Aku dia & kita

Aku dia & kita
Bunda janji ya


__ADS_3

Malam yang gelap kini berlalu rembulan sudah kembali ke persembunyiannya di gantikan dengan sang matahari yang dengan gagahnya bersinar menerangi seluruh dunia, cahaya baru, harapan baru dan kehidupan baru di mulai pagi ini,


saat ini Lia bahkan masih meringkuk di atas ranjang, suara dengan telpon berhasil mengusik ketenangannya, karena dalam masa tamu bulanan ia bisa terbangun lebih siang dari biasanya, jujur saja ia begitu kelelahan, ia sudah sangat banyak beraktifitas Minggu ini, banyak hal yang harus ia lakukan dan banyak hal yang harus ia selesaikan dengan segera


"Siapa sih" Ucapnya dengan nada nan begitu kesal, namun ia tetap meraih ponselnya, ponsel ini sudah sangat berisik sedari tadi bisakah membiarkannya beristirahat sebentar lagi


"Ngak tau dari tadi HP lo bunyi terus sampe pusing gue dengernya, cepetan angkat, siapa tau penting" Ucap Riana pelan sambil membereskan kamarnya, setelah selesai Riana segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri


"Hallo" Ucapnya dengan nada begitu malas saat baru saja telpon di sambungkan, Lia bahkan mengangkat telpon dengan mata yang masih tertutup dengan begitu rapi


"Assalamualaikum Bunda, bunda kemana aja?, kok bunda ngak mau ngangkat telpon dari Alif?, bunda ngak sayang lagi ya sama alif?" Suara itu berasal dari seberang telpon, Lia mengucek ngucek matanya, setelah mengucek matanya beberapa kali kini ia dapat melihat dengan jelas, jika yang menelpon adalah Alif,  ia mengalihkan panggilan ke panggilan video, ia ingin melihat Alif, dan memastikan jika Alif baik baik saja

__ADS_1


"Sayang" Ucapnya menguap pelan dan perlahan duduk di pinggiran kasur, ia sangat mengantuk namun tentu saja tak bisa lepas kendali saat ini mereka berada di rumah Riana bukan kosan, mereka jelas tak bisa melakukan apapun sesuka hati


"Bunda, bunda lagi sakit ya?, kok suara bunda berubah, kalo bunda sakit Alif bakalan jemput bunda biar bunda segera kerumah sakit," Ucap Alif dengan nada nan begitu khawatir, bagai mana tidak suara merdu milik bundanya seketika berumah menjadi begitu serak, melihat wajah panik milik Alif membuatnya tersenyum kecil, lihatlah bocah ini bahkan mengkhawatirkan masalah sepele seperti ini?, ia tak sakit, hanya baru bangun tidur, dan saat bangun tidur hal yang sangat wajar jika suara akan menjadi sedikit serak


"Ngak kok sayang, bunda ngak papa, cuma baru bangun tidur, oh ia Alif lagi ngapain?, udah berangkat sekolah belum?" Ucapnya pelan sembari meraih gelas di nakas dan meneguknya dengan perlahan, hari memang sudah cukup siang dan tak pantas rasanya jika kembali tertidur


"Alif masih di jalan bunda, bunda" Ucap Alif terhenti, senyum cerahnya seketika hilang, kini ia tertunduk dengan wajah yang terlihat begitu sedih


"Alif kenapa?, Alif sakit?, mana yang sakit?" Ucapnya setelah melihat perubahan raut wajahnya


"Iya sayang, bunda ngak bakalan pergi kok, dan bunda juga sayang banget sama Alif, Alif jangan nangis lagi, apus air mata Alif, anak bunda kan kuat, ngak boleh cengeng, bunda janji ngak bakalan ninggalin Alif, Alif jangan nangis lagi dong" Ucap Lia yang hanya di balas dengan anggukan dari sana

__ADS_1


"Alif harus belajar dengan baik, ngak boleh nakal, trus dengerin kata mis Nina sama Claudia, hm ya udah, bunda tutup dulu ya, bunda masih ada beberapa kerjaan, Alif jangan sedih lagi dong, bunda pulang kok nanti siang, jadi bunda ngak mau liat anak bunda murung gini" Ucap Lia tersenyum lembut, ia baru meninggalkan Alif  beberapa saat namun lihatlah betapa kusutnya penampilan bocah ini, ah ia jadi merasa bersalah


"Baik bunda, oh ia bunda datang kan besok, besok Alif ada pentas drama, Alif takut kalo bunda lupa dan Alif bakalan sendirian lagi" Ucap Alif pelan, Lia menepuk keningnya, ah ia bahkan lupa jika besok Alif akan ada pertunjukan drama di sekolah, jika tak di ingatkan maka ia akan benar benar membuat Alif menjadi kecewa, bagai manapun pentas drama ini sangat penting baginya


"Bunda usahain ya sayang, bunda bakalan nemenin Alif besok" Ucap Lia dengan lembut sembari tersenyum lembut


"Tapi jangan telat ya bunda, Alif malu sama teman teman, dulu Ayah selalu datang telat setiap ada acara di sekolah, dan bunda kadang sibuk" Ucap Alif pelan, ia tak bisa egois, ia di paksa untuk memahami kesibukan ayah serta bundanya, bocah ini memang terlahir untuk menjalani sebuah kehidupan yang begitu menyedihkan, di usianya yang masih sangat belia ini ia harus mengerti keadaan ayahnya yang selalu sibuk dan ibunya yang telah pergi, anak yang malang, semoga ia tumbuh jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama, dan yah tenang saja saat ini ia memiliki Lia yang sangat ia sayangi seperti ibunya sendiri


"Ia sayang, hm ya udah bunda mau siap siap dulu ya, Alif belajar yang pintar ya, jangan nakal, jangan main di jalanan, trus kalo Ayah atau kang Maman belum jemput, Alif jangan duduk di depan gerbang sendirian, bunda takut Alif kenapa kenapa," Ucapnya dengan nada pelan, ia tak ingin kejadian 5 bulan yang lalu kembali terjadi, lebih baik menghindar dari segala macam bahaya


"Iya bunda, bunda jangan lama lama ya di Bogor, Alif rindu banget sama bunda, Alif sayang bunda I love you" Ucap Alif dengan senyuman lebae

__ADS_1


"I love you to sayang" Ucap Lia tersenyum lembut sembari menatap bocah imut yang berada di layar ponselnya,


"Assalamu'alaikum" Lia pelan, dan memutuskan sambungan telepon, dengan malas ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ah ia harus sampai jakarta tepat waktu, ia memiliki janji dengan dosennya yang super sibuk itu, bisa bisa Lia telat wisuda jika di biarkan seperti ini, dosen pembimbingnya adalah orang yang sangat sibuk, keluar masuk kota bakan ke luar negri, uh sudah lah seperti biasa drama dosen dan mahasiswa seperti ini memang sangat melelahkan dan menguras pikiran dan tenaga.


__ADS_2