
Kini Asha sudah pulang dengan selamat ke apartemen Darren.
Melangkah pergi ke kamar dan bertemu dengan Mira disana yang sedang menata baju ke dalam lemari.
Asha mendudukkan p****t nya di tepi tempat tidur.
"Kenapa mukanya di tekuk seperti itu?"tanya Mira.
"Buk kita cari kontrakan aja ya Bu, jangan tinggal disini."sahut Asha dengan wajah yang memang terlihat murung.
"Kamu ada masalah lagi sama nak Darren?"
Asha menggeleng cepat. "Enggak ko buk, aku sama Dareen nggak ada masalah."
Mira memilih berjalan sedikit untuk bisa duduk di tepi tempat tidur di samping putrinya itu.
"Kalau kamu ada masalah cerita sama ibu!"pinta Mira seraya tangannya menggenggam tangan putrinya itu.
"Aku takut Bu."Asha mulai mengungkapkan kekhawatirannya.
"Takut? Apa yang kamu takuti Asha?"tanya Mira yang mulai cemas dengan keadaan putrinya.
"Ibu tau kan, kalau di sekolah aku nggak pernah punya teman. Sekalipun aku punya teman yang baik sama aku cuma Zidan, dan tahu-tahu ternyata Zidan adalah Dareen."suara Asha dengan nafas yang seperti tertahan.
Menarik nafas dulu sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Hari ini aku nyaris saja kehilangan rambutku buk, gara-gara aku kenal dan temenan sama Dareen."tak terasa bulir bening sudah mengembun di pelupuk mata.
Sedangkan Mira dia masih setia mendengarkan keluh kesah putrinya.
Kembali Asha menarik nafas dalam. "Ibu tahu ternyata di sekolahku ada cewek yang suka sama Dareen namanya Rania, dan dia itu adalah putri dari yang punya sekolahan aku buk."Asha menghapus kasar bulir bening yang sudah terpupuk di sudut matanya.
"Ibu ingat kemarin aku sempat terluka di lutut, dan aku bilang sama ibu kalau aku terjatuh di sekolah. Padahal aku bohong buk, yang sebenarnya aku di dorong sama Rania wanita yang suka sama Dareen. Alasannya karena dia melihat aku di antar ke sekolah oleh Dareen."
"Dan bukan itu aja Bu, tadi dia juga berusaha mau gunting rambut aku, kalau saja aku tidak berhasil kabur mungkin sekarang aku sudah kehilangan rambutku."semakin tak bisa tertahan lagi, akhirnya air asin itu lolos begitu saja dan membasahi pipi putihnya.
Mira langsung memeluk sang putri seakan ikut merasakan beban dan kesedihan juga tekanan yang di rasakan putri satu-satunya itu.
Asha menangis di pelukan sang ibu, karena mungkin dengan menangis beban dan sesak di dadanya bisa sedikit berkurang.
__ADS_1
"Maafkan ibu Asha, ternyata selama ini kamu banyak menyimpan kesedihan dan tekanan sendirian."tutur Mira seraya tangannya mengelus lembut punggung sang putri.
Mira melerai pelukannya dengan sang putri, lalu tangannya mengusap lembut air mata Asha yang berderai.
"Jika kamu merasa tinggal disini membuat kamu tertekan, ibu akan ikut kamu kemanapun kamu pergi."
"Makasih ya Bu."
"Kenapa terima kasih sayang, seharusnya ibu yang minta maaf sama kamu karena ibu belum bisa jadi ibu yang baik untuk kamu."ucap Mira dengan wajah yang terlihat sedih.
"Enggak buk, bagi aku ibu adalah ibu yang terbaik di dunia."kembali Asha memeluk Mira.
"Ya sudah kita harus cepat-cepat beresin barang-barang kita sebelum nak dareen pulang."ucap Mira dengan melerai pelukannya.
Asha hanya mengangguk.
