
"Alif iki jangan lama lama di sana, panas sedang terik nanti sakit" Ucap Lia pelan, keduanya sudah bermain sedari tadi, karena panas cukup terik tentu saja ia harus menyuruh mereka kembali agar tak demam nantinya
"Ia bun /bik" Ucap keduanya bersamaan dan membawa dua buah durian, mereka sudah berada di bawah pohon buah itu sedari beberapa waktu lalu, dan setelah lema menunggu akhirnya mereka mendapatkan dua buah saja
"Yee, bund bunda, ini Alif loh yang nemu, iya kan kak Iki" Ucap Alif dengan penuh semangat, maklum saja, ia hanya anak kota yang tak tau bagai mana senangnya melihat langsung durianĀ jatuh dari pohon, bermain air sungai sampai di kejar ibu pake kayu, main kejar kejaran, main lumpur, dan banyak lagi hal hal yang menyenangkan yang selalu di jadikan permainan oleh anak anak desa, mengingat hal itu ia bahkan hanya bisa menujukan senyuman lebar, ia bahkan seperti sedang bernostalgia
"Sekarang ayo kita buka, pasti seger banget" Ucap Lia dengan penuh sangat, durian di pedesaan sangat berbeda dengan di kota, di durian pedesaan memiliki rasa yang khas dan begitu manis, jika masuk mulut maka akan benar benar membuatnya merasa puas
"Tapi bun, Alif mau nyimpan buat Alif pajang di rumah," Ucap Alif dengan nada pelan, ia berfikir untuk membawa buah penuh duri ini kembali ke kota, ia ingin menujukan buah ini pada sang ayah,
Melihat wajah polos Alif bahkan hanya bisa membuat Lia terkekeh pela, bagai manapun buahan akan jauh lebih enak jika di makan saat ia baru jatuh, atau di petik, masih segar dan pastinya sangat nikmat,
"Sayang, buah durian ngak bisa di pajang di rumah, langsung buka lalu makan pasti enak banget, lagian kan Alif bisa cari lagi sama kak Iki nanti, tu masih banyak di pohon, dan masih banyak buahnya di atas, Alif cuma perlu nunggu buah lainya jatuh" Ucap Lia tersenyum, akhirnya Alif mengguk dan lia perlahan membuka durian itu
"Tapi Bun Alif mau nunjukin ke ayah, kalo Alif mengambil buah durian di bawah pohon nya, dan bahkan masih diselimuti duri" Ucapnya dengan nada pelan, ia begitu bersemangat untuk menujukan pada sang ayah mengenai penemuannya di sini, semua hal baru ia temui di tempat bundanya ini, kolam yang panjang, hewan liar dan Hutan yang masih begitu Astri
"Alif bisa kasih liat ayah lain kali, Iki tolong ambil piso" Ucapnya dengan nada pela , Rizki hanya mengguk dan segera kebelakang untuk mengambil piso yang akan di gunakan untuk membuka buah berdiri ini,
"Wow, kuning banget Bun, manis juga" Ia berucap dengan penuh semangat
__ADS_1
"Ini nikmatnya kalo makan buah yang baru jatuh dari pohonnya" Ucap Rizki yang hanya di balas dengan anggukan, di sela kenikmatan menyantap buah durian ponsel Lia berdering, sebuah panggilan Vidio dan nama yang tertera di sana adalah Alif,
Lia mengerti apa yang di cemaskan oleh Arya, bagai manapun ia adalah seorang ayah, ia pasti sangat mencemaskan keadaan putranya yang bahkan pergi begitu jauh darinya, Lia menggeser tombol hijau itu ke atas dan memberikannya pada alif
"Hallo ayah, ayah lagi di mana?" Ucapnya dengan semangat menggebu, ia baru saja ingin menujukan penemuan ini pada sang ayah, dan siapa yang menyangka jika ayahnya akan banar benar menelponnya
