pak Romi sedang sakit."jelas Dareen.


"Iya ibu akan coba bujuk Asha."Mira meyakinkan.


Dareen mencium punggung tangan Mira sebelum dia melangkah keluar dari kontrakan itu.


"Sayang, boleh ibu masuk?"izin Mira yang sekarang tengah berdiri di ambang pintu kamar putrinya.


Asha mengangguk dengan tangan yang kembali menghapus air asin yang tidak mau berhenti keluar itu.


Mira berjalan sedikit untuk bisa duduk di samping putrinya di tepi tempat tidur.


"Sha, dulu waktu kamu lahir papa kamu itu terlihat sangat bahagia. Dia sampai melompat-lompat saking bahagianya."Mira mulai membuka pembicaraan dengan kilasan momen saat itu terbayang jelas di ingatannya.


Sedangkan Asha dengan setia mendengarkan cerita sang ibu.


"Papa kamu sangat mencintai ibu, tapi karena kesalah pahaman yang terjadi di antara kita membuat kami hidup berpisah."Mira menarik nafas dalam saat mengingat kembali masa lalunya saat dimana Romi mengusir nya keluar dari rumah Bramantyo pada saat malam hari.


Mira keluar dari rumah Bramantyo dengan membawa Asha yang waktu itu masih bayi, dengan hujan yang turun cukup deras serta kilatan petir yang saling menyambar membuatnya harus berteduh di sebuah pos ronda.


Mengingat kejadian itu Mira tidak bisa membendung air matanya yang mulai jatuh membasahi pipi putihnya.


Dengan cepat Asha menghapus air mata sang ibu yang di barengi dengan gelengan kepalanya.


"Air mata ibu terlalu berharga untuk menangisi orang yang sudah buang kita."ucap Asha.


"Tidak sayang, papa kamu tidak salah."sanggah Mira dengan menggenggam tangan sang putri.


"Bu udah jelas-jelas ayah buang kita, untuk apa kita membicarakan nya lagi. Aku mohon Bu jangan bicarakan lagi tentang dia. Kenapa ibu masih membicarakan orang yang udah nyakitin hati ibu?"protes Asha yang merasa kesal dan juga sedih.


"Karena ibu tahu, kalau Ayah kamu itu nggak salah yang salah itu adalah nenek kamu."Mira mencoba menjelaskan.


"Nenek aku? maksud ibu apa?"tanya Asha yang mulai penasaran dengan ungkapan sang ibu.


"Dari dulu nenek kamu itu nggak pernah suka sama ibu, dia akan mencoba mencari kesalahan ibu di hadapan Ayah kamu. Namun karena ayah kamu mencintai ibu membuatnya selalu membela ibu. Tapi karena kesalah pahaman yang terjadi di antara ibu dan ayah kamu tidak bisa ibu buktikan kalau ibu nggak salah membuatnya termakan hasutan nenek kamu sehingga Ayah kamu sampai tega mengusir ibu dari rumahnya."ucap Mira panjang lebar.


"Jadi pikirkan lagi keputusan kamu nak, jangan sampai keputusan kamu membuat kamu menyesal di kemudian hari."petuah Mira seraya tangannya menyentuh dagu sang putri sebelum keluar dari kamar putrinya.


Sedangkan Asha hanya diam sambil mencerna semua kata-kata yang ibunya coba jelaskan.

__ADS_1


__ADS_2