Jam menunjukkan pukul 16:00 sore hari.
Terlihat Darren sudah pulang dari kantor, memasuki apartemen dan menyimpan tas kerja di atas sofa.
Melihat sekeliling yang terasa sepi tidak seperti biasanya, jika biasanya jam segini akan ada Asha dan ibunya sedang menonton film Drakor.
"Pasti mereka sedang ada di kamar."gumamnya sambil melangkah pergi menuju kamar Asha.
Memilih menarik nafas dulu sebelum mengetuk pintu kamar.
Tok!tok!tok! Dareen mengetuk pintu beberapa kali.
Namun tidak ada sahutan dari dalam sana.Saat hendak kembali mengetuk pintu tiba-tiba pintu kamar terbuka sedikit yang membuatnya memberanikan diri membuka pintu kamar secara perlahan.
Melihat sekeliling kamar yang tidak ada penghuninya.
"Asha..ibu..!"panggilnya yang masih tidak ada sahutan.
Berjalan perlahan memasuki kamar dengan kedua alis bertaut. "Di kamar nggak ada juga, kemana mereka?"tanya nya pada diri sendiri yang tidak tahu jawabannya.
"Asha..!"kembali Dareen memanggil dengan kaki yang melangkah ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
Namun hasilnya tetap sama Dareen masih tidak menemukan keberadaan Asha dan Mira.
__ADS_1
"Asha..!"kembali nama itu terlontar kini Dareen semakin panik.Detik kemudian dia membuka lemari dan dia mendapati lemari yang kosong tanpa ada baju Asha dan Mira.
"Apa mereka pergi, tapi kenapa dan mereka pergi kemana?"beribu pertanyaan yang ada di kepala Dareen yang dia sendiri tidak tahu jawabannya.
Darren duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang sulit untuk di artikan.
Saat dia bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan kamar yang beberapa hari ini telah di huni wanita yang berhasil mengalihkan perhatiannya.
Tiba-tiba dia melihat sebuah foto yang terbalik di dekat kakinya.
Detik kemudian dia mengambil foto itu dan mulai membalikkan foto itu.
Seketika ekspresi wajah Darren berubah, dan mulai berlari kecil meninggalkan kamar itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
"Ini adalah bunga wisteria, aku mendapatkannya dari Korea."tutur Doni seraya menggeser kan sebuah kantong plastik yang berada di atas meja tempat dirinya dan Rosa kini duduk.
"Aku tidak suka bunga, ngapain kau jauh-jauh membawa bunga ini ke Jakarta."tolak Rosa seraya menyesap kopi hangat di cangkir keramik di tangannya.
"Jangan salah Rosa, justru dengan bunga ini kau akan mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan."jawab Doni dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Jangan basa-basi langsung saja ke intinya.Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?"desis Rosa seraya tangannya menyimpan kembali cangkir yang berisi kopi itu ke tempatnya.
"Ini bunga mengandung racun yang bisa merenggut nyawa seseorang."
"Menarik, terus apa hubungannya bunga ini dengan keinginanku selama ini Doni?"tanya Rosa yang masih tidak mengerti dengan apa yang Doni katakan.
"Kau bisa menggunakan bunga ini untuk membuat Romi Bramantyo tidak berdaya, dengan begitu kau bisa secepatnya mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan."kembali Doni menjelaskan.
Rosa menyeringai licik sekarang dia baru mengerti dengan rencana mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak menduga jika bunga secantik ini ternyata punya racun yang sangat mematikan."ucap Rosa takjub.
"Sama sepertimu Rosa, cantik tapi beracun."ungkap Doni dengan tertawa kecil.
"Dimana aku menyimpannya?"gumam Darren dengan tangan yang sibuk membuka beberapa laci lemari yang ada di kamarnya.
Terus mengobrak-abrik semua lemari sampai pada akhirnya Darren menemukan sesuatu yang dia cari.
__ADS_1