
Saat dirasa sudah aman Darren menggenggam tangan Asha dan membawanya keluar dari lemari dengan hati-hati."Sepertinya mereka sudah pergi."dengan langkah yang mengendap-endap.
"Syukurlah mereka sudah pergi."seru Darren dengan nafas lega. Begitupun Asha yang ikut membuang nafas kelegaan.
"Tapi tunggu kenapa tiba-tiba kamu di kejar para preman itu?"tanya Darren dengan menatap intens wajah Asha.
"Tadi aku nggak sengaja nimpuk kepala Abang botak tadi dengan kaleng kosong."tutur Asha santai.
"Apa ko bisa?"
"Ya bisalah, udah ah ayo pulang!"ajak Asha yang berjalan mendahului Darren.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terlihat Romi berjalan keluar dari rumah besarnya. "Ali bawakan tas saya!"panggilnya.
Tak lama kemudian datang seorang pria dengan baju yang serba hitam yang di lengkapi dengan topi warna hitam juga.
Detik kemudian mengambil tas yang berada di tangan Romi. "Siapa kamu?"tanya Romi yang merasa asing dengan pria yang kini berada di hadapannya.
"Dia Mateo Mas."sela Rosa yang keluar dari rumah.
"Mulai hari ini Mateo yang akan menggantikan Ali supir kamu."timpal Rosa dengan tangan yang bergelayut manja di tangan Romi.
"Kenapa harus di ganti?Ali sudah bekerja lama dengan saya, dan saya tidak suka ada orang yang berani memecat bawahan saya tanpa izin dari saya."tutur Romi dengan mengambil kasar tasnya dari tangan Mateo yang tak lain Mateo itu adalah Doni mantan kekasih Sarah.
Romi berjalan dan masuk ke dalam mobil, mulai memutar kunci mobil dan memilih mengemudi sendiri daripada harus memakai supir yang di pilihkan Sarah.
Detik kemudian mobilnya melaju meninggalkan Sarah dan Doni yang masih mematung di tempatnya.
"Suamimu memang pria yang sombong."gerutu Doni dengan mata yang masih menatap ke arah mobil Romi yang mulai menjauh.
"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"tanya Rosa.
"Tenang aku tahu benar apa yang harus aku lakukan."jawab Doni dengan senyum yang menyeringai licik.
Sedangkan Rosa dia bergegas kembali masuk ke dalam rumah karena takut jika akan ada orang yang melihatnya berlama-lama mengobrol dengan Doni.
Namun tanpa Rosa sadari bahwa ada sepasang mata yang melihat nya dari tadi.
__ADS_1
Drtt..drtt..drtt... ponsel Romi bergetar di atas meja kerjanya menandakan jika ada panggilan masuk.
"Hallo!"sapa Romi saat ponselnya sudah menempel di telinga kanannya.
"Ma-maaf tuan, mulai hari ini dan seterusnya saya akan berhenti bekerja menjadi supir tuan."suara yang sudah familiar dari sebrang sana.
"Kenapa mendadak sekali?"tanya Romi yang memang merasa aneh jika supirnya tiba-tiba ingin berhenti bekerja.
"Kar-karena saya harus pindah tuan."jawab Ali lagi.
"Pindah? memangnya kamu akan pindah kemana?"kembali Romi bertanya.
"Saya akan pindah ikut anak saya tuan.Tuan tolong jaga diri tuan baik-baik."ucapan terakhir dari Ali yang kemudian panggilan telefon nya terputus.
"Bagus..mulai hari ini pergi yang jauh dari kota ini, dan jangan kembali lagi.Jika Lo gak mau anak dan istri Lo terluka."ancam pria bertopi dengan menodongkan sebuah pistol ke kepala Ali.
"Ba-baik tuan, saya akan pergi tapi tolong jangan ganggu saya dan keluarga saya."ucap Ali memohon sebelum meninggalkan pria yang tidak lain adalah Doni.
"Kehancuran mu akan segera di mulai Romi Bramantyo,!" gumam Doni dengan senyum liciknya.
