
Malam sudah menjemput pagi, mentari bersinar memancarkan kehangatan cahayanya, memberi semangat baru dan kehidupan baru, dan tentunya di hari baru bagi semua orang, saat ini Arya tengah berdiri didepan kaca merapikan penampilannya, dan setelah merasa cukup Ia beranjak menuruni tangga untuk segera berangkat bekerja, seperti biasa banyak hal yang harus ia urus dan selesaikan, sebagai seorang pemimpin ia harus memikirkan nasib karyawannya jika suatu saat perusahaanya bangkrut, Alif yang sakit dan perusahaan bermasalah, ini adalah titik bawah Arya, semua datang bersamaan seolah Tampa ampun, membuat Arya tak bisa memilih antara keduanya, ia menyayangi dan mencintai anaknya namun ada ribuan karyawan yang menggantungkan nasib di atas pundaknya,
"Ayah, Ayah mau kemana?" Ucap Alif dengan nada pelan, mendengar suara lembut milik putra kecil ya, Arya melangkah dan berjalan menuju Alif yang sedang duduk di meja makan, tak lupa di temani senyuman manisnya
"Bagai mana keadaan Alif hari ini?"
"Seperti yang ayah lihat" Jawab Alif dengan nada pelan, sebelumnya sang ayah sudah berjanji untuk menjemput bundanya, namun sampai saat ini ucapan sang ayah tak kunjung menujukan sebuah bukti
"Ayah ada meeting di kantor, Alif makan trus minum obat dulu" Ucap Arya sembari mengecup kening Alif namun bahkan ia menghindar, kerja kerja terus saja bekerja, apakah ayahnya sudah tak ingat dengan janji yang telah ia ucapkan?
"Ayah bohong sama Alif, Ayah bilang mau bawa bunda pulang, tapi sampai sekarang bunda ngak dateng dateng" Ucap Alif dengan nada nan begitu lirih, ia telah lama menunggu janji kosong ayahnya, namun sampai sekarang ayah masih sibuk dengan segala pekerjaannya, ia menepis air mata yang tanpa sengaja mengalir,
"Sayang, ayah pasti bakalan bawa bunda pulang, tapi butuh waktu, kamu sabar ya"
"Ayah bohong, ayah aja ngak pernah nyariin bunda, ayah sibuk terus sama kerjaan ayah" Ucapnya dengan terisak dan setelahnya segera berlari meninggalkan meja makan menuju kamarnya, ia merasa kecewa, apakah dirinya benar benar tak di inginkan oleh siapapun, apakah ia tak pantas untuk merasakan sebuah kebahagiaan?, mengapa semua meninggalkannya?, mengapa kehidupannya sesulit ini, ia hanya butuh cinta tak lebih
"Alif, Alif" Ucap Arya berlari mengejar Alif, namun sayang pintu sudah di tutup dengan begitu rapat, Arya menghela nafas saat mendengar isakan kecil dari dalam, Arya semakin cemas dan terus mengetik pintu,
__ADS_1
"Arif bukain pintunya dong sayang, Alif" Ucap Arya pelan, namun pintu tak kunjung terbuka, Arya lagi lagi hanya menghela nafas pelan sembari terus mengetuk pintu kamar anaknya
"Ngak mau yah, Alif mau bunda, Alif cuma mau bunda, hiks hiks" Teriaknya dari dalam kamar, isakannya kian terdengar jelas di telinga Arya, ia mengacak rambutnya frustasi, Alif semakin tak bisa di bujuk akhir akhir ini, ia suka uring uringan dan setiap hari mengungkit masalah lia
"Iya sayang, habis meeting ayah langsung jemput bunda Alif buka pintu ya, ayah janji bakalan bawa bunda pulang, kamu jangan gini dong sayang" Ucap Arya di balik pintu, ia benar benar tak bisa meninggalkan meeting ini, begitu banyak karyawan yang sedang di pertaruhkan, ia ingin egois namun tak bisa, hati kecilnya selalu menolak, perusahaannya dalam masalah, jika ini tak selesai maka akan ada begitu banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaannya
