
Beberapa jam sudah berlalu, kini pesawat mendarat di salah satu kota kecil yang berada di provinsi jambi Sumatra, ia segera meraih ponselnya dan Menelpon seseorang yang bisa membawa mereka kembali ke rumah, mobil ini adalah langganannya, mengingat rumahnya yang berada di desa pinggiran dan tak mungkin dapat di jangkau oleh Taxi online, dari itu seperti biasa ia akan menggunakan trevel untuk pulang kerumah,
"Eh Lia, anak siapa tuh" Ucap pak Ali pelan
"Anak temannya Lia pak, kebetulan mau libur di desa katanya" Jawabnya dengan nada pelan, pak Ali jelas sudah cukup familiar dengannya dan seperti biasa untuk mengusir segala kebosanan mereka akan mengobrol untuk melewati Medan jalan yang memang cukup jauh
"Udah dua tahun loh ngak balik, bapak kira udah betah aja di Jakarta"
"Banyak urusan, dan sekarang karena kebetulan ada waktu dan libur juga jadi pulang deh pak" Ucap Lia dengan nada pelan
Setelah beberapa saat berkendara akhirnya keduanya sampai di rumah Lia yang terletak di pedesaan kecil pinggiran kota, pak Ali segera menurunkan barang barang bawaan, sedangkan Lia masih membiarkan Alif tertidur di gendongannya
"Terimakasih pak" Ucap lia mengulurkan lembaran 100 ribu pada pak Ali dan pak Ali menerimanya dengan senyuman ramah
"Terimakasih kembali" Ucapnya tersenyum ramah, dan perlahan meninggalkan Lia di depan rumah
Hari sudah gelap cukup gelap, jarak dari pusat kota ke desanya memang memakan waktu yang cukup lama,
dan saat sampai rumahnya terlihat gelap, ia segera meraih ponselnya untuk menelpon sang ayah
"Hallo Yah, Lia udah di depan ayah kemana kok rumah gelap?"
".."
"Oh Ayah sama ibu sedang di ladang ya, yaudah kalo gitu"
".."
"Ngak usah yah, ayah jangan jemput Lia malam ini, bahaya"
".."
"Iya yah, besok aja, Lia punya cuplikan kuncinya kok, ayah ngak usah cemas"
".."
__ADS_1
"Iya yah" Ucapnya lalu memutuskan sambungan telpon,
Beruntung ia memiliki cuplikan kunci rumahnya, dan setalah pintu terbuka ia segera meletakan Alif di ranjang, setelah memastikan Alif nyaman dengan tidurnya ia beranjak menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur,
Ia berasal dari keluarga yang di bilang sederhana, tidak ada fasilitas mewah di sana seperti AC atau lainnya, maklum saja penduduk pedesaan terpencil
Setelah membersihkan diri, lia duduk di depan kaca, sambil menata rambutnya
"Bunda" Suara itu terdengar serak, khas bangun tidur, ia berbalik dan tersenyum Alif sudah terduduk di ranjang dengan mengucek ngucekan matanya
"Sudah bangun sayang?" Ucap ia beranjak mendekati Alif dan membantu bocah itu melepaskan pakaian nya
"Alif mandi dulu ya, habis itu kita makan malam" Ucapnya menggendong Alif keluar kamar menuju kamar mandi
"Ini dimana bunda?" Ucap Alif yang terlihat bingung dengan tempat asing ini
"Ini rumah bunda sayang, ya memang tidak sebesar rumah alif kan?" Ucapnya tersenyum kecil sambil mengguyurkan air dan menyambuni bocah 6 tahun itu
"Kok sepi, kayak rumah Alif" Ucap Alif, Lia mengulurkan gosok gigi dan Alif mengambilnya
"Ayah sama ibu, bunda masih di ladang, besok baru kita kesana ok" Ucapnya yang kini telah membungkus tubuh Alif dengan handuk dan menggendong nya kembali ke kamar.
"Alif duduk diam di sini, bunda mau masak buat makan malam kita ok" Ucapnya tersenyum mengelus pucuk kepala alif
"Siap bunda" Ucap Alif tersenyum lebar.
