
Mentari pagi kini kembali menghampiri Arya, dan pertanda kehidupan akan kembali di mulai begitupun dengan pencarian lia, Arya kembali membawa mobilnya menyusuri jalan raya, dengan satu harapan dapat menemukan wanita sudah di carinya sejak lama,
"Seluruh kota sudah saya cari tapi dia tak kunjung di temukan, sebenarnya di mana dia?" Ucap Arya mengacak rambutnya frustasi, ia bahkan sudah lelah mencari, tapi si wanita menghilang bagai terbawa angin
"Aduh bagaimana bisa saya mencari orang yang aku sendiri tidak tau namanya, aghhh" Raung Arya, saat ini ia sedang berada di depan sebuah panti asuhan, sebuah sebuah motor baru saja berhenti di depannya
"Itu" Ucap Arya dengan nada pelan, dan dengan cepat keluar dari mobil ia berharap wanita ini adalah wanita yang ia cari, bagaimana pun ia tidak melihat wajah lia dengan jelas, 'hmm aku akan mencoba bertanya semoga saja benar benar dia' motor itu berhenti di sebuah taman Arya segera menemuinya
"Selamat siang" Sapa Arya dengan nada pelan, Lia berbalik sembari mengangkat alisnya, tidak ada orang lain sini, lalu apakah ia mengenal pria ini?,
"Ah ada yang bisa saya bantu?" Ucap Lia dengan nada pelan pelan, meskipun merasa tak pernah mengenal pria ini tentu saja ia harus bersikap ramah
"Hm,..bagai mana ya?.. hm ...bun...da ah ia bunda" Ucap Arya seketika otaknya menjadi blank bahkan ia gelagapan, kemana pergi otak cerdasnya?, mengapa ia gelagapan hanya karena seorang gadis?, ini bukan waktu yang tepat, Alif dalam keadaan bahaya mana mungkin ia bersikap bodoh seperti ini
Lia mengangkat alisnya pertanda ia sedang bingung, apa maksud dari pria asing ini, bunda?, bukankah itu aneh?, sejak kapan ia punya anak dan udah besar lagi?, mana tuaan si pria dari lia lagi
"Ada yang ingin saya bicarakan"
"Ah jika demikian mari" Ucap Lia sembari mendekati sebuah pohon rindang yang dibawahnya terdapat sebuah kursi panjang untuk duduk
__ADS_1
"Hmm... bagai ..... mana ..... ya hm? .. Alif" Ucap Arya yang bahkan langsung menjadi kikuk, ia tak mengenal nama wanita yang berdiri di hadapannya ini, dan lagi, bisa jadi wanita ini bukan yang ia cari, ah semoga saja ia tak salah orang, ia menarik nafas pelan, ia sudah bertekad untuk bertanya dan berharap Tuhan segera mempertemukan keduanya, dan membuat Alif senang dan kembali ceria.
"Oh Alif, bagai mana kabarnya, silahkan duduk,'' Ucap Lia menepuk tempat kosong di sebelahnya, Lia sendiri baru ingat jika pria tinggi berwajah tampan ini adalah ayah Alif, lalu ada apa?, mengapa mencarinya, Lia memilih untuk diam menunggu Arya mengatakan tujuannya
"Maaf, saya sampai lupa anda ayah Alif kan?" Ucap Lia pelan, Arya tidak menjawab ia hanya menggunakan kepalanya
"Bagai mana kabarnya" Ucap Lia tersenyum tenang, memang sudah cukup lama ia tak berjumpa dengan bocah itu, sudah tiga bulan semenjak hari di mana bocah malang itu mendapatkan kekerasan dari pengasuhnya sendiri
"Sangat buruk" Ucap Arya menghela nafas pelan, jujur saja ia merasa bingung dan tak tau mengatakan apa, untuk pertama kali ia merasa begitu gugup berhadapan dengan seseorang, sedari muda ia sudah berbaur dengan semua orang, namun untuk pertama kalinya ia merasakan sebuah rasa tak percaya diri
"Anda jangan bercanda?, jika keadaannya buruk kenapa anda tidak bersamanya?" Ucap Lia tersenyum kearah Arya, bagai mana mungkin keadaan Alif menjadi buruk, tidakkah kejadian beberapa waktu menjadi pelajaran untuk ayahnya agar tak terlalu percaya dengan pekerja, apakah pria ini tak bisa belajar dari kesalahan?
