
"Iya Sha aku tahu siapa Ayah kandung kamu."jelas Dareen yang bangkit dari duduknya.
Detik kemudian Asha berbalik ke arah Dareen yang kini tengah berjalan untuk menghampirinya.
"Maksud kamu apa?"tanya Asha yang masih tidak mengerti.
"Aku tahu siapa Ayah kandung kamu, dan aku juga tahu dimana rumah Ayah kandung kamu."kembali Dareen mencoba menjelaskan.
Asha masih diam untuk mencerna semua ucapan Darren, apa Dareen benar- benar tahu siapa Ayah kandungnya atau ini cuma candaannya belaka.
"Dan kamu kesini pasti nyari ini kan Sha?"timpal Darren dengan memperlihatkan sebuah foto bayi di tangannya.
Seketika mata Asha terbelalak, bagaimana mungkin Dareen mengetahui tujuannya kembali datang ke apartemen nya hanya untuk mencari sebuah foto dirinya yang masih kecil.
Padahal dari tadi dirinya belum memberitahu tujuannya datang kesana.
"Kamu nggak lagi bohongin aku kan?"tanya Asha memastikan.
"Untuk apa aku bohongi kamu, aku benar-benar tahu siapa Ayah kandung kamu yang sebenarnya."kembali Dareen meyakinkan.
"Siapa Ayah kandung aku?"tanya Asha penasaran.
"Dia adalah pak Romi, atasan aku sekaligus orang yang punya sekolahan dimana tempat kamu sekolah."tutur Dareen.
Bak di sambar petir di siang bolong, Asha masih tidak percaya dengan apa yang Dareen sampaikan.
"Kamu pasti bohong kan, itu nggak mungkin."ucap Asha yang menolak percaya dengan apa yang Dareen katakan.
"Jadi kamu nggak percaya sama aku? Kamu lihat ini! Ini adalah foto kamu saat kamu masih bayi yang ibu kamu simpan."Dareen kembali menunjukan foto yang tadi dia pegang.
Lalu detik kemudian dia berjalan sedikit untuk mengambil sebuah foto lagi di dalam sebuah lemari kecil yang ada disana.
"Dan ini juga masih foto kamu saat kamu masih bayi juga yang di simpan oleh papah kamu.Papah kandung kamu."timpal Dareen dengan kembali menunjukan foto itu yang sekarang foto itu menjadi dua foto di tangannya.
Setelah melihat itu semua Asha hanya punya dua pilihan percaya dengan semua bukti yang ada di hadapannya sekarang, atau justru dia harus menolak untuk percaya.
Seketika air mata Asha tumpah dia tidak bisa menahan kesedihannya lagi.Entah dia harus merasa bahagia atau justru sebaliknya.
Hiks..hiks.. Asha menangis sesenggukan entah apa yang di rasakan nya saat ini yang jelas dia hanya ingin menangis yang sejadi-jadinya untuk bisa meringankan sedikit rasa sesak di dadanya saat ini.
Dareen langsung memeluk Asha untuk bisa menenangkan emosionalnya.
__ADS_1
Saat di rasa sudah tenang, Asha pergi ke kontrakan nya yang baru untuk menemui Mira sang ibu.
Dan mencari tahu tentang kebenarannya.
"Sha.. sudah pulang nak!"sapa Mira saat membuka pintu kontrakannya yang di ketuk Asha.
Namun seketika ekspresi Mira berubah saat mendapati Darren yang ikut datang bersama putrinya.
Asha memasuki kontrakan nya tanpa menjawab sapaan sang ibu, yang membuat Mira merasa bingung.
Detik kemudian Dareen juga ikut masuk bersama Mira ke dalam kontrakan.
Asha duduk di sebuah karpet yang berada di kontrakannya lalu di susul oleh Mira dan Darren yang ikut duduk juga.
"Ada apa Sha, kenapa kamu terlihat sedih, apa kamu sakit?"tanya Mira yang merasa heran dengan sikap putrinya itu.
"Bu.. apa benar nama Ayah aku Romi?"tanya Asha tiba-tiba.
"Kamu nanya apa sih Sha?"tanggapan Mira seraya melihat Dareen dengan senyum ketir.
