
"Nah ini tempat ayah kerja, ayo bunda kita masuk" Ucap Alif menarik tangan Lia, kali ini tak ada lagi isakan Alif berjalan sembari tersenyum dengan riang, sebelumnya ia Menag sangat ketakutan, namun ketakutan itu seketika hilang setelah bertemu dengan Lia, ia merasa begitu hangat dan terlindungi saat bersama sang bunda, hal itulah yang membuatnya tak mau jauh
"Alif ngak salah tempatkan?" Ucap Lia, hey ini adalah perusahaan Permata Wijaya, perusahaan yang sangat terkenal di jakarta ini, para karyawan di sini adalah orang orang yang begitu hebat, mereka mampu menyingkirkan ribuan pelamar hingga berhasil bergabung dalam perusahaan bergensi ini
Ia bahkan tak menyangka jika ia di berikan kesempatan ini, ia sudah amat bahagia karena bisa memasuki perusahaan raksasa ini
"Ngak kok bun, ini beneran tempat kerjanya ayah Alif" Ucap alif dengan nada pelan dan menarik tangan Lin untuk membawanya masuk ke dalam gedung yang katanya itu kantor tempat ayah nya bekerja, lia masih sedikit tak percaya, tapi yasudah lah
"Tante kinan" Ucap Alif pada salah seorang staf di kantor ini, ia bahkan terlihat begitu akrab dengan wanita bernama Kinan itu, dan lagi wanita bernama Kinan itu terlihat begitu mengenal alif
"Eh Alif Alif apa kabar?, udah lama banget ngak ketemu, Tante Kinan jadi rindu tau ngak" Ucap Kinan dengan nada pelan, di masa lalu Arya cukup sering membawa Alif ke kantor ini, namun setelah beberapa waktu terakhir ini perusahan sedang sibuk dan lagi Alif pun sudah mulai sibuk bersekolah, hal inilah yang membuat Alif tak menemani Arya ke kantor lagi
"Alif baik Tante, Tante apa kabar?, Tante makin cantik aja"
"Kamu kecil kecil udah bisa merayu Tante ya, oh ia Alif ngak mau ngenalin orang yang dateng sama Alif ni?" Ucap Kinan dengan nada lembut, seperti biasa Alif selalu ceria dan seperti biasa kinan juga merasa begitu gemas jika melihat Alif
"Ah, ini bundanya Alif Tante, bunda, ini Tante Kinan, temanya ayah" Ucap Alif memperkenalkan Lia dengan nada nan begitu lembut
__ADS_1
"Ah, selamat siang buk, senang bertemu dengan nada" Ia mengulurkan tangannya, dan tentu saja langsung di sambut oleh Lia dengan begitu ramah
"Terimakasih" Jawab Lia, ia tak tau harus mengatakan apa, toh kedatanganya kesini hanya untuk mengantar Alif pada ayahnya
"Tante, ayah di ruangan kan?" Ucap Alif dengan nada nan begitu polos
"Sekarang Ayah Alif lagi meeting, ya udah gimana kalo tante antar Alif ke ruangan ayah dulu, Alif bisa nungguin ayah di sana" Ucap Kinan dengan nada lembut, saat ini Arya sedang ada meeting untuk proyek baru mereka, dan tentu saja tak bisa di ganggu, kedatanganya kali ini hanyalah untuk mengambil berkas yang dengan ceroboh ia tinggalkan, untung saja Arya bukan bos yang kejam, ia meminta kinana untuk segera pergi mengambil berkas yang tertinggal saat meeting pertama, dan ia akan menganggu di ruang rapat untuk melakukan meeting ke dua
"Ayo bunda, kita nunggu di ruang Ayah aja" Ucap Alif menarik tangan Lia membiarkan Kinan menjadi pemimpin jalan, ketiganya beranjak menuju Lift menuju lantai 8 untuk segera ke ruangan milik Arya
"Ayo masuk bun" Ucap Alif, Lia perlahan melangkah masuk, keduanya langsung di sambut dengan ruangan yang begitu luas, interior yang begitu mewah dan benar benar mengagumkan
