
Hari hari terus berlalu begitu saja seperti biasanya Lia berangkat ke kampus dan belajar dengan baik, namun, beberapa hal yang bahkan berhasil mengusiknya, membuatnya manjadi begitu gelisah dan bahkan hanyut dalam pemikirannya sendiri, bagai mana tidak masalah selalu suka mendatanginya, beberapa waktu lalu perihal Ardy dan Dafit,
Dafit adalah salah satu dosen yang memiliki terobsesi gila terhadapnya, bahkan di masa lalu ia pernah berniat untuk menculik dan memaksakan kehendaknya terhadap Lia, namun beruntung Lia bukan gadis yang lemah dan bisa di taklukan dengan mudah, setelah melakukan berbagai cara hingga akhirnya ia bisa lepas kegilaan Dafit, hal ini membuatnya sedikit ketakutan, bagai manapun ia sudah melihat bagai mana kegilaan Seornag Dafit, bahkan dengan berani berniat untuk memperkosanya, jika bukan gila lalu apa namanya
Kejadian itu meninggalkan bekas luka yang cukup dalam di hati Lia dan bahkan membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya, ia hampir saja di nodai oleh orang yang bahkan tak pernah ia inginkan keberadaanya.
Sudah beberapa satu tahun lalu setelah kejadian penculikan itu Dafit tiba tiba menghilang dari kampus, menghilang seolah sebelumnya ia Menag tak pernah ada, kepergian Dafit yang tiba tiba seperti ini membuat begitu banyak pertanyaan, saat semua orang mempertanyakan penyebab Dafit pergi Lia bahkan diam diam merasa lega, setidaknya jika Dafit pergi maka ia akan dapat hidup dengan bebas, ia tak merasa takut lagi jika harus bertemu kembali dengan dosen satu itu
Sudah satu tahun berlalu, siapa yang menyangka jika Dafit akan kembali kekampus ini, Lia hanya takut jika kembalinya Dafit kali ini tak memiliki niat baik, ia takut jika kali ini Dafit kembali dengan segala kekeras kepalaannya yang bersikeras untuk menjadikan Lia sebagai miliknya secara utuh
"Li Lo harus tenang, orang bisa saja berubah kan, ya, udah lama banget, pasti pak Dafit juga udah nemu orang yang dia cintai dan mencintainya" Batin Lia pelan, kembalinya Dafit taki ini benar benar membuatnya takut dan cemas secara bersamaan, saat ini hanya hanya berusaha untuk menenangkan dirinya yang sudah terlanjur merasa takut uni
"Brak" Lamunannya buyar saat Lagi lagi kembali menabrak seseorang, ia dengan cepat menepi dan setelahnya mendekati si bocah dnegan cepat, mengapa akhir akhir ini menjadi semakin tak terkendali seperti ini, mengapa ia bahkan lagi dan lagi mencelakai orang lain
__ADS_1
"Mana yang sakit, ayo ke rumah sakit" Ucapnya dengan nada nan begitu khawatir, ya bahkan untuk sekian kalinya ia menabrak anak yang sama, lagi dalam lagi ia menabrak Seornag Alif dan membuat Alif kesakitan
"Tolong Alif bunda, tolongin Alif, Alif takut bund, Alif takut, tolongin alif" Ucap Alif terisak pelan, tubuhnya bergetar ketakutan, seketika Lia terdiam melihat beberapa memar di tangan Alif, lia membawa Alif dalam pelukanya, ia mengelus lembut punggung Alif, hal ini ia lakukan untuk memberikan rasa aman pada Alif yang saat ini sedang ketakutan
"Alif takut"
"Bunda di sini, Alif ngak perlu takut" Bisiknya sembari mengeratkan pelukanya, ia terus mengelus punggung Alif dengan begitu lembut dan bahkan ia juga membisikan beberapa kata penenang agar Alif menjadi jauh lebih tenang
'Apa lagi yang di alami anak ini, sungguh anak yang malang nasib mu nak, kamu adalah anak yang kuat dan dan pasti mampu melewati semua ini ' Batin Lia dengan pelan, luka memar dan bahkan beberapa luka goresan, tubuh bocah ini bahkan terlihat sangat meneduhkan dari beberapa waktu lalu, apakah ia terjatuh atau di culik lagi, mengapa ia terlihat sangat ketakutan seperti ini
"Bunda" Ucap Alif sembari melepaskan peluknya, ia bahkan mendongak guna menatap mata Lia yang begitu indah, ia terlalu terpesona dengan segala kecantikan yang dimiliki oleh sang bunda, pertemuan ini adalah hal yang paling ia tunggu tunggu
"Udah mau cerita ke bunda?, Sekarang minum air dulu ya, tenang dulu dan bilang sama bunda siapa yang mukulin Alif, apa Alif di kejar preman lagi " Ucap Lia dengan nada nan begitu lembut, saat ini Alif terlihat sangat ketakutan, dan sebagai orang tua tentu saja ia harus melindungi anaknya
__ADS_1
"Alif di kejar sama bi Asih bun, Alif takut, bi Asih jahat, Alif mau ayah, Alif mau ayah, Alif mau ketemu ayah bun" Ucapnya yang bahkan kembali terisak, bik asih?, siapa itu?, mengapa begitu tak berperasaan memukuli Alif, dan kemana ayah Alif, mengapa tak menjaga Alif dengan baik, dan lihatlah apa yang terjadi saat ini, Alif pasti sangat ketakutan karena mendapat kekerasan fisik seperti ini
"Alif tenang dulu ya, Alif jangan nangis bunda ada disini, bunda bakal jagain Alif, Alif jangan takut ya, selama bunda di sini ngak akan ada yang berani jahatin Alif" Bisik Lia dengan anda pelan, saat ini Alif terlihat begitu terpukul, dan ia hanya bisa memberikan sebuah rasa tenang dan nyaman agar masalah ini tak merembes kemana mana
'Lagi lagi anak ini di siksa dan di kecewakan oleh keadaan bagai mana bisa kamu hidup seperti ini nak, malang sekali nasib mu' Batin dengan Lia lirih, di usia ini semua anak sibuk bermain, sedangkan Alif?, ia lagi lagi berada dalam masalah, Lia sendiri tak tau masalah apa itu, yang jelas lia sangat kasihan dengan nasib bocah ini
"Alif mau Ayah" Ucapnya sembari mendongak menatap Lia dengan mata yang bahkan masih berbinar
"Hmm ya udah bunda antar pulang ya" Ucap Lia lembut sembari menepis pelan jejak air mata yang masih ada di pipi bocah malang ini, dan dengan gerakan perlahan melepaskan pelukannya
"Ngak bunda, Alif mau Ayah, ayah Alif ngak di rumah, Ayah masih kerja" Ucap Alif dengan nada suara serak khas anak yang baru habis menagis
"Hm ya udah kalo gitu, Alif tau kantor ayah kan?, Bunda anterin aja ya, udah ah hapus tu air mata kan jelek" Ucap Lia yang hanya di balas dengan anggukan dari si bocah
__ADS_1
"Ayo" Ucap Lia dengan nada pela
"Di balik gedung itu" Ucap Alif menunjuk gedung gedung pencakar langit itu, motor kembali melaju menuju tempat yang di inginkan, tak berselang lama, mereka sudah berhenti di depan sebuah gedung mewah