Aku dia & kita

Aku dia & kita
Pacarnya sensi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusannya Arya berjalan pelan menuju meja 12 untuk kembali menikmati suasana makan malam yang hangat, namun bahkan itu hanya sebatas keinginannya, nyatanya salah satu kursi di meja dua belas itu sudah kosong dan tak memiliki penghuni lagi


"Loh kok cuma berdua, bunda mana sayang" Ucap Arya perlahan duduk di samping Alif, ia sudah menyelesaikan Rita, sedari awal mereka tak pernah memiliki hubungan apapun, mereka memang sempat di jodohkan beberapa tahun lalu, hanya saja Arya bahkan dengan tegas menolak, ia tak ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan penderitaan karena menikahi wanita yang bahkan tak pernah ia cintai, selain menyelamatkan dirinya ia juga menyelamatkan Rita karena ia tau jika ia tak akan menikahi Rita seumur hidupnya


"Tadi pas ayah pergi bunda juga pamit pergi mungkin ada urusan" Ucap Alif dengan nada nan begitu acuh, dan setelahnya ia memilih untuk menyibukkan diri dengan acara makannya, Ia bahkan masih belum bisa menerima jika bundanya di sebut pembantu oleh teman ayahnya itu, sejak awal ibundanya sudah tidak baik baik saja, sedari awal bundanya terlihat begitu linglung namun kedatangan nenek sihir itu menambah ketidak nyamanan sang bunda, dan inilah yang terjadi, ia di tinggalkan bahkan saat makanannya belum di habiskan seluruhnya,


kesedihan sang bunda bahkan di perparah oleh teman sang ayah, Alif tak akan membiarkan siapapun menghina bundanya, dan tak akan membiarkan siapapun menyakiti bundanya, orang yang paling ia cintai selain ayahnya


"Pacarnya sensi ya, pacarnya mana ngak sekalian di bawa kesini, siapa tau kan mau kenalan sama calon ajak tiri " Ucap Riana tersenyum kecil , tepatnya senyum mengejek, ia juga merasa tak suka dengan gadis yang mengaku sebagai pacar Arya, dan lagi mengala Arya diam saja saat Lia di hina, ia bahkan tak mengatakan apapun saat gadis sialan itu menunjuk Lia dan meneriakinya sebagai seorang pembantu.


Suasana di meja makan yang pada awalnya hangat kini menjadi begitu sunyi, tak ada yang memulai pembicaraan bahkan Alif pun tak mau menatap ayahnya, melihat stuasi yang seperti ini Arya bahkan hanya bisa menarik nafas berat, ia jelas tau betapa Alif mencinta Lia namun?, ia bahkan membiarkan orang lain menghinanya


Dan lagi kepergian Lia yang begitu tergesa membuatnya merasa begitu cemas, dan entah mengapa ia jadi kepikiran dengan gadis yang sangat di sayangi anaknya itu, dan kedatangan rita? Aaaa saat ini ia bahkan hanya bisa meraung penuh frustasi, ia seperti suami yang ketahuan selingkuh saja, oh tidak apakah ia sudah jatuh cinta?, apakah ia sudah jatuh hati pada gadis itu dalam waktu beberapa bulan ini?, yang benar saja?

__ADS_1


"Kita pulang saja" Ucap Arya dengan anda pelan, suasana sudah benar benar kacau dari pada semakin kacau akan lebih baik kembali, mendengar ucapan sang ayah ia hanya mengguk pelan, dan dalam diam menarik tangan Riana menuju mobil, meninggalkan Arya yang berjalan di belakangnya,


"Semoga kamu baik baik saja" Arya berucap pelan dan setelahnya segera mengikuti langkah Riana dan Alif menuju parkiran, tak butuh waktu lama saat ini bahkan sudah sampai di kosan Riana yang berada bersebelahan dengan Lia, namun bahkan mereka tak melihat tanda tanda Lia sudah kembali, dan itu berarti Lia berada di luar rumah saat ini


"Tante pulang dulu sayang, selamat malam, semoga mimpi indah" Ucap Riana setelah mobil berhenti di depan kosannya, Alif mengguk pelan dan mencium pipi Riana,


"Selamat malam tante" Jawab Alif dengan nada pelan, ia susah menatap kosan bundanya sedari tadi, namun bahkan tak menunjukan jika tempat itu memiliki penghuni


"Terimakasih" Ucap Riana pelan membuka pintu mobil dan melangkah turun


"Iya sayang, Alif ngak boleh sedih, bunda punya urusan makanya dia pergi, Alif jangan nyalahin diri dan nyalahin ayah lagi ya" Ucap Riana dengan nada pelan


"Moga mimpi indah" Ucap Alif, san setelahnya Riana benar benar meninggalkan mobil, mobil perlahan menghilang dari pandangan, melihat itu Riana hanya bisa menghela nafas dengan pelan

__ADS_1


"Lo beruntung banget Li, punya anak yang sayang banget sama Lo, gue senang banget karena perlahan Lo udah maafin diri Lo sendiri perihal kematian Leo" Ucap Riana menghela nafas dengan pelan, ia adalah orang yang melihat kesedihan Lia sedari awal, ia memang tak pernah bertemu langsung dengan Leo, namun ia merasa begitu tersentuh dengan buku buku harian Lia yang sempat ia baca, di awal pertemanan Lia memang bukan sosok yang akan mudah menujukan kelemahannya, ia akan bersiap seolah orang yang paling kuat, namun nyatanya hatinya hancur


"Hallo Li, Lo di mana?" Ucapnya pelan, Lia pergi begitu buru buru membuatnya sedikit cemas, dari itulah ia segera menelpon Lia untuk memastikan jika Lia baik baik saja


"Ah gue lagi di jalan" jawab Lia dengan nada nan begitu ringan, ia bahkan bertanya tanya mengapa Riana menelponnya, mereka sedang bermain dan jalan jalan bersama Alif, mengapa menelpon di saat sibuk bermain seperti itu, dasar Riana, yang bahkan selalu nyadar jika Lia malah menujukan sikap nan begitu aneh


"Lo sebenarnya kemana sih, kok buru buru amat, Lo tau, setelah kepergian Lo suasana jadi aneh banget tau ngak, gue aja sampe ngak tahan kalo stuasi seperti itu terjadi dalam waktu lama, beneran menakutkan tau ngak Lo" Ucapnya dengan nada penuh bersemangat, kepergian Lia yang tiba tiba membuat berbagai pemikiran timbul, dan dapat ia lihat jika Alif menyalahkan ayahnya karena kepergian Lia


"Ah gue ke bandara, Lo bilang aja sama Alif kalo gue ngak papa, biar dia ngak cemas" Ucap Lia lagi, saat ini ia sedang di perjalanan menuju bandara untuk menjemput seseorang yang sangat berarti baginya


"Ngapain lo di bandara, mau terbang kemana Lo?" Riana mulai mengali informasi tentang kepergian Lia yang begitu tiba tiba seperti tadi


"Ya jemput orang lah, yaudah, gue tutup dulu" Ucapnya dan setelahnya memutuskan sambungan telpon, setelah telepon di matikan seluruhnya Riana melangkah untuk segera masuk kerumah dan beristirahat, kehidupan sehari hari benar benar sangat melelahkan

__ADS_1


"Bikin orang panik aja sih Lo Li" Ucap Riana menghela nafas pelan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, setelah berbaring beberapa saat ia kembali bangkit dan seperti biasa ia akan membuka laptop untuk merevisi proposalnya seperti yang di katakan dosen saat bimbingan sebelumnya


__ADS_2