"Ayah bohong, Alif setiap hari nungguin ayah datang sama bunda, tapi sampai sekarang bunda ngak datang satang" Teriak Alif dari dalam, ia selalu di bohongi, ayahnya selalu mengatakan jika ia akan membawa bundanya pulang, namun kenyataanya?, bahkan sang ayah sibuk bekerja, pergi pagi pulang malam, ia suah menunggu namun penantiannya bahkan hanya berakhir dengan sebuah kesedihan dan kekecewaan saja
"Alif jangan gitu dong, ayah kan udah janji mau jemput bunda ayah ngak mungkin mengingkari janji ayah, ayah kerja dulu nanti setelah selesai kerja ayah bakal cariin bunda, Alif bukan pintunya dong sayang" Ucap Arya yang masih mengetok ngetok pintu kamar, perusahaanya bahkan sudah berada di ambang kebangkrutan, ia harus bekerja keras untuk mempertahankan perusahan yang selama ini ia perjuangkan
"Alif akan buka pintu kalo bunda udah datang, Alif ngak mau makan, dan ngak mau makan obat Alif cuma mau bunda" Ucap Alif duduk di sofa dengan meringkuk menahan rasa sakit di bagian dadanya, nafasnya terasa sesak, dan kepalanya juga terasa begitu pusing,
"Iya ayah akan cari bunda, Alif makan dulu habis itu minum obat" Ucap Arya membujuk, ia tak bisa meninggalkan putranya dalam keadaan seperti ini,
"Alif ngak mau yah, Alif mau bunda" Teriak Alif dari dalam kamar sembari menahan sakitnya sekuat tenaga, ia hanya butuh bunda tak membutuhkan apapun lagi
"Iya sudah, tapi alif buka pintunya dulu ya, ayah akan jemput bunda, ya sayang ya, alif ngak boleh gitu nanti kalo bunda tau alif ngak mau minum obat bunda bisa sedih, alif mau bikin bunda sedih, bunda pasti kahwatir sama Alif, Alif harus sehat biar bunda ngak sedih" Ucap Arya pelan,
__ADS_1
Tak lama kemudian kop pintu menahan di putar dan pintu putih itu perlahan terbuka, menampilkan seorang anak 6 tahun dengan wajah pucat dan sembab, ada jejak air mata di sana, Alif segera menepis air matanya dan menggelengkan kepalanya, ia tak ingin membuat bundanya sedih
"Alif mau bunda yah, Alif cuma mau bunda" Ucapnya dengan suara serak dan menghambur di pelukan Arya,
"Ya nak, ayah akan segera bawa bunda pulang, Alif jangan nangis, anak pintar kan ngak boleh nangis" Ucap Arya menghapus air mata Alif, menatap sedih putranya
"Ayah pergi dulu ya, tapi Alif makan dulu, trus jangan lupa minum obat" Alif menggunakan kepalanya pelan, hal itu membuat senyuman terbit di bibir Arya,
"Nanti kalau butuh sesuatu alif panggil bik anjani ya" Ucap Arya mengelus sayang pucuk kepala Alif
"Iya yah" jawab Alif sembari menepis air matanya
"Ayah pergi dulu" Ucap Arya mencium kening Alif dengan lembut
"Jangan lama lama ya" Ucap Alif, pelan, Arya mengguk dan beranjak meninggalkan kamar, langkah membawanya ke garasi, di sana sudah terparkir mobil pajero berwarna hitam, arya menghela nafas pelan dan perlahan masuk, perlahan tapi pasti mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah dan mulai berpacu di tengah keramaian aktivitas jalan raya
Arya pun segera menuju mobilnya. Mobil itu melaju menuju kampus lia.
__ADS_1