Aku dia & kita

Aku dia & kita
Kembali


__ADS_3

Hari kini beranjak siang, lia dan riana sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta, tapi Lia dan Riana ke rumah sakit terlebih dahulu untuk berpamitan degan keluarganya,


"Ayah, Riana balik Jakarta dulu, ayah jangan lupa minum obat" Ucap Riana dengan nada pelan, karena keadaan sang ayah sudah membaik maka ia harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan perjuangannya dalam pengejaran dosen, tugas mahasiswa semester akhir Menag seperti ini bukan?, tak perlu duduk di kelas untuk belajar, hanya perlu datang ke kampus setiap hari dan menanti dosen untuk bimbingan


"Iya nak, kamu juga jaga diri baik baik, jaga kesehatan dan jaga sholat" Ucap sang ayah dengan nada pelan, mendengar itu Riana hanya menggukan kepalanya dengan pelan, seperti biasa Seornag ayah akan selalu mencemaskan putrinya


"Makan harus tepat waktu" Sambung sang ayah lagi


"Iya yah, Riana bakalan makan tepat waktu" Ucap Riana pelan, dan setelahnya beralih ke sang ibu


"Lia pamit dulu ya om" Ucap Lia dengan nada ramah, keluarga Riana juga tau jika Lia bukan orang yang suka berkontak fisik dan mereka dapat memakluminya


"Hati hati ya nak, jaga diri baik baik" Ucapnya yang hanya di balas anggukan pelan dari Lia, dan setelah selesai berpamitan pada ayah dan ibu Riana keduanya bergerak menuju motor yang sudah terparkir di depan rumah, motor mulai bergerak dan membawa keduanya menyusuri jalan raya


"Li" Riana berucap pelan, perjalanan Jakarta Bogor memang tak terlalu jauh hanya saja akan sangat membosankan jika melewati perjalanan panjang ini dalam keheningan

__ADS_1


"Hm" Lia bergumam dengan nada pelan


"Menurut lo Arya itu gimana" Ucap Riana pelan, saat ini mereka sudah memulai perjalanan, mengobrol sambil berkendara tidak di larang bukan?, asal tetap fokus dan tidak mengusik pengendara lain


"Hm baik" Ucap Lia dengan nada singkat, ia memang bersama Arya dalam waktu yang cukup lama, namun Lia bahkan tak bisa mengutarakan pendapatnya mengenai Arya,


"Kalo Arya suka sama lo gimana?" Ucap Riana dengan nada pelan, keduanya sudah begitu dekat dan saling menemani dalam waktu lama, antara pria dan wanita sangat mustahil jika tak ada perasaan antara satu dan yang lainya


"Ngak mungkin" Ucap Lia singkat, keduanya memiliki perbedaan jauh, ia tak ingin berharap karena ia tau bagai mana akhirnya, Arya terlalu tinggi untuk di gapai, perbedaan status sosial mereka membuat mereka sangat tak mungkin untuk bersama


"Lo mikirnya kejauhan Ri, sampai kapanpun ngak bakalan pernah terjadi, karena dia terlalu tinggi buat gue gapai, status sosial kita beda, ini kehidupan bukan drama di tv, ya kalo orang kaya ya harus nyari pasangan yang sesuai dong" Ucap Lia terkekeh pelan, mereka menang bersama beberapa bulan ini tapi yah tak ada yang istimewa antara keduanya, terlebih status sosial mereka yang sangat jauh,  mereka dari lingkungan yang berbeda, dan tentu saja tak akan pernah bisa bersatu sampai kapan pun


"Gue yakin kok kalo udah Arya suka sama lo, dan lagi kalian udah sama sama dalam waktu lama, udah lah Lia, sampe kapan lo bisa move on, ini tu udah lama banget loh dan lo masih belum bisa lupain Leo" Ucap Riana dengan nada pelan, namun tak ada jawaban dari Lia, Lia memilih untuk bungkam


"Lia, lo tau kan kalo setiap yang idup pasti mati?, lo percaya kan sama Tuhan, lo harus ikhlasin Leo, dan mulai hidup baru, menata hati untuk menerima cinta yang lain, lo ngak bisa gini terus lia," Ucap Riana yang kini menjadi serius, kehidupan tentu saja harus di rencanakan dari awal, namun seketika ia kecewa karena?, Lia yang bahkan hanya hidup mengandalkan garis takdir yang telah di tentukan

__ADS_1


"Sampai kapan Lia?, sampai kapan lo tenggelam dengan penyesalan ini, sampai kapan lo menyiksa diri lo, lo itu cewek yang normal membutuhkan pasangan" Ucap Riana namun masih tak ada jawaban dari Lia, ia memilih bungkam jika bersangkutan dengan Leo, kekasih masa SMA nya yang tak akan mungkin pernah bisa di gantikan oleh siapapun


"Li, gue ngomong sama Lo Li, jangan diamin gue gini dong, ini demi kebahagiaan Lo juga" Ucap Riana dengan nada nan begitu sebal, bagai mana tidak ia sudah berbicara sedari tadi, namun Lia bahkan tak menujukan minat


"Apa lagi yang bisa gue katakan Ri, yang Lo bilang emang benar, gue emang butuh sosok orang lain buat nemanin gue, tapi itu masih lama banget" Jawab Lia malas, ia tak ingin membahas apapun lagi, ia tak ingin membahas Leo ataupun Arya, semuanya sama sama hanya akan menimbulkan luka mendalam di dalam hatinya


"Emang masih lama Li, tapi kalo Lo ngak mulai dari sekarang trus kapan, usia ngak semakin bertambah, Lo harus buka hati Lo buat orang lain" Ucap Riana dengan nada sebal, Lia hanya tersenyum kecil, ia berusaha untuk terlihat lebih santai


"Gue belom bisa, dan Lo pasti ngerti bagai mana keadaan Gue, ah udah lah, males gue bahas hal begituan ngak penting" Ucap Lia dengan nada pelan untuk mencairkan suasana, mendengar ucapan Lia Riana bahkan hanya bisa menghela nafas dengan pelan, ia suah membujuk Lia selama bertahun tahun, namun Lia bahkan masih tetap teguh pada pendiriannya, ia masih bersikeras untuk menutup mata dan telinganya perihal pasangan


"Lia, maafin gue, gue ngak bermaksud bikin lo keingat masa lalu, gue cuma mau Lo hidup lebih baik, gue ngak mau Lo sedih terus menerus seperti ini" Ucap Riana dengan nada lirih, Lia menghela nafas pelan dan hanya menggukan kepalanya dengan pelan, ia sudah melupakannya


"Udah lah Ri, yang lo bilang itu benar, tapi gue butuh waktu, gue ngak bisa berubah secara instan, tapi untuk saat ini gue ngak bisa, Lo pasti ngerti kan, yah gue harap Lo ngerti" Ucap Lia dengan nada pelan,


"Tapi gue yakin kalo pasti bakalan berakhir dengan kehidupan yang bahagia" Ucap Riana pelan sedangkan Lia hanya menggukan kepalanya dengan pelan, ia yakin jika tuhan sedang menyiapkan hal yang jauh lebih baik untuknya, dan tugasnya hanya mengikuti garis takdir yang telah di buat olehNya, setelahnya keheningan menemani perjalanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2