
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, dan disinilah dia sekarang di rumah Arya dan berdiri di depan pintu kamar Alif yang terkunci dari dalam, seperti yang sudah di katakan Alif sebelumnya, ia tak kan membuka pintu kamar jika belum bertemu dengan bundanya, ia tak akan keluar sebelum bundanya datang, suah benar benar tak bisa dia ajak berkompromi lagi, ia tak akan bisa di kelabui lagi, ia tak kan membiarkan ayahnya membohonginya terus menerus, ia tak akan membiarkan sanga ayah membodohinya lagi
Sudah berbulan bulan berlalu, dan ia terus menerus mengonsumsi obat obatan itu, namun hasilnya?, semua tetap sama kan?, ia masih sakit lalu apa bedanya jika tak minum obat?
"Alif buka pintunya nak" Ucapan atau mengetok ngetok pintu kamar Alif dengan pelan, Ia sudah menemukan apa yang Alif inginkan, ia ingin bundanya kembali kan?, nah ini sudah, setelah pencariannya selama hampir tiga bulan ini akhirnya ia berhasil menemukan lia
"Ngak mau Yah, Ayah bohong lagi sama alif, alif ngak mau minum obat enggak" Teriak Alif dari kamar, ia tak akan membukakan pintu, ayahnya hanya akan membohonginya, ia sudah mendengar semua kebohongan itu sedari lama, dan saat ini ia sudah tak percaya lagi, apapun yang di katakan sang ayah ia tak akan perduli, ia sudah mengambil keputusan jika bundanya tak datang maka ia tak akan minum obat
"Buka pintunya dong sayang, lihat siapa yang ayah bawa, Alif sayang, buka pintunya ya, ni liat siapa yang dateng, Alif pasti senang, bukanya Alif mau bunda, ini bunda udah sama ayah, buka pintunya ya sayang" Ucap Arya dengan nada membujuk, ia memang bersalah karena membohongi putranya terus menerus, ia menyesal karena menghabiskan kepercayaan Alif, ia menyesal karena membuat Alif kecewa dan ia menyesal karena meneriaki Alif
"Ayah pasti bohong lagi, Alif ngak percaya" Ucap Alif dengan suara serak, ia sudah lelah menagis, ia tak percaya, ayahnya tak pernah mencari sang bunda, sang ayah hanya sibuk bekerja, dan mengabaikannya dan segala keinginannya
"Alif, buka pintunya sayang, katanya Alif rindu sama bunda, kok bundanya ngak di bukain pintu sih" Ucap Lia dengan nada nan begitu pelan, ia menyesal karena telah membuat Alif menjadi seperti ini, ia tak pernah memiliki maksud, ia berfikir jika semua akan selesai sampai di sana, namun ia bahkan tak pernah berfikir jika kepergiannya membuat Alif menjadi menderita seperti ini, ia merasa sangat menyesal karena telah membuat Alif menjadi begitu terpuruk karena kepergianya
__ADS_1
"Bunda" Ucap Alif yang bahkan langsung menghambur ke pelukan Lia, air matanya kembali mengalir di sertai isakan kecil yang berasal dari mulut imutnya, ia langsung bersemangat saat mendengar suara lembut milik bundanya, ia berfikir jika ia sudah tak di sayangi dan tak di inginkan, ia berfikir jika bundanya akan pergi karena ia yang nakal
"Bunda kemana aja, kenapa ngak pernah nemuin alif lagi, bunda udah ngak sayang lagi ya sama alif, Alif janji ngak bakalan nakal lagi," Ucap Alif yang masih terisak dalam pelukan Lia
"Enggak kok sayang, Alif anak baik, maafin bunda, bunda cuma sedikit sibuk akhir akhir ini" Ucap lia menggendong Alif sembari mengelus lembut punggung Alif, keadaan bocah ini bahkan begitu menyedihkan,
"Alif tenang ya, bunda di sini, Bunda udah di sini, udah melukin Alif dan bakalan jagain Alif" Ucap Lia dengan nada nan begitu pelan, ia mengelus lembut punggung alif untuk memberikan ketenangan pada bocah bernasib malang ini, ia tak akan mampu jika ia di letakan di posisi bocah malang ini,
"Bunda, bunda harus janji ngak bakalan ninggalin Alif, Alif sedih tau ngak, Alif pikir bunda bakalan ninggalin Alif, karena Alif nakal, bunda, bunda jangan ninggalin Alif ya Bun, Alif janji Alif ngak bakalan nakal, Alif bakal jadi anak yang baik" Ucap Alif dengan nada pelan, hal ini membuat Lia tersenyum lembut sembari membawa Alif untuk duduk di kasurnya
"Bunda harus janji ngak bakalan ninggalin Alif, Alif ngak bakalan makan sebelum bunda janji untuk selalu sama Alif" Ucapnya dengan menatap lekat wajah cantik milik wanita yang ia panggil bunda ini
"Iya bunda Janji" Ucap Lia dengan nada nan begitu pelan, ia sudah terlanjur berjanji dan ia hanya perlu melakukan yang terbaik untuk menepati janji itu
__ADS_1
"Hore bunda udah janji ya nggak bakalan ninggalin Alif lagi" Ucap Alif dengan begitu bersemangat, akhirnya bundanya berjanji untuk tak akan meninggalkannya
"Iya sayang sekarang buka mulut, habisin makanannya" Ucap Lia tersenyum sembari menyuapi bubur, dan di Terima Alif dengan senang hati, Arya hanya bisa tersenyum memandangi nya dari kejauhan, akhirnya Alif kembali tersenyum, ia merasa lega, akhirnya Alif kembali seperti dulu, keberadaan gadis itu bahkan sangat
"Bunda, bunda beneran janji kan ngak akan ninggalin alif, dan alif juga minta sama Tuhan untuk tidak mengambil bunda alif lagi" Ucap alif, mengunyah makanannya dengan begitu bersemangat, pertanyaan ini sudah ia katakan berkali kali, namun ia tak akan pernah bosan mengatakannya, ia harus membuat sang bunda menetap dan tak akan meninggalkannya lagi
"Hm bunda janji, tapi Alif harus sembuh dulu, dan jangan sakit sakit lagi, kasihan tu ayah jadi repot sama khawatir, trus jangan bicara waktu makan ngak baik" Ucap Lia pelan sembari membersihkan sisa makanan di mulut alif
"Iya bunda, Alif udah sembuh kok, selagi alif sama bunda alif ngak bakalan sakit, kita main ke taman belakang yuk bun" Ucap Alif dengan semangat menggebu, dalam sekejap wajah pucat itu kini sudah kembali memerah seperti sedia kala, senyum bahagia itu juga sudah kembali terukir di wajah imut Alif,
Arya menarik nafas lega, sepertinya penyakit yang di alami Alif ini hanya karena ia yang membutuhkan kasih sayang dan sangat memerlukan kasih sayang yang tulus dari orang sekitar, ia cukup senang dengan kemajuan Alif ia bisa bernafas tenang sekarang
"Alif kan masih sakit, jadi ngak boleh main di luar dulu, setelah lebih baik baru boleh" Ucap Lia dengan nada pelan, saat ini tubuh Alif sedang lemah karena sakit, bermain hanya akan memperburuk keadaan
__ADS_1
"Alif udah sembuh sejak bunda datang, Alif udah sembuh Bun, beneran, jadi ayo kita main, udah lama Alif ngak main" Ucap Alif menarik tangan lia kedua nya bermain dengan gembira senyuman itu kembali terukir di wajah anak berumur 6 tahun itu, senyuman yang sempat hilang 3 bulan yang lalu