"Ya sudah, Alif duduk aja dulu, tante kembali bekerja, Tante juga udah suruh orang buat nganter camilan buat Alif" Ucap Kinan dengan anda pelan, seperti yang di katakan sebelumnya, kedatanganya kali ini bukan untuk bersantai, kali ini ia datang untuk mengambil buku yang akan di pelajari besok
"Hm iya tante Terimakasih ya" Ucap Alif tersenyum, Kinan menggukan kepalanya dan setelahnya berjalan kembali ke ruang meeting dengan membawa beberapa berkas yang di butuhkan
"Tangan Alif kenapa?, kok bisa memar gini?" Ucap Lia saat melihat bekas memar di tangan Alif, dengan cepat ia merogoh tasnya, mengambil obat merah dan dan kapas anti septik untuk segera membersihkan luka di tangan Alif, bagai manapun bocah ini hanyalah korban,
__ADS_1
"Oh ini Bun, ini bekas pukulan bi Asih tadi, tapi udah ngak papa kok bun, Alif udah biasa, dulu Alif juga sering kena pukul" Ucap Alif dengan nada ringan sembari menujukan senyum lebarnya, seakan ia tak mendapatkan kekasaran sebelumnya, ia akui Alif memiliki fisik yang begitu kuat, di usia ini anak² sangat rentan dengan berbagai tekanan mental, atau perilaku yang bahkan sangat tak lantas untuk mereka lihat dan merayakannya, namun berbeda dengan Alif, bahkan ia ia terlihat begitu ceria saat mengalami hal mengerikan ini, jujur saja Lia merasa sangat mengasihani bocah malang ini, di masa lalu bahkan ia mendapatkan kasih sayang berlimpah dari orang tuanya, ia tak pernah tau dengan sebuah kesedihan, melihat bocah ini benar benar membuat hatinya sakit
"Hm bunda obati ya" Ucap Lia dengan nada pelan sembari menuangkan obat merah ke kapas anti septik, luka seperti ini Menag terlihat begitu sepele, namun jika tak segera di bersihkan hanya akan membuatnya menjadi berkembang dan mengarang keluarga yang lain
"Arif takut bun, Alif ngak suka sama obat" Ucap Alif menyembunyikan tangan kebelakang punggungnya
"Nggak usah takut, ngak sakit kok, lagian sama bunda juga, Alif percaya kan kalo bunda yang bantuin make ngak bakalan sakit" Ucap Lia membujuk, luka luka ini benar benar terlihat mengerikan di tubuh putih Alif,
"Tapi bun kata teman Alif berobat itu sakit, Alif takut sakit" Ucapnya yang masih menyembunyikan tangannya di belakang punggung
"Ngak kok, kalo bunda yang obati pasti ngak bakalan sakit, bunda pelan pelan kok, bunda tiup ya" Ucap Lia meyakinkan dengan ragu Alif mengulurkan lengan terlukanya
"Tapi pelan pelan ya bun, Alif takut" Ucapnya dengan nada lirih
"Iya bunda pelan pelan kok" Ucap lia dan perlahan mengobati tangan Alif, Alif diam menatap lia yang mengobati tangan alif dengan hati hati,
"Gimana?" Ucap Lia sembari melilitkan kain kasa ke luka Alif yang ia fikir cukup dalam, tentu saja ia tak ini hanya untuk sementara, setelahnya harus dibawa kerumah sakit untuk mendapat perawatan yang baik,
__ADS_1
"Ngak sakit kok bunda" Jawabnya dengan girang, ia berfikir berobat adalah hal yang begitu menyakitkan, namun setelah di lakukan emang tak terlalu buruk sih untuk di jadikan sebuah kebiasaan manis pada pasangan yang tentu saja harus saling mencintai
"Emang, ngak sakit, nah ini usah sembuh" Ucap Lia sembari mengecup singkat luka yang telah terbalut kain itu, Alif tersenyum lebar melihat itu,