"Ibu jawab aja, apa benar nama ayah aku Romi? Atau lebih tepatnya Romi Bramantyo?"kembali Asha bertanya.
Mendengar itu Mira merasa kaget dengan pertanyaan putrinya yang sama sekali tidak bisa dia sangkal.
Mira hanya bisa diam tanpa mengucapkan satu patah katapun.
"Ibu..aku mohon jawab Bu."kembali Asha bertanya seraya tangan menggenggam tangan sang ibu dengan air mata yang berderai.
Mira juga mulai menangis karena dia juga bisa merasakan hati putrinya yang sekarang sedang rapuh.
Aku mohon Bu, kasih tahu aku yang sebenarnya."Asha menangis sesenggukan di pangkuan sang ibu.
"Iya Sha, Romi Bramantyo memang adalah ayah kandung kamu."ungkap Mira yang merasa tidak tega jika harus terus menerus menutupi kebenaran tentang ayah kandung Asha.
Mendengar itu Asha semakin menangis, dan Mira pun juga ikut menangis.
Dareen memilih keluar dari kontrakan Asha, karena dirinya sungguh tidak tega jika harus berlama-lama melihat kedua wanita yang dia sayangi bersedih seperti itu.
Memang Dareen sudah menganggap Mira seperti ibunya sendiri karena selama Mira tinggal bersamanya di apartemen, Mira begitu baik dan perhatian pada Dareen bak ibu kandung yang tidak Dareen dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.
Detik kemudian Dareen berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kontrakan Asha.
__ADS_1
Dia masuk, memutar kunci mobil dan mulai melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Dareen tiba di rumah besar kediaman Bramantyo.
Dia berjalan gontai memasuki rumah besar itu.
"Dareen kamu kesini lagi?"tanya Rosa yang kini sedang duduk santai di atas sofa.
"Iya Bu, saya kesini ingin melihat keadaan pak Romi."ucap Darren meminta izin.
Rosa hanya mengangguk dengan menyimpan sebuah majalah yang tadi dia baca ke atas meja di depannya.
"Ok, tapi jangan lama-lama karena suami saya harus istirahat."imbuh Rosa yang di jawab anggukan oleh Dareen.
Dareen membungkukkan sedikit badannya sebelum dia melangkah pergi menuju kamar bosnya.
Namun Rosa melihat punggung Dareen dengan tatapan yang sulit untuk di artikan sampai punggung itu menjauh menaiki tangga.
Dareen memasuki kamar yang dimana di dalam kamar itu ada seseorang yang sedang berbaring tidak berdaya.
"Selamat sore pak, bagaimana keadaan bapak sekarang?"tanya Dareen yang sekarang tengah duduk di sebuah kursi di samping Romi berbaring.
Perlahan Romi mulai mengerjapkan matanya hingga mata itu terbuka perlahan-lahan tapi pasti.
"Ba-gaimana apa ka-mu su-dah menemu-kan putriku Dareen?"tanya Romi saat mata itu sudah terbuka sempurna.
"Sudah pak!"jawab Dareen dengan anggukan kepala.
"Bawa dia padaku Dareen!" pinta Romi.
"Akan segera saya lakukan."imbuh Dareen yang membuat seutas senyum terlukis di bibir pria yang kini sedang berbaring itu.
Sedangkan di balik pintu kamar Romi yang terbuka sedikit terlihat Rosa sedang menguping pembicaraan Dareen dengan suaminya.
Saat sudah berhasil mendengar percakapan Dareen dan Romi, Rosa terlihat terburu-buru menjauh dari sana.
"Kita perlu ketemu, ini penting."ucap Rosa dengan sebuah ponsel di telinganya.
Detik kemudian menutup telepon dan mulai berjalan menuruni tangga mengambil tas di atas kursi lalu dengan tergesa-gesa Rosa keluar rumah dan mulai menaiki mobil, memutar kunci dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang mewah milik Bramantyo.
"Sebenarnya Mamah mau pergi kemana sih sampai buru-buru kek gitu?"gumam Rania yang memanggil Rosa dari tadi namun sepertinya Rosa tidak mendengar panggilan nya.
__ADS_1
Yang membuatnya mengikuti Rosa sampai ke teras rumah, namun Rosa malah sudah lebih dulu pergi dengan mobilnya.