"Saya tidak bercanda, saya tidak bersamanya karena dia tak menginginkan saya, dia selalu memanggil manggil anda, bahkan saya sudah terlupakan" Ucap Arya dengan nada pelan, terbesit rasa kecewa pada dirinya sendiri, bahkan anaknya sendiri lebih menginginkan orang lain ketimbang ia yang merupakan Ayahnya sendiri
"Apakah anda mau ikut dengan saya, alif membutuhkan anda" Ucap Arya pelan, terdengar nada memohon di sana, ia membutuhkan Lia saat ini, hari ini Alif tak makan dan tak minum obat, ia tak boleh membuang buang waktu lagi
"Anda jangan bercanda?, saya memiliki beberapa urusan mendesak" Ucapnya dengan nada pelan, ia memiliki beberapa urusan, dan bagai mana mungkin ikut dengan pria ini
"Tidak, alif terkena penyakit yang dokter sendiri tidak dapat memprediksi namanya, ia di rawat di rumah sakit selama satu bulan dan keadaannya semakin memburuk, dia tidak mau makan atau pun minum obat dia hanya butuh anda, sudah 3 seminggu ini saya mencari anda, hm tapi syukurlah jika anda sudah berhasil di temukan" Ucap Arya menghela nafas lega, akhirnya pencariannya selama ini berujung pada titik temu,
__ADS_1
Lia terdiam sejenak, mendengar penjelasan pria yang berada di sampingnya
"Hm bagaimana ya?, sebenarnya saya harus segera ke terminal, saya harus pulang ke kampung" Ucapnya dengan nada pelan, dan setelahnya melihat jam di tangan, sudah hampir waktunya, ia harus segera kembali, kedua orang tuanya telah menunggu di desa, ibunya memang baik baik saja, namun ia masih cemas dan ingin melihatnya sendiri, toh juga sudah waktunya libur kan?
"Lia" Teriak Riana yang berlari kecil mendekati sahabatnya
"Dia siapa? " Ucapnya dengan nada nan begitu pelan
"Orang" Ucap Lia ringan
"Saya mohon, ikut dengan saya temui dia sebentar saja, Alif sangat membutuhkan anda " Ucap Arya memohon dengan wajah lelahnya, ia sudah lelah mencari, ia benar benar tak sanggup melihat wajah murung Alif, ia tak akan mempu melihatnya lebih lama lagi apapun akan ia lakukan agar dapat membujuk gadis ini termasuk merendahkan dirinya
"Jangan berlutut" Ucap Lia memundurkan tubuhnya selangkah, posisi seperti ini sangat tidak pantas,
"Saya mohon" Ucap Arya berlutut, wajahnya bahkan sudah memerah
"Saya akan mengikuti anda, tapi anda harus berdiri terlebih dahulu" Ucap Lia dengan nada pelan, Arya perlahan berdiri dan membersihkan kotoran di celananya karena berlutut di tanah
"Ri, Gue titip motor ya, nanti Lo jemput gue, gue bakalan ngirim alamatnya, ni motor tolong di servis dulu" Ucap Lia dengan nada pelan, ia berencana untuk menyervis motor sebelum kembali, namun siapa yang menyangka jika ia bertemu dengan ayah Alif, seperti ini
__ADS_1
"Hm yaudah deh"
"Ok, gue duluan ya" Ucap Lia dengan nada pelan, dan setelahnya segera mengikuti langkah Arya untuk segera menuju mobil