
"Alif, Iki, Udah dulu main airnya" Ucap Lia dengan nada pelan, keduanya sudah bermain air sedari tadi dan saat ini bukankah sudah waktunya untuk menyelesaikannya, jika main air terlalu lama hanya akan membuat mereka demam kan?
"Tapi BI, kita masih mau main, bentar lagi" Rizki berucap dengan nada pelan mereka baru saja bermain di sini, dan mengapa harus segera kembali, bukankah waktu makan siang masih cukup lama
"Jangan kelamaan main air, nanti bisa demam loh, mau di bawa ke bidan?, mau di suntik?" Ucapnya dengan nada pelan, suntik jangankan bocah kecil Lia sendiri sangat membenci benda itu
"Ngak" Ucap keduanya bersamaan, suntuk adalah hal yang selalu mengerikan di mata mereka, meskipun Alif sudah mengalaminya berkali kali ia tak berniat untuk membiarkan jarum mengerikan itu masuk ke dalam tubuh mereka
"Nah, kalo ngak mau ayo naik, Alif, ada yang udah nungguin Alif loh di atas, yakin ngak mau naik?" Ucapnya dan akhirnya kedua bocah itu memilih untuk menepi dan segera naik dan akan melanjutkan permainan di rumah saja toh dimanapun bermain sama saja
Lia mengulurkan handuk pada kedua bocah itu, Iki meraihnya dan segera melilitnya di pinggang, sedangkan Alif masih di bantu Lia karena ia tak mahir dalam belit membelit seperti ini, setelahnya mereka berjalan pelan menuju rumah,
"Ayah" Alif langsung menghambur di pelukan sang ayah, Arya menciumi seluruh jengkal wajah yang di miliki anaknya ini, ia sudah sangat merindu, mereka sudah lama terpisah selama dua Minggu ini, memang mereka selalu berkomunikasi melalui telpon tapi pertemuan melalui panggilan Vidio benar benar tak bisa melepaskan kerinduannya
"Pelan pelan, nanti handuknya copot loh" Goda Lia, Alif hanya memerah malu memandangi Fatma dari ekor matanya, ia merasa malu, ia bahkan memperlihatkan tubuhnya pada orang lain selain ibu dan ayahnya, ini benar benar memalukan
"Bunda" Rengeknya berlari ke arah sang bunda dan memeluk Lia yang sedang menjahilinya ini, bagai mana mungkin sang bunda bisa mengatakan hal memalukan seperti ini
"Alif ngak rindu sama ayah?, kok peluknya sebentar banget sih, padahal ayah rindu banget loh sama Alif, tapi panas ayah datang Alif malah ngak mau meluk ayah lama" Ucap Arya menampilkan wajah sedihnya, Alif bahkan dengan mudah melepaskan pelukanya dan berlari ke pelukan Lia, sebagai seoang ayah ia merasa sedikit tak terima saat putra kecilnya bahkan lebih menyayangi orang lain ketimbang dirinya sendiri
__ADS_1
"Ayah kok baru dateng sih, Alif udah nungguin lama banget loh, Alif pikir ayah bakalan cepat jadi bisa nemanin Alif main main di sini, ayah tau, Alif suka banget di sini, Alif punya kak Iki yang baik banget dan punya kakek nenek yang sayang banget sama Alif, ayah tau semalam kakek keluar buat mancing, dan pas kakek kembali kakek bawa ikan gede banget, tapi sayang kakek ngak boleh Alif ikut kalo malam malam" Alif kembali memeluk Arya dengan erat, dan duduk di pangkuan sang ayah, dengan semangatnya ia bercerita tentang kesehariannya bersama sang bunda di sini benar benar menyenangkan, ia merasa begitu di sayangi dan memiliki keluarga yang utuh, ia memiliki bunda yang sangat sayang padanya, memiliki kakek dan nenek yang sangat memanjakannya, dan ia juga ia di berikan bonus kakak yang mengajari dan melindunginya, berada di tempat ini adalah hal yang sangat ia syukuri sampai saat ini