"Ayah masih di kerja sayang, biasa lah banyak kerjaan yang harus ayah selesaikan" Ucap Arya pelan, saat ini kesehatan Alif sudah mulai membaik, dan hal ini mengurangi bebannya, dengan begini ia bisa lebih fokus untuk kembali membangun perusahaanya yang hampir saja jatuh, dan hari ini adalah hari yang sangat ia syukuri, mendapatkan investor baru dan bahkan melihat senyuman ceria putranya kembali,
"Alif ngapain?" Ucapnya lagi,
"Alif lagi makan buah yah, Ayah tau ngak, sekarang Alif makan buah durian gede banget, dan Alif sendiri loh yang ngambil dari bawah pohon nya" Ucapnya bersemangat menujukan buah durian pada sang ayah, lah lah baru ini benar benar membuatnya merasa sangat senag
"Ia yah, Alif suka banget di sini, banyak pohon pohon, dan ayah tau?, di sini juga banyak monyet coba liat deh" Ucapnya menunjukan pekarangan rumah dan menujukan beberapa hewan liar yang menunggu lengah untuk mencuri durian, namun mereka tentu saja tak akan membiarkan monyet monyet nakal itu mengambil bua mereka.
keduanya mengobrol dengan begitu ceria, Lia memilih untuk membereskan pekarangan rumah dan setelahnya membereskan pakaian kotor untuk di cuci ke sungai, ayah dan ibunya terlalu sibuk bekerja, dan saat kembali pasti sudah begitu lelah, dari itulah ia memiliki inisiatif untuk membereskan semuanya
"Bunda, bunda mau kemana?" Ucap Alif dengan nada tanya, sang bunda sudah sibuk sedari tadi dan bahkan kali ini pun belum beristirahat
"Ke sungai" Jawabnya sembari memasukan sabun ke dalam baskom yang akan ia bawa
__ADS_1
"Ngapain Bun?" Ucap Alif dengan tanya, bundanya akan ke kolam panjang itu sendirian, jika bundanya tenggelam bagai mana?, terlebih begitu banyak hewan, bagai mana jika bundanya di ganggu monyet monyet nakal itu
"Nyuci, Alif di sini aja sama kak Iki"
"Alif mau ikut bunda ke kolam" Mendengar ucapan polos Alif membuat Lia terkekeh pelan, kolam?, jelas jelas itu adalah sebuah sungai yang mengalir, dan lagi pula mana ada kolam yang begitu panjang
"Emang Alif berani?, lagian Alif juga masih telepon sama ayah"
"Alif udahin aja, ayah Alif mau ikut bunda ke sungai ya, ayah lanjut kerja aja biar cepat nyusul ke sini" Ucap Alif dengan nada pelan
"Alif sayang nggak usah ikut bunda, sungai itu bahaya banget loh" Ucap Arya dengan nada pelan, ia bahkan tak menyangka jika kehidupan Lia di desa seperti ini, perumahan yang jauh dari pemukiman penduduk dan bahkan harus ke kali untuk mencuci
"Karena bahaya makanya Alif harus jagain bunda, yaudah yah, Alif pergi sama bunda dulu ya, da ayah, Alif sayang banget sama ayah" Ucapnya dengan nada nan begitu pelan dan setelahnya segera memutuskan sambungan telpon secara sepihak
"Ayo Bun"
"Iki juga ikut ya, Iki mau sekalian mandi" Rizki berucap dengan penuh semangat, selama beberapa hari ini ia hanya bermain dan melakukan apapun sendirian dan hari ini ia memiliki teman, jelas saja tak ingin membuang kesempatan emas ini
"Iki udah main air dari tadi loh" Ucapnya dengan nada pelan, Rizki bahkan baru saja kembali ke rumah beberapa jam lalu, dan kali ini malah mau main Alif lagi, yang benar saja
__ADS_1
"Kan tadi siang bi, sekarang udah sore dan waktunya mandi kan" Ucapnya beralasan