Asha bangun di tengah malam, karena merasa haus akhirnya dia beranjak dan keluar dari kamarnya untuk menuju dapur.
Tak butuh waktu lama Asha meminum air itu hingga tandas tak bersisa.
Di rasa sudah tidak haus lagi dia memutuskan untuk pergi kembali ke kamarnya.
Namun karena penerangan yang remang-remang membuatnya harus ekstra hati-hati ketika berjalan menuju kamarnya.
Saat Asha sedang berjalan gontai menuju kamarnya tiba-tiba satu tangannya ada yang menarik dari arah belakang yang membuatnya terlonjak kaget.
Saat Asha nyaris berteriak dengan sigap Darren menutup mulut Asha dengan tangannya, dan mulai menyeret tubuh Asha ke dinding dapur dan mulai menghimpitnya.
Asha melepaskan tangan Darren yang menutupi mulutnya. "Darren apaan sih."tanya Asha pelan.
"Ngapain malam-malam di dapur?"tanya Darren dengan posisi masih menghimpit tubuh Asha.
"A-aku tadi cuma minum."jawab Asha gugup seraya wajahnya yang mendongak ke atas untuk bisa menatap wajah Darren yang jauh lebih tinggi darinya.
Andaikan Darren tahu kalau saat ini Asha sedang mengontrol dirinya dari jantung yang berdetak begitu cepat seperti akan keluar dari tempatnya.
__ADS_1
Darren menyentuh dagu Asha dengan satu tangannya dan mulai mendekatkan wajahnya, yang membuat Asha semakin panas dingin di buatnya.
"Aku harus segera kembali ke kamar."dengan sigap Asha mendorong tubuh Darren dan mulai berlari kecil menuju kamarnya.
Sedangkan Darren dia hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Asha yang salting yang begitu lucu dan menggemaskan dimatanya.
Menarik nafas panjang beberapa kali untuk mengontrol jantungnya yang terus berdetak dengan begitu cepat di balik pintu kamar yang baru saja ia tutup.
Menutup wajah dengan kedua tangan seraya seutas senyum terlukis disana.
"Dia kenapa sih selalu saja bikin aku deg-degan kek gini.Sumpah barusan aku salting banget tapi, kalau di pikir-pikir dia itu selain tampan dia juga wangi."ngomong sendiri dengan bibir yang tidak henti-hentinya melukiskan senyuman.
"Ya ampun Asha..keknya Lo udah gila deh sejak kapan coba Lo jadi mikirin yang aneh-aneh tentang dia."memilih berjalan mendekati kasur dan melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi.
"Ayo naik!"pinta Darren yang kini tengah siap dengan motor ninja warna merahnya.
Saat Asha hendak melangkah berjalan mendekati Darren tiba-tiba dia teringat akan ancaman Rania kemarin yang membuatnya mengurungkan niatnya mendekati Darren.
Asha menggeleng cepat. "Nggak usah aku bisa pergi sendiri ko."tolaknya.
"Udah aku anterin aja, lagian hari ini aku nggak masuk kerja."seru Darren.
"Tapi..!"
"Buruan!"sahut Darren yang sedikit memaksa yang membuat Asha tidak bisa menolaknya lagi.
Asha naik dengan tangan berpegangan pada bahu Darren dan mulai mendudukkan pa***tnya di jok belakang dengan nyaman.
"Pegangan yang kuat nanti jatuh!"instruksi Darren seraya tangan menutup kaca helmnya.
Asha sedikit ragu-ragu untuk berpegangan ke pinggang Darren.
Namun dengan sengaja Darren melajukan motornya dengan sangat kencang yang membuat Asha dengan spontan memeluk perut Dareen karena ketakutan.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Asha membuat Dareen tersenyum puas di balik helmnya yang tertutup.
"Ingat jangan dulu pulang sebelum aku jemput!"pesan Dareen seraya memutar kunci dan langsung melajukan motornya tanpa mendengarkan jawaban Asha yang hendak bicara.
"Aku mau ngomong, nggak usah di jemput aku bisa pulang sendiri."teriak Asha kesal.
__ADS_1