Mendengar segala penuturan sang anak Arya haya bisa tersenyum dan sesekali menanggapi, Alif benar benar menikmati waktu berliburnya, dan ia bahkan tak menyangka jika kedua orang tua Lia pun menerima Alif dengan begitu baik, ia bersyukur karena bertemu dengan seorang gadis yang menyayanginya putranya dan memberikan kasih sayang hangat dari Seornag ibu, hal yang memang sudah lama meninggalkan putra kecilnya
"Ayah, gitu deh yah, pokoknya Alif seneng banget, ah kan karena ayah Alif jadi lupa, Alif harus pake baju, pake minyak telon dan bedak dulu, tangan Alif jadi gatal karena kelamaan ngak pake baju" Ucapnya menujukan bekas kemerahan di lengannya, kulit Alif memang cukup sensitif, namun Lia memiliki caranya sendiri untuk melindungi anaknya Tampa menghentikannya bereksplorasi,
"Yaudah, biar ayah bantu"
"Ngak usah, bunda bakalan bantuin Alif" Ucapnya dengan pelan dan segera berlari dengan riang menuju Lia, bocah kecil itu merasa malu dengan orang yang baru ia lihat itu (Fatma),
"Iki, ayo pake baju dulu" Ucapnya dengan pelan mendengar ucapan dari sang bibi Rizki hanya mengguk
"Alif mau ayah yang pakai bedak buat Alif" Ucapnya segera berlari sembari memeluk sebotol bedak tabur bayi
"Ayah" Ucapnya kembali menghambur di pelukan Arya,
"Bunda bilang, Alif harus pake bedak ini biar ngak iritasi, sebelumnya Alif udah di pake minyak telon sama bunda dan Alif mau pake bedaknya sama ayah," Ucap Alif mengulurkan tabung bedaknya
Arya mengambilnya dengan senyuman, sejujurnya ia merasa bingung bagai mana cara memakaikan bedak itu, ia belum pernah melakukan hal hal seperti ini, selama ini Alif hanya di asuh oleh pengasuh, benar yang di katakan orang perawatan seorang ibu adalah yang terbaik
__ADS_1
"Loh kok ayah jadi bengong sih?" Ucapnya yang sudah memejamkan matanya dan siap untuk penempelan bedak taburnya
Arya perlahan menaburkan bedak bayi itu langsung ke wajah
"Ayah, Ayah, bukan gitu caranya" Ucapnya dengan nasa protes
"Bunda" Ucap Alif yang langsung mengambil alih bedak tabirnya dari sang ayah
"Ayah ngak bisa makeinnya" Ucapnya sembari mengulurkan bedaknya, melihat itu Lia bahkan hanya bisa tersenyum dan mengambil alih tabung bedak itu, setelahnya memakaikannya ke tangan dan wajah Alif
"Nah gini caranya yah, bukan di tabur tabur, bedaknya nanti ketelan sama Alif, rasanya pait" Ucapnya pada sang ayah setelah selesai dengan bedaknya, bocah 6 tahun itu menarik tangan Rizki untuk kembali bermain di luar rumah, biarkan saja ayahnya berbicara dengan bunda
"Maafin Alif udah banyak ngerepotin" Ucap Arya memandangi Alif dan Rizki sibuk bermain, ia bahkan tak menyangka jika Lia akan merawat Alif sebaik ini
"Ngak apa apa, saya juga senag karena keadaan Alif udah lebih baik" Ucap Lia membereskan kekacauan yang di buat dua bocah biang onar itu, sedangkan si tengil fatma lebih memilih untuk sibuk dengan ponselnya
"Saya ke sini untuk membawa Alif kembali ke Jakarta, dia akan bersekolah minggu depan" Ucap Arya yang hanya di balas dengan anggukan pelan,
"Yaudah kalo gitu tinggal dulu, buat beresin barang barang Alif"
__ADS_1