Setelah beberapa menit berkutat dengan perlengkapan dapur lia berjalan pelan mendekati televisi dengan kapan yang berisi 2 porsi makanan dua gelas air putih
"Ayo makan dulu habis itu minum obat" Ucapnya pelan, ia mengulurkan piring kehadapan Alif, dengan cepat Alif meraihnya dan menyantap nya dengan lahap, ia memang sudah sedikit kelaparan
"Pelan pelan sayang" Ucapnya saat melihat Alif makan begitu lahap, tiba tiba terdengar suara deringan telpon dari kamar, ia perlahan berdiri menuju kamar mencari cari ponsel yang entah ia letakan di mana
"Hallo, Assalamu'alaikum" Ucapnya kembali duduk di hadapan Alif dan melanjutkan acara makannya
"Waalaikumsalam, Udah di mana lo" Ucap Riana pelan
__ADS_1
"Udah di rumah ni, lo?"
"Biasa, masih nangkring di kosan aja, syukur deh lu udah sampai dengan selamat, ya udah gue tutup dulu, gue cuma mastiin lu sampai dengan selamat ngak, gue tutup by Assalamu'alaikum" Ucap Riana dari seberang telpon
'Ting' Sebuah notifikasi pesan masuk lia perlahan membuka pesan itu
'Gimana kabar Alif, itulah isi pesan, pesan dari Arya, sebelum ke bandara keduanya sempat bertukar nomor telpon agar mempermudah jika terjadi hal hal yang diluar dugaan
Lia mengetik beberapa jawaban, dan tak lama kemudian ponselnya kembai berdering, kali ini Arya meminta untuk video call.
"Ayah" Ucap Alif sambil mengunyah makanannya, sembari tersenyum lebar
"Alif lagi apa sayang?" Ucap Arya tersenyum menatap bocah dibalik layar ia lega anaknya baik baik saja, dan terlihat sangat bahagia
"Alif lagi makan yah, ayah udah makan blom?" Ucap Alif
"Oh ya bunda" Ucap Alif berniat mengalihkan kamera agar ayahnya dapat melihat Lia yang juga sedang menyantap makanannya, Lia menggelengkan kepalanya dengan pelan hal ini membuat Alif menghentikan niatnya
"Sayang, lain kali ngak boleh gitu ya, kan bunda ngak pake kerudung" Ucap Lia pelan sambil tersenyum ke Alif yang tiba tiba murung
"Maafin Alif bunda" Ucap Alif tertunduk, ia merasa bersalah, ia lupa jika bundanya bahkan tak pernah mau melakukan panggilan vidio dengan sang ayah
"Ngak papa kok sayang, Alif kan ngak tau, lain kali jangan gitu lagi ya, ya udaah lanjutin ngobrol sama ayah" Ucapnya pelan, ia beranjak ke dapur meninggalkan Alif yang sedang bercengkrama dengan ayahnya.
Setelah membersihkan beberapa alat masak yang belum sempat ia bersihkan Lia kembali duduk di samping Alif yang masih video call dengan ayahnya
"Ayah istirahat ya," Ucap Alif tersenyum dan tak lama kemudian sambungan telpon pun di putuskan
"Alif minum obat dulu, habis itu kita tidur"
Alif hanya menganggukkan kepalanya pelan
"Anak pintar" Ucap Lia mengulurkan segelas air putih dan obat untuk Alif, setelah ke memastikan obat yang Alif minum tidak di muntah kan lia mengangkat Alif dan membawanya ke kamar untuk segera beristirahat..
"Selamat malam bunda" Ucap Alif mencium pipi Lia, inilah kali pertamanya tidur dengan di dampingi sosok ibu yang amat sangat ia rindukan..
__ADS_1
"Semoga tidurnya nyenyak" Ucapnya menarik selimut dan perlahan memejamkan matanya,
Tak butuh waktu lama keduanya kini sudah tertidur pulas dengan saling memeluk memberi kehangatan untuk menenangkan