Aku dia & kita

Aku dia & kita
kapan Lo kawin?


__ADS_3

Di sisi lain Lia dan Riana sedang berjalan pelan menuju kantin karena jam kuliahnya sudah selesai, hari sudah sangat siang, dan yah mereka  sudah merasa lapar, dan tak sabar menyumpal mulut besar para cacing yang sedari tadi demo minta makan


"Sebenarnya lo tadi mana sih" Ucap Riana menatap Lia sembari menyesap minumannya, ia cukup senang Lia kembali dengan wajah yang lebih baik dari sebelumnya, sepertinya terjadi hal menyenangkan di luar, namun tetap saja kan Lia berhutang penjelasan padanya


''TK depan, anak gue ada lomba" Ucap Lia dengan singkat


"Anak?, Sejak kapan Lo punya anak dan gimana ceritanya Lo punya anak lo saja belum kawin, lo kesambet apa Lia, mana bisa punya anak kalo blom kawin" Ucap Riana sembari memeriksa Lia takut takut terjadi benturan keras membuat Lia menjadi hilang ingatan, sejak kapan Lia mempunyai anak, dan mengapa sangat cepat?, bahkan ia tak pernah melihat perut lia membesar seperti sinetron yang ia tonton, Lia hanya menarik nafas panjang, setelah memeriksa lia dan ternyata tidak apa apa


"Lo cerita sama gue, dari awal sampe akhir, jangan ada jeda sama jangan ada yang terlewatkan" Ucap Riana menatap Lia dengan tatapan yang sangat serius, ini bukan masalah sepele, sejak kapan Lia punya anak, dan kenapa begitu cepat besar?, dan lebih paranya mengapa ia tak pernah tau, sedangkan ia adalah orang yang berani meng klim bawa Lia adalah sahabatnya


"Hm jadi gini ceritanya kemaren gue ngak sengaja nabrak anak kecil dan ternyata dia sedang di kejar sama preman...." Ucap Lia yang mulai bercerita dengan tenang, sedangkan Riana menyimak dengan serius


"Nah begitulah ceritanya, Lo ngerti kan?" Ucapnya dengan nada pelan, ia sudah bercerita panjang kali lebar, jika Riana tak mengerti maka ia hanya akan menjadi kesal


"Iya, gue ngerti kok" Ucap Riana dengan nada pelan


"Nah gitu dong, nanti gue capek capek cerita panjang kali tinggi kali lebar lo nya malah ngak ngerti, kan mubasir tenaga gue" Ucap Lia dengan nada pelan

__ADS_1


"Iya kya gue ngerti, tapi kasihan banget ya masih kecil banget tapi malah di beri cobaan berat banget, jadi anak Tampa sosok bunda itu berat banget loh, terlebih punya ayah yang selalu sibuk, Lo tau sendiri kan?, Dulu gue pernah berada di posisi itu, untung aja bokap gue cepat kawin lagi, dan gue punya ibu tiri yang baik banget, ya meskipun kadang kadang gue masih rindu sama nyokap tapi gue sadar kok, setiap pertemuan akan ada perpisahan" Ucap Riana dengan nada pelan, ia bahkan menjadi teringat dengan masa lalunya, di saat ibunya memilih untuk meninggalkan mereka, saat itu ia memang masih cukup muda, namun ibunya bahkan tak pernah memikirkan itu, ia meninggalkan mereka hanya karena tak sanggup lagi memiliki kehidupan yang begitu sulit, namun ia beruntung ayahnya bertemu dengan Seornag wanita yang sangat baik hati, wanita yang mau berjuang dengan ayahnya sejak nol hingga menjadi lebih baik seperti saat ini, ia selalu bersyukur karena ia di berikan sosok Ibu tiri yang begitu baik hati dan selalu memperlakukannya seperti anak kandungnya, tak ada perbedaan apapun antara dirinya dan adik adiknya, tak ada pilih kasih, ibunya selalu menyama ratakan kasih sayangnya, dan sampai saat ini ia bersyukur karena bisa memiliki kehidupan yang bahagia


"Jangan sedih, toh itu udah berlalu lama banget, dan sekarang Lo udah bahagia juga kan" Ucap Lia dengan nada pelan,


"Iya sih, dari itu gue bersyukur banget ayah gue bisa ketemu dengan nyokap gue sekarang"


"Keberuntungan orang ngak ada yang tau"


"Hm iya"


"Eh ia  nanti lo temani gue ke kosnya ridho ya" Ucap Lia dengan nada pelan


"Ya enggak begitu juga lah, oon kok di pelihara sih Riana, kan udah gue bilang kalo dia tu anak dari orang yang ngak gue kenal, dan mana mungkin gue bisa kawin sama si Ridho, Lo gila atau gimana" Ucap Lia menghela nafas pelan dengan pemikiran konyol sahabatnya ini, jika pun mereka menikah pastinya belum memiliki anak sebesar ini


"Nah trus ngapain Lo malah nyeret nyeret nama Ridho, Lo tau kan tadi kita bahas apa, ya makanya gue nyambungnya gitu" Ucap Riana dengan nada ringan, tak salah bukan, bisa saja anak itu milik Ridho dan Lia dan untuk menyembunyikannya dengan cerita mengharukan tadi


"Dasar lah temen supplier, pikiran Lo kemana mana ni pasti, gue bilang kan tu anak bukan anak gue, kalo pun gue nikah sama dia ya belom Segede itu juga kalo, kecuali kalo gue nikah sama dia pas gue baru aja tamat dari bangku sekolah menengah" Ucap Lia dengan nada malas, sahabatnya ini benar benar menguji kesabaran ya, bukankah sudah ia katakan, bukankah sudah ia katakan jika dirinya tak mengenal itu, namun Riana bahkan sudah mulai berkeliling dengan segara imajinasi liarnya

__ADS_1


"Ya gue mana tau, cuma nanya kan, lagian Lo mau ke sana ngapain, SE ingat gue Lo juga ngak dekat dekat amat sama dia" Ucap Riana dengan nada pelan, ia bahkan tak pernah ingat kapan Lia menjadi dekat dengan ridho hingga bahkan sampai ke tahap bermain ke kosannya, yang benar saja,  


"Pasti pikiran Lo udah keman mana?, Kurangin lah segala imaji nasi liar Lo Ri RI, gue kerumah si Ridho karena ada yang mau di abil, kemaren Ridho minjam buku gue, sampai sekarang belom juga di balikin padahal kan itu buku perpustakaan, kalo telat malah kena denda gue, mana dia jarang banget kuliah lagi bisa bisanya gue percaya ngasih tu buku ke dian" Ucap Lia menyesap minumannya dengan pelan, ia bahkan tak tau apa yang ia pikirkan hingga memberikan buku itu ke Ridho, semua orang jiga tau jika ridho adalah mahluk yang paling pemalas, bahkan salam satu Minggu kedatanganya hanya bisa di hitung dengan jari, kadang datang dan kadang bahkan tak datang sama sekali


"Oh gitu, toh, ya gue mana ngerti Lo sih main loncat sana loncat sini, gue fokus kemana Lo ngomong apa ya jelas kagak nyambung lah" Ucap Riana dengan cengiran Tampa dosanya, ia hanya menjadi lebih waspada saja, Lia selalu diam saat memiliki masalah, hanya dirinyalah yang harus bertindak dan menjadi lebih peka, bagai mana jika ia kecolongan dan bahkan malah menjadi bumerang mengerikan bagi kehidupan Lia, ia tak ingin melihat Lia sedih, Lia adalah sahabatnya, dan tetu saja ia harus berusaha mencari begitu banyak hal tentang Lia


"Makanya, pikirannya jangan kemana mana, cuma bikin repot dan bikin pusing aja" Ucap Lia terkekeh dengan pelan, ia bahkan tak habis fikir bagai mana bisa Riana mencurigainya seperti ini, ia tau jika Riana adalah mahluk yang selalu berusaha menjadi mahluk yang mengerti akan segala keluhan Lia


"Ya gue mana tau kalo begitu ceritanya" Ucap Riana dengan nada pelan, dan lagi lagi hanya di balas dengan senyuman kecil dari sahabat tercintanya


"Dasar Maimunah, udah capek gue ngomong sama Lo jadi pergi ngak ni?, Kalo Lo ngak gue sendiri juga ngak papa" Ucap Lia dengan nada nan begitu ringan


"Oleh tidak bisa, gue harus pergi, jangan sampai Lo di apa apain sama si Ridho, Lo tau sendiri kan tu anak rada rada gila" Ucap jawab Riana,


"Emang apa yang bisa di lakuin sama tu anak ke gue" Ucap Lia terkekeh pelan


"Ya mana tau, kalo Lo lagi sial"

__ADS_1


"Yaudah yok cepetan" Ucapnya dengan anda pelan dan setelah membayar keduanya berjalan menuju parkiran dan membawa motor menuju kos Ridho yang terletak cukup jauh dari kampus


__ADS_2