Aku dia & kita

Aku dia & kita
Pentas Drama


__ADS_3

Motor sudah terparkir di depan sekolah, setelah berdebat cukup lama akhirnya Rita melepaskannya, ia sangat enggan untuk ribut, mengertilah ia hanya ingin hidup dengan tenang, keluar dari dunia tauran bukan proses yang mudah bagi lia, ia harus extra menahan emosi, jika tidak akan berakhir sangat buruk, ia ingin berubah, seperti janjinya pada leo, ah leo lagi, masalalu yang lia jalani memang sedikit sulit, kenangan indah, kepahitan dan semuanya telah mereka lalui bersama hingga panggilan Tuhan datang, Leo pergi dan lia menjadi penyendiri, tak membuka hati dan memilih untuk menjadi mahluk yang tak tersentuh


"Bunda" Ucap Alif langsung memeluk Lia dengan erat


"Alif rindu banget sama bunda, kemarin Alif nungguin bunda lama loh di cafe tapi bundanya mbak datang dan ayah bilang bunda lagi sibuk" Ia mendongak sembari menujukan senyuman lebar, Lia terkekeh pelan mengelus rambut Alif dengan lembut


"Kalo sekarang masih rindu ngak?" ia mengelus pucuk kepala Alif dengan pelan, kemarin kepergiannya memang terlalu tiba tiba membuat Alif berfikir jika ia akan kembali di tinggalkan


"Selamat siang buk" Seorang wanita paruh baya sembari menujukan senyum ramah, dia adalah mis Nina guru Alif di sini


"Selamat siang miss Nina" Lia membalas dengan senyuman yang bahkan tak kalah ramah


"Ah Alif, udah hampir waktunya tampil, yuk ke ruang kostum teman teman lain udah pada siap siap" Mis Nina menyuruh anak didiknya untuk segera bersiap, sebentar lagi pentas dramanya akan di mulai, mereka harus bersiap terlebih dahulu


"Iya miss, ayo bunda bantuin Alif ganti kostum, dalam cerita ini Alif jadi pangerannya loh, dan Kiki jadi Cinderella"Alif dengan penuh semangat menceritakan menarik tangan Lia menuju ruang kostum untuk melihatnya mengganti pakaian

__ADS_1


"Alif ganteng kan bun?" Alif tersenyum cerah sembari berputar putar dengan kostum pangerannya, saat ini ia sudah di dandani uh sangat menggemaskan, Lia ingin sekali mencubitnya namun ia urungkan karena tak ingin melihat Alif menagis


"Anak bunda kan emang ganteng dari lahir" Lia membenahi anak rambut Alif yang keluar dari mahkotanya "Ok sekarang senyum", "Ckrek" Gambar berhasil di ambil di layar hp Lia, di sana Alif terlihat begitu imut


"Hm yaudah, Alif sayang bunda ke depan dulu, Alif harus semangat" Lia menyemangati Alif agar mendapatkan hasil yang maksimal, untuk pantas drama ini Alif bahkan sudah mengabiskan banyak waktu untuk berlatih dan semoga memiliki hasil yang sesuai dengan yang ia inginkan


"Iya bunda, Alif bakalan nujukin penampilan terbaik Alif" Ucap Alif dengan penuh tekat, ini adalah pentas drama pertamanya dan ia harus membuat bundanya merasa bangga


" Yaudah bunda ke depan dulu, semangat, Alif Kiki, Jio sama Rifki" Ucap Lia dan beranjak meninggalkan ruang kostum ada tempat yang telah di siapkan khusus untuk orang tua murid


"Iya, bunda Alif juga baik banget, bahkan bunda Alif sering ngasih kita kue yang enak" Ucap Ikbal lagi, semua teman teman Alif sangat menyukai Lia yang seolah sangat mengerti dengan kemauan mereka


"Andai aja Jio punya bunda Jio pasti bakalan senang banget dan ngak bakalan buat bunda Jio kecewa " Ucap seorang bocah yang kini tertunduk lesu, Alif perlahan mendekat dan menepuk bahunya


"Nanti Jio pasti bisa ketemu bunda yang baik seperti bunda Alif, dulu Alif juga ngak punya bunda tapi sekarang Alif udah punya dan Alif senang banget" Ucap Alif dengan nada pelan, yah ia dan Jio teman sekelas dan senasib mereka tidak memiliki bunda dan ayah yang selalu sibuk akan segala pekerjaannya

__ADS_1


"Benar Jio ngak boleh sedih, masih ada kita kok yang mau temenan sama Jio" Ucap kiki lagi


"Iya, nanti kalo Ayah Jio ngak datang kan bunda Alif masih ada, Jio jangan sedih, bunda Alif mau kok jadi bunda Jio" Ucap Alif tersenyum, ayah Jio dan ayahnya sama, sangat suka terlambat dan bahkan tak datang di acara penting mereka, di masa lalu Alif akan bersedih namun saat ini ia sudah memiliki seorang bunda yang mau menemaninya dalam acara apapun yang di lakukan oleh sekolah


"Beneran?, apa Jio boleh meluk bunda Alif?," Ucap Jio dengan nada pelan, ia bahkan lupa dengan rasanya sebuah pelukan dari sosok bergelar bunda itu, sudah terlalu lama


"Iya dong, bunda juga pasti senang nemanin Jio" Ucap Alif lagi, ia tak masalah jika harus berbagi dengan Jio, toh jio juga anak baik


"Hore, makasih Alif, Alif baik banget" Jio berucap dengan penuh kegirangan, namun meskipun begitu ia masih berharap jika ayahnya datang untuk melihat pertunjukan mereka


"Sama sama, bunda bilang harus baik hati dan bantuin orang tampa mengharapkan sebuah pujian" Ucap Alif yang bahkan hanya di angguki oleh Jio


"Hallo anak anak"


"Hallo miss" Ucap mereka serentak.

__ADS_